Showing posts with label Entrepreneur. Show all posts
Showing posts with label Entrepreneur. Show all posts

Friday, April 16, 2010

Alhamdulillah, Naik Kelas



Alhamdulillah, sudah satu bulan ini hidup di kelas yang lain. TDA! Tangan di Atas. Al-Yad al 'Ulya istilah Arabnya. Atau meminjam istilah Kiyosaki dalam best seller "Rich Dad Poor Dad"nya, geser ke kuadrant kanan dalam konsep Cash Flow Quadrant-nya.

Meskipun dimulai dengan skala yang kecil, Usaha Laundry Kiloan, Alhamdulillah ini merupakan suatu "Giant Leap" dalam pengalaman pribadiku. Tak besar memang kalau dibanding bisnis2 yang kubangun sebelumnya; DN tours n Travel, DN Production House, Edukasia Monthly Parenting Magazine, tapi meskipun skala kecil, insya Allah ini merupakan pintu masuk menuju Quadrant Kanan yang akan terus dikembangkan sistemnya.

Hitung-hitung sekaligus memberdayakan bakat mantan pacarku, Bunda Kirana, yang sehari-hari berkutat dan mengawasi proses operasionalnya.

Mulai saat ini, Alhamdulillah sudah menerapkan satu lagi ajaran Rasul untuk memposisikan tangan selalu ada di atas.. Alhamdulillah..



http://cleangreenlaundrykiloan.blogspot.com

Sunday, December 21, 2008

Pesantren Development through the eyes of Greiner

Pernah dengar adagium dalam dunia pesantren yang menyatakan bahwa biasanya Kiai membawa mati pondoknya? Adagium ini mengacu banyaknya kasus Pondok Pesantren yang mati seiring dengan kematian Kiai pendiri.

Tulisan ini mencoba mengupas kenapa banyak Pesantren- terutama yang dikelola secara tradisional- gagal melewati masa-masa kritis di dalam perkembangannya melalui kacamata Management.

Phases of Growth model yang dikemukakan L.E.Greiner melalui tulisannya “Evolution and revolution as organizational growth”, (1972) mungkin bisa membantu menjelaskan bagaimana perkembangan sebuah organisasi dan lazim dipakai didalam menganalisa tipikal masalah yang dihadapi oleh bermacam organisasi, termasuk didalamnya Pondok Pesantren.

Model yang dikembangkan Greiner membagi perkembangan organisasi menadi beberapa tahapan -layaknya pertumbuhan seorang anak- dan mendeskripsikan tipikal permasalahan yang biasanya terjadi di tiap tahapan.

Dalam model seperti dibawah ini, ukuran perkembangan organisasi di kaitkan pada dua ukuran; size and age. Besar kecil organisasi dan lamanya beroperasi.





Tahap pertama

Tahap pertama adalah ketika ukuran organisasi masih kecil dan bahkan berada dalam tahap embrio. Pada tahap awal perkembangan organisasi ini, biasanya tidak banyak sumber daya (resources) yang terlibat. Modal finansial, manusia dan asset yang terlibat masih terbatas. Ukuran organisasi belum terlalu besar sehingga permasalahan yang ada masih belum terlalu komplek.

Dalam tahap awal ini, krisis yang biasanya terjadi berkaitan dengan kualitas kepemimpinan atau leadership. Kepemimpinan adalah konsep yang luas, tetapi ada perbedaan mendasar dari leader dan manager. Leaders doing the right thing while Managers doing things right.

Lalu, kualitas manajerial apa yang paling berperan dan dibutuhkan untuk melewati tahap ini?

Greiner berpendapat bahwa untuk bisa berkembang, kualitas yang paling dibutuhkan dalam tahap awal ini adalah kreatifitas. Konsep yang baik. Ide. Dalam dunia pesantren, konsep dan blueprint perjuangan melalui pendidikan Islam.

Dalam dunia bisnis, di tahapan inilah para truly entrepreneur and truly leader berperan. Ide bisnis bisa sangat berharga dan bisa dijual ke para investor, banking dan business angels. Business plan is the most crucial thing in this stage.

Bisa dibilang, inilah yang menjadi era favorit bagi para entrepreneur atau dalam dunia pesantren, Kiai. Kenapa?. Menurut penulis, inilah tahap yang juga lekat dengan tahap entrepreneurship. Tahap wirausaha yang membutuhkan kualitas kepemimpinan dan kewirausahaan yang berkaitan erat dengan kreatifitas dan ide

Dalam tahap ini, sang entreprenur atau sang Kiai dituntut memiliki kualitas kepemimpinan yang tinggi. Bekerja dengan sumber daya yang terbatas, menempatkan orang yang tepat di posisi yang tepat, mendidik organisasi untuk terus belajar dan selalu mencari jalan keluar yang kreatif dalam menyelesaikan tantangan yang ada hanyalah sebagian tugasnya.

Berat memang, tapi dilain pihak inilah saatnya sang entreprenur atau sang Kiai menikmati saat-saat mempunyai kendali penuh atas organisasi yang didirikannya. Skala organisasi yang masih kecil memungkinkan untuk dipegang oleh hanya segelintir orang dengan pola sentralistik. Begitupun dengan pola komunikasi dan pengambilan keputusan yang tersentralistik di Kiai.

Dalam kasus Pesantren Darunnajah, tahap-tahap ini berada pada awal rintisan tahun 70-an. Pesantren Darunnajah dirintis oleh seseorang yang memiliki ide dikepalanya, Kiai Haji Abdul Manaf. Blueprint perjuangan dan konsep pendidikan ada di memorinya. Pada perkembangannya, operasionalnya diserahkan kepada managing director sekaligus mantunya, Ust Mahrus muda. Kiai sebagai leader-lah yang mempunyai visi kemana organisasi akan menuju.

Pada awal-awal perkembangannya sekitar tahun 1974 dan setelahnya, tanah seluas 6 hektar pun mayoritas hanya terisi oleh pohon jinjing. Bangunan pun bertambah sedikit demi sedikit dan bukan simsalabim menjadi gedung nan megah seperti sekolah-sekolah elit nan mahal yang akhir-akhir ini banyak bermunculan. Modal pun hanya terdiri dari tanah kosong dan harta pribadi, termasuk cincin kawin atau mesin jahit sang istri.

(to be continued)

Friday, November 21, 2008

Progress Report Edukasia



Majalah Edukasia adalah sebuah bidang usaha milik Pesantren Darunnajah, yang artinya Ummat Islam secara keseluruhan merupakan stakeholder. Sebagai penanggung jawab Edukasia, kami merasa perlu melaporkan perjalanan bisnis majalah Parenting Keluarga Muslim yang telah mencapai edisi ke 3 (cover diatas) kepada masyarakat umum.

I.PROGRESS REPORT EDUKASIA

Distribusi

Selain didistribusikan untuk keluarga Darunnajah seperti wali Santri Darunnajah Group, Edukasia juga telah rutin dengan mudah didapatkan di toko-toko buku terkemuka seperti Gramedia, Gunung Agung, Gedung2 Perkantoran di Jakarta, hotel2, Bandara, beberapa Kampus2 Universitas, Jaringan Supermarket seperti Giant, Hero, Yogya, Superindo baik di Jakarta maupun diluar Jakarta (sementara paling jauh di Bandung, Purwakarta, Cilegon, Indramayu). Terimakasih kepada MM Distribusindo (Andi Junaidi) yang telah membantu semua ini terwujud.
Sedang diusahakan rak majalah Edukasia yang akan disebar ke berbagai Koperasi Sekolah, termasuk tentunya Darunnajah Group dan pondok binaan.

Pemasukan

Jumlah eksemplar Edisi Pertama (September) baru akan diketahui seluruhnya berbarengan dengan distribusi edisi ke-3. Tetapi, sebagai gambaran kasar, sekitar 20% dari majalah yang tersebar laku terjual. Ini mengejutkan kami mengingat Edukasia di luncurkan tanpa promosi yang menunjang.
Jumlah pelanggan belum banyak, baru mencapai sekitar 20 orang, dan ini disebabkan bukan tidak ada yang ingin berlangganan, tetapi lebih kepada ketidaksiapan tim sirkulasi.
Namun, disatu sisi, mulai edisi ke 2, beberapa slot Iklan di Edukasia telah terjual. Ini melebihi target kami yang hanya berharap pengiklan baru akan hadir setelah paling cepat edisi ke 6.
Tak hanya itu, yang lebih menambah keyakinan kami bahwa we're on the right track adalah penawaran dari salah satu tokoh nasional yang berniat menanam saham di Edukasia. Alhamdulillah.


Redaksi

Alhamdulillah pula dalam edisi November ini ada rubrik Dunia Pesantren yang akan mengangkat nilai-nilai dan sistem kependidikan di dunia pesantren pada umum-nya. Insya Allah rubrik ini didukung pula oleh Pekapontren (bpk Amin Haedari) dan sedang menuju kerjasama pembelian Edukasia oleh Depag yang diprakarsai oleh KH Mahrus Amin.
Rubrik tanya jawab juga semakin semarak ditambah kehadiran Ust Sofwan Manaf sebagai expert di bidang Pendidikan Pesantren.

Kabar gembira yang lain adalah bahwa salah satu alumni terbaik kita, Ustadz Arifin Ilham telah menyatakan secara langsung kepada kami pribadi di kediaman beliau di Depok, bahwa beliau bersedia mengasuh rubrik Do'a di Majalah ummat ini. Kiranya dukungan beliau sebagai Alumni Darunnajah merupakan berkah yang tak terhingga dan akan sangat berarti untuk melanjutkan perjuangan untuk pendidikan Islam melalui media cetak ini.
Terlebih, salah satu alumni Darunnajah yang berkecimpung di bidang fotografi (freelance Kantor berita Antara) siap membantu meningkatkan kualitas tampilan dari Majalah kita ini. Alhamdulillah. Kamipun mengundang keluarga besar untuk senantiasa menyuport dari segala segi.

II. PROGRAM JANGKA PENDEK

Maksimalisasi Iklan

Program yang akan dijalankan kedepan insya Allah yang menjadi prioritas adalah menggali potensi iklan yang belum banyak tergarap. Untuk itu kami mengundang keluarga besar Darunnajah, terutama yang mempunyai akses ke corporate2 yang siap untuk beriklan- untuk turut aktif memberi masukan informasi yang bermanfaat di bidang Advertising ini, sehingga Edukasia bisa berdiri mandiri secepatnya. Insya Allah tersedia kompensasi atas bantuan professional tersebut.

Musyawarah Kerja Edukasia

Musyawarah kerja akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Beberapa target yang ingin dicapai adalah: Struktur Organisasi, Standard Operational Procedure, Job Description, Program kerja masing-masing bagian. Seluruhnya diharapkan bisa membentuk system kerja yang lebih jelas.

Focus Group Discussion;

Disamping itu, insya Allah kami akan segera membuat semacam "Focus Group Discussion" yang akan menjadi ajang kritik dan masukan majalah Edukasia. Kami berharap saudara- kawan yang concern pada dunia jurnalistik dan pendidikan untuk bisa terlibat agar kami bisa senantiasa memperbaiki diri.


III. KETERBATASAN

Promosi Gerilya

Meskipun begitu, dengan keterbatasan anggaran, kami belum mampu banyak berpromosi secara besar2an. Untuk itu, sementara kami memilih untuk berpromosi dengan cara bergerilya karena kami percaya bahwa marketing lisan (dari mulut kemulut) juga merupakan cara yang effektif untuk berpromosi. Leaflet2 tentang Edukasia akan disebarkan diberbagai titik terutama yang berada dalam network MM Distribusindo.
Kami pun aktif mengajak keluarga besar Darunnajah (asatidz, alumni, walisantri serta seluruh kalangan umum, yang memiliki kantong2 komunitas yang sesuai dengan segment majalah ini (Orangtua yang memiliki anak Remaja) untuk turut serta mempromosikan majalah yang penting untuk pendidikan keluarga ini. Kami telah membuat format kerjasama (terlampir di attachment) yang insya Allah bisa menambah pemasukan finansial sekaligus beribadah membantu bidang usaha pesantren.

Thursday, November 20, 2008

Investor Akhirat

Bayangkan anda memiliki 5 hektar tanah di bilangan Jakarta. Ya. LIMA hektar tanah DI Jakarta.

Kira-kira, apa yang anda lakukan dengannya?

Bangun Real estate? Kota mandiri? Mall? Kerjasama dengan developer? Jual saja dan beli rumah di kawasan elite Singapore? Atau bagi-bagi sajalah ke anak cucu jika anda seorang betawi.

Bisa dipastikan apapun pilihannya, pastinya yang paling menguntungkan untuk anda dan keberlangsungan hidup keluarga anda. Setuju?

Adakah kira-kira ‘orang bodoh’ yang menyerahkannya dengan cuma-cuma kepada pihak lain? Hmm. Di dunia materialistis ini, kecil sekali kemungkinannya.

Tapi saya beruntung pernah kenal dengan orang yang melakukannya.

Really? Menyerahkan 5 hektar tanah di Jakarta secara cuma-cuma?! He must be crazy. Konslet otaknya.!

Tidak, dia tidak gila dan melakukannya dengan penuh kesadaran di depan Notaris. Meski sang notaris dengan penuh kebingungan sempat bertanya akan kesehatan mentalnya sebelum si empunya tanah menandatangani ikrarnya untuk melepas hak kepemilikannya terhadap sebidang tanah seluas 5 hektar di Jakarta.

Dan ‘orang bodoh’ itu, K.H.Abdul Manaf Mukhayyar, wakif Pesantren Darunnajah, menjawab dengan tegas bahwa memang itulah keputusan yang sejak lama ia inginkan. Ia ingin mewakafkan tanah bangunan, beserta seluruh isinya yang ada di bilangan Ulujami Jakarta Selatan seluas 5 hektar, supaya anak cucunya kelak sepeninggalnya, tidak bertengkar memperebutkan harta benda yang ia tinggalkan. Harta benda yang ia berikan secara cuma-cuma itu akan ia bawa ke akhirat sebagai ‘investasi’.

What the…?? Apa sebenarnya yang dilakukan orang itu? Pola investasi macam apa yang ia terapkan? Penjelasan apa yang bisa menerangkan perbuatannya? Oh, Kiyosaki, please help me.

Dalam buku best sellernya, Rich Dad Poor Dad, Robert T Kiyosaki membagi ada 4 kuadrant manusia dalam hal menghasilkan penghasilan.

Kuadrant kiri adalah mereka yang bekerja untuk menghasilkan uang. Sedang mereka yang ada di kuadrant kanan adalah mereka yang telah berhasil membuat uang bekerja sendiri untuk mereka. Work smartly. Investor adalah puncak dari definisi Rich.

Tapi, Kiyosaki tidak pernah menyentuh golongan kelima, golongan yang saya menyebutnya dengan ‘Investor Akhirat’. Investor yang tidak hanya menghasilkan sesuatu yang bernilai materi di dunia, tapi juga immaterial reward someday. Pahala, jaza, istilah orang berjenggot.

Terbukti memang, tindakan melepas hak kepemilikan tadi, atau dalam istilah agama Islam, mewakafkan, menggerakkan sesuatu yang dalam istilah orang beradab ‘law of attraction’. Jika anda memberi, sebenarnya anda tidak kehilangan apapun. Justru tindakan memberi akan menarik hal-hal lain menuju diri anda. Istilah Ustadz Yusuf Manshur; kalo ente mo kaya, perbanyak Sodaqoh ya akhi.

Keikhlasannya melepas hak kepemilikannya menggugah dan menginspirasi banyak pihak. Ya. Inspirasi. Kualitas yang paling dibutuhkan oleh seorang pemimpin, tetapi ironisnya- menurut survey di USA, paling susah ditemukan. To inspire sehingga bisa menggerakkan akal fikiran dan tindakan.

Saya pribadi menyaksikan langsung bagaimana keikhlasan dan kesungguhan hati beliau dalam mewakafkan hartanya dan melepas hak kepemilikannya.

Contoh kecilnya, suatu hari, beliau complain ke bagian keuangan Pesantren Darunnajah karena mendapati tagihan listriknya telah dibayarkan oleh bagian keuangan Pondok. Jangan pernah sekali-kali membayarkan tagihan listrik pribadi saya dengan uang pondok, pintanya. Subhanallah. Beliau tidak rela tagihan listriknya yang tidak lebih dari ratusan ribu rupiah dibayarkan oleh, Pesantren yang telah dibangun dari harta bendanya.

Walhasil. Donasi, bantuan tenaga, fikiran, finansial atau yang lebih penting yaitu apa yang diharapkan oleh wakif- do’a- seakan mengalir deras tak berhenti mensupport perkembangan Pesantren Darunnajah. Subhanallah.

Ada tiga amalan yang tidak akan terputus ketika seseorang meninggal dunia; ilmu yang bermanfaat, sodaqoh yang mengalir dan anak sholeh yang senantiasa mendo’akan.

Ketiga amalan itulah yang ditargetkan oleh wakif tadi, KH.Abdul Manaf Mukhayyar sebagai investasi akhirat. Investasi yang tidak akan berhenti selama Darunnajah masih memberi manfaat dan inspirasi untuk masyarakat.

Semoga keihlasan beliau tetap menjadi inspirasi bagi generasi penerus dan investasi yang beliau tanam akan terus berbuah.

Selamat ulang tahun yang ke-35 tahun Darunnajah.

Al-fatihah lahuma.



KH.Abdul Manaf Mukhayyar dan Hj.Soraya

Sunday, October 12, 2008

Edukasia Oktober


Edukasia edisi Oktober. Mengupas beberapa permasalahan orang tua jika sang prince n princess remajanya jatuh cinta.. Cintaa melulu.. Ada juga rubrik yang mengupas permasalahan remaja yang terlibat Gank semacam Geng Nero. Dilengkapi info tentang beasiswa favorit untuk remaja anda melanjutkan study di Eropa. Wawancara dgn Prof Dr Achmad Mubarok, psikolog muslim pertama di Dunia!

Bisa didapatkan ditoko-toko buku kesayangan anda. Gramedia, Gunung Agung, Hero dll.

sst.. How about the cover? Lilbit girly uh? for you all moms of fallin love teens.. Enjoy it..

Thursday, October 9, 2008

Singkong vs Wall Street

Hari-hari setelah Ied Fitri tahun ini menjadi sedikit menarik. Tak sabar kutunggu berita setiap harinya. Tidak hanya berita mudik macet rutin tapi rasa penasaran akan bagaimana Resesi Global yang terjadi akan berakhir menjadi sumbernya.




Menarik melihat bagaimana AS yang begitu digdaya justru ironically menjadi sumber dari Resesi Ekonomi Global. Negara biang ekonomi kapitalis dimana dewa-dewa bisnis berbasis riba beroperasi di Wall Street mengajak serta seluruh dunia, seperti efek domino, berjatuhan. Banyak Bank2 besar kollaps. Merka terjerat bisnis semu uang yang tumpuk menumpuk diatas bisnis perumahan. Bisnis nyata perumahan di Amerika telah tenggelam oleh tumpukan bisnis pembiayaannya yang berlapis-lapis hingga pilarnya roboh. Neoliberalisme berada dipinggir jurang. Kapitalisme sedang menghadapi dirinya sendiri.

Islam jelas-jelas melarang Riba. Now, let them understand why.

Riba itu pangkal kehancuran masyarakat. Segala hal yang tidak memiliki pijakan nyata, atau komoditas semu yang dispekulasikan, adalah riba. Riba bukan sekedar rente atau bunga atas pinjaman uang. Sejatinya, uang kertas adalah riba karena nilainya adalah nilai semua. Maka, selembar kertas yang sama tiba-tiba punya nilai berbeda ketika yang menuliskan angkanya berbeda. Rp 100 jelas berbeda dengan US$ 100.

Mencari keuntungan pada hal-hal semu memang menggiurkan. Dengan cepat itu dapat melambungkan kita keatas. Itu menjawab naluri manusia yang gemar segera dapat untung banyak tanpa harus bekerja keras. karakter itu yang menjadi kecenderungan kita. Kebanyakan pribumi pebisnis besar pun lebih banyak yang cuma sebagai makelar. Bahkan orang-orang terdekatku ada yang terlena dengan pesonanya.

Teringat kepada salah satu sobatku yang menjadi pemimpin perusahaan milik pamannya. Lebih dari 3 tahun berjalan aku ga pernah tahu apa core businessnya. Yang kutahu ia menjual dan membeli apa saja. Dari software sampe Kapal Tanker. Julukanku padanya; broker in the city. Sukseskah bisnisnya? terakhir aku dapat sms darinya, ia sedang merencanakan pelariannya yang kesekian kalinya keluar negeri. Sebabnya? utang perusahaannya numpuk dan dia dikejar-kejar pemegang saham dan supplier. Good luck bro. Mungkin negeri kapitalis tujuanmu cocok untuk gaya bisnis yang kau jalankan.

Sudah kuingatkan beberapa kali bahwa tidak ada keberhasilan instant. Kesuksesan haruslah berasal dari kerja keras. Bisnis yang berkah adalah bisnis ala Rasulullah. Bisnis berdasarkan Syari'ah Islam. Entrepreneurial and real stuff business is preferable. Ada asset dan produk atau servis nyata yang diperdagangkan. Bekerja keras diatas pijakan usaha yang nyata adalah mental bisnis yang harus dibangun generasi Indonesia untuk bisa maju. Bukan justru menjadi generasi yang gemar leha-leha, lalu berharap sukses dunia akhirat.

Salah satu juniorku di Fakultas Hukum UGM, si Firman "Tela Kress" adalah contoh yang bisa dilirik. Indonesia banget bisnisnya. Singkong. Nyata dan simple. Mungkin terdengar remeh dan tidak memiliki prestise dibandingkan Saham misalnya. Tapi dengan sedikit kreatifitas dan banyak kerja keras, bisnisnya telah merambah sebagian besar pulau ini dan mengantarkannya menjadi young entrepreneur. Good luck bro. Mental karakter seperti ente yang dibutuhkan negeri ini.

Monday, September 15, 2008

Finally, Edukasia has just launched!


Edukasia, Majalah Parenting Keluarga Muslim

"H
ari ini adalah hari yang bersejarah bagi Darunnajah dengan terbitnya Majalah Edukasia" begitu inti isi sambutan dari KH. Mahrus Amin, Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah pada acara launching Edukasia di kampus Pesantren Darunnajah, Jum'at, 12 September 2008. Beliau juga mengatakan bahwa hari launching yang dipilih pada hari Ramadhan adalah sesuatu yang istimewa mengingat bahwa banyak kejadian bersejarah yang terjadi di bulan istimewa untuk ummat Islam ini, seperti halnya proklamasi kemerdekaan Indonesia. Selanjutnya dengan meneriakkan takbir 3 kali dengan penuh semangat beliau dengan resmi menyatakan bahwa Majalah Edukasia telah diterbitkan.

Pemimpin Umum Edukasia, Ustadz Hadiyanto Arief menjelaskan dalam sambutannya bahwa majalah ini adalah perwujudan dari cita-cita Darunnajah untuk mempersembahkan pendidikan bagi masyarakat muslim Indonesia dalam skala yang lebih besar. Ustadz yang masih aktif di Darunnajah tersebut juga menjelaskan bahwa issue Parenting yang dipilih sebagai format majalah adalah karena Darunnajah mengerti bahwa keluarga merupakan "sekolah" yang paling essensial didalam perkembangan seorang anak.

Majalah ini mentargetkan para orang tua, baik wali santri maupun masyarakat umum di Indonesia yang memiliki putra-putri remaja (11-18 tahun) dan memberi informasi tentang pola asuh remaja. Majalah Edukasia bisa didapatkan setiap bulannya di toko-toko buku terkemuka seperti Gramedia, Gunung Agung dan sebagian lapak-lapak di kota besar.

Dalam acara launching, terdapat Talkshow parenting bertemakan "Saatnya mengaudit Pola Asuh Anda" yang menghadirkan pembicara nasional seperti Okky Asokawati, mantan model yang juga psikolog remaja, DR. Habib Chirzin, philosopher mantan anggota Komnas HAM dan Prof.Dr.Ahmad Mubarok MA yang merupakan Psikolog Muslim pertama di Dunia dan dihadiri oleh lebih dari 150-an peserta dan dilanjutkan dengan buka bersama.

Semoga bisa memberi pencerahan bagi dunia pendidikan keluarga muslim di Indonesia(ddy)

Sunday, August 31, 2008

DN Santripreneurs


Yup! I've made a simple proposal about the Santripreneurs, hopefully it can be started next semester in Darunnajah, if it's approved of course.. 

DN Santripreneurs

Santripreneurship; Santri + Entrepreneurship

It was very exciting moment for me. I thought it wasn't since US Embassy has a long collaboration with the pesantren for so many visits. But this time, I admit this one is different. He's  Harry G Harris, entrepreneur and the president of Health Care of California (www.healhtcal.com). 


We had very interesting conversation about entrepreneurship. He's friendly, smart, humble, success, funny and most important, He's entrepreneur! He's a damned successful business man with a quite renowned track for management which you can see at http://www.harrygharris.com/ 

He also kind of social entrepreneur by founding a Harry G Harris Foundation.The thing that more people should do. Anyway, at the end of the visit and mostly listening to my explanation about the pesantren, he impressed with how the pesantren survive and agree that pesantren Darunnajah and most of other pesantrens in Indonesia has a deep rooted entrepreneurial spirit. 

Santri menurut sejarahnya adalah sebuah gen kreatif dari Bangsa Indonesia. Bahkan, lembaga pesantren, yang proses kelahirannya biasanya dimulai from nothing bermodal sumber daya milik Kiai, adalah sebuah proses kewirausahaan itu sendiri. Lebih luas lagi, menurut data yang diambil dari Majalah Gatra edisi khusus 2005, kaum santri  merupakan tulang punggung penggerak ekonomi rakyat pada masa awal kemerdekaan. Contohnya bisa jelas terlihat dalam sejarah koperasi batik di kota Pekalongan,

Didalam kehidupan pesantren modern saat ini, Entrepreneurship menjadi salah satu kekuatan dari sistem pendidikannya. Hal tersebut terkait erat dengan pola asuh santri dalam beragam kegiatan extra kurikuler yang melatih beragam kecerdasan. Terlebih pendidi kan di pesantren juga mengedepankan sikap hidup sederhana dan mandiri, sikap yang utama sebagai entrepreneur. Salah satu doktrin yang selalu ditekankan oleh KH.Imam Zarkasyi, Kiai Gontor kepada santrinya adalah”Anda boleh menjadi pegawai, tetapi jangan pernah punya mental pegawai”.

Doktrin tersebut bisa dimengerti karena hidup ‘ala pegawai adalah hidup yang cenderung jumud, pasif dan sekedarnya, suatu gaya hidup yang bertolak belakang dengan Dunia kewirausahaan. Dunia kewirausahaan adalah dunia untuk mereka yang berani (kadang terpaksa) kreatif, imajinatif, penuh kedisiplinan, mandiri, tidak takut akan tantangan dan memerlukan kerja keras, Dunia yang juga dijalani oleh Rasulullah SAW ketika mudanya.

Namun, bicara Entrepreneurship bukan hanya melulu tentang bagaimana berdagang atau berbisnis. Lebih dari itu, entrepreneurship berkaitan erat dengan kreatifitas, kepemimpinan, kemandirian, kecerdasan sosial emosional dan sikap hidup produktif yang bisa dilatih kepada generasi muda sejak dini. 

Atas dasar tersebut, I'm thinking of idea to establish a kind of extracurricular activity, sebuah wadah pembinaan bagi Santri Darunnajah yang mempunyai minat dan bakat kewirausahaan: DN Santripreneurs.

DN Santripreneurs berasal dari gabungan kata Santri dan Entrepreneurs. Kata Santripreneurs Menggabungkan jiwa Santri dan jiwa Entrepreneurship.


So, what do you think?


p.s. I've heard this "Santripreneurship" term from my friend; Akbar, n I think I need to apply it to Pesantren as soon as possible since I believe this could become a next great thing 




Saturday, August 30, 2008

Edukasia oh Edukasia

lately has been very crucial moment for me as Entrepreneur to be.. I'm about to enter the point of no return, its because I'm about to distribute the magazine to the market .. ! Subhanallah! Exactly one year after returning home, I'm finally Launching a mass product! 

Imagining the public respond is intriguing. Will anyone buy my product? How's the market's respond? How's the advertising guy see my Magz? What need to be revised? oh God, whatever it is, I believe I did my best to produce Edukasia.. 

When I knew that I can give you a value from my product, Then I have a RESPONSIBILITY- not an opportunity- to deliver it to you..

www.edukasia.com


Saturday, April 26, 2008

Work as a Team

I used to find myself doing my man's job. Especially when it's relating to some of businesses that I manage. Magazine, Video Production and such stuffs. Designing this and that. Calculating this and that and such. There are 10 people working for the business. Yet, sometime it's me doing all the work. What's the point? This is what I found from Brad Sugars' article.

Firstly, let’s get back to basics. Most people in business will understand how important systems are. Systems are usually responsible for having a business that runs smoothly (and profitably). With systems in place, it’s simply a matter of employing people to run those systems.

Jadi, seketika bisnis berhenti bergerak atau sepertinya roda organisasi berhenti berputar, take a look at the systems within. Lihat seluruh sistem dari yang paling dasar seperti bagaimana produser menjawab telepon yang masuk hingga bagaimana sebuah produk dihasilkan. Jika sistem yang ada tidak terdefinisi dan terkomunikasikan dengan baik, bagaimana bisa diharapkan sistem tersebut bisa dimengerti, apalagi dijalankan? Definisikan, lalu tuliskan dan breakdown it into check list niscaya bisa jauh lebih efisien.

Seketika sistem telah dibentuk dan diketahui, yang perlu dilakukan adalah get the right man in the right place to run those systems. Yet, the real challenge lies ahead; it's not just about a matter of having people who come in, run the system and get the job done. In this stage, what we're looking for is SYNERGY.

Synergy comes from having people who are committed to a ‘common goal’. If people are involved in setting the ‘common goal’, they are generally more likely to commit. If you , as the business owner are dictating to your team ‘this is the goal’, don’t expect much commitment. If your team has ownership, they are much more likely to achieve. Ownership is also very useful when designing and building your systems, let alone setting goals. Keep asking the team this question…’I’m looking for [certain outcome], how do you think we should go about achieving that?’ The successful business owner has team members that say ‘I think we should do like this’. An unsuccessful business owner has team members that say ‘I don’t know, you’re the boss’.

Finally, be aware of what you are teaching your team. By this I mean, if a baby cries and it's mother comes running. What will the baby lean to do after a while? Exactly, let out a cry and in rushes Mum. All I ask is for you to be very aware of what you are teaching your team. If you’re saying to yourself ‘no-one can do it like me’ and you jump in and do it, your team is learning from that.

Friday, April 11, 2008

Belbin's Team Role in Pesantren


Last night was interesting night of my big family and a good example of how traditional pesantren inner environment face typical regeneration problem. As been recognized from time to time, regeneration (Kaderisasi) is always be a major problem for any family type organization. Many examples of how this kind of problem could bring the pesantren down to the lowest level. Incapability, internal conflict, instant generation and hilangnya idealisme perjuangan were some major causes.

There was a serious discussion last night about next generation taking responsibility. Who should responsible which part and so on. Well, in my opinion, it is one of the leader's (in this case; kiai, pimpinan) hardest job descriptions to be implemented; to put the right person in the right place, including the hardest part to be organized, inner family. What management theory could offer to solve the problem?

First of all, of course, the objectivity and clear perspective of the decision maker; kiai. To clearly see and honestly value the real capability of even their own son and relatives are significant. It is part of "adil" quality of the leader. Even Allah answers Nabi Ibrahim's questions in Al-Baqoroh 124 by excluding the dzolimin from His promise.

Secondly, to put the right person in the right place. It is unrealistic to put all of the human resources in a single position. One has their own uniqueness quality. I might good in teaching but not my brother. He might brilliant in selling but not to concept a strategy. It is truly fine art to see people's capability yet it's not a rocket science.

How people unique position in terms of team working (pesantren is really team working really) could be explained by management terms. One of widely used theory of how team works is known as Belbin's Team Role.

Cited from Wikipedia, The Belbin Team Inventory, also called the Belbin Self-Perception Inventory or the Belbin Team Role Inventory, is a test used to gain insight into an individual's behavioural type. It was developed by Dr. Meredith Belbin after studying numerous teams at Henley Management College.

The Belbin Team Role Inventory assesses how an individual behaves in a team environment. It is therefore a behavioural tool, subject to change, and not a psychometric instrument. The test includes 360-degree feedback from observers as well as the individual's own assessment of their behaviour, and contrasts how they see their behaviour versus how their colleagues do. the Belbin Inventory scores people on how strongly they express traits from 9 different Team Roles.An individual may and often does exhibit strong tendencies towards multiple Roles. Belbin himself asserts that the Team Roles are not equivalent to personality types

The Roles

Plant

Plants are creative, unorthodox and a generator of ideas. If an innovative solution to a problem is needed, a Plant is a good person to ask. A good plant will be bright and free-thinking. The Plant bears a strong resemblance to the popular caricature of the absentminded professor-inventor, and often has a hard time communicating ideas to others.

Resource Investigator

The Resource Investigator gives a team a rush of enthusiasm at the start of the project by vigorously pursuing contacts and opportunities. He or she is focused outside the team, and has a finger firmly on the pulse of the outside world. Where a Plant creates new ideas, a Resource Investigator will quite happily steal them from other companies or people. A good Resource Investigator is a maker of possibilities and an excellent networker, but has a tendency to lose momentum towards the end of a project and to forget small details.

Coordinator

A Coordinator often becomes the default chairperson of a team, stepping back to see the big picture. Coordinators are confident, stable and mature and because they recognise abilities in others, they are very good at delegating tasks to the right person for the job. The Coordinator clarifies decisions, helping everyone else focus on their tasks. Coordinators are sometimes perceived to be manipulative, and will tend to delegate all work, leaving nothing but the delegating for them to do.

Shaper

The shaper is a task-focused leader who abounds in nervous energy, who has a high motivation to achieve and for whom winning is the name of the game. The shaper is committed to achieving ends and will ‘shape’ others into achieving the aims of the team.He or she will challenge, argue or disagree and will display aggression in the pursuit of goal achievement. Two or three shapers in a group, according to Belbin, can lead to conflict, aggravation and in-fighting.

Monitor Evaluator

Monitor Evaluators are fair and logical observers and judges of what is going on. Because they are good at detaching themselves from bias, they are often the ones to see all available options with the greatest clarity. They take everything into account, and by moving slowly and analytically, will almost always come to the right decision. However, they can become excessively cynical, damping enthusiasm for anything without logical grounds, and they have a hard time inspiring themselves or others to be passionate about their work.

Teamworker

A Teamworker is the oil that keeps the machine that is the team running. They are good listeners and diplomats, talented at smoothing over conflicts and helping parties understand each other without becoming confrontational. The beneficial effect of a Teamworker is often not noticed until they are absent, when the team begins to argue, and small but important things cease to happen. Because of an unwillingness to take sides, a Teamworker may not be able to take decisive action when it is needed.

Implementer

The Implementer takes what the other roles have suggested or asked, and turns their ideas into positive action. They are efficient and self-disciplined, and can always be relied on to deliver on time. They are motivated by their loyalty to the team or company, which means that they will often take on jobs everyone else avoids or dislikes. However, they may be seen as close-minded and inflexible since they will often have difficulty deviating from their own well-thought-out plans.

Completer Finisher

The Completer Finisher is a perfectionist and will often go the extra mile to make sure everything is "just right," and the things he or she delivers can be trusted to have been double-checked and then checked again. The Completer Finisher has a strong inward sense of the need for accuracy, rarely needing any encouragement from others because that individual's own high standards are what he or she tries to live up to. They may frustrate their teammates by worrying excessively about minor details and refusing to delegate tasks that they do not trust anyone else to perform.

Specialist

Specialists are passionate about learning in their own particular field. As a result, they will have the greatest depth of knowledge, and enjoy imparting it to others. They are constantly improving their wisdom. If there is anything they do not know the answer to, they will happily go and find it. Specialists bring a high level of concentration, ability, and skill in their discipline to the team, but can only contribute on that narrow front and will tend to be uninterested in anything which lies outside its narrow confines.


Those are the team roles and could be used as guidance of how Kiai and pimpinan could categorize people around. It is useful really to see people's from their capacity, tendency and capability. They might want their son to be Kiai after replacing him, but it is sometime not the case since there are different roles for different persons.

Friday, April 4, 2008

"Telur itu telah pecah"

























Alhamdulillah, "telur itu telah pecah". Begitu ucap kawan sekaligus supervisorku, Luqman mengomentari fisik majalah Edukasia edisi dummy. Terlepas dari kekurangan dan kelebihannya, lanjutnya, kami boleh sedikit berbangga telah melahirkan wujud pertama "bayi jurnalistik" tersebut. Cheers, you deserve it, mate, sambil mengangkat gelas anggur berisi lemon tea.

Banyak memang yang harus dievaluasi dan secara pribadi menurutku edisi ini jauh dari sempurna, jauh dari ekspektasi awalku ketika merumuskan konsep bisnis majalah ini.
Tetapi, setidaknya kita bisa memakai edisi Dummy ini menjadi pijakan besar untuk melangkah, bahkan meloncat ke tempat tujuan.

Semoga bisa menjadi penerang jalan bagi masyarakat, do'anya. Amien.

Tak lupa kuucapkan terima kasih buat semua yang berperan di dalam mewujudkan Majalah Edukasia. Long live Edukasia!

Thursday, April 3, 2008

Interviewing your "gonna be manager"

Lately, it has been a very hectic month for me. To explore something new is intriguing, yet it's exhausting. Magazine publishing is something I never imagine to come into and this IS the real test case for my entrepreneurial knowledge application.

One of the hardest responsibilities of mine is to choose the Manager, in this case is a Chief Editor since it's me the GM. So, is there any ways out there how to choose such manager how to find someone you don't even know them (personally) yet whom you will depend your reputation on? plus you don't have a lot of budget in your pocket to hire a head hunter or even to persuade your competitors' resources.

One of the methods available is to interview them your self. It would be better if you've been knowing them somehow but how if you don't? Sometime interview becomes very formal and merely superficial. It's just like a first date. Everything looks so perfect and beautiful.

So, how to escape from such situation? According to Jack Welch, there are some key questions you have to ask them:
First, make sure yourself about they integration.

IF this requirement has been fulfilled, all you have to do is to ask what you want to know; vision, leadership, crisis management and whether it's original.

Vision is the most important things. The different between leader and manager is whether they have a vision or no. You have to see how they see their environment, comparing the data surround or applied consensus. You could ask them to reveal their best example in anticipating the market change situation.

After, you may come to their leadership. It's much better if you have their record in your hand. Managerial questions like how their recruitment process, problems faced or even to ask their successful "students' out there.

Next, a crisis management is something you don't want to miss. Every leader has their own crisis time and it's very useful to know how they handle the situations, the method, the brave and the experiences. Ask them whether they have been in position against everyone else? or ask them about they biggest integration "sin".

There were some questions Jack has provided and yet it's not that easy as seen. I have been in this situation and need to make a critical decision to bring "Edukasia" forward.

Tuesday, February 12, 2008

Edukasia: Jendela Pendidikan Indonesia







ABSTRAKSI
MAJALAH EDUKASIA

Latar belakang
Di usianya yang ke-35 tahun, Pondok Pesantren Darunnajah merasa perlu mengambil inisiatif untuk mengembangkan skala pendidikan yang dipersembahkan untuk masyarakat Islam di Indonesia. Visi pendidikan yang selama ini disampaikan melalui proses pendidikan di dalam lembaga pesantren perlu ditransformasi ke kalangan yang lebih luas agar bisa memberi manfaat lebih banyak lii’lali kalimatillah.
Keinginan tersebut diwujudkan dengan pembentukan suatu majalah sebagai bentuk transformasi nilai pendidikan yang dianut oleh pesantren Darunnajah kepada masyarakat Indonesia.

Visi
Sebagai media transformasi nilai-nilai pendidikan modern yang sesuai dengan nilai-nilai keislaman sekaligus menjadi salah satu bentuk unit usaha andalan bagi pesantren Darunnajah.

Produk

Bentuk produk adalah Majalah Bulanan “EDUKASIA”
Tagline yang diusung oleh majalah adalah “JENDELA PENDIDIKAN INDONESIA

Isi Pokok
Pendidikan actual dan modern yang sesuai dengan nilai keislaman dengan pendekatan popular

Gambaran umum target market dari Majalah “EDUKASIA” adalah masyarakat muslim perkotaan yang membutuhkan informasi tambahan tentang pendidikan modern yang sesuai dengan nilai keislaman. Masyarakat yang dituju mempunyai kemiripan karakter dengan masyarakat yang menjadi “customers” di lembaga induk, Pesantren Darunnajah.

Saturday, February 2, 2008

Day dreamer

"All men dream: but not equally. Those who dream by night in the dusty recesses of their minds wake in the day to find that it was vanity: but the dreamers of the day are dangerous men, for they act their dreams with open eyes, to make it possible".

T.E Lawrence, The seven pillars of wisdom

Friday, August 31, 2007

Pengelolaan Sampah Terpadu di Pesantren

Sampah merupakan produk harian dari seseorang dan merupakan bagian dari hidup kita sehari hari yang tidak bisa kita hindari. Permasalahan pengorganisasian sampah merupakan sebuah permasalahan yang kompleks yang menuntut penyelesaian dengan pengorganisasian yang rapi dan terpadu.

Pesantren yang merupakan basis pendidikan bagi masyarakat berdasarkan prinsip Islam harus menjadi pioneer bagi masyarakat bagaimana mengelola sampah sebagai bagian dari “Annadzofatu minal Iman”. Alih alih menyerah kepada keberadaan sampah yang kian menumpuk, kita bisa menggunakan sampah sebagai sarana pendidikan pengelolaan lingkungan hidup bagi santri dan masyarakat.

Salah satu metode penyelesaian sederhana yang bisa diterapkan tanpa banyak biaya adalah Integrated Waste Management (IWM) atau Pengelolaan Sampah Terpadu (PST). Selain hemat biaya, kunci keberhasilan dari pengelolaan sampah terpadu hanyalah kesadaran dan keterlibatan dari semua pihak. Mulai dari santri, ustadz, keluarga dan karyawan.

Sebagai gambaran, Pengelolaan Sampah Terpadu (PST) adalah pengelolaan sampah sederhana dengan pendekatan ‘bottom up’yang menjadikan masyarakat sebagai kunci keberhasilan. Ada 3 kelompok kegiatan dalam pengelolaan sampah ini:

A. Kampanye Lingkungan Hidup dan persampahan
PST dimulai dengan mengkampanyekan pengenalan jenis sampah, istilah dalam persampahan dan memberi contoh penerapan prinsip prinsip penting dalam pengelolaan sampah seperti prinsip 4R (Reduce, reuse, recycle and replant) sebagai pedoman sehari hari. Kampanye bisa dilakukan dengan mengadakan workshop lingkungan hidup, bulan kebersihan, tahun lingkungan hidup ataupun penyebaran leaflet-poster lingkungan hidup. Instruktur-instuktur didatangkan dari lembaga lembaga lingkungan hidup sedang sebagai lembaga penggerak di tingkat santri bisa ditunjuk SAPALA (Santri Pencinta Alam) ataupun dibentuk tim atau lembaga khusus untuk menangani sampah.

B. Pemilahan sampah
Tidak hanya mengandalkan pendekatan ‘bottom up’ pendekatan ‘top down’ juga harus diterapkan. PST harus didukung dengan kebijakan pengelola (Pimpinan pesantren). Salah satu fungsi pengelola pesantren adalah untuk membentuk system pemilahan sampah (organic-non organic). Disetiap titik pembuangan sampah harus tersedia fasilitas tempat pembuangan bagi kedua jenis sampah ini. Hal ini juga harus dibarengi oleh kampanye pentingnya pemilahan sampah organic dan non organic ini yang bisa disertakan disetiap titik pembuangan sampah.

C. Pendirian Pusat Daur Ulang dan Komposing
Berbarengan dengan itu, pengelola pesantren diharapkan menyediakan dan membangun Pusat Daur Ulang dan Pusat Kompositing. Pusat Daur Ulang (PDU) inilah yang menjadi pos akhir sampah sebelum diolah menjadi barang yang mempunyai nilai ekonomis. PDU ini pula yang menjadi pusat kreativitas dalam system PST. Kertas daur ulang, piring anyaman, kartu ucapan, kota k hias adalah contoh sebagian hasil daur ulang dari sampah-sampah non organik. Sedang pusat Komposing menghasilkan kompos tradisional yang terdapat lebih dari 20-an jenis kompos sebagai hasil pengelolaan sampah organik.

Beberapa alasan perlunya metode daur ulang ini adalah:

Keterbatasan lahan untuk dijadikan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah. TPA juga mempunyai keterbatasan antara lain lamanya waktu untuk mampu menampung.
Pembakaran sampah bukan jalan keluar karena akan manambah polusi udara. Pembakaran akan mengeluarkan gas pada hujan asam (acid rain) racun logam berat (toxic heavy metal) dan dioxins.
Kalau dijadikan kebiasaan, daur ulang dapat dilakukan dengan cepat.
Mempunyai nilai ekonomis disbanding dengan pengadaan incinerator (mesin pembakan sampah. Bahkan dengan kreativitas yang tinggi, daur-ulang dapat menjadi bisnis yang bagus.
Menghemat sumber daya alam.
Menghemat energi yang dibutuhkan untuk memproduksi barang sama sekali.
Membantu penyelamatan hutan tropis dan penggundulan hutan. Kertas daur ulang akan mengurangi penebangan pohon untuk bahan dasar bubur kertas (pulp).

Sebagai kesimpulan, metode pengelolaan sampah terpadu (PST) yang berbasis masyarakat dan mencakup metode daur ulang (recycle) dan Kompositing sampah organik bukan hanya mungkin dilaksanakan di pesantren, tetapi mungkin menjadi solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah sampah sekaligus menjadikan sarana pendidikan lingkungan hidup dan kreativitas bagi santri dan masyarakat.


Dirangkum oleh Hadiyanto Arief dari buku: Small Steps Towards a Big Leap, langkah kecil untuk lompatan besar; panduan untuk pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat, sekolah dan pramuka. UNESCO, 2004

Talents make capital dance

Jonas Ridderstrale and Kjell Nordstrom’s book seeks to explore world’s nowadays business condition and how business organisation or anyone wishes to involved in business should perform. Using the term ‘Talent makes capital dance’, they draw a kind of brain-based world business environment.

The whole book draws how business world have changed. It describes some of economic theories, from the machine age which is renowned with its Fordism assembly line untill the way internet has led information technology age and has changed most of management style in business organisations.

The world business condition appears to be shaped by lot of contribution from development of technology, especially information technology. Information technology, which is led by internet, has made almost anything available to anyone, anywhere and anytime. Ridderstrale and Nordstrom state that information technology decreases time and space. It causes to “shrink the world” and makes a global market phenomenon. Moreover, information technology enables total transparency, as a result, this seems causes people with access to relevant information are beginning to callenge any type of authority and appears it changes styles of nowadays business organisations. Both them also claim that it will shape markets to its perfect and very traditional shape, Bazaar. In traditional bazaar, as in nowadays markets situation, informations about the products are available at consumer’s fingertips. Markets believed to become more efficient and thus affect everything involved in business processes. Business best practice move faster than ever before. Therefore, funky business can also mean ‘more competition for everything in everywhere.’

There are two other forces of funk besides information technology which argued by Ridderstrale and Nordstrom have most contribution to shape the funky time. The change of institutions in society believed to be one of them. Institutions considered as contractual arrangerments that bind people. It may be states, political parties, eternal enterprise and even family. The last force of funk is values. Value system, which become base for every institution, organisation and society, argued to be has changed slowly. It affects people’s thoughts, deeds, artefacts and actions. Value system believed to has been geographically liberated. Values in working places and spiritual emptiness become one of the biggest aspects that shape the funky world.

The most important reason for those situations and become central point of the book seems to be an importance of knowledge. A brain, as a based tool of knowledge believed to be a critical means of production. The book also draws how knowledge spreads globally and instantly and unstopable. It is becoming more and more important than ever. The book describes the knowledge as “The new battlefield for countries, corporations and individuals”. Futurist Alvin Toffler once said that the “brute force economy” is being superseded by a “brain force economy.”(Crainer, 1996) Brain has become the central and the most important aspect of production. Brain replaced the most important aspect of production in machine age, which once appeared in Henry Ford’s lamenting expression; “How come when I want a pair of hands I get a human being as well.” It also appeared in what Charles Handy has said in his book, the Age of Unreason, (Handy, 1992): “Comparative advantage means that there is something for which others will pay a price, be it minerals, cheap labour, golden sun or brains. For Britain and the rest of the industrialized world it has, increasingly, to be brains. Brains are becoming the core or organisations-other activities can be contracted out.”

On the other hand, Handy’s phrase about Britain and industrialized world should be given more consideration from Ridderstale and Nordstrom. How extend the internet and information technology have an effect on business in particular country is seems not in the same speed and depend on many aspects. One of significance aspect has drawn by Hofstede, (Morden, 2004) which is known by ‘National Culture.’ National culture is defined as the ‘collective mental programming’ of society. Fukuyama defines national culture in terms of ‘inherited ethical habit.’ (Morden, 2004) Hofstede believes that people from any particular nationality are culturally conditioned by particular patterns of socialisation, education, and life experience. (Morden, 2004) Furthermore, he argues that cultural conditioning is stable and resistant to change. His reason is because national culture resides : (i) collectively in the mental make-up of the people in the society; (ii) in their institution (family, education, religion, forms of government, associations and institutions, law, work organisations, literature, settlement patterns, towns and cities, buildings, etc.) and (iii) in their ideologies, technology, and scientific theories.

Following that, there should be more specific and clearer arguments about how extend the influences of internet and information technology development in a worldwide, especially in non-industrialized countries. For comparing, in Indonesia, one of South East Asia developing country, only about 14 million from about 238 million of people who recognised as active internet user. (www.komfindo.or.id, 2004) Compare it with a fact from a research in 2002 about relation between internet usage and industrial behaviour in Spain, one of industrialized country members of European Union, which about 8,5 million from about 40 million population is known as internet user. (www.nielsen-netratings.com, 2004) The conclusion of the research is there is not as yet possible to find any proof of a cause-effect relationship between internet usage and improvements, percetible to the client, that are liable to change the dynamics of competition within pharmaceutical industry in Spain. The research in pharmaceutical industry had choosen because the sector was one of the pioneers in the introduction of robotics, telecommunications and computer technology in the organization, achieving a high degree of technological development from the early 1970s in Spain. (Ana Rosa, et al, 2002)

On the other part of this book Ridderstrale and Nordstrom establish some opinions about companies and leadership. Companies, as a backbone of business world are claimed to stay dominant. Corporations are the dominant social institutions of our age. It said in the book that 300 largest multinational companies control 25 percent of all the productive assets on earth. These global firms are considered as the new empires roaming and running the world.

However, there still some business organisations come and go. Some organisations change shape constantly, thus, survive and even succeed. They even reorganize, realign and refocus. There is no organisation stays the same. In that case, there are some related characteristics of which believed will keep the organisation survive and have a chance to survive according to this book. Funky Inc., a phrase that Ridderstrale and Nordstrom use to label those organisations is defined as an organisation that actually thrives on the changing circumstances and unpredictability of our times.

The characteristic of these organisations can be seen from how these organisations looked and operated. The first character for companies is to be focused. The organisation argued to be focused to secure their existence in business world. Furthermore, it should be narrow on one or just a handful of core business. They take the basic idea from Adam Smith who has pointed out that “the size of a market increase so should the degree of specialisation.”

The second aspect of Funky Inc. is that leveraged. Once organisation has identified its basic business, the core capabilities and the target tribe, it has to leverage its key resources. Leveraging is a three-stage process. The first is internal, then industrial and international leverage. Internal leverage is a process that happens inside the organisation and it is influence the style of management in the organisation. Internal leverage is about building a learning organisation, increasing the rate of knowledge transfer and transformation and this starts with leveraging knowledge throughout the firm. It is argued that learning must be a key task for any leader in the firm to ensure the continuous transfer of knowledge across organisational boundaries. Therefore, Funky Inc. is built around forums, virtual and real, where people can meet, rather than boxes and arrows that isolate them in unbreakable silos. Industrial leverage is happen when organisations use their core competences and competents to enter new industries, just like not what Ford did, they do so without trying to control all process internally. International leverage means business organisations should keep to be global, administratively, structurely and systematically.

To remain unique, it said that organisations must constantly sharpen their competitive edge. Furthermore, innovation argued to be not only a matter of technology. Innovation concerns every little aspect of how organisations operate their administrative, marketing, financial, design, human resource and even service concept innovation. To be innovative, the style of management should be different. The reason appears that people need resources and time to sit down and reflect to be creative. People need time to be alone and play around and so give them a chance to make experiments and to have casual conversation with other. Ridderstrale and Nordstrom claims the fundamental starting point as the consequences of developing a brain based firm, is to allow people to be themselves and to look as they want appears. Sharing a number of things considered will be helpful to manage this style of organisation. Ownership share, rewards, identity, culture, language, knowledge and attitudes are the examples.

Funky firm also argued to be not hierarchycal in its structure. Alternatively, it should be heterarchical. The reason can be seen from the nature of hierarchy. Hierarchy word literally means: ‘to rule through the scared’. Moreover, hierarchy said to be built on three key assumptions: the environment is stable, the processes of organisation are predictable, and the output is given. They believed in a surplus society, an economy moving forward at high speed, and in companies heavily reliant on brainpower, traditional hierarchis will get constant nervous breakdown. Organisations need structures that support experimentation and the creation of innovation. On the other hand, most of new organisation will be heterarchical, containing many hierarchies of different kinds.

Spaghetti organisation is a term that Ridderstrale and Nordstrom use to express the style of that kind of heterarchical organisation. Every person in this kind of firm belongs to a group of resources. Any individual is tied to a project, an area of expertise profession, and to people dimension. Projects comprise the operation style in this kind of organisation.

Management style from such kind organisation appears to be accordance with the theory of “Management by objective” or MBO which was put forward by Peter Drucker (Morden, 2004). MBO is a management style that may be applied where employees are in a position to exercise at least some degree of discretion within their jobs. This kind of management requires an open two-way communication relationship between the superordinate and the subordinate. They need to identify, clarify, agree together what are the basic performance parameters, measurement values, and required outcomes of the subordinate’s work. The result of the agreement should content the objective of subordinate and how these objective or targets should be achieved. It also accordance to the theory attribute to this concept which was developed by Ouchi (Morden, 2004) and known as concept ‘Management by Wandering Around.’ It is a close managerial participation in events, rather than the distant giving of orders. Managers who practice this kind of management style become highly visible and accessible. It reduced the status difference between superordinate and subordinate staff. They also attempt to maximise the degree which issues are resolved by direct, face to face, verbal communication and negotiation with peers and subordinates. Therefore, it associated with speedy, consultative, and informal decision-making. In the face of an increasingly complex knowledge landscape, organisations have to strengthen the power of the professional and process structure. There still a critical role for management to play. But they are considered no longer the only actors or stars in organisations.

However, such kind of idea of organisation style that Funky Business proposes has appeared parallel with other ideas from previous management thinkers. Compare it by Shamrock organisation which proposed by Charles Handy in his book, The Age of Unreason. (Handy, 1992) The organisation called by Shamrock, the Irish national emblem, symbol of three aspects of God (Trinity). It used to make point that the organisation is made up of three very different groups of people. The first group is the core workers (the core), or professional core. These are the people who are essential to the organisation. The second group is the group of people who contracted (the contractual fringe) by the organisation to do non-essential works in organisation. The third group in the shamrock is the flexible labour force, all those part-time workers and temporary workers who are the fastest growing part of the employment scene.

Handy establishes F International in Britain as an example such kind of organisation. (Handy, 1992) It seems can be identified some similarity with organisation style that Ridderstale and Nordstrom argued. FI’s Charter’s statement that the organisation designed to develop, through modern telecommunications, the unutilized intellectual energy of individuals and groups unable to work in a conventional environment seems to indicate an innovative aspect of the organisation. The focus and heterarchical aspect of Shamrock seem reflected from its behaviour to contract the special worker in second group. The organisation subcontracts particular works to whom considered to be capable to do it better than if they do by themselves. The first group- the core workers- therefore can be focus to their speciality. Meanwhile, the organisation stucture will be flatter and smaller.

Furthermore, Ridderstrale and Nordstrom establish seven features of the funky firm. The first, it said that funky firm is smaller, because the people creative in small teams.The second is it flatter. The flatter the firm, the faster the time to detect the problem appears and the faster solution implementation.The next is that organisation style working in projects and groups and temporary. Organisations have to be able to recombine their key assets and turn the firm into a team park.The fourth is Funky firms should work horizontally in process. Hierarchy is not accordance to the brain based world because vertical hierarchical logic builds upon the simple assumption that the smart ones are located at the top and the stupid ones at the bottom.The fifth, funky firms is circular. Circularity is about organisational democracy. This principle is perhaps more difficult to grasp. It built on the fact that people has a tremendous ability to self-organise once they get 360-degree feedback.The sixth features is organisation should be open. Given that the firm is narrower and hollower, organisations also need to develop abilities to become increasingly networked. The last feature is that everything in organisation will be measured as a substitue for the loss of hierarchical control resulting from the introduction of new structures. Information system will be used to increase control by measuring more things, new things, at multiple levels, and at a greater frequency than before. The fact that Xerox’s Anne Mulcahy and Pepsi’s Steven Reinemund regarded as one of the best managers of 2004 by Business Week magazine seems appear as evidence. Anne Mulcahy’s key accomplishment is to push for faster decision making and instituted lean Six Sigma to improve efficiency in her organisation, as Reinemund’s greatest achievement is in developing people more than products. He personally takes a major role in mentoring and teaching staff-both formally and informally. He also demands that everyone in the senior ranks do the same. (Business Week, 2005)

However, it should be considered that there are significance differences between organisations from its network point of view. Charles Snow and Raymond Miles (1992) describe the different form of organisations based on the forms of network organisation. Some organisations compete in stable network, therefore less affected by rapid technological change, such as manufacturing and food retailing. Some other operates in Dynamic network, such as computer manufacturing and fashion retailing which are affected by a high degree of environtment change. As Internal networks are similar to stable networks in that they operate in an environment that is less prone to change. The differece, however, is that there is a high need for knowledge transfer between the various elements of the network to leverage and fully exploit the internal resources. (Jackson, Ed., 1999)

In conclusion, Funky Business gives a new perspective link between economic world and humanity even though is not much original idea from this book. It gives a wholistic view for either people or organisation how to survive and to compete in nowadays speedy changing brain-based business environment. However, there seems appears some over-generalisation to see the speed of changing in business worldwide, especially which related to information technology, even though it is not reduce the contribution for business and management development.










Reference:
Ana Rosa Del Aguila Obra, et.al.(2002). “Internet usage and competitive advantage: the impact of the Internet on an old economy industry in Spain” Emerald Journal, Volume 12 Number 5 2002, [internet] Availablefrom: http://juno.emeraldinsight.com/vl=651591/cl=12/nw=1/fm=html/rpsv/cw/mcb/10662243/v12n5/s3/p391

Business Week’s Special Report: The Best and The Worst Managers of The Year. Business Weeks magazine. European Edition/ January 10-17, 2005 edition. Page. 34-41.

Crainer, Stuart., (1996) Key Management Ideas, Thinkers that changed the Management World. Pitman Publishing. London.

Handy, Charles (1992) The Age of Unreason. 2nd edition. Century Business imprint. London.

Jackson, Paul. Ed. (1999) Virtual Working, Social and organisational dynamics. Routledge. London.

Morden, Tony., (2004) Principles of Management. Ashgate Publishing Ltd. Hants, England.

Ridderstrale, Jonas and Nordstrom, Kjell,. (2002) Funky Business, Talent Makes Capital Dance. Pearson Education Ltd. Great Britain.

Official Website of Ministry of Communication and Information of the Republic of Indonesia (2004) Pengguna Internet 2005 Diproyeksikan 20 Juta /there will be 20 million internet user in 2005 [internet] Available from: http://www.kominfo.go.id/index.php?action=view&pid=news&id=81 .

(2004) http://www.nielsen-netratings.com/news.jsp?section=dat_to&country=sp

(2004) http://www.countryreports.org/country.asp?countryid=225&countryName=Spain

(2004)http://www.countryreports.org/country.asp?countryid=115&countryName=Indonesia

Multiple Intelligences di Pondok Pesantren

Sadarkah kita, bahwa sistem pendidikan yang diterapkan oleh kita dan sekolah-sekolah umum di Indonesia bukanlah merupakan sebuah sistem pendidikan, tetapi lebih merupakan sistem eliminasi?! Sistem ini mengeliminasi dan membedakan mereka yang dianggap cerdas (secara sempit melalui ukuran IQ, yaitu UJIAN) sekaligus mencap sisanya sebagai ”mereka yang tidak pintar”.

Kecerdasan yang diukur oleh ujian dan ditampilkan dalam raport (IQ dan IP) hanya mengukur kemampuan bahasa, matematika dan kemampuan mengingat data pelajaran yang semuanya berkaitan dengan kemampuan kerja otak kiri, sedang kemampuan kreativitas, kapasitas emosi, hubungan sosial dan nuansa spiritual termasuk juga kecerdasan emosional (EQ) yang merupakan hasil kerja otak belahan kanan dari manusia tidak tersentuh oleh ukuran-ukuran sistem pendidikan di kebanyakan sekolah umum di Indonesia.

Padahal, menurut beberapa ahli, pada kenyataannya, ukuran prestasi akademik yang biasa dinilai dengan UJIAN tidak berkaitan banyak (hanya 10%) dengan keberhasilan hidup mereka nantinya. Banyak contoh dari mereka yang berhasil di dalam hidup tidak terlalu baik dalam catatan akademiknya. Thomas Alfa Edison, penemu paling produktif dunia bahkan pernah dicap sebagai ”terlalu lemah otaknya” oleh gurunya dan hanya merasakan 3 bulan di bangku sekolah. Begitu juga Henry Ford, salah satu orang paling sukses di dunia otomotif. Bill Gates, Jeff Bezos, Michael Dell adalah beberapa orang terkaya di dunia saat ini yang berhasil melalui keunggulan kreativitas mereka di bidang teknologi informasi yang tidak pernah merasakan bangku kuliah (Bill Gates drop out dari kuliahnya di semester 2)..

Begitu banyaknya contoh dari keberhasilan pribadi pribadi kreatif yang tidak merasakan pendidikan akademik menimbulkan pertanyaan tentang keefektifan sistem pendidikan umum yang ada. Apakah bijak memaksakan secara rata pola belajar anak didik untuk mencapai prestasi akademik jika tiap pribadi adalah berbeda secara alami? Bukankah likulli syai’in maziyyah? each of us is unique, just like everyone else? Bahkan kalau kita mau mencari, asal kata pendidikan dalam bahasa inggris, education, berasal dari kata latin, educare, yang berarti mengeluarkan. Seyogyanyalah, pendidikan harus kembali ke asal tujuannya, yaitu mengeluarkan potensi alami anak didik, mendorong anak untuk menggunakan otak (kiri dan kanan) nya secara maksimal sehingga bisa berfikir kreatif dan imajinatif dan bukannya memaksa mereka mengingat data pelajaran di kepala mereka yang merupakan kerja otak kiri mereka.

Dalam bukunya Frames of Mind (kerangka pikiran), Howard Gardner (1980) mengidentifikasi 8 (delapan) kecerdasan (Multiple Intelligence) dengan kapasitas yang berbeda-beda pada setiap orang:

Linguistik-verbal: Kejeniusan yang sekarang dipakai oleh sistem pendidikan kita untuk mengukur IQ seseorang. Ini merupakan kemampuan bawaan seseorang untuk membaca dan menulis kata-kata. Ini adalah kecerdasan yang sangat penting karena hal ini merupakan cara utama umat manusia mengumpulkan dan membagikan informasi. Para wartawan, penulis, pengacara dan guru sering kali dianugerahi kejeniusan macam ini.

Numerik: kecerdasan yang berhubungan dengan data yang diukur dalam angka-angka. Seorang ahli matematika dan akuntan handal dianugerahi dengan kejeniusan ini.

Spasial: kejeniusan yang dimiliki oleh banyak orang kreatif-para artis dan desainer termasuk para pembalap dan atlit sepak bola. Kemampuan seseorang untuk menyebrang jalan ramai lalu lintas dan bisa memperkirakan kapan sebuah mobil akan sampai pada titik tertentu adalah contoh dari kecerdasan ini.

Musikal: Kejeniusan yang dimilik oleh banyak musikus, komposer, pemain band dan pencipta lagu.

Fisik: Kecerdasan yang dianugerahkan pada banyak atlet dan penari besar. Ada banyak orang yang tidak berhasil baik di bangku sekolah dianugerahi secara fisik. Itu kerap kali adalah orang-orang yang belajar dengan melakukan-sering disebut pembelajaran ”dengan mengoperasikan”.

Intrapersonal: Kejeniusan yang kerap disebut ”kecerdasan emosional”. Ini adalah apa yang kita katakan pada diri kita, misalnya, ketika kita takut atau marah. Sering kali, orang tidak berhasil dalam sesuatu bukan karena kurangnya pengetahuan otak, tetapi karena mereka takut gagal. Misalnya banyak orang pandai dengan peringkat baik namun kurang berhasil hanya karena mereka hidup dalam rasa takut berbuat salah atau gagal. Banyak orang tidak menghasilkan banyak uang hanya karena mereka takut kehilangan uang. Dalam bukunya Emotional Intelligence, Daniel Goleman mengutip seorang humanis abad enam belas, Erasmus dari Rotterdam, yang menyatakan bahwa pemikiran emosional dapat menjadi dua puluh empat kali lebih hebat daripada pemikiran rasional. Kebanyakan dari kita telah mengalami kekuatan otak emosional melebihi otak rasional, terutama bila kita lebih takut daripada berpikir logis atau ketika kita mengatakan sesuatu yang kita tahu seharusnya tidak akan pernah kita katakan. Kecerdasan ini dianggap kecerdasan yang paling penting dari semua kecerdasan, karena kecerdasan ini adalah kontrol kita atas apa yang kita katakan pada diri kita sendiri. Ini adalah saya yang berbicara pada diri saya dan anda berbicara pada diri anda.

Interpersonal: Kejeniusan yang ditemukan dalam diri orang yang dapat berbicara atau berkomunikasi denga mudah dengan orang lain. Orang dengan kejeniusan ini sering kali adalah komunikator yang kharismatis, penyanyi, pengkhotbah, politikus, aktor, salesman dan penceramah yang hebat.

Lingkungan : Kejeniusan yang berasal dari umat manusia terhadap hal-hal di sekeliling mereka. Ada orang-orang yang secara ntural mempunyai bakat untuk berhubungan dengan hal-hal seperti pohon, tanaman, ikan, lautan, binantang dan tanah. Ini adalah kejeniusan yang dimiliki oleh para petani, pelating binatang, ahli kelautan, penjaga dan pemelihara taman yang hebat.

Lebih jauh lagi, dalam bukunya yang berjudul Intelligence Reframed, Gardner menambahkan tiga kecerdasan yang tak kalah pentingnya; kecerdasan naturalis, kecerdasan eksistensia, dan kecerdasan spiritiual (Gardner, 1999). Pasangan Ilmuwan Ian Marshal dan Danah Zohar juga memperkenalkan spiritual intelligence sebagai ultimate intelligence atau kecerdasan yang paling utama. Semuanya mendasari maraknya perkembangan wacana dan pelatihan kepribadian yang berkembang di masyarakat Indonesia terutama di kota-kota besar beberapa tahun terakhir.

Sekarang, kalau kita perhatikan format pelatihan EQ, ESQ maupun Outbound-Outbound peningkatkan kepribadian melalui program program peningkatan kepribadian yang ada, bukankah sebenarnya tidak jauh berbeda dari program kepengasuhan santri di kebanyakan pondok pesantren?. Bukankah itu menandakan kesadaran dan pengakuan masyarakat (bahkan barat) bahwa sistem pendidikan yang unggul adalah sistem pendidikan pesantren dengan kepengasuhan santrinya? Bahwa sumber daya manusia yang akan survive dan berhasi adalah mereka yang tidak hanya unggul secara IQ, tetapi juga kematangan emosional, bahkan kematangan spiritual?

Lalu? Apa yang selayaknya dilakukan oleh pengasuh Pondok Pesantren untuk meningkatkan kualitas santri?

Pertama, kita harus merubah penilaian kita tentang orang pintar, mereka yang cerdas, siapa yang jenius, karena setiap pribadi anak adalah berharga, cerdas, pintar dengan kelebihannya masing-masing. Dengan merubah pandangan kita, diharapkan kita bisa memahami lebih dalam perbedaan tiap pribadi anak murid dan pada akhirnya mendorong anak untuk mengeluarkan potensi mereka sesuai bakat dan minat masing masing pribadi anak.

Kedua, sebagai penyelenggara lembaga pendidikan pondok pesantren, mereka harus menyadari bahwa mereka punya kesempatan banyak untuk mengembangkan keseluruhan potensi anak didik, termasuk delapan kecerdasan diatas. Bagaimana? Tentunya dengan memberi kesempatan anak didik untuk berkarya melalui bakat dan minatnya masing masing melalui kegiatan extra kurikuler.

Kegiatan extra kurikuler, tentunya yang sesuai dengan alam Islam di Pondok Pesantren harus didukung lebih jauh. Kepengasuhan santri harus selalu menjadi ujung tombak pendidikan di Pondok Pesantren. Latihan keorganisasian dan kepimimpinan sebagai pelatihan kecerdasan intrapersonal, muhadloroh sebagai wujud dari kecerdasan interpersonal, kegiatan kesenian, kepramukaan dan kreativitas, lukis, kaligrafi, desain grafis sebagai wujud dari kecerdasan spasial, musik, olahraga sebagai wujud kecerdasan fisik harus diutamakan dan didukung sepenuhnya bila Pesantren tidak ingin ditinggalkan zaman. Intinya, pesantren selayaknyalah mendorong santri untuk mengenal dirinya sendiri dan memberi kesempatan para santrinya untuk mengembangkan potensi natural positif dan kreativitas mereka dibawah bimbingan pengasuh.

Kualitas imajinasi dan kreativitas seseorang (yang menurut Einstein lebih penting dari pengetahuan itu sendiri) serta kualitas kesadaran, kemauan serta kemampuan untuk belajar terus menerus dari kehidupan (dan bukan hanya dari guru dikelas) sudah seharusnya menjadi karakter santri selulusnya mereka dari pondok, karena saat itulah hidup mereka dimulai dengan jalannya masing-masing. Maka dari itu, membekalinya dengan pengetahuan akan potensi diri mereka sendiri harus menjadi salah satu tugas utama pengasuh di Pondok Pesantren sehingga santri benar-benar memahami hikmah dari kata kata halaka’umru’un lam ya’rif qodrohu.

wallahu a'lam bisshowab..

Dedy

Untuk melihat sedikit video tentang Multiple Intelligence di Pesantren; http://uk.youtube.com/watch?v=CwoVBnXUCqk