The blessed month, Ramadhan has just past. Our charging time has finished. Now it's time to continue our life for a year hoping to reach another Ramadhan to recharged our spirit. It said that the hearth of Shoimun (they who fast) and they who catch the lailatul Qodr, just like a clean paper. Forgiven. Crystal.
Allahumma give us a strenght to continue our life without your Ramadhan. Without accompanied by your blessed month.
Allahumma ballighna another Ramadhan..
Eid Mubarak for all my family, relatives and friends..
Showing posts with label Religion. Show all posts
Showing posts with label Religion. Show all posts
Saturday, October 4, 2008
Saturday, May 3, 2008
Smile=Sadaqoh

Dalam ajaran Islam, bersodaqohohlah walau hanya dengan tersenyum. Now, it's surprising sometime what can be found in society. Ternyata ada beberapa masyarakat yang baru belajar tersenyum! hehe2..
berikut ini ane copy paste salah satu grup yg ada di facebook. Lucunya, masyarakat mereka sendiri ternyata jenuh dengan orang budaya Briton yg ga pernah senyum n bersikap dingin dengan sesamanya, n mereka berharap masyarakat bisa berubah, walau hanya sehari. Sekarang ente tau kan kenape ane ga betah idup disono? ane rindu senyuman dan sapaan renyah simbok2 di Bantul!

Name :We're going to change Britain! WANTED: 2 Million People
Type :Common Interest - Beliefs & Causes
"We the members of this group will defy British culture by smiling, saying hello and potentially sharing a wave with people we do not know in order to change Britain."
In 2008 if you smile and say 'hello' to someone you don't know the chances are that they will think you're some kind of a crazy person after their bag or some larger part of their body. If you're lucky you might get their foot in your mouth.
We, the people who live in Britain, are fed up of silent commuter trains and journeys where people do not speak to each other. We're tired of those places where if you look at someone you are at increased risk of GBH. We're bored of a smile in the general direction of someone who thinks that they are attractive being misread/misled. Time enough we say for this Britain of darkness.
So let's reverse this reserved psychogeography of our nation(s)... for one day at least....
On (from) the 2nd of April 2008 shun unfriendly behavior, become an activist of change and...
Description :
1. Smile at everyone you make eye contact with (if they smile back, say 'Hi' or if they are a long way from you give them a wave.
2. Ask 'how do you do?' to people you walk past or sit next to. If they reply, go mad and ask them how their day is going.
...no matter who they are or what they look like. Let's go crazy and show an interest in our fellow Britons!
If 2 million Britons take part in this campaign 1 in 30 people should smile at you or say 'How do you do?'... this will change the geography of Britain as we know it... even if it is just for one day.... so please ask friends and strangers to join in.
Let's change the Geography of Britain!
A REMINDER MESSAGE CAN'T BE SENT OUT SO PUT IT IN YOUR DIARY
- This is an act of Guerrilla Geography -
Wednesday, April 23, 2008
Ageing Population
I met one of my Chevening friends yesterday in Plaza Semanggi. It was lunch time n I miss that Bebek Peking in one of Chinese muslim restaurant in Bristol. Rice Bowl was our choice then. It was my fifth time to go to Mall since the last six months.
Sitting there in one of the most centrally located Mall in Jakarta, we realized there was quite different atmosphere from most UK Shopping Centres. Something missing from our shopping centres. And it's an eldery people! ya! orang tua!
kakek2 ompong, nenek2 bungkuk berambut putih, kakek nenek pengendara mobil batere nan imut, mereka mandiri, ramah senyum dan biasanya tak segan mengajak ngobrol dimana ada kesempatan persis Ibu Nenek Gendut Soraya, nenek gw tercinta.

Gw inget banget soalnya setiap hari berangkat ke kampus jam 10 pagi, itu bis yang gw tumpangin pastinya penuh dengan manusia lanjut usia~pensioners. Tinggal menunjukkan kartu Pensioner mereka n simsalabim, mereka bebas kemana saja. Sekumpulan nenek2 biasanya menuju city centre buat berburu barang2 murah di Charity shops dan bazar2 murah.
Lalu, kemana mereka dalam kasus Indonesia? Yaaa pengajian laahhhh... Maulid boo.. Malu sama cucuuu..
No, I mean, it's far more serious than that. It's describing how horrible and unfriendly really our transportation system is. Ga kebayang kan nenek2 bungkuk naek Kopaja di Jakarta? Bisa2 tewas jantungan ngeliat copet beraksi di depan mata mereka, atau tumbang ketika mengejar ngejar Metro Mini yang zig-zag.
It's also describing the social structure of family in two different cultures. Cucu dan bahkan anak bukanlah milik mereka orang tua yang hidup dibudaya barat. Orang tua hanyalah media yang melahirkan mereka. Tidak ada kewajiban mengurus orang tua seperti konsep yang kita kenal dalam budaya barat dan Islam. Tidak ada kewajiban membalas kebaikan mereka. Tempat orangtua ketika mereka tidak berdaya adalah Panti Jompo. That's it. They're just like a baby. Fragile, spoil, burden, tak berdaya. Nyusahin!
Tetapi justru disitulah salah satu kelemahan terbesar masyarakat dengan budaya yang mereka anggap Modern. Budaya barat. Budaya sex bebas. Budaya individualis. Budaya yang sebagian dari kita menganggapnya budaya paling superior.
Seketika mereka sadar bahwa konsep menikah dan memiliki anak adalah sebuah beban dan tidak memperdulikan mereka sesaat mereka lulus SMA, kenapa repot susah2 membesarkan anak? who cares anyway? cuma bikin susah! mahal pula.. lebih baik duitnya dipakai buat seneng2. Plesiran, expedisi, touring.
Kebayang kan suatu hari nanti mereka akan bingung bahwa generasi mereka berkurang? dan itulah kenapa terjadi fenomena "ageing population". Populasi yang menua. Kekurangan generasi produktif karena setiap dari mereka tidak menginginkan anak terlalu banyak. SEBALIKNYA, orang2 imigran yang masuk, yang notabene berasal dari negara2 timur tengah dan Afrika, beragama Islam, berlomba2 membuat anak yang banyak sesuai anjuran agama mereka. Nah loh!
sudah tergambar skenario besar Tuhan kan? it's only a matter of time brother...
Sitting there in one of the most centrally located Mall in Jakarta, we realized there was quite different atmosphere from most UK Shopping Centres. Something missing from our shopping centres. And it's an eldery people! ya! orang tua!
kakek2 ompong, nenek2 bungkuk berambut putih, kakek nenek pengendara mobil batere nan imut, mereka mandiri, ramah senyum dan biasanya tak segan mengajak ngobrol dimana ada kesempatan persis Ibu Nenek Gendut Soraya, nenek gw tercinta.

Gw inget banget soalnya setiap hari berangkat ke kampus jam 10 pagi, itu bis yang gw tumpangin pastinya penuh dengan manusia lanjut usia~pensioners. Tinggal menunjukkan kartu Pensioner mereka n simsalabim, mereka bebas kemana saja. Sekumpulan nenek2 biasanya menuju city centre buat berburu barang2 murah di Charity shops dan bazar2 murah.
Lalu, kemana mereka dalam kasus Indonesia? Yaaa pengajian laahhhh... Maulid boo.. Malu sama cucuuu..
No, I mean, it's far more serious than that. It's describing how horrible and unfriendly really our transportation system is. Ga kebayang kan nenek2 bungkuk naek Kopaja di Jakarta? Bisa2 tewas jantungan ngeliat copet beraksi di depan mata mereka, atau tumbang ketika mengejar ngejar Metro Mini yang zig-zag.
It's also describing the social structure of family in two different cultures. Cucu dan bahkan anak bukanlah milik mereka orang tua yang hidup dibudaya barat. Orang tua hanyalah media yang melahirkan mereka. Tidak ada kewajiban mengurus orang tua seperti konsep yang kita kenal dalam budaya barat dan Islam. Tidak ada kewajiban membalas kebaikan mereka. Tempat orangtua ketika mereka tidak berdaya adalah Panti Jompo. That's it. They're just like a baby. Fragile, spoil, burden, tak berdaya. Nyusahin!
Tetapi justru disitulah salah satu kelemahan terbesar masyarakat dengan budaya yang mereka anggap Modern. Budaya barat. Budaya sex bebas. Budaya individualis. Budaya yang sebagian dari kita menganggapnya budaya paling superior.
Seketika mereka sadar bahwa konsep menikah dan memiliki anak adalah sebuah beban dan tidak memperdulikan mereka sesaat mereka lulus SMA, kenapa repot susah2 membesarkan anak? who cares anyway? cuma bikin susah! mahal pula.. lebih baik duitnya dipakai buat seneng2. Plesiran, expedisi, touring.
Kebayang kan suatu hari nanti mereka akan bingung bahwa generasi mereka berkurang? dan itulah kenapa terjadi fenomena "ageing population". Populasi yang menua. Kekurangan generasi produktif karena setiap dari mereka tidak menginginkan anak terlalu banyak. SEBALIKNYA, orang2 imigran yang masuk, yang notabene berasal dari negara2 timur tengah dan Afrika, beragama Islam, berlomba2 membuat anak yang banyak sesuai anjuran agama mereka. Nah loh!
sudah tergambar skenario besar Tuhan kan? it's only a matter of time brother...
Tuesday, April 22, 2008
Trouble with Islam Today
Perasaan gamang yang hinggap dikepalaku begitu mengusikku sehari kemarin ketika aku mendapati kenyataan bahwa aku duduk sebagai seorang interpreter dari Irshad Manji, pengarang buku "the trouble with Islam Today" di acara launching buku terjemahannya "Beriman Tanpa Rasa Takut" di Perpustakaan Nasional.
Kenyataan minor pertama adalah bahwa aku bukanlah seorang interpreter yang baik. Aku mungkin telah hidup lebih dari 2 tahun di negeri biangnya bahasa ini dan lumayan fasih memahami dan berbicara dalam bahasa Inggris. Tapi, untuk menginterpretasi dan lalu menyampaikannya langsung didepan khalayak ramai it's totally different matter. Perlu kecerdasan Linguistik yang tinggi dan kusadari memang sejak duduk dibangku sekolah menengah kalau kecerdasan Linguistik bukanlah bakatku. Keberadaanku disana hanyalah kesediaanku membantu temanku sebagai penyelenggara. Ini kesempatan kedua aku menjadi interpreter di level nasional dan aku nyaris menghancurkan keduanya. Ditambah bidang yang dibahas adalah bidang yang sebenarnya asing dan tidak menarik bagiku, Gender equality. And the silly thing is, I haven't even read the speaker's book! Gosh! it was really hard day for me. Since then, my head keep telling me, that's enough for interpreting business. And anyway, I think I'm not supposed to be interpreter but it is Me (an Inspiring leader to be, Amieeeeeen...) the one whom supposed to be a speaker and be interpreted! (well, of course in the field I master in)
But more important thing is the content of the talkshow it self. One of the most important issues in the forum is Ijtihad. Surely it's very significant aspect of Islam. Islam was mastering highest position in knowledge lead by Ijtihad. Peradaban-peradaban Islam paling membanggakan ketika kaum muslim di masa kejayaannya menguasai lebih dari setengah daratan dunia dihasilkan dari proses ijtihad para pemikir dan intelek muslim. Hampir seluruh bidang karya tertinggi, science masterpieces, best Legal principles, dihasilkan oleh Ummat melalui proses Ijtihad. Ibnu Rusyd, Ibn Sina, Imam 4 Mahzab adalah beberapa contoh. Eropa dan dunia barat mendapat pencerahan pada era renaissance setelah menikmati hasil proses ijtihad pemikir2 muslim abad pertengahan melalui transormasi pengetahuan kepada mahasiswa2 mereka di universitas2 Islam di pesisir selatan Eropa.
Lalu pertanyaannya: Kemana hilangnya budaya ijtihad dari ummat Islam? kenapa justru dizaman informasi technology yang menghilangkan batas fisik dunia ini, banyak sebagian ummat Islam yang mundur selangkah kebelakang dengan meninggalkan budaya ijtihad? apa sebenarnya yang terjadi? semakin malaskah ummat?
Aku pribadi setuju bahwa pintu dan budaya ijtihad harus dikembalikan didalam budaya ummat Islam. Reinterpretasi dan dialektika permasalahan2 yang ada diummat in some extent harus kembali dibahas. Banyak permasalahan dunia era teknologi yang masih berada di wilayah abu-abu dan tidak terjamah hukum Islam. Tapi, siapa yang bertanggung jawab akan masalah ini? apakah setiap orang berhak berijtihad? ataukah ada syarat2 tertentu untuk bisa berijtihad? pertanyaan2 ini berujung pada satu pertanyaan yang berkaitan dengan Irshad Manji; siapa yang berhak untuk berijtihad?
Salah satu ketidak setujuan fikiranku dengan Irshad Manji adalah dengan pernyataan bahwa setiap orang berhak untuk berijtihad. Mungkin ia tidak mengatakannya secara explisit, tapi sebagai buktinya, ia sendiri merasa berhak berijtihad dan maka lahirlah buku yang ditulisnya sebagai hasil ijtihad.
Fikiran ini menurutku sangat berbahaya.
Bahkan jika ditinjau dari sisi manapun, akademikkah atau tidak, fikiran ini menurutku tidak logis.
Bayangkan jika pintu ijtihad dibuka untuk siapapun dan semua orang berlomba-lomba untuk berijtihad, bukankah bisa dibayangkan akan timbul kekacauan karena banyak hasil2 ijtihad yang tidak karuan, karena pada dasarnya manusia cenderung kepada hawa nafsunya. Batasan-batasan dan syarat-syarat haruslah terpenuhi sebelum seseorang bisa berijtihad. Kualifikasi akademik maupun kualitas dan integritas personal menjadi syarat mutlak tidak saja bagi mujtahid bahkan pada siapa saja. Hal tersebut terekam baik dalam kisah2 periwayatan hadits Rasul, dimana level validitas hadits bisa berkurang seiring dengan kurangnya integritas para perawi.
Bukankan berlaku juga dinegeri maju, bahwa setiap permasalahan haruslah dikembalikan pada ahlinya, apalagi jika itu menyangkut kemaslahatan banyak orang? bukankah budaya referensi untuk scholar2 mutlak menjadi ukuran di lingkungan universitas barat hingga saat ini? lalu kenapa seorang Irshad Manji yang tidak menguasai bahasa arab sama sekali (bahasa dimana AlQuran diturunkan) dan juga mungkin karena itu tidak mengerti sepenuhnya konteks lingkungan asbabun nuzul ayat2 alQuran berani berijtihad, seperti misalnya menganggap Homosexual diperbolehkan dalam Islam? bukankah ia sendiri salah satu yang mendukung bahwa Al-Quran harus di reinterpretasikan sesuai konteks zamannya? bukankah seharusnya seseorang harus bisa terlebih dahulu menginterpretasi sebelum meng re-interpretasi? (gosh! I really hate this interpretation business!)
Tapi, terlepas dari pertanyaan2 itu, aku sendiri merasa kecewa dengan kualitas pribadiku dan lingkunganku akan budaya critical thinking sebagai salah satu elemen ijtihad itu. Pendapatku justru mengatakan bahwa di critical thinking itulah sumber permasalah ummat Islam saat ini.
Pendidikan yang salah kaprah! dan semua ini berawal dari sistem pendidikan di negeri ini yang terlalu berorientasi pada "HASIL" dan bukan "PROSES"! Hasil UN jauh lebih penting daripada minat membaca. Nilai IPK jauh lebih keramat daripada keahlian berfikir kritis. Menghapal pelajaran jauh lebih mulia daripada berkreasi dengan penuh imajinasi.
padahal bahkan Einstein sendiri berkata bahwa " Imajinasi jauh lebih penting daripada Ilmu pengetahuan itu sendiri"
Perasaan itu terus terang mengusik hidup tenangku dan menimbulkan banyak pertanyaan.
Kesalahan siapa ini? Salahkah aku dan mereka yang tidak mempunyai pertanyaan2 kritis? bodohkah aku karena seingatku aku trauma berpendapat karena cemohan bapak guru di sekolah dasar dulu di ruang kelas di pelajaran matematika sesaat aku memberanikan mengangkat tangan dan ternyata memberi jawaban yang salah versi bapak guru?
Kenyataan minor pertama adalah bahwa aku bukanlah seorang interpreter yang baik. Aku mungkin telah hidup lebih dari 2 tahun di negeri biangnya bahasa ini dan lumayan fasih memahami dan berbicara dalam bahasa Inggris. Tapi, untuk menginterpretasi dan lalu menyampaikannya langsung didepan khalayak ramai it's totally different matter. Perlu kecerdasan Linguistik yang tinggi dan kusadari memang sejak duduk dibangku sekolah menengah kalau kecerdasan Linguistik bukanlah bakatku. Keberadaanku disana hanyalah kesediaanku membantu temanku sebagai penyelenggara. Ini kesempatan kedua aku menjadi interpreter di level nasional dan aku nyaris menghancurkan keduanya. Ditambah bidang yang dibahas adalah bidang yang sebenarnya asing dan tidak menarik bagiku, Gender equality. And the silly thing is, I haven't even read the speaker's book! Gosh! it was really hard day for me. Since then, my head keep telling me, that's enough for interpreting business. And anyway, I think I'm not supposed to be interpreter but it is Me (an Inspiring leader to be, Amieeeeeen...) the one whom supposed to be a speaker and be interpreted! (well, of course in the field I master in)
But more important thing is the content of the talkshow it self. One of the most important issues in the forum is Ijtihad. Surely it's very significant aspect of Islam. Islam was mastering highest position in knowledge lead by Ijtihad. Peradaban-peradaban Islam paling membanggakan ketika kaum muslim di masa kejayaannya menguasai lebih dari setengah daratan dunia dihasilkan dari proses ijtihad para pemikir dan intelek muslim. Hampir seluruh bidang karya tertinggi, science masterpieces, best Legal principles, dihasilkan oleh Ummat melalui proses Ijtihad. Ibnu Rusyd, Ibn Sina, Imam 4 Mahzab adalah beberapa contoh. Eropa dan dunia barat mendapat pencerahan pada era renaissance setelah menikmati hasil proses ijtihad pemikir2 muslim abad pertengahan melalui transormasi pengetahuan kepada mahasiswa2 mereka di universitas2 Islam di pesisir selatan Eropa.
Lalu pertanyaannya: Kemana hilangnya budaya ijtihad dari ummat Islam? kenapa justru dizaman informasi technology yang menghilangkan batas fisik dunia ini, banyak sebagian ummat Islam yang mundur selangkah kebelakang dengan meninggalkan budaya ijtihad? apa sebenarnya yang terjadi? semakin malaskah ummat?
Aku pribadi setuju bahwa pintu dan budaya ijtihad harus dikembalikan didalam budaya ummat Islam. Reinterpretasi dan dialektika permasalahan2 yang ada diummat in some extent harus kembali dibahas. Banyak permasalahan dunia era teknologi yang masih berada di wilayah abu-abu dan tidak terjamah hukum Islam. Tapi, siapa yang bertanggung jawab akan masalah ini? apakah setiap orang berhak berijtihad? ataukah ada syarat2 tertentu untuk bisa berijtihad? pertanyaan2 ini berujung pada satu pertanyaan yang berkaitan dengan Irshad Manji; siapa yang berhak untuk berijtihad?
Salah satu ketidak setujuan fikiranku dengan Irshad Manji adalah dengan pernyataan bahwa setiap orang berhak untuk berijtihad. Mungkin ia tidak mengatakannya secara explisit, tapi sebagai buktinya, ia sendiri merasa berhak berijtihad dan maka lahirlah buku yang ditulisnya sebagai hasil ijtihad.
Fikiran ini menurutku sangat berbahaya.
Bahkan jika ditinjau dari sisi manapun, akademikkah atau tidak, fikiran ini menurutku tidak logis.
Bayangkan jika pintu ijtihad dibuka untuk siapapun dan semua orang berlomba-lomba untuk berijtihad, bukankah bisa dibayangkan akan timbul kekacauan karena banyak hasil2 ijtihad yang tidak karuan, karena pada dasarnya manusia cenderung kepada hawa nafsunya. Batasan-batasan dan syarat-syarat haruslah terpenuhi sebelum seseorang bisa berijtihad. Kualifikasi akademik maupun kualitas dan integritas personal menjadi syarat mutlak tidak saja bagi mujtahid bahkan pada siapa saja. Hal tersebut terekam baik dalam kisah2 periwayatan hadits Rasul, dimana level validitas hadits bisa berkurang seiring dengan kurangnya integritas para perawi.
Bukankan berlaku juga dinegeri maju, bahwa setiap permasalahan haruslah dikembalikan pada ahlinya, apalagi jika itu menyangkut kemaslahatan banyak orang? bukankah budaya referensi untuk scholar2 mutlak menjadi ukuran di lingkungan universitas barat hingga saat ini? lalu kenapa seorang Irshad Manji yang tidak menguasai bahasa arab sama sekali (bahasa dimana AlQuran diturunkan) dan juga mungkin karena itu tidak mengerti sepenuhnya konteks lingkungan asbabun nuzul ayat2 alQuran berani berijtihad, seperti misalnya menganggap Homosexual diperbolehkan dalam Islam? bukankah ia sendiri salah satu yang mendukung bahwa Al-Quran harus di reinterpretasikan sesuai konteks zamannya? bukankah seharusnya seseorang harus bisa terlebih dahulu menginterpretasi sebelum meng re-interpretasi? (gosh! I really hate this interpretation business!)
Tapi, terlepas dari pertanyaan2 itu, aku sendiri merasa kecewa dengan kualitas pribadiku dan lingkunganku akan budaya critical thinking sebagai salah satu elemen ijtihad itu. Pendapatku justru mengatakan bahwa di critical thinking itulah sumber permasalah ummat Islam saat ini.
Pendidikan yang salah kaprah! dan semua ini berawal dari sistem pendidikan di negeri ini yang terlalu berorientasi pada "HASIL" dan bukan "PROSES"! Hasil UN jauh lebih penting daripada minat membaca. Nilai IPK jauh lebih keramat daripada keahlian berfikir kritis. Menghapal pelajaran jauh lebih mulia daripada berkreasi dengan penuh imajinasi.
padahal bahkan Einstein sendiri berkata bahwa " Imajinasi jauh lebih penting daripada Ilmu pengetahuan itu sendiri"
Perasaan itu terus terang mengusik hidup tenangku dan menimbulkan banyak pertanyaan.
Kesalahan siapa ini? Salahkah aku dan mereka yang tidak mempunyai pertanyaan2 kritis? bodohkah aku karena seingatku aku trauma berpendapat karena cemohan bapak guru di sekolah dasar dulu di ruang kelas di pelajaran matematika sesaat aku memberanikan mengangkat tangan dan ternyata memberi jawaban yang salah versi bapak guru?
Friday, August 31, 2007
Cinta Sesama adalah Inti Ajaran Islam
Sedikit cerita tentang keutamaan mencintai sesama dan sadaqoh.. satu jiwa yang tertanam di diri orang tua kita dan harusnya pula tertanam dijiwa kita. Sudahkah?
Seorang syaikh menyampaikan cerita berikut ini, Kaum Bani Israil satu kali mendatangi Musa, "Wahai Musa, kami ingin mengundang Tuhan untuk menghadiri jamuan makan kami. Bicaralah kepada Tuhan supaya Dia berkenan menerima undangan kami." Dengan marah Musa menjawab, "Tidakkah kamu tahu bahwa Tuhan tidak memerlukan makanan?" Tetapi, ketika Musa menaiki bukit Sinai, Tuhan berkata kepadanya, "Kenapa tidak engkau sampaikan kepada-Ku undangan itu? Hamba-hamba-Ku telah mengundang Aku. Katakan kepada mereka, Aku akan datang pada pesta mereka Jumat petang."
Musa menyampaikan sabda Tuhan itu kepada umatnya. Berhari-hari mereka sibuk mempersiapkan pesta itu. Pada Jumat sore, seorang tua tiba dalam keadaan lelah dari perjalanan jauh. "Saya lapar sekali," katanya kepada Musa. "Berilah aku makanan." Musa berkata, "Sabarlah, Tuhan Rabbul Alamin akan datang. Ambillah ember ini dan bawalah air ke sini. Kamu juga harus memberikan bantuan." Orang tua itu membawa air dan sekali lagi meminta makanan. Tapi tak seorang pun memberikan makanan sebelum Tuhan datang. Hari makin larut, dan akhirnya orang-orang mulai mengecam Musa yang mereka anggap telah memperdayakan mereka.
Musa menaiki bukit Sinai dan berkata, "Tuhanku, saya sudah dipermalukan di hadapan setiap orang karena Engkau tidak datang seperti yang Engkau janjikan." Tuhan menjawab, "Aku sudah datang. Aku telah menemui kamu langsung, bahkan ketika Aku bicara kepadamu bahwa Aku lapar, kau menyuruh Aku mengambil air. Sekali lagi Aku minta, dan sekali lagi engkau menyuruh-Ku pergi. Baik kamu maupun umatmu tidak ada yang menyambut-Ku dengan penghormatan."
"Tuhanku, seorang tua memang pernah datang dan meminta makanan, tapi ia hanyalah manusia biasa," kata Musa. "Aku bersama hamba-Ku itu. Sekiranya kamu memuliakan dia, kamu memuliakan Aku juga. Berkhidmat kepadanya berarti berkhidmat kepada-Ku. Seluruh langit terlalu kecil untuk meliputi-Ku, tetapi hanya hati hamba-Ku yang dapat meliputi-Ku. Aku tidak makan dan minum, tetapi menghormati hamba-Ku berarti menghormati Aku. Melayani mereka berarti melayani Aku."
Berbakti kepada sesama manusia bukanlah kewajiban sekelompok orang. Setiap Muslim apa pun jenis kelamin, usia, dan status sosialnya berkewajiban memperlakukan semua orang dengan baik.
Dalam Al-Quran juga ada perintah, "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Berbaktilah kepada kedua orangtua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, orang-orang yang kehabisan bekal, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, yaitu orang-orang yang kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Kami telah menyediakan orang-orang kafir seperti itu, siksa yangmenghinakan."(QS.Al-Nisa’,36-37)
Tindakan membahagiakan orang lain disebut sebagai shadaqah. Kata ini berasal dari "shadaqa", yang berarti benar sejati atau tulus. Orang yang bersedekah adalah orang yang imannya tulus. Sedekah tidak selalu berbentuk harta atau uang. "Termasuk sedekah adalah engkau tersenyum ketika berjumpa dengan saudaramu, atau engkau singkirkan duri dari jalanan," sabda Nabi Muhammad SAW. Untuk bisa menolong orang lain dengan tulus, kita memerlukan kecintaan tanpa syarat (unconditional love) kepada semua orang. Cinta inilah yang dimasukkan sebagai fitrah dalam hati kita. Cinta ini adalah seperseratus dari Rahmat Allah yang dijatuhkan Tuhan di Bumi.
Seorang syaikh menyampaikan cerita berikut ini, Kaum Bani Israil satu kali mendatangi Musa, "Wahai Musa, kami ingin mengundang Tuhan untuk menghadiri jamuan makan kami. Bicaralah kepada Tuhan supaya Dia berkenan menerima undangan kami." Dengan marah Musa menjawab, "Tidakkah kamu tahu bahwa Tuhan tidak memerlukan makanan?" Tetapi, ketika Musa menaiki bukit Sinai, Tuhan berkata kepadanya, "Kenapa tidak engkau sampaikan kepada-Ku undangan itu? Hamba-hamba-Ku telah mengundang Aku. Katakan kepada mereka, Aku akan datang pada pesta mereka Jumat petang."
Musa menyampaikan sabda Tuhan itu kepada umatnya. Berhari-hari mereka sibuk mempersiapkan pesta itu. Pada Jumat sore, seorang tua tiba dalam keadaan lelah dari perjalanan jauh. "Saya lapar sekali," katanya kepada Musa. "Berilah aku makanan." Musa berkata, "Sabarlah, Tuhan Rabbul Alamin akan datang. Ambillah ember ini dan bawalah air ke sini. Kamu juga harus memberikan bantuan." Orang tua itu membawa air dan sekali lagi meminta makanan. Tapi tak seorang pun memberikan makanan sebelum Tuhan datang. Hari makin larut, dan akhirnya orang-orang mulai mengecam Musa yang mereka anggap telah memperdayakan mereka.
Musa menaiki bukit Sinai dan berkata, "Tuhanku, saya sudah dipermalukan di hadapan setiap orang karena Engkau tidak datang seperti yang Engkau janjikan." Tuhan menjawab, "Aku sudah datang. Aku telah menemui kamu langsung, bahkan ketika Aku bicara kepadamu bahwa Aku lapar, kau menyuruh Aku mengambil air. Sekali lagi Aku minta, dan sekali lagi engkau menyuruh-Ku pergi. Baik kamu maupun umatmu tidak ada yang menyambut-Ku dengan penghormatan."
"Tuhanku, seorang tua memang pernah datang dan meminta makanan, tapi ia hanyalah manusia biasa," kata Musa. "Aku bersama hamba-Ku itu. Sekiranya kamu memuliakan dia, kamu memuliakan Aku juga. Berkhidmat kepadanya berarti berkhidmat kepada-Ku. Seluruh langit terlalu kecil untuk meliputi-Ku, tetapi hanya hati hamba-Ku yang dapat meliputi-Ku. Aku tidak makan dan minum, tetapi menghormati hamba-Ku berarti menghormati Aku. Melayani mereka berarti melayani Aku."
Berbakti kepada sesama manusia bukanlah kewajiban sekelompok orang. Setiap Muslim apa pun jenis kelamin, usia, dan status sosialnya berkewajiban memperlakukan semua orang dengan baik.
Dalam Al-Quran juga ada perintah, "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Berbaktilah kepada kedua orangtua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, orang-orang yang kehabisan bekal, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, yaitu orang-orang yang kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Kami telah menyediakan orang-orang kafir seperti itu, siksa yangmenghinakan."(QS.Al-Nisa’,36-37)
Tindakan membahagiakan orang lain disebut sebagai shadaqah. Kata ini berasal dari "shadaqa", yang berarti benar sejati atau tulus. Orang yang bersedekah adalah orang yang imannya tulus. Sedekah tidak selalu berbentuk harta atau uang. "Termasuk sedekah adalah engkau tersenyum ketika berjumpa dengan saudaramu, atau engkau singkirkan duri dari jalanan," sabda Nabi Muhammad SAW. Untuk bisa menolong orang lain dengan tulus, kita memerlukan kecintaan tanpa syarat (unconditional love) kepada semua orang. Cinta inilah yang dimasukkan sebagai fitrah dalam hati kita. Cinta ini adalah seperseratus dari Rahmat Allah yang dijatuhkan Tuhan di Bumi.
Ramadhan di Inggris
Tidak terasa, sudah ketiga kalinya saya menjalani ibadah puasa Ramadhan dan 'Eid Fitr di UK. Banyak suka duka saat menjalani puasa di negerinya lady Diana ini.
Puasa pertama di UK yang saya rasakan adalah saat di Sunderland, kota kecil tak jauh dari Newcastle di utara Inggris. Saat itu saya tinggal di salah satu akomodasi dari kampus. Ramadhan tahun 1425 bertepatan dengan musim gugur di musim gugur di bulan October. Matahari terbit sekitar jam 8 pagi dan terbenam sekitar jam 5 sore. Lumayan menyenangkan bagi yang sudah biasa puasa di Indonesia karena jadi teramat singkat. Sahur masih bisa dilaksanakan sekitar jam 6 pagi sedang jam 5 sore kita sudah mulai berbuka. Hawa dingin sekitar 7-10 derajat celcius disiang hari menambah kenyamanan dalam menjalankan puasa.
Perasaan aneh mulai terasa bila kita jalan dipusat kota maupun dikampus karena semua orang asyik makan dan minum tak ada bedanya hari biasa sehingga tidak ada suasana puasa sama sekali. Tidak pula ada suara azan atau ayat-ayat Quran dikumandangkan apalagi suara anak muda membangunkan sahur dipagi buta karena hal tersebut berlawanan dengan hukum karena dianggap mengganggu ketentraman lingkungan.
Alhamdulillah saya masih sempat sering merasakan berbuka puasa di satu-satunya masjid di kota itu karena kebetulan letak masjid berada didepan kampus. Beberapa mahasiswa muslim dari berbagai belahan dunia yang belajar disana yang mempergunakan kesempatan untuk makan gratis di masjid saat Ramadhan karena memang tersedia banyak makanan sumbangan dari para dermawan.
Biasanya sumbangan iftar berasal dari komunitas-komunitas muslim ataupun rumah makan halal yang ada di kota tersebut. Makanan digelar dipiring besar-besar diatas plastik memanjang tak beda dengan gaya makan di negara-negara arab yang pernah saya kunjungi. Macam-macam menunya, dimulai dengan kurma dan susu sesaat azan dikumandangkan lalu dilanjutkan dengan makan setelah sholat magrib mubasyaratan mulai dari kari India, ayam gaya Kentucky bahkan kadang pizza. Tak lupa sehabis makan kita masing-masing mencuci piring mengingatkan suasana di Pondok pesantren.
Puasa pertama di UK yang saya rasakan adalah saat di Sunderland, kota kecil tak jauh dari Newcastle di utara Inggris. Saat itu saya tinggal di salah satu akomodasi dari kampus. Ramadhan tahun 1425 bertepatan dengan musim gugur di musim gugur di bulan October. Matahari terbit sekitar jam 8 pagi dan terbenam sekitar jam 5 sore. Lumayan menyenangkan bagi yang sudah biasa puasa di Indonesia karena jadi teramat singkat. Sahur masih bisa dilaksanakan sekitar jam 6 pagi sedang jam 5 sore kita sudah mulai berbuka. Hawa dingin sekitar 7-10 derajat celcius disiang hari menambah kenyamanan dalam menjalankan puasa.
Perasaan aneh mulai terasa bila kita jalan dipusat kota maupun dikampus karena semua orang asyik makan dan minum tak ada bedanya hari biasa sehingga tidak ada suasana puasa sama sekali. Tidak pula ada suara azan atau ayat-ayat Quran dikumandangkan apalagi suara anak muda membangunkan sahur dipagi buta karena hal tersebut berlawanan dengan hukum karena dianggap mengganggu ketentraman lingkungan.
Alhamdulillah saya masih sempat sering merasakan berbuka puasa di satu-satunya masjid di kota itu karena kebetulan letak masjid berada didepan kampus. Beberapa mahasiswa muslim dari berbagai belahan dunia yang belajar disana yang mempergunakan kesempatan untuk makan gratis di masjid saat Ramadhan karena memang tersedia banyak makanan sumbangan dari para dermawan.
Biasanya sumbangan iftar berasal dari komunitas-komunitas muslim ataupun rumah makan halal yang ada di kota tersebut. Makanan digelar dipiring besar-besar diatas plastik memanjang tak beda dengan gaya makan di negara-negara arab yang pernah saya kunjungi. Macam-macam menunya, dimulai dengan kurma dan susu sesaat azan dikumandangkan lalu dilanjutkan dengan makan setelah sholat magrib mubasyaratan mulai dari kari India, ayam gaya Kentucky bahkan kadang pizza. Tak lupa sehabis makan kita masing-masing mencuci piring mengingatkan suasana di Pondok pesantren.
Sayangnya, letak akomodasi lumayan jauh dari masjid tersebut, sehingga selama sebulan penuh saya dan teman-teman yang tinggal di tempat yang sama harus rela untuk jarang bisa menikmati tarawih Ramadhan di masjid, terutama karena jadwal tarawih yang biasanya dilaksanakan agak malam sekitar jam 9 malam dan saat itu bus antar jemput kampus sudah tidak ada.
Agak berbeda ketika saya tinggal di Bristol, kota terbesar di south western part of England. Disalah satu kota yang termasuk paling multicultures di Inggris ini, banyak masjid yang bisa menjadi pilihan. Uniknya, masjid-masjid tersebut biasanya terkotak-kotak tergantung komunitas yang dominant di masjid tersebut. Ada masjid Bangladesh, masjid Pakistan, masjid Turki, masjid Timur tengah dan tentunya cara ibadah maupun menu berbukanya tergantung komunitas tersebut. Sayang tidak ada masjid Indonesia ataupun Malaysia di kota ini yang mungkin kalau ada bisa cari menu yang lebih pas dilidah.Pernah saya menemukan diri saya di ruangan masjid yang dipenuhi muslim berkulit hitam yang berasal dari Somalia dan Nigeria, dan saya baru sadar bahwa sayalah satu-satunya orang berkulit putih diruangan tersebut padahal sedang berada di Inggris.
Berhubung banyak mahasiswa muslim di Bristol University, kegiatan selama Ramadhan pun lebih banyak dan variatif. Pihak kampus pun menyediakan ruangan khusus berfungsi sebagai mesjid selama Ramadhan. Banyak kegiatan yang dilaksanakan oleh Bristol Islamic Society seperti Islamic Week atau Fasting Day.
Fasting Day adalah salah satu yang paling unik karena dihari ini mahasiswa muslim diminta untuk mengajak teman-temannya yang non-muslim untuk berbagi pengalaman untuk tidak hanya bagaimana berbuka puasa bersama.tapi juga bagaimana berpuasa menahan lapar dan haus seharian. Saya pribadi mengajak teman kelas saya dari Jepang untuk tidak makan dan tidak minum sehari dan berbuka bersama di masjid kampus. Uniknya lagi, pada saat berbuka di Fasting Day itu, ada sambutan dari ketua Chaplaincy Bristol University yang kebetulan beragama Yahudi dan masih taat menjalankan puasa pada hari-hari tertentu. Dia bahkan sempat menerangkan makna puasa menurut ajaran Yahudi didepan mahasiswa Muslim dan Non-Muslim yang hadir pada saat itu.

Banyak pengalaman unik lainnya saat menjalankan Ibadah puasa di Inggris. Secara umum, suasana berbuka di negeri in juga terasa hangat tak beda ketika saya berada di Indonesia maupun dinegeri dimana muslim menjadi majoritas Bedanya, sebagai kaum minoritas dinegeri ini, ada sedikit perasaan solidaritas yang terasa sangat kuat yang timbul diantara Muslim. Issue-issue yang kadang memojokkan Islam di media massa yang salah satu contohnya dipicu oleh bom London bahkan tak jarang menjadikan topic-topik hangat di masjid. Tidak heran kadang ada representative dari security campus ataupun polisi regional yang ‘nyelip’ diantara jama’ah untuk mengawasi isi khutbah.
Terakhir, ada pengalaman lucu, unik dan agak saru ketika menjalankan ibadah tarawih di Sunderland. Tidak ingin kehilangan pahala berjama’ah Isya dan tarawih karena jarak masjid yang agak jauh, saya mengajak teman-teman Indo muslim di kota ini yang berjumlah 5 orang untuk berjama’ah tarawih di kamar saya yang berukuran 2x3 m. Saya tinggal satu flat dengan satu mahasiswa yang juga muslim dari Indonesia sedang sisanya ada satu mahasiswa Cina dan dua Yunani di kamar lain di flat tersebut.
Saat itu saya sedang memimpin sholat Isya jamaah sebelum shalat tarawih. Baru saja selesai membaca Al-fatihah di rakaat kedua, terdengar sayup-sayup suara dua anak manusia memadu kasih dari kamar sebelah tempat teman Cina saya tinggal. Tembok kamar di flat memang agak tipis sehingga kadang perbincangan dari kamar sebelah bisa terdengar dari kamar saya. Gawatnya, teman Cina sebelah kamar saya memang terkenal agak nakal dan sering membawa pacarnya ke kamar. Tak ada larangan untuk itu, karena maklumlah, sex bebas bukan hal yang aneh dinegeri yang mendewakan kebebasan pribadi macam Inggris ini.
Seiring dengan raka’at bertambah, suara desahan dan engahan yang sangat mengganggu itu pun bertambah intens dan terdengar jelas. Konsentrasi saya pun buyar dan ketika salam di rakaat terakhir, saya dan teman-teman saling memandang dan tertawa terbahak-bahak, sadar bahwa saya menyelesaikan sholat dirakaat ketiga. Akhirnya kita pun mengalah pindah ke kamar teman saya untuk melanjutkan sholat tarawih.
Tradisi; dilupakan dinegeri sendiri, dipuja di negeri maju
Memang aneh bangsa kita.
Kaya raya akan budaya dan tradisi, sudah seharusnya kita bangga. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Tidak banyak generasi muda sekarang yang tertarik akan tradisi kita. Misalnya, minta anak-anak muda kita menyebutkan nama-nama boysband atau aktor film asal Amerika, dengan lancar mereka pasti akan menyebutkan bahkan mungkin sekaligus membeberkan detail biografinya. Tapi coba suruh mereka menyebutkan tokoh atau cerita rakyat asal daerah mereka, mungkin hanya sedikit yang mungkin mengenalnya. Berapa persen generasi sekarang yang tertarik mendalami musik tradisional? berapa gelintir teman kita yang bisa menari tarian asal daerahnya?
Padahal di negeri maju macam UK, tradisi-tradisi tua seperti itu malah banyak diminati.
Seperti contohnya, hampir disetiap kota university terkemuka di UK mempunyai kelompok Gamelan. Ya, gamelan Jawa.
Saya pernah menemani salah satu kawan saya yang memproduksi karya audio visual sebagai tugas akhir studynya di fakultas Video Production tentang Gamelan di UK dan harus merekam kegiatan mereka. Bayangan saya, ada beberapa mahasiswa Indonesia yang mungkin memimpin kelompokdi University of Durham, salah satu kelompok yang kami datangi. Sebagai cameraman, saya terkejut karena ternyata kelompok tersebut murni dihuni oleh bule-bule Inggris. Lebih terkejut lagi karena pemimpin kelompok tersebut adalah bule muda bergelar Doctor di bidang musik gamelan.
Kaya raya akan budaya dan tradisi, sudah seharusnya kita bangga. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Tidak banyak generasi muda sekarang yang tertarik akan tradisi kita. Misalnya, minta anak-anak muda kita menyebutkan nama-nama boysband atau aktor film asal Amerika, dengan lancar mereka pasti akan menyebutkan bahkan mungkin sekaligus membeberkan detail biografinya. Tapi coba suruh mereka menyebutkan tokoh atau cerita rakyat asal daerah mereka, mungkin hanya sedikit yang mungkin mengenalnya. Berapa persen generasi sekarang yang tertarik mendalami musik tradisional? berapa gelintir teman kita yang bisa menari tarian asal daerahnya?
Padahal di negeri maju macam UK, tradisi-tradisi tua seperti itu malah banyak diminati.
Seperti contohnya, hampir disetiap kota university terkemuka di UK mempunyai kelompok Gamelan. Ya, gamelan Jawa.
Saya pernah menemani salah satu kawan saya yang memproduksi karya audio visual sebagai tugas akhir studynya di fakultas Video Production tentang Gamelan di UK dan harus merekam kegiatan mereka. Bayangan saya, ada beberapa mahasiswa Indonesia yang mungkin memimpin kelompokdi University of Durham, salah satu kelompok yang kami datangi. Sebagai cameraman, saya terkejut karena ternyata kelompok tersebut murni dihuni oleh bule-bule Inggris. Lebih terkejut lagi karena pemimpin kelompok tersebut adalah bule muda bergelar Doctor di bidang musik gamelan.
Contoh lainnya adalah penampilan Kyai Kanjeng yang dipimpin oleh budayawan Emha Ainun Nadjib pada tahun 2005 lalu. Mengkolaborasi gamelan Jawa dengan bermacam aliran musik pop dan rock, Kyai Kanjeng sempat diundang tampil di Albert Memorial Hall, salah satu venue music paling prestigious di Inggris, dihadiri oleh petinggi dan artis negeri ini, termasuk Yusuf Islami (former Cat Stevens) serta diundang ke kota-kota Univeristy terkemuka seperti Manchester, Leeds dan Aberdeen di Scotland. Lebih dari itu, mereka juga diminta tampil di belahan Eropa lainnya, seperti Rome, Berlin dan Turin. Saya pribadi sempat melihat penampilannya di Leeds University, dan terus terang, saya iri melihat ketertarikan bule-bule akan Gamelan dan budaya Indonesia.

Yang terakhir ini, bakal ada pagelaran Wayang di Southbank, lokasi kebudayaan paling bergengsi dipusat London, tidak jauh dari London Eye dan Big Ben. Didalangi oleh Ki Purbo Asmoro, penampilan yang dimulai jam 10.30 malam sampai jam 7 pagi (semalam suntuk!) tersebut akan membawakan cerita Mahabrata lengkap dengan English Subtitlenya.
http://www.southbankcentre.co.uk/calendar/productions/gamelan-wayang-17709
Sedih rasanya menyaksikan di negeri kita tak banyak lagi generasi muda yang peduli akan hal tersebut. Sebaliknya, banyak dari mereka yang mendewakan pola budaya barat yang dianggap lebih superior. Entah apa ini akibat dari Globalisasi dan televisi, tapi sudah seharusnya Pemerintah dan kita semua, kembali menanamkan rasa cinta akan budaya dan akar tradisi kita yang sangat berharga tersebut. Sebelum semuanya terlambat.
Dedy, Bristol
Subscribe to:
Posts (Atom)