Lagak seorang pemimpin itu tidak membawa apa-apa. Dengan kata lain bahwa ajudan, staf, atau cantrik-cantriknya siap menjinjing keperluan. Itu data permulaan. Kepemimpinan apa pun, di mana pun, siapa pun, dan hingga kapan pun. Hampir sama beda-beda tipis saja.
Dalam dunia militer, misalnya atau sejenisnya --komandan-- ialah figur pimpinan. Di level dan strata mana saja. Demikian dia dipanggil oleh bawahan atau anak buahnya. Tangan komandan tak memegang apa-apa. Kecuali tongkat dalam genggaman. Simbol kedudukan juga kekuasaan (komando). Pemimpin itu dilingkupi banyak kewenangan.
Kewenangan adalah hak untuk berbuat dengan konsekuensi memikul tanggung-jawab. Jangan pimpinan berbuat tetapi anak buah menanggung akibat. Atau ia menjawab sekedar cari selamat (safety player) menghindari sebuah pertanggungan. Kepemimpinan itu tidaklah demikian.
Di dunia non militer pun dijumpai hal yang sama. Ia juga tidak membawa apa-apa. Kecuali sedikit di genggaman. Tak mengejar ujub, pamrih, bukan pula meraih riya.
Sosok pemimpin di mana pun (wajib) terjaga atas fasik - bisulnya dunia. Menjauh diri dari zinah, mencuri, mengadu nasib, syirik, mabuk, sombong, durhaka, menipu, tidak ikhlas, miskin, membunuh sesama iman, memakan harta (anak yatim) bukan haknya, serta menghindari fitnah yakni hasut, dengki, dan sakit hati.
Zinah itu artinya salah tempat. Analoginya dalam kepemimpinan bermakna: tidak proporsional. Seorang pemimpin tak boleh bertindak (zinah) sesuatu di luar porsinya - bukan wewenangnya. Istilahnya abuse of power atau kesewenang-wenangan. Bisa merugikan orang. Atau ia mengerjakan syirik menghamba selain-Nya. Seperti memuja harta, takhta, dan wanita.
Pemimpin itu tidak boleh miskin. Agar terhindar fitnah. Ia harus kaya. Sugih bondo jembar ilmu. Terutama jembar (luas) hati dan wawasannya. Supaya mampu berlaku adil bagi semua sesuai kebutuhan. Jangan seperti Pak Ogah di simpang jalan. Kesempatan diberikan kepada orang cuma karena imbalan. Tidak perduli antrian sudah panjang.
Mutlak yang tidak boleh bagi pemimpin ialah miskin iman. Tatkala jatuh miskin terhadap iman maka inilah titik awal. Ia dapat berubah sombong lagi ingkar. Adigang adigung adiguno. Lalu mengambil-alih wewenang Tuhan. Sesuka-hati membunuh sesama iman (korp).
Pasrahnya pimpinan berefek pada ikhlas pemikiran. Tulus lelaku dalam keseharian. Menghindari angan-angan (mabuk), karena itu perilaku setan. Bertindak sesuai data. Tidak mengada-ada. Punya visi dan prediksi jauh ke depan tetapi bukan bersifat untung-untungan. Sebab, untung-untungan identik berjudi. Mengundi nasib dengan busur di sebuah permainan.
Pemimpin itu cermat jika meramal keadaan. Cemerlang pada pemikiran. Juga tahan terhadap godaan. Menyimpan bara juang tidak pernah padam. Analisanya ibarat sembilu. Tajam sesuai strata yang diemban. Biasanya ia punya kemampuan di luar (domain) kelaziman.
Hal tabu bagi pemimpin yakni mengambil harta bukan haknya. Oleh karena jika termakan anak istri itu laksana menelan bara api - niscaya tumbuh tanduk di atas kepala putra-putri. Siapa hendak diseruduk maka orang tuanya kali pertama.
Sikap hormatnya tak putus-putus terhadap hikmah sebab itu simpul rajutan antara doeloe, kini, dan ke depan. Kalau suatu hari ia bergelimang harta titipan, dilakoni ae (dijalankan saja -red). Itu sekedar dampak hukum alam. Tak usah busung dada. Apalagi sampai lupa daratan.
Pemimpin itu tak membawa apa-apa. Akan tetapi konsekuensi dari kepemimpinan harus membawa "apa-apa" (bekal). Sedangkan makna 'sedikit pada genggaman', itulah yang disebut orang sebagai amanah, ketulusan, serta kepasrahan. Semua itu berasal dari Dia dan kembali kepada-Nya, yaitu Rabb yang Maha Abadi.
Pemimpin Sejati Bicara Makna
Ibarat burung --sosok pemimpin-- siapa pun orangnya, berkicau (bicara) adalah kepastian. Baik melalui lisan maupun tulisan. Begitulah ia bekerja. Beda dengan anak buah. Pemimpin apa saja, kapan saja, di tingkatan dan lini mana saja. Entah saat briefing staf dan anggota, diskusi, atau bargaining sesuatu. Lebih-lebih tatkala mengambil keputusan bagi organisasi dan kelompok. Atau ketika ia berpidato di depan khalayak. Berbicara bagi kepemimpinan adalah keniscayaan.
Bicara pemimpin bukan mengurai maksud. Atau soal arti semata. Tetapi, omongan sarat makna. Bukan berarti ia tidak suka bercanda. Pepatah Jawa "ngono yo ngono ning ojo ngono". Tidak usah banyak bicara. Apalagi memberi statemen terhadap hal di luar kewenangan, bukan level, atau jauh dari koridor tugasnya. Percuma. Tidak berguna.
Ketika seorang pemimpin tidak menjawab tentang sesuatu bukan berarti ia tidak paham jawaban. Atau tidak mengerti persoalan. Banyak alasan mengapa ia membisu. Oleh sebab tidak semua permasalahan dijawab. Tidak semua adegan diberi ulasan. Diamnya pemimpin ialah pilihan sikap yang ditampilkan.
Seperti cericit burung. Sesuatu yang dikicaukan merdu didengar, lembut dirasakan, sejuk laksana angin pegunungan. Nyanyian pemimpin membuat tentram berbagai kalangan. Menimbulkan rasa ayem semua lapisan. Itulah gerak-laku ikhlas menyatu. Antara lisan dan perbuatan (komitmen).
Satu hal yang mutlak dihindari oleh pemimpin adalah sikap "pagi kedelai sore tempe". Tidak boleh mencla-mencle. Satu irama. Bukan beragam nada. Namun, bila ada bisa ke mana-mana, ap aboleh buat - silahkan saja. Itu memang sudah warna dunia. Setiap jiwa membawa ukuran berbeda-beda.
Suatu ketika bila amarah tiba. Lihatlah gelombang batu karang, dengarlah pekik gelegar sang halilintar, rasakan dahsyatnya angin puting beliung berputar-putar. Menggetarkan jiwa-jiwa yang terluka. Mengerikan. Itu hanya gambaran.
Seperti sakti rajawali. Ia terbang melintas di ketinggian awan. Tiba-tiba menukik dengan kuku mencengkram. Lalu keras memekik di tengah kegamangan jiwa: haq .. haq .. haq! Mengejutkan! Marah pun ternyata tak sekedar menghambur bara. Namun, menggali lalu mengurai kusut benang keraguan. Meraih yang haq (benar). Bukannya mau menang sendiri. Tidak cuma benarnya sendiri.
Pemimpin berjuang bukan untuk satu dua orang, kelompok, atau golongan. Pikirannya jatuh pada semua kalangan. Bahkan, mengucur peluh dari suwung kesunyian. Sepi ing pamrih rame ing gawe. Kerja tidak mau terlihat namun hasilnya luar biasa. Dinikmati banyak orang. Menjauhi sifat riya. Menjaga jarak dari puja-puji dunia.
Tutur katanya senantiasa bermanfaat. Bukan menimbulkan rasa resah di tengah-tengah rakyat. Tidak sekali memecah-belah umat. Apalagi cuma untuk kepentingan sesaat (politik praktis).
Pemimpin harus menguasai makna masalah. Artinya yang dituju bukan cuma seuntai maksud dari kalimat. Bukan pula penghias kulit sebuah kosa. Bicara pada tataran hakiki - kemudian temukan serta tentukan solusinya. Tidak perlu mengobral kata-kata. Mengurai inti masalah. Memecah pokok persoalan. Kemudian ia berbuat, berbuat, dan berbuat (doing) demi keselarasan, keseimbangan, serta kesejahteraan umat manusia.
Pemimpin itu tak bicara tetapi berbuat
Mengayun bakti dan juang tanpa terlihat
Sepi ing pamrih, rame ing gawe, semata untuk umat
Tatkala bertutur kata serta berbuat adalah manfaat
Demi keselamatan, keselarasan, dan kesejahteraan rakyat
Pemimpin itu tak membawa apa-apa
Kecuali sedikit dalam genggamannya
Amanah, kepasrahan, dan ketulusan rasa
Bukan pamrih, ujub, tak pula ada riya'
Menjauh dari fasik dan bisul wajah dunia
Pemimpin itu pengarung sejati
Melintas sunyi menguak gelap dunia
Menembus sepi mengurai remang hati
Menyelam samudra dzikir tak bertepi
Mengenal diri kemana bakal kembali
Pemimpin itu sendirian
Cuma berteman kebenaran
Tanpa kebenaran sendirinya tak berguna
Tanpa kebenaran kesendiriannya semu belaka
Bila kesendirian tak sesuai tuntunan dari Tuhannya
Jumpa beragam duga dan prasangka atas nama logika
Maka itulah kebenaran tanpa rasa, Cuma penafsiran belaka
Pemimpin itu tidak bicara
Juga tidak membawa apa-apa
Seperti rajawali ia terbang tinggi
Mengarungi gelap malam yang sunyi
Sendirian seolah tidak berteman hanya sendiri
Mengetahui Benar Jalan Hukum nan Kekal Abadi
Hamid Ghozali
Warung Contong Timur No 1 Cimahi
hamidghozali@hotmail.com
Showing posts with label hikmah. Show all posts
Showing posts with label hikmah. Show all posts
Monday, March 8, 2010
Tuesday, December 1, 2009
Dicari: Orang Kreatif
Sebuah perusahaan di Amerika menyeleksi calon karyawannya dengan cara yang unik, yaitu dengan mengajukan sebuah pertanyaan yang membutuhkan kreativitas dalam menjawabnya. Bila jawabannya dianggap benar, ia akan langsung diterima di perusahaan tersebut.
Situasinya adalah seperti ini: Anda sedang mengendarai mobil yang hanya cukup untuk dua orang penumpang saja di tengah badai yang hebat. Mobil Anda lalu melewati halte tua dan di sana Anda melihat tiga orang tengah menunggu pertolongan. Orang pertama adalah seorang nenek yang nampak sudah sekarat karena kedinginan, orang kedua adalah seorang pria yang pernah menyelamatkan hidup Anda, dan yang ketiga adalah pujaan hati yang sudah lama Anda incar.
Pertanyaannya adalah karena mobil Anda hanya muat untuk satu orang saja ¡V karena yang satu sudah Anda duduki, manakah dari ketiga orang itu yang akan Anda tolong?
Sebelum Anda tahu jawaban mana yang paling benar, Anda tentunya sudah meraba bahwa kreatifitas dalam berpikir sangat dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan tadi.
Saat ini orang-orang kreatif sangat dibutuhkan di banyak perusahaan, tidak hanya sebatas di bidang periklanan atau industri film. Karena orang-orang yang pandai berkreasi dalam setiap situasi, adalah orang yang luwes dan termasuk dalam katagori orang yang memiliki Kecerdasan Emosi. Bukankah mereka yang berhasil dalam karir dan bisnis kebanyakan adalah yang memilki kecerdasan emosi ?
Kreativitas tidak berhubungan langsung dengan bakat. Kreativitas ditentukan oleh seberapa banyak pengetahuan yang tersimpan di "perpustakaan" memori Anda. Semakin sering dan banyak Anda membaca buku, semakin banyak pulalah inspirasi kreativitas tersimpan di hard disc otak Anda yang hingga saat ini kapasitasnya belum ada yang mampu menandingi, bahkan oleh komputer tercanggih sekali pun yang pernah diciptakan di muka bumi ini.
Para ahli menemukan bahwa kemampuan otak manusia baru dipakai sekitar 5% saja. Manusia yang diyakini telah menggunakan kapasitas otaknya sebesar 7% adalah Albert Einstein. Anda bisa mencoba untuk memaksimalkan kerja otak Anda dengan mencoba menjawab pertanyaan tadi.
Kita seringkali mudah melupakan isi buku yang pernah dibaca, namun bukan berarti itu sia-sia. Yang terpenting bukanlah rinciannya melainkan inti sari atau pesan moral yang akan mempengaruhi pola pikir pembacanya. Anda mungkin sudah lupa siapa nama bapak guru gank Laskar Pelangi dalam novel "Laskar Pelangi" yang luar biasa itu, tapi Anda tentu terinspirasi oleh novel atau film itu.
Jawaban kreatif yang dianggap benar oleh perusahaan tersebut rupanya adalah: Anda turun dari mobil lalu menemui orang yang pernah menyelamatkan hidup Anda, minta tolong untuk menyelamatkan nenek tua yang kedinginan itu. Sementara itu Anda menikmati saat-saat romantis berdua bersama dengan sang pujaan hati.
Kalau Anda tadi memilih menolong nenek tua yang sekarat, tidak usah kecewa, meskipun Anda tidak diterima bekerja, setidaknya Anda sudah menolong hidup seseorang.
With Love & Respect
Sigit Risat, Inspirator Hubungan Harmonis
Copy Paste dari JOBSDB.COM
Situasinya adalah seperti ini: Anda sedang mengendarai mobil yang hanya cukup untuk dua orang penumpang saja di tengah badai yang hebat. Mobil Anda lalu melewati halte tua dan di sana Anda melihat tiga orang tengah menunggu pertolongan. Orang pertama adalah seorang nenek yang nampak sudah sekarat karena kedinginan, orang kedua adalah seorang pria yang pernah menyelamatkan hidup Anda, dan yang ketiga adalah pujaan hati yang sudah lama Anda incar.
Pertanyaannya adalah karena mobil Anda hanya muat untuk satu orang saja ¡V karena yang satu sudah Anda duduki, manakah dari ketiga orang itu yang akan Anda tolong?
Sebelum Anda tahu jawaban mana yang paling benar, Anda tentunya sudah meraba bahwa kreatifitas dalam berpikir sangat dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan tadi.
Saat ini orang-orang kreatif sangat dibutuhkan di banyak perusahaan, tidak hanya sebatas di bidang periklanan atau industri film. Karena orang-orang yang pandai berkreasi dalam setiap situasi, adalah orang yang luwes dan termasuk dalam katagori orang yang memiliki Kecerdasan Emosi. Bukankah mereka yang berhasil dalam karir dan bisnis kebanyakan adalah yang memilki kecerdasan emosi ?
Kreativitas tidak berhubungan langsung dengan bakat. Kreativitas ditentukan oleh seberapa banyak pengetahuan yang tersimpan di "perpustakaan" memori Anda. Semakin sering dan banyak Anda membaca buku, semakin banyak pulalah inspirasi kreativitas tersimpan di hard disc otak Anda yang hingga saat ini kapasitasnya belum ada yang mampu menandingi, bahkan oleh komputer tercanggih sekali pun yang pernah diciptakan di muka bumi ini.
Para ahli menemukan bahwa kemampuan otak manusia baru dipakai sekitar 5% saja. Manusia yang diyakini telah menggunakan kapasitas otaknya sebesar 7% adalah Albert Einstein. Anda bisa mencoba untuk memaksimalkan kerja otak Anda dengan mencoba menjawab pertanyaan tadi.
Kita seringkali mudah melupakan isi buku yang pernah dibaca, namun bukan berarti itu sia-sia. Yang terpenting bukanlah rinciannya melainkan inti sari atau pesan moral yang akan mempengaruhi pola pikir pembacanya. Anda mungkin sudah lupa siapa nama bapak guru gank Laskar Pelangi dalam novel "Laskar Pelangi" yang luar biasa itu, tapi Anda tentu terinspirasi oleh novel atau film itu.
Jawaban kreatif yang dianggap benar oleh perusahaan tersebut rupanya adalah: Anda turun dari mobil lalu menemui orang yang pernah menyelamatkan hidup Anda, minta tolong untuk menyelamatkan nenek tua yang kedinginan itu. Sementara itu Anda menikmati saat-saat romantis berdua bersama dengan sang pujaan hati.
Kalau Anda tadi memilih menolong nenek tua yang sekarat, tidak usah kecewa, meskipun Anda tidak diterima bekerja, setidaknya Anda sudah menolong hidup seseorang.
With Love & Respect
Sigit Risat, Inspirator Hubungan Harmonis
Copy Paste dari JOBSDB.COM
Wajah Lain Pesantren
Jakarta(majalah.tempointeraktif.com --kurnia) Pondok pesantren tak hanya mengajarkan agama, tapi juga bisnis. Sebagian lagi menjadi pelopor pemberdayaan masyarakat sekitarnya. Inilah fikih sosial mereka.
PESANTREN dan terorisme. Dua kata ini kerap dikait-kaitkan saat aksi terorisme mewabah di Indonesia belakangan ini. Harap maklum, sebagian besar pelaku dan tersangka tindak kejahatan itu memang alumni pondok pesantren.
”Stigmatisasi terhadap pesantren saat ini luar biasa dan telah menjadi sebentuk kebencian terhadap Islam,” kata Choirul Fuad Yusuf, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Departemen Agama, dalam diskusi di kantor majalah Tempo pada 3 September lalu.
Diskusi itu juga dihadiri Masdar Farid Mas’udi, Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M); Khaeroni, Kepala Subdirektorat Pemberdayaan Santri dan Layanan pada Masyarakat; dan Undang Sumantri, Kepala Subbagian Tata Usaha Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Departemen Agama.
Fuad menyatakan stigmatisasi itu muncul, misalnya, ketika dia menyampaikan makalah berjudul ”Pertumbuhan Luar Biasa Pesantren di Indonesia” dalam konferensi tahunan National Association of Foreign Student Advisers di Los Angeles, Amerika Serikat, akhir Mei lalu.
”Pertanyaan yang muncul dalam konferensi itu kebanyakan soal radikalisme, madrasah sebagai tempat pengkaderan teroris, apalagi pesantren. Jadi, madrasah disamakan dengan madrasah di Afganistan,” kata Fuad. Madrasah di Afganistan mendapat cap miring karena banyak militan Taliban direkrut dari madrasah tersebut.
Madrasah di Indonesia, kata Fuad, sama dengan sekolah umum, dengan muatan khusus pendidikan Islam. ”Dari 21 ribu lebih pesantren saat ini, tidak ada yang mengajarkan kekerasan, apalagi yang mengarah pada terorisme,” katanya.
Departemen Agama mencatat saat ini ada 21.521 pesantren dengan 3.818.469 santri. Jumlah pesantren itu naik hampir empat kali lipat dalam 20 tahun terakhir dan dua kali lipat dalam 6 tahun terakhir. Pada 1985 tercatat ada 6.239 pesantren dengan 1 juta lebih santri dan pada 2001 ada 11.312 pesantren dengan 2.737.805 santri. Ini tidak termasuk pesantren yang belum terdaftar di departemen tersebut.
Pondok-pondok pesantren itu tak berwajah tunggal. Ada yang mengajarkan pentingnya merawat harmoni sosial dan toleransi antar-umat beragama. Ada pula yang menggendong ideologi politik Timur Tengah, seperti Wahabisme, Ikhwanul Muslimin, dan Talibanisme. Tak sedikit dari pesantren ini yang mengintroduksi jalan-jalan kekerasan dalam menjalankan ajaran Islam.
Menurut Fuad, pemerintah berupaya mendorong pondok-pondok pesantren agar tak hanya menjadi tempat belajar agama Islam, tapi juga menjadi agen perubahan sosial, motivator, dan aktor bagi masyarakat sekitarnya. Peran itu sudah dilakukan oleh beberapa pesantren, seperti Pondok Pesantren Al-Ittifaq di Babakan Jampang, Ciwidey, Bandung, yang mengajak masyarakat sekitar mengelola sayur-mayur, dari budi daya hingga pemasarannya.
”Pesantren itulah yang menyalurkan produk pertanian masyarakat ke supermarket-supermarket. Para santrinya juga diajari pemasaran dengan berdasi. Jadi, jangan dikira bahwa para santri kini cuma bersarung dan berkerudung,” kata Choirul.
Masdar Farid Mas’udi, yang juga Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, menuturkan bahwa peran pesantren dalam memberdayakan masyarakat sudah berlangsung lama. ”Bahkan sebenarnya pesantren umumnya didirikan dengan tujuan memberdayakan masyarakat sekitarnya,” kata pengasuh Pesantren Unggul Al-Bayan di Sukabumi, Jawa Barat, itu.
Gerakan pemberdayaan itu menguat pada 1970-an dan 1980-an, bersamaan dengan dijalankannya banyak program kemasyarakatan oleh pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat melalui pesantren, seperti yang dilakukan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Bina Desa, Bina Swadaya, dan P3M yang dipimpin Masdar. ”Namun program pemberdayaan masyarakat ini hanya meletakkan pesantren sebagai pintu masuk atau batu loncatan,” kata Masdar.
Masdar mencontohkan program Keluarga Berencana yang diperkenalkan ke masyarakat melalui pintu pesantren, sehingga masyarakat tak lagi mempermasalahkannya. ”Legitimasinya sudah tidak dipertanyakan lagi karena sudah didukung kiai,” katanya.
Nah, beberapa kiai kemudian berembuk untuk membentuk P3M dengan tujuan memberdayakan masyarakat melalui, oleh, dan bersama pesantren. Dasarnya adalah fikih sosial, yakni pengembangan dan kepedulian kepada masyarakat itu sebenarnya dilakukan bukan karena ada pesanan atau program atau dana dari luar, melainkan sebagai tanggung jawab pesantren itu sendiri sebagai pusat keagamaan. ”Kami berharap pengembangan masyarakat oleh pesantren itu menjadi agenda pesantren itu sendiri, bukan sekadar pintu masuk atau lampiran dari pesantren,” katanya.
Secara historis pun pesantren muncul karena ingin mengasuh masyarakat. Masdar mencontohkan peran Pesantren Tebuireng yang berdiri di tengah Kota Jombang ketika ada masalah antara petani tebu dan pabrik gula karena pabrik menetapkan harga yang rendah. Pemimpin pesantren itu menyokong pembentukan paguyuban petani, yang kemudian mendatangi pihak pabrik untuk memperbaiki harga dan budi daya tebu.
Pesantren masa kini, kata Masdar, juga merupakan perkembangan dari intervensi pemerintah melalui kurikulum dan standardisasi pendidikan, yang mulai terlihat pada 1980-an. Hal ini menyebabkan ongkos sekolah di pesantren jadi mahal dan membuat mereka berpaling ke sumber dana yang ada, yakni pemerintah.
”Inilah mulai hilangnya independensi pesantren terhadap kekuasaan. Padahal independensi menjadi ciri pesantren dan keulamaan, yaitu duduk setara dengan umara (pemimpin), jadi bisa mengatakan tidak dalam hal harus mengatakan tidak, dan mengatakan ya bila harus ya,” ujarnya.
Dampak dari formalisasi pendidikan pesantren ini juga berpengaruh pada hubungan santri-kiai. Dulu, kalau santri datang ke pesantren, pasti ia diserahkan sepenuhnya oleh orang tuanya kepada sang kiai. ”Sekarang santri datang ke pesantren itu bukan ke kiai lagi, tapi ke bagian tata usaha. Jadi, kalau urusan bagian tata usaha sudah selesai, bisa datang sowan ke kiai bisa tidak. Kiai sudah tidak pegang otoritas apa-apa di situ,” kata Masdar.
Meski demikian, masih banyak pesantren yang mencoba mandiri dengan cara masing-masing, bahkan mampu memberdayakan masyarakat sekitarnya. Untuk memotret kepeloporan pesantren itulah Tempo menurunkan laporan sejumlah pesantren di Tanah Air. Sebagian besar merupakan masukan dari Departemen Agama dan sebagian lagi muncul dalam diskusi redaksi.
Ada delapan pesantren yang diangkat kali ini, yakni Pesantren Sidogiri di Pasuruan, Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman di Parung, Pesantren Al-Amin di Tasikmalaya, Pesantren As-Salafiyyah di Mlangi, Yogyakarta, Pesantren Qamarul Huda di Lombok, Pesantren Darul Arafah dan Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah di Sumatera Utara, serta Pesantren Salafiyah Safi’iyah di Gorontalo.
Lembaga-lembaga itu mencerminkan wajah lain pondok pesantren. Pesantren Sidogiri, misalnya, memelopori wirausaha melalui koperasi di pesantren, yang ternyata juga mendorong perekonomian masyarakat setempat. Kini mereka telah memiliki sedikitnya sepuluh unit usaha, dari toko buku hingga studio foto. Sayap usaha lain adalah produksi air minum kemasan bermerek Santri, penerbitan kitab, dan busana muslim.
Adapun Pondok Pesantren Qamarul Huda di Lombok mengkampanyekan lingkungan hijau dengan mengajak warga menanam pohon di halaman rumah masing-masing. Mereka juga menjadi mitra pemerintah dalam menangani kerusakan hutan dengan menanami lahan seluas 200 hektare.
Lain lagi dengan Pondok Pesantren Salafiyah Safi’iyah di Desa Banuroja, Kecamatan Randangan, Provinsi Gorontalo. Pesantren ini aktif membina kerukunan dengan warga Hindu, yang dianut hampir separuh warga desa, dan warga Kristen. Pondok itu juga memelopori pembangunan desa dengan mendorong berbagai usaha, termasuk agrobisnis dan peternakan sapi. Warga juga dilibatkan dalam pemeliharaan sapi dengan metode bagi hasil.
Pesantren-pesantren ini hanya potret kecil dari begitu beragam dan banyaknya pesantren di Indonesia. Namun kepeloporan mereka setidaknya dapat menjadi inspirasi bagi pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan lain di Nusantara.
PESANTREN dan terorisme. Dua kata ini kerap dikait-kaitkan saat aksi terorisme mewabah di Indonesia belakangan ini. Harap maklum, sebagian besar pelaku dan tersangka tindak kejahatan itu memang alumni pondok pesantren.
”Stigmatisasi terhadap pesantren saat ini luar biasa dan telah menjadi sebentuk kebencian terhadap Islam,” kata Choirul Fuad Yusuf, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Departemen Agama, dalam diskusi di kantor majalah Tempo pada 3 September lalu.
Diskusi itu juga dihadiri Masdar Farid Mas’udi, Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M); Khaeroni, Kepala Subdirektorat Pemberdayaan Santri dan Layanan pada Masyarakat; dan Undang Sumantri, Kepala Subbagian Tata Usaha Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Departemen Agama.
Fuad menyatakan stigmatisasi itu muncul, misalnya, ketika dia menyampaikan makalah berjudul ”Pertumbuhan Luar Biasa Pesantren di Indonesia” dalam konferensi tahunan National Association of Foreign Student Advisers di Los Angeles, Amerika Serikat, akhir Mei lalu.
”Pertanyaan yang muncul dalam konferensi itu kebanyakan soal radikalisme, madrasah sebagai tempat pengkaderan teroris, apalagi pesantren. Jadi, madrasah disamakan dengan madrasah di Afganistan,” kata Fuad. Madrasah di Afganistan mendapat cap miring karena banyak militan Taliban direkrut dari madrasah tersebut.
Madrasah di Indonesia, kata Fuad, sama dengan sekolah umum, dengan muatan khusus pendidikan Islam. ”Dari 21 ribu lebih pesantren saat ini, tidak ada yang mengajarkan kekerasan, apalagi yang mengarah pada terorisme,” katanya.
Departemen Agama mencatat saat ini ada 21.521 pesantren dengan 3.818.469 santri. Jumlah pesantren itu naik hampir empat kali lipat dalam 20 tahun terakhir dan dua kali lipat dalam 6 tahun terakhir. Pada 1985 tercatat ada 6.239 pesantren dengan 1 juta lebih santri dan pada 2001 ada 11.312 pesantren dengan 2.737.805 santri. Ini tidak termasuk pesantren yang belum terdaftar di departemen tersebut.
Pondok-pondok pesantren itu tak berwajah tunggal. Ada yang mengajarkan pentingnya merawat harmoni sosial dan toleransi antar-umat beragama. Ada pula yang menggendong ideologi politik Timur Tengah, seperti Wahabisme, Ikhwanul Muslimin, dan Talibanisme. Tak sedikit dari pesantren ini yang mengintroduksi jalan-jalan kekerasan dalam menjalankan ajaran Islam.
Menurut Fuad, pemerintah berupaya mendorong pondok-pondok pesantren agar tak hanya menjadi tempat belajar agama Islam, tapi juga menjadi agen perubahan sosial, motivator, dan aktor bagi masyarakat sekitarnya. Peran itu sudah dilakukan oleh beberapa pesantren, seperti Pondok Pesantren Al-Ittifaq di Babakan Jampang, Ciwidey, Bandung, yang mengajak masyarakat sekitar mengelola sayur-mayur, dari budi daya hingga pemasarannya.
”Pesantren itulah yang menyalurkan produk pertanian masyarakat ke supermarket-supermarket. Para santrinya juga diajari pemasaran dengan berdasi. Jadi, jangan dikira bahwa para santri kini cuma bersarung dan berkerudung,” kata Choirul.
Masdar Farid Mas’udi, yang juga Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, menuturkan bahwa peran pesantren dalam memberdayakan masyarakat sudah berlangsung lama. ”Bahkan sebenarnya pesantren umumnya didirikan dengan tujuan memberdayakan masyarakat sekitarnya,” kata pengasuh Pesantren Unggul Al-Bayan di Sukabumi, Jawa Barat, itu.
Gerakan pemberdayaan itu menguat pada 1970-an dan 1980-an, bersamaan dengan dijalankannya banyak program kemasyarakatan oleh pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat melalui pesantren, seperti yang dilakukan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Bina Desa, Bina Swadaya, dan P3M yang dipimpin Masdar. ”Namun program pemberdayaan masyarakat ini hanya meletakkan pesantren sebagai pintu masuk atau batu loncatan,” kata Masdar.
Masdar mencontohkan program Keluarga Berencana yang diperkenalkan ke masyarakat melalui pintu pesantren, sehingga masyarakat tak lagi mempermasalahkannya. ”Legitimasinya sudah tidak dipertanyakan lagi karena sudah didukung kiai,” katanya.
Nah, beberapa kiai kemudian berembuk untuk membentuk P3M dengan tujuan memberdayakan masyarakat melalui, oleh, dan bersama pesantren. Dasarnya adalah fikih sosial, yakni pengembangan dan kepedulian kepada masyarakat itu sebenarnya dilakukan bukan karena ada pesanan atau program atau dana dari luar, melainkan sebagai tanggung jawab pesantren itu sendiri sebagai pusat keagamaan. ”Kami berharap pengembangan masyarakat oleh pesantren itu menjadi agenda pesantren itu sendiri, bukan sekadar pintu masuk atau lampiran dari pesantren,” katanya.
Secara historis pun pesantren muncul karena ingin mengasuh masyarakat. Masdar mencontohkan peran Pesantren Tebuireng yang berdiri di tengah Kota Jombang ketika ada masalah antara petani tebu dan pabrik gula karena pabrik menetapkan harga yang rendah. Pemimpin pesantren itu menyokong pembentukan paguyuban petani, yang kemudian mendatangi pihak pabrik untuk memperbaiki harga dan budi daya tebu.
Pesantren masa kini, kata Masdar, juga merupakan perkembangan dari intervensi pemerintah melalui kurikulum dan standardisasi pendidikan, yang mulai terlihat pada 1980-an. Hal ini menyebabkan ongkos sekolah di pesantren jadi mahal dan membuat mereka berpaling ke sumber dana yang ada, yakni pemerintah.
”Inilah mulai hilangnya independensi pesantren terhadap kekuasaan. Padahal independensi menjadi ciri pesantren dan keulamaan, yaitu duduk setara dengan umara (pemimpin), jadi bisa mengatakan tidak dalam hal harus mengatakan tidak, dan mengatakan ya bila harus ya,” ujarnya.
Dampak dari formalisasi pendidikan pesantren ini juga berpengaruh pada hubungan santri-kiai. Dulu, kalau santri datang ke pesantren, pasti ia diserahkan sepenuhnya oleh orang tuanya kepada sang kiai. ”Sekarang santri datang ke pesantren itu bukan ke kiai lagi, tapi ke bagian tata usaha. Jadi, kalau urusan bagian tata usaha sudah selesai, bisa datang sowan ke kiai bisa tidak. Kiai sudah tidak pegang otoritas apa-apa di situ,” kata Masdar.
Meski demikian, masih banyak pesantren yang mencoba mandiri dengan cara masing-masing, bahkan mampu memberdayakan masyarakat sekitarnya. Untuk memotret kepeloporan pesantren itulah Tempo menurunkan laporan sejumlah pesantren di Tanah Air. Sebagian besar merupakan masukan dari Departemen Agama dan sebagian lagi muncul dalam diskusi redaksi.
Ada delapan pesantren yang diangkat kali ini, yakni Pesantren Sidogiri di Pasuruan, Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman di Parung, Pesantren Al-Amin di Tasikmalaya, Pesantren As-Salafiyyah di Mlangi, Yogyakarta, Pesantren Qamarul Huda di Lombok, Pesantren Darul Arafah dan Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah di Sumatera Utara, serta Pesantren Salafiyah Safi’iyah di Gorontalo.
Lembaga-lembaga itu mencerminkan wajah lain pondok pesantren. Pesantren Sidogiri, misalnya, memelopori wirausaha melalui koperasi di pesantren, yang ternyata juga mendorong perekonomian masyarakat setempat. Kini mereka telah memiliki sedikitnya sepuluh unit usaha, dari toko buku hingga studio foto. Sayap usaha lain adalah produksi air minum kemasan bermerek Santri, penerbitan kitab, dan busana muslim.
Adapun Pondok Pesantren Qamarul Huda di Lombok mengkampanyekan lingkungan hijau dengan mengajak warga menanam pohon di halaman rumah masing-masing. Mereka juga menjadi mitra pemerintah dalam menangani kerusakan hutan dengan menanami lahan seluas 200 hektare.
Lain lagi dengan Pondok Pesantren Salafiyah Safi’iyah di Desa Banuroja, Kecamatan Randangan, Provinsi Gorontalo. Pesantren ini aktif membina kerukunan dengan warga Hindu, yang dianut hampir separuh warga desa, dan warga Kristen. Pondok itu juga memelopori pembangunan desa dengan mendorong berbagai usaha, termasuk agrobisnis dan peternakan sapi. Warga juga dilibatkan dalam pemeliharaan sapi dengan metode bagi hasil.
Pesantren-pesantren ini hanya potret kecil dari begitu beragam dan banyaknya pesantren di Indonesia. Namun kepeloporan mereka setidaknya dapat menjadi inspirasi bagi pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan lain di Nusantara.
Thursday, August 6, 2009
Bersikap tidak profesional dalam mendidik.
Profesional. Di dunia modern seperti ini, segala sesuatu harus dilakukan secara profesional. Pekerjaan tertentu diserahkan kepada profesi dan ahlinya. Tidak terkecuali di bidang pendidikan.
Sebut saja Sekolah Internasional Dwi Warna di Parung misalnya. Mereka adalah salah satu contoh sekolah yang bisa dibilang menjunjung tinggi profesionalitas dalam manajemen pendidikan mereka.
Administratur dipilih dari mereka yang memang ahli didalam mengurusi administrasi, kalau perlu dipilih mereka yang kuliah minimal IPK 3.00 di bidang administrasi. Tenaga Satpam diambil dari pensiunan polisi yang bisa tersenyum, minimal pernah mendapatkan pendidikan satpam yang benar atau berpengalaman sebagai Satpam selama beberapa tahun. Begitupun penjaga toko franchise milik sekolah yang dipilih oleh lembaga outsource yang dipercaya sehingga tidak ada rutinitas mengajari murid baru pembukuan dagang. Jangankan Guru yang jelas-jelas berkaitan langsung dengan pendidikan, bahkan kalau perlu, kebersihan kelas dan lingkungan mereka di outsource ke perusahaan cleaning service ternama. Bayarannya? Jelas dibayar secara profesional sesusai standard nasional.
Intinya; seluruh bidang pekerjaan di serahkan kepada ahlinya masing masing. Profesional!
Lalu apa tugas murid? Ya sesuai dengan profesi mereka; belajar! Belajar di kelas ataupun dilibatkan di kegiatan intra atau extra kurikuler.
Orang tua pun rela membayar mahal asal putra-putri mereka dididik secara profesional oleh guru dan administratur dengan manajemen yang profesional. Dengan cara itu, mereka bisa fokus mengembangkan kemampuan akademis ataupun non-akademis lainnya. Mereka adalah “customer” yang harus di penuhi “kebutuhan” dasarnya; mendapatkan lingkungan dan pendidikan secara profesional. Bukan untuk disuruh nguras kamar mandi apalagi WC.
Keuntungan pola ini jelas; lembaga dan murid bisa fokus mengembangkan kemampuan mereka. Pihak manajemen pun tidak usah pusing dengan desain interior kantor mereka misalnya karena sudah diserahkan kepada ahlinya.
Hampir seluruh lembaga pendidikan terkemuka menerapkan system manajemen yang serupa dan ramai-ramai menyatakan bahwa lembaga mereka menerapkan manajemen pendidikan secara profesional. Hampir.
Hanya ada segelintir lembaga pendidikan yang sengaja menyatakan bahwa manajemen pendidikan mereka penuh dengan “ketidak profesionalan”. Ya. Tidak profesional!
Gontor contohnya.
Istilah ini dikemukakan Kiai Syukri Zarkasyi yang mengatakan bahwa Gontor memang sengaja bersikap tidak profesional didalam manajemen kesehariannya.
Dalam kesehariannya, benar bahwa tidak ada profesi yang benar-benar ahli di bidangnya di dalam lembaga tersebut. Tidak ada satpam yang profesional disana untuk menjaga keamanan. Tidak ada administratur bagian keuangan jebolan S1 jurusan akuntasi yang profesional untuk mencatat laba dan rugi. Tidak ada penjaga toko yang di outsource secara profesional untuk mengatur stocking barang di koperasi. Bahkan, tidak ada tukang listrik profesional yang merangkap bagian diesel yang sangat vital mengatur kelistrikan disana.
Tidak ada profesi disana kecuali satu; semua menjadi “pelajar” yang terlibat di dalam proses pendidikan. Tidak peduli apakah ia santri, guru ataupun administratur, semuanya berperan untuk menggerakkan roda kehidupan di Kampung Damai.
Profesional? Jelas tidak! Bagaimana mau dibilang profesional kalau kebanyakan mereka adalah santri yang mungkin saja baru berumur remaja. Tiap saat ada saja pelatihan-pelatihan bagi “pegawai” baru setiap bidang. Bagian koperasi dilatih untuk membuat catatan keuangan. Bagian fotografi harus dilatih bagaimana mengambil angle yang baik didalam memfoto. Bagian diesel diajari untuk mengganti oli diesel oleh seniornya yang telah selesai “menjabat” selama satu tahun sebelumnya. Dan itu dilakukan setiap tahun berulang-ulang.
Lalu, bagaimana kalau mereka salah dalam menghitung dan menyebabkan kerugian pondok jutaan rupiah? Bagaimana jika diesel yang ada tiba-tiba ngadat dan tidak mau berfungsi sehingga Pondok gelap gulita selama beberapa jam karena lupa diganti olinya? Atau bagaimana jika foto-foto sang Presiden RI yang berkunjung ke Gontor yang diambil oleh fotografer baru itu tidak fokus wajahnya? Ya itulah bagian dalam proses pendidikan. Tidak ada kata salah di dalam belajar. Yang tidak boleh adalah jatuh dilubang yang sama untuk kedua kalinya.
Bulis malam yang berfungsi sebagai penjaga keamanan hanyalah sekelompok anak santri yang kalau berhadapan dengan maling pasti mereka lari terbirit-birit. Santri bertugas menjaga kebersihan kamar dan lingkungannya sendiri, kalau perlu menguras kamar mandi dan WC mereka setiap hari jum’at, seperti yang masih berjalan hingga hari ini.
Apakah mereka dibayar sesuai standard profesi mereka? Boro boro! Yang ada malah di marahin oleh Kiai karena tidak becus menghitung.
Tapi, semua itu merupakan proses pendidikan integral yang diyakini Gontor akan bermanfaat untuk membentuk karakter santri itu sendiri sebagai kader. Mereka sendiri adalah kader itu sendiri dan keseluruhan proses itu diyakini dengan total dengan sepenuh keyakinan dan disampaikan secara efektif kepada stake holders sebagai sebuah proses pendidikan, termasuk orang tua mereka.
Jarang ada orang tua santri yang protes anaknya disuruh membersihkan kamar mandi ataupun WC karena mereka yakin akan Gontor dan pola pendidikan mereka. Mereka justru membayar agar putra-putrinya belajar membersihkan kamar mandi dan WC mereka!
Mereka yakin akan pendidikan mereka.
Pertanyaannya, mana yang lebih baik?
Tidak ada jawaban mutlak karena keduanya adalah pilihan yang memakai frame yang berbeda dengan keyakinan masing-masing yang berasal dari tujuan pendidikan lembaga itu sendiri.
Perbedaan ini mungkin bermula dari perbedaan cara pandang merumuskan pendidikan itu sendiri.
Dwi Warna memilih merumuskan pendidikan dengan definisi terbatas bahwa apa yang penting ditanamkan dalam pendidikan murid-murid mereka adalah apa yang menyangkut dengan kehidupan akademik di kelas dan seputaran ekstra kurikuler.
Dilain pihak, Gontor memandang pendidikan dengan batasan yang jauh lebih luas melampaui ruang-ruang kelas. Istilah mereka; apa yang dilihat, apa yang disentuh, apa yang dirasakan oleh santri adalah bagian dari pendidikan Gontor.
Orang tua dari murid Dwi Warna senang karena putra-putri mereka dijaga di lingkungan yang aman dikelola dengan manajemen profesional sehingga putra-putri mereka bisa fokus belajar untuk meningkatkan kemampuan akademis dan non-akademis mereka.
Orang tua murid dari santri Gontor pun berkeyakinan dengan apa yang di perlakukan kepada putra-putri mereka karena mereka yakin bahwa hal tersebut akan bermanfaat untuk masa depan mereka.
Tidak ada yang mutlak benar di keduanya. Yang ada hanyalah bahwa masing-masing cocok dengan tujuan pendidikan lembaga sesuai kebutuhan “customer”nya.
Satu yang harus dihindari adalah ketidak jelasan positioning karena terjebak diantara keduanya.
Dalam dunia manajemen, Porter-sang Guru Manajemen mengistilahkannya; stuck in the middle! Tidak jelas positioningnya!
Justru itulah masalah yang di khawatirkan dialami Darunnajah.
Darunnajah sedang berada di persimpangan jalan, dan harus memilih diantara keduanya agar tidak terjebak diantara dua pandangan tersebut.
Sayangnya, beberapa kebijakan yang dibuat mengindikasikan bahwa Darunnajah terjebak diantara keduanya.
Pada awalnya, Darunnajah dulu seingat saya pernah “tidak profesional” dan bahkan dengan jelas dikatakan bahwa Darunnajah adalah Pesantren di Ibukota dengan model pendidikan ala Gontor. Hal ini bisa dilihat dari dokumentasi di media massa tentang pernyataan pendiri, KH Mahrus Amien yang bahkan menyebut Darunnajah sebagai “Gontor versi Jakarta”.
Tetapi, Jakarta tidaklah sama dengan Ponorogo. Seiring berjalannya waktu, kepungan dunia Modern yang jauh lebih dinamis dari Ponorogo membentuk permasalahan tersendiri bagi Darunnajah. Pada kenyataannya, memang“Customer” dan lingkungan Darunnajah tidaklah sama dengan “customer” Gontor, baik dari segi ekonomi, cultural dan budaya.
Seiring dengan berjalannya waktu, banyak hal- terutama lokasi di perkotaan, kemudahan orangtua invtervensi dan segala eksesnya-yang memaksa Darunnajah untuk mencari bentuk mereka sendiri. Ijtihad mereka membawa mereka untuk bersikap lebih professional, satu sikap yang bukan bagian dari idealisme Gontor.
Tuntutan orang tua santri terutama sangat kuat karena kebanyakan mereka sendiri adalah kalangan profesional perkotaan. Menurut data PPMB lima tahun terakhir, lebih dari 70% santri berasal dari kalangan masyarakat profesional perkotaan yang maaf; tidak sepenuhnya faham dan akrab dengan idealisme Gontor yang “tidak profesional” tersebut. Karakter mereka bahkan lebih mirip dengan orang tua santri Dwi Warna, setidaknya secara budaya perkotaan dan level ekonomi.
Darunnajah pun mulai merasa perlu mendengar masukan tersebut dan mulai merespon tantangan-tantangan yang ada.
Ambil satu contoh yang gampang terlihat; masalah keamanan ataupun kebersihan. Pada awal perkembangannya, Darunnajah memandang bahwa bidang keamanan dan kebersihan adalah bagian dari pendidikan yang harus diserahkan kepada anak didik. Bulis malam (Ronda malam) digilirkan kepada anak santri. Membersihkan lingkungan menjadi tanggung jawab santri. Pengelolaan dan pengawasan kamar-kamar pun diserahkan kepada santri senior yang terpilih menjadi mudabbir.
Ternyata, untuk bersikap “tidak professional” tidak semudah di Gontor yang jauh dari jangkauan kebanyakan wali santri. Mudahnya lokasi Darunnajah dijangkau menjadi permasalah tersendiri bagi lembaga yang sedang mencari bentuk tersebut. Banyak orang tua santri yang tidak faham akan idealisme pendidikan menyeluruh yang diterapkan di Gontor dan Darunnajah awal. Kenapa masih saja ada barang yang hilang? Kenapa anak mereka disuruh membersihkan WC mereka? Kenapa wewenang menghukum diserahkan kepada senior, dan bukan ustadz yang lebih dewasa? Kenapa anak mereka tidak diurus secara professional?
Seiring berjalannya waktu dan tuntutan orang tua santri dan lingkungan, Darunnajah pun mulai mencoba mengarah untuk lebih profesional.
Untuk masalah keamanan di serahkan kepada satpam. Kebersihan lingkungan diserahkan kepada karyawan kebersihan. Pengawasan santri dan kehidupan mereka diserahkan kepada yang lebih berwenang; ustadz musyrif, yang pastinya jauh lebih dewasa dibandingkan oleh santri mudabbir yang dianggap tidak lagi becus diberi wewenang untuk menghukum. Tidak ada lagi cerita santri ikut terlibat nge-cor bangunan pondok. Semuanya diserahkan kepada orang lain. Kepada ahlinya.
Terlihat disini sepertinya Darunnajah akan menuju satu kutub; Profesional.
Satu yang Darunnajah tidak bisa lupakan adalah bahwa darah Gontor mengalir deras di urat nadi mereka. Ke “tidak profesional” an adalah pola yang menjadi pola pendidikan yang mereka anut sejak awal. Ada ketidaksesuaian dan ketidakyakinan akan idealisme dan tujuan pendidikan disini. Ada yang tidak tercapai.
Mereka sadar bahwa idealisme pendidikan profesional bukanlah idealisme pendidikan yang mereka yakini.
Darunnajah pun mulai merevisi kebijakannya meskipun masih terkesan malu-malu.
Satpam mulai di kritik keberadaannya. Bulis malam mulai diadakan kembali. Musyrif mulai dikurangi wewenangnya dan diserahkan kepada mudabbir dan OSDN. Santri pun diminta kembali untuk terlibat didalam membersihkan kamar mandi mereka.
Idealisme pendidikan mereka kembali kearah “tidak profesional”, kearah pendidikan dengan pandangan holistic; apa yang dilihat, apa yang disentuh dan apa yang dirasa oleh santri.
Pendidikan manusia seutuhnya yang tidak dibatasi oleh tembok kelas.
Sebut saja Sekolah Internasional Dwi Warna di Parung misalnya. Mereka adalah salah satu contoh sekolah yang bisa dibilang menjunjung tinggi profesionalitas dalam manajemen pendidikan mereka.
Administratur dipilih dari mereka yang memang ahli didalam mengurusi administrasi, kalau perlu dipilih mereka yang kuliah minimal IPK 3.00 di bidang administrasi. Tenaga Satpam diambil dari pensiunan polisi yang bisa tersenyum, minimal pernah mendapatkan pendidikan satpam yang benar atau berpengalaman sebagai Satpam selama beberapa tahun. Begitupun penjaga toko franchise milik sekolah yang dipilih oleh lembaga outsource yang dipercaya sehingga tidak ada rutinitas mengajari murid baru pembukuan dagang. Jangankan Guru yang jelas-jelas berkaitan langsung dengan pendidikan, bahkan kalau perlu, kebersihan kelas dan lingkungan mereka di outsource ke perusahaan cleaning service ternama. Bayarannya? Jelas dibayar secara profesional sesusai standard nasional.
Intinya; seluruh bidang pekerjaan di serahkan kepada ahlinya masing masing. Profesional!
Lalu apa tugas murid? Ya sesuai dengan profesi mereka; belajar! Belajar di kelas ataupun dilibatkan di kegiatan intra atau extra kurikuler.
Orang tua pun rela membayar mahal asal putra-putri mereka dididik secara profesional oleh guru dan administratur dengan manajemen yang profesional. Dengan cara itu, mereka bisa fokus mengembangkan kemampuan akademis ataupun non-akademis lainnya. Mereka adalah “customer” yang harus di penuhi “kebutuhan” dasarnya; mendapatkan lingkungan dan pendidikan secara profesional. Bukan untuk disuruh nguras kamar mandi apalagi WC.
Keuntungan pola ini jelas; lembaga dan murid bisa fokus mengembangkan kemampuan mereka. Pihak manajemen pun tidak usah pusing dengan desain interior kantor mereka misalnya karena sudah diserahkan kepada ahlinya.
Hampir seluruh lembaga pendidikan terkemuka menerapkan system manajemen yang serupa dan ramai-ramai menyatakan bahwa lembaga mereka menerapkan manajemen pendidikan secara profesional. Hampir.
Hanya ada segelintir lembaga pendidikan yang sengaja menyatakan bahwa manajemen pendidikan mereka penuh dengan “ketidak profesionalan”. Ya. Tidak profesional!
Gontor contohnya.
Istilah ini dikemukakan Kiai Syukri Zarkasyi yang mengatakan bahwa Gontor memang sengaja bersikap tidak profesional didalam manajemen kesehariannya.
Dalam kesehariannya, benar bahwa tidak ada profesi yang benar-benar ahli di bidangnya di dalam lembaga tersebut. Tidak ada satpam yang profesional disana untuk menjaga keamanan. Tidak ada administratur bagian keuangan jebolan S1 jurusan akuntasi yang profesional untuk mencatat laba dan rugi. Tidak ada penjaga toko yang di outsource secara profesional untuk mengatur stocking barang di koperasi. Bahkan, tidak ada tukang listrik profesional yang merangkap bagian diesel yang sangat vital mengatur kelistrikan disana.
Tidak ada profesi disana kecuali satu; semua menjadi “pelajar” yang terlibat di dalam proses pendidikan. Tidak peduli apakah ia santri, guru ataupun administratur, semuanya berperan untuk menggerakkan roda kehidupan di Kampung Damai.
Profesional? Jelas tidak! Bagaimana mau dibilang profesional kalau kebanyakan mereka adalah santri yang mungkin saja baru berumur remaja. Tiap saat ada saja pelatihan-pelatihan bagi “pegawai” baru setiap bidang. Bagian koperasi dilatih untuk membuat catatan keuangan. Bagian fotografi harus dilatih bagaimana mengambil angle yang baik didalam memfoto. Bagian diesel diajari untuk mengganti oli diesel oleh seniornya yang telah selesai “menjabat” selama satu tahun sebelumnya. Dan itu dilakukan setiap tahun berulang-ulang.
Lalu, bagaimana kalau mereka salah dalam menghitung dan menyebabkan kerugian pondok jutaan rupiah? Bagaimana jika diesel yang ada tiba-tiba ngadat dan tidak mau berfungsi sehingga Pondok gelap gulita selama beberapa jam karena lupa diganti olinya? Atau bagaimana jika foto-foto sang Presiden RI yang berkunjung ke Gontor yang diambil oleh fotografer baru itu tidak fokus wajahnya? Ya itulah bagian dalam proses pendidikan. Tidak ada kata salah di dalam belajar. Yang tidak boleh adalah jatuh dilubang yang sama untuk kedua kalinya.
Bulis malam yang berfungsi sebagai penjaga keamanan hanyalah sekelompok anak santri yang kalau berhadapan dengan maling pasti mereka lari terbirit-birit. Santri bertugas menjaga kebersihan kamar dan lingkungannya sendiri, kalau perlu menguras kamar mandi dan WC mereka setiap hari jum’at, seperti yang masih berjalan hingga hari ini.
Apakah mereka dibayar sesuai standard profesi mereka? Boro boro! Yang ada malah di marahin oleh Kiai karena tidak becus menghitung.
Tapi, semua itu merupakan proses pendidikan integral yang diyakini Gontor akan bermanfaat untuk membentuk karakter santri itu sendiri sebagai kader. Mereka sendiri adalah kader itu sendiri dan keseluruhan proses itu diyakini dengan total dengan sepenuh keyakinan dan disampaikan secara efektif kepada stake holders sebagai sebuah proses pendidikan, termasuk orang tua mereka.
Jarang ada orang tua santri yang protes anaknya disuruh membersihkan kamar mandi ataupun WC karena mereka yakin akan Gontor dan pola pendidikan mereka. Mereka justru membayar agar putra-putrinya belajar membersihkan kamar mandi dan WC mereka!
Mereka yakin akan pendidikan mereka.
Pertanyaannya, mana yang lebih baik?
Tidak ada jawaban mutlak karena keduanya adalah pilihan yang memakai frame yang berbeda dengan keyakinan masing-masing yang berasal dari tujuan pendidikan lembaga itu sendiri.
Perbedaan ini mungkin bermula dari perbedaan cara pandang merumuskan pendidikan itu sendiri.
Dwi Warna memilih merumuskan pendidikan dengan definisi terbatas bahwa apa yang penting ditanamkan dalam pendidikan murid-murid mereka adalah apa yang menyangkut dengan kehidupan akademik di kelas dan seputaran ekstra kurikuler.
Dilain pihak, Gontor memandang pendidikan dengan batasan yang jauh lebih luas melampaui ruang-ruang kelas. Istilah mereka; apa yang dilihat, apa yang disentuh, apa yang dirasakan oleh santri adalah bagian dari pendidikan Gontor.
Orang tua dari murid Dwi Warna senang karena putra-putri mereka dijaga di lingkungan yang aman dikelola dengan manajemen profesional sehingga putra-putri mereka bisa fokus belajar untuk meningkatkan kemampuan akademis dan non-akademis mereka.
Orang tua murid dari santri Gontor pun berkeyakinan dengan apa yang di perlakukan kepada putra-putri mereka karena mereka yakin bahwa hal tersebut akan bermanfaat untuk masa depan mereka.
Tidak ada yang mutlak benar di keduanya. Yang ada hanyalah bahwa masing-masing cocok dengan tujuan pendidikan lembaga sesuai kebutuhan “customer”nya.
Satu yang harus dihindari adalah ketidak jelasan positioning karena terjebak diantara keduanya.
Dalam dunia manajemen, Porter-sang Guru Manajemen mengistilahkannya; stuck in the middle! Tidak jelas positioningnya!
Justru itulah masalah yang di khawatirkan dialami Darunnajah.
Darunnajah sedang berada di persimpangan jalan, dan harus memilih diantara keduanya agar tidak terjebak diantara dua pandangan tersebut.
Sayangnya, beberapa kebijakan yang dibuat mengindikasikan bahwa Darunnajah terjebak diantara keduanya.
Pada awalnya, Darunnajah dulu seingat saya pernah “tidak profesional” dan bahkan dengan jelas dikatakan bahwa Darunnajah adalah Pesantren di Ibukota dengan model pendidikan ala Gontor. Hal ini bisa dilihat dari dokumentasi di media massa tentang pernyataan pendiri, KH Mahrus Amien yang bahkan menyebut Darunnajah sebagai “Gontor versi Jakarta”.
Tetapi, Jakarta tidaklah sama dengan Ponorogo. Seiring berjalannya waktu, kepungan dunia Modern yang jauh lebih dinamis dari Ponorogo membentuk permasalahan tersendiri bagi Darunnajah. Pada kenyataannya, memang“Customer” dan lingkungan Darunnajah tidaklah sama dengan “customer” Gontor, baik dari segi ekonomi, cultural dan budaya.
Seiring dengan berjalannya waktu, banyak hal- terutama lokasi di perkotaan, kemudahan orangtua invtervensi dan segala eksesnya-yang memaksa Darunnajah untuk mencari bentuk mereka sendiri. Ijtihad mereka membawa mereka untuk bersikap lebih professional, satu sikap yang bukan bagian dari idealisme Gontor.
Tuntutan orang tua santri terutama sangat kuat karena kebanyakan mereka sendiri adalah kalangan profesional perkotaan. Menurut data PPMB lima tahun terakhir, lebih dari 70% santri berasal dari kalangan masyarakat profesional perkotaan yang maaf; tidak sepenuhnya faham dan akrab dengan idealisme Gontor yang “tidak profesional” tersebut. Karakter mereka bahkan lebih mirip dengan orang tua santri Dwi Warna, setidaknya secara budaya perkotaan dan level ekonomi.
Darunnajah pun mulai merasa perlu mendengar masukan tersebut dan mulai merespon tantangan-tantangan yang ada.
Ambil satu contoh yang gampang terlihat; masalah keamanan ataupun kebersihan. Pada awal perkembangannya, Darunnajah memandang bahwa bidang keamanan dan kebersihan adalah bagian dari pendidikan yang harus diserahkan kepada anak didik. Bulis malam (Ronda malam) digilirkan kepada anak santri. Membersihkan lingkungan menjadi tanggung jawab santri. Pengelolaan dan pengawasan kamar-kamar pun diserahkan kepada santri senior yang terpilih menjadi mudabbir.
Ternyata, untuk bersikap “tidak professional” tidak semudah di Gontor yang jauh dari jangkauan kebanyakan wali santri. Mudahnya lokasi Darunnajah dijangkau menjadi permasalah tersendiri bagi lembaga yang sedang mencari bentuk tersebut. Banyak orang tua santri yang tidak faham akan idealisme pendidikan menyeluruh yang diterapkan di Gontor dan Darunnajah awal. Kenapa masih saja ada barang yang hilang? Kenapa anak mereka disuruh membersihkan WC mereka? Kenapa wewenang menghukum diserahkan kepada senior, dan bukan ustadz yang lebih dewasa? Kenapa anak mereka tidak diurus secara professional?
Seiring berjalannya waktu dan tuntutan orang tua santri dan lingkungan, Darunnajah pun mulai mencoba mengarah untuk lebih profesional.
Untuk masalah keamanan di serahkan kepada satpam. Kebersihan lingkungan diserahkan kepada karyawan kebersihan. Pengawasan santri dan kehidupan mereka diserahkan kepada yang lebih berwenang; ustadz musyrif, yang pastinya jauh lebih dewasa dibandingkan oleh santri mudabbir yang dianggap tidak lagi becus diberi wewenang untuk menghukum. Tidak ada lagi cerita santri ikut terlibat nge-cor bangunan pondok. Semuanya diserahkan kepada orang lain. Kepada ahlinya.
Terlihat disini sepertinya Darunnajah akan menuju satu kutub; Profesional.
Satu yang Darunnajah tidak bisa lupakan adalah bahwa darah Gontor mengalir deras di urat nadi mereka. Ke “tidak profesional” an adalah pola yang menjadi pola pendidikan yang mereka anut sejak awal. Ada ketidaksesuaian dan ketidakyakinan akan idealisme dan tujuan pendidikan disini. Ada yang tidak tercapai.
Mereka sadar bahwa idealisme pendidikan profesional bukanlah idealisme pendidikan yang mereka yakini.
Darunnajah pun mulai merevisi kebijakannya meskipun masih terkesan malu-malu.
Satpam mulai di kritik keberadaannya. Bulis malam mulai diadakan kembali. Musyrif mulai dikurangi wewenangnya dan diserahkan kepada mudabbir dan OSDN. Santri pun diminta kembali untuk terlibat didalam membersihkan kamar mandi mereka.
Idealisme pendidikan mereka kembali kearah “tidak profesional”, kearah pendidikan dengan pandangan holistic; apa yang dilihat, apa yang disentuh dan apa yang dirasa oleh santri.
Pendidikan manusia seutuhnya yang tidak dibatasi oleh tembok kelas.
Sunday, November 30, 2008
Arrohatu fil Jannah
"Arrohatu fil jannah", waktu istirahat adanya di Surga, kira-kira begitulah artinya ungkapan yang kudengar dari salah satu kawanku, Fatori.
Terhenyak aku mendengarnya.
Simpel, namun dalam.
Penuh pergerakan.
Perjuangan.
Effektif.
Ntah dari mana dia mendengar ungkapan itu, perkiraan awalku, ia mungkin mendengarnya dari para Mujahid di Poso sana tempat ia sempat mengabdi, tapi setelah ku confirm, ternyata ungkapan itu berasal dari salah satu putra terbaik Gontor yang wafat tidak lama setelah beliau mengucapkan kata-kata tersebut, Ust Ali Zyarkowi. Barisan mujahid Gontor yang masyhur akan kecerdasan dan kegigihannya didalam mengabdi.
Kata-kata itu pula yang spontan terucap fajar tadi ketika aku berpaspasan dengan Kiai Mahrus saat berjalan menuju masjid.
"Cape ded?" tanyanya.
Mungkin ia tahu aku baru saja terlibat dua perhelatan besar, Silatnas Gontor di JCC dan Rangkaian 35 tahun Darunnajah yang lumayan bikin pusing karena keduanya mentargetkan kedatangan SBY.
"Arrohatu fil Jannah.." spontan aku menjawab.
Ntah apa yang kupikirkan saat itu, tapi mungkin karena sampai saat ini masih ingin terus berkarya di kehidupan ini, dan bukan beristirahat di Surga, itupun kalau masuk surga.
Terhenyak aku mendengarnya.
Simpel, namun dalam.
Penuh pergerakan.
Perjuangan.
Effektif.
Ntah dari mana dia mendengar ungkapan itu, perkiraan awalku, ia mungkin mendengarnya dari para Mujahid di Poso sana tempat ia sempat mengabdi, tapi setelah ku confirm, ternyata ungkapan itu berasal dari salah satu putra terbaik Gontor yang wafat tidak lama setelah beliau mengucapkan kata-kata tersebut, Ust Ali Zyarkowi. Barisan mujahid Gontor yang masyhur akan kecerdasan dan kegigihannya didalam mengabdi.
Kata-kata itu pula yang spontan terucap fajar tadi ketika aku berpaspasan dengan Kiai Mahrus saat berjalan menuju masjid.
"Cape ded?" tanyanya.
Mungkin ia tahu aku baru saja terlibat dua perhelatan besar, Silatnas Gontor di JCC dan Rangkaian 35 tahun Darunnajah yang lumayan bikin pusing karena keduanya mentargetkan kedatangan SBY.
"Arrohatu fil Jannah.." spontan aku menjawab.
Ntah apa yang kupikirkan saat itu, tapi mungkin karena sampai saat ini masih ingin terus berkarya di kehidupan ini, dan bukan beristirahat di Surga, itupun kalau masuk surga.
Thursday, November 20, 2008
Investor Akhirat
Bayangkan anda memiliki 5 hektar tanah di bilangan Jakarta. Ya. LIMA hektar tanah DI Jakarta.
Kira-kira, apa yang anda lakukan dengannya?
Bangun Real estate? Kota mandiri? Mall? Kerjasama dengan developer? Jual saja dan beli rumah di kawasan elite Singapore? Atau bagi-bagi sajalah ke anak cucu jika anda seorang betawi.
Bisa dipastikan apapun pilihannya, pastinya yang paling menguntungkan untuk anda dan keberlangsungan hidup keluarga anda. Setuju?
Adakah kira-kira ‘orang bodoh’ yang menyerahkannya dengan cuma-cuma kepada pihak lain? Hmm. Di dunia materialistis ini, kecil sekali kemungkinannya.
Tapi saya beruntung pernah kenal dengan orang yang melakukannya.
Really? Menyerahkan 5 hektar tanah di Jakarta secara cuma-cuma?! He must be crazy. Konslet otaknya.!
Tidak, dia tidak gila dan melakukannya dengan penuh kesadaran di depan Notaris. Meski sang notaris dengan penuh kebingungan sempat bertanya akan kesehatan mentalnya sebelum si empunya tanah menandatangani ikrarnya untuk melepas hak kepemilikannya terhadap sebidang tanah seluas 5 hektar di Jakarta.
Dan ‘orang bodoh’ itu, K.H.Abdul Manaf Mukhayyar, wakif Pesantren Darunnajah, menjawab dengan tegas bahwa memang itulah keputusan yang sejak lama ia inginkan. Ia ingin mewakafkan tanah bangunan, beserta seluruh isinya yang ada di bilangan Ulujami Jakarta Selatan seluas 5 hektar, supaya anak cucunya kelak sepeninggalnya, tidak bertengkar memperebutkan harta benda yang ia tinggalkan. Harta benda yang ia berikan secara cuma-cuma itu akan ia bawa ke akhirat sebagai ‘investasi’.
What the…?? Apa sebenarnya yang dilakukan orang itu? Pola investasi macam apa yang ia terapkan? Penjelasan apa yang bisa menerangkan perbuatannya? Oh, Kiyosaki, please help me.
Dalam buku best sellernya, Rich Dad Poor Dad, Robert T Kiyosaki membagi ada 4 kuadrant manusia dalam hal menghasilkan penghasilan.
Kuadrant kiri adalah mereka yang bekerja untuk menghasilkan uang. Sedang mereka yang ada di kuadrant kanan adalah mereka yang telah berhasil membuat uang bekerja sendiri untuk mereka. Work smartly. Investor adalah puncak dari definisi Rich.
Tapi, Kiyosaki tidak pernah menyentuh golongan kelima, golongan yang saya menyebutnya dengan ‘Investor Akhirat’. Investor yang tidak hanya menghasilkan sesuatu yang bernilai materi di dunia, tapi juga immaterial reward someday. Pahala, jaza, istilah orang berjenggot.
Terbukti memang, tindakan melepas hak kepemilikan tadi, atau dalam istilah agama Islam, mewakafkan, menggerakkan sesuatu yang dalam istilah orang beradab ‘law of attraction’. Jika anda memberi, sebenarnya anda tidak kehilangan apapun. Justru tindakan memberi akan menarik hal-hal lain menuju diri anda. Istilah Ustadz Yusuf Manshur; kalo ente mo kaya, perbanyak Sodaqoh ya akhi.
Keikhlasannya melepas hak kepemilikannya menggugah dan menginspirasi banyak pihak. Ya. Inspirasi. Kualitas yang paling dibutuhkan oleh seorang pemimpin, tetapi ironisnya- menurut survey di USA, paling susah ditemukan. To inspire sehingga bisa menggerakkan akal fikiran dan tindakan.
Saya pribadi menyaksikan langsung bagaimana keikhlasan dan kesungguhan hati beliau dalam mewakafkan hartanya dan melepas hak kepemilikannya.
Contoh kecilnya, suatu hari, beliau complain ke bagian keuangan Pesantren Darunnajah karena mendapati tagihan listriknya telah dibayarkan oleh bagian keuangan Pondok. Jangan pernah sekali-kali membayarkan tagihan listrik pribadi saya dengan uang pondok, pintanya. Subhanallah. Beliau tidak rela tagihan listriknya yang tidak lebih dari ratusan ribu rupiah dibayarkan oleh, Pesantren yang telah dibangun dari harta bendanya.
Walhasil. Donasi, bantuan tenaga, fikiran, finansial atau yang lebih penting yaitu apa yang diharapkan oleh wakif- do’a- seakan mengalir deras tak berhenti mensupport perkembangan Pesantren Darunnajah. Subhanallah.
Ada tiga amalan yang tidak akan terputus ketika seseorang meninggal dunia; ilmu yang bermanfaat, sodaqoh yang mengalir dan anak sholeh yang senantiasa mendo’akan.
Ketiga amalan itulah yang ditargetkan oleh wakif tadi, KH.Abdul Manaf Mukhayyar sebagai investasi akhirat. Investasi yang tidak akan berhenti selama Darunnajah masih memberi manfaat dan inspirasi untuk masyarakat.
Semoga keihlasan beliau tetap menjadi inspirasi bagi generasi penerus dan investasi yang beliau tanam akan terus berbuah.
Selamat ulang tahun yang ke-35 tahun Darunnajah.
Al-fatihah lahuma.

KH.Abdul Manaf Mukhayyar dan Hj.Soraya
Kira-kira, apa yang anda lakukan dengannya?
Bangun Real estate? Kota mandiri? Mall? Kerjasama dengan developer? Jual saja dan beli rumah di kawasan elite Singapore? Atau bagi-bagi sajalah ke anak cucu jika anda seorang betawi.
Bisa dipastikan apapun pilihannya, pastinya yang paling menguntungkan untuk anda dan keberlangsungan hidup keluarga anda. Setuju?
Adakah kira-kira ‘orang bodoh’ yang menyerahkannya dengan cuma-cuma kepada pihak lain? Hmm. Di dunia materialistis ini, kecil sekali kemungkinannya.
Tapi saya beruntung pernah kenal dengan orang yang melakukannya.
Really? Menyerahkan 5 hektar tanah di Jakarta secara cuma-cuma?! He must be crazy. Konslet otaknya.!
Tidak, dia tidak gila dan melakukannya dengan penuh kesadaran di depan Notaris. Meski sang notaris dengan penuh kebingungan sempat bertanya akan kesehatan mentalnya sebelum si empunya tanah menandatangani ikrarnya untuk melepas hak kepemilikannya terhadap sebidang tanah seluas 5 hektar di Jakarta.
Dan ‘orang bodoh’ itu, K.H.Abdul Manaf Mukhayyar, wakif Pesantren Darunnajah, menjawab dengan tegas bahwa memang itulah keputusan yang sejak lama ia inginkan. Ia ingin mewakafkan tanah bangunan, beserta seluruh isinya yang ada di bilangan Ulujami Jakarta Selatan seluas 5 hektar, supaya anak cucunya kelak sepeninggalnya, tidak bertengkar memperebutkan harta benda yang ia tinggalkan. Harta benda yang ia berikan secara cuma-cuma itu akan ia bawa ke akhirat sebagai ‘investasi’.
What the…?? Apa sebenarnya yang dilakukan orang itu? Pola investasi macam apa yang ia terapkan? Penjelasan apa yang bisa menerangkan perbuatannya? Oh, Kiyosaki, please help me.
Dalam buku best sellernya, Rich Dad Poor Dad, Robert T Kiyosaki membagi ada 4 kuadrant manusia dalam hal menghasilkan penghasilan.
Kuadrant kiri adalah mereka yang bekerja untuk menghasilkan uang. Sedang mereka yang ada di kuadrant kanan adalah mereka yang telah berhasil membuat uang bekerja sendiri untuk mereka. Work smartly. Investor adalah puncak dari definisi Rich.
Tapi, Kiyosaki tidak pernah menyentuh golongan kelima, golongan yang saya menyebutnya dengan ‘Investor Akhirat’. Investor yang tidak hanya menghasilkan sesuatu yang bernilai materi di dunia, tapi juga immaterial reward someday. Pahala, jaza, istilah orang berjenggot.
Terbukti memang, tindakan melepas hak kepemilikan tadi, atau dalam istilah agama Islam, mewakafkan, menggerakkan sesuatu yang dalam istilah orang beradab ‘law of attraction’. Jika anda memberi, sebenarnya anda tidak kehilangan apapun. Justru tindakan memberi akan menarik hal-hal lain menuju diri anda. Istilah Ustadz Yusuf Manshur; kalo ente mo kaya, perbanyak Sodaqoh ya akhi.
Keikhlasannya melepas hak kepemilikannya menggugah dan menginspirasi banyak pihak. Ya. Inspirasi. Kualitas yang paling dibutuhkan oleh seorang pemimpin, tetapi ironisnya- menurut survey di USA, paling susah ditemukan. To inspire sehingga bisa menggerakkan akal fikiran dan tindakan.
Saya pribadi menyaksikan langsung bagaimana keikhlasan dan kesungguhan hati beliau dalam mewakafkan hartanya dan melepas hak kepemilikannya.
Contoh kecilnya, suatu hari, beliau complain ke bagian keuangan Pesantren Darunnajah karena mendapati tagihan listriknya telah dibayarkan oleh bagian keuangan Pondok. Jangan pernah sekali-kali membayarkan tagihan listrik pribadi saya dengan uang pondok, pintanya. Subhanallah. Beliau tidak rela tagihan listriknya yang tidak lebih dari ratusan ribu rupiah dibayarkan oleh, Pesantren yang telah dibangun dari harta bendanya.
Walhasil. Donasi, bantuan tenaga, fikiran, finansial atau yang lebih penting yaitu apa yang diharapkan oleh wakif- do’a- seakan mengalir deras tak berhenti mensupport perkembangan Pesantren Darunnajah. Subhanallah.
Ada tiga amalan yang tidak akan terputus ketika seseorang meninggal dunia; ilmu yang bermanfaat, sodaqoh yang mengalir dan anak sholeh yang senantiasa mendo’akan.
Ketiga amalan itulah yang ditargetkan oleh wakif tadi, KH.Abdul Manaf Mukhayyar sebagai investasi akhirat. Investasi yang tidak akan berhenti selama Darunnajah masih memberi manfaat dan inspirasi untuk masyarakat.
Semoga keihlasan beliau tetap menjadi inspirasi bagi generasi penerus dan investasi yang beliau tanam akan terus berbuah.
Selamat ulang tahun yang ke-35 tahun Darunnajah.
Al-fatihah lahuma.
KH.Abdul Manaf Mukhayyar dan Hj.Soraya
Friday, October 24, 2008
Give, not take
Terhenyak diriku mendengar kalimat Pri GS dalam program refleksi di Smart FM semalam.. Ciri-ciri orang besar adalah SIBUK mengurus kepentingan ORANG LAIN.. kalimat itu begitu menghujam di benakku. Adakah manusia-manusia berjiwa besar di zaman seperti ini? Kuharap.. Allahumma'jalnaa min 'ahlillkhoir.. Khoirunnasi llazii 'anfa'uhum linnaas..
Thursday, October 9, 2008
Singkong vs Wall Street
Hari-hari setelah Ied Fitri tahun ini menjadi sedikit menarik. Tak sabar kutunggu berita setiap harinya. Tidak hanya berita mudik macet rutin tapi rasa penasaran akan bagaimana Resesi Global yang terjadi akan berakhir menjadi sumbernya.

Menarik melihat bagaimana AS yang begitu digdaya justru ironically menjadi sumber dari Resesi Ekonomi Global. Negara biang ekonomi kapitalis dimana dewa-dewa bisnis berbasis riba beroperasi di Wall Street mengajak serta seluruh dunia, seperti efek domino, berjatuhan. Banyak Bank2 besar kollaps. Merka terjerat bisnis semu uang yang tumpuk menumpuk diatas bisnis perumahan. Bisnis nyata perumahan di Amerika telah tenggelam oleh tumpukan bisnis pembiayaannya yang berlapis-lapis hingga pilarnya roboh. Neoliberalisme berada dipinggir jurang. Kapitalisme sedang menghadapi dirinya sendiri.
Islam jelas-jelas melarang Riba. Now, let them understand why.
Riba itu pangkal kehancuran masyarakat. Segala hal yang tidak memiliki pijakan nyata, atau komoditas semu yang dispekulasikan, adalah riba. Riba bukan sekedar rente atau bunga atas pinjaman uang. Sejatinya, uang kertas adalah riba karena nilainya adalah nilai semua. Maka, selembar kertas yang sama tiba-tiba punya nilai berbeda ketika yang menuliskan angkanya berbeda. Rp 100 jelas berbeda dengan US$ 100.
Mencari keuntungan pada hal-hal semu memang menggiurkan. Dengan cepat itu dapat melambungkan kita keatas. Itu menjawab naluri manusia yang gemar segera dapat untung banyak tanpa harus bekerja keras. karakter itu yang menjadi kecenderungan kita. Kebanyakan pribumi pebisnis besar pun lebih banyak yang cuma sebagai makelar. Bahkan orang-orang terdekatku ada yang terlena dengan pesonanya.
Teringat kepada salah satu sobatku yang menjadi pemimpin perusahaan milik pamannya. Lebih dari 3 tahun berjalan aku ga pernah tahu apa core businessnya. Yang kutahu ia menjual dan membeli apa saja. Dari software sampe Kapal Tanker. Julukanku padanya; broker in the city. Sukseskah bisnisnya? terakhir aku dapat sms darinya, ia sedang merencanakan pelariannya yang kesekian kalinya keluar negeri. Sebabnya? utang perusahaannya numpuk dan dia dikejar-kejar pemegang saham dan supplier. Good luck bro. Mungkin negeri kapitalis tujuanmu cocok untuk gaya bisnis yang kau jalankan.
Sudah kuingatkan beberapa kali bahwa tidak ada keberhasilan instant. Kesuksesan haruslah berasal dari kerja keras. Bisnis yang berkah adalah bisnis ala Rasulullah. Bisnis berdasarkan Syari'ah Islam. Entrepreneurial and real stuff business is preferable. Ada asset dan produk atau servis nyata yang diperdagangkan. Bekerja keras diatas pijakan usaha yang nyata adalah mental bisnis yang harus dibangun generasi Indonesia untuk bisa maju. Bukan justru menjadi generasi yang gemar leha-leha, lalu berharap sukses dunia akhirat.
Salah satu juniorku di Fakultas Hukum UGM, si Firman "Tela Kress" adalah contoh yang bisa dilirik. Indonesia banget bisnisnya. Singkong. Nyata dan simple. Mungkin terdengar remeh dan tidak memiliki prestise dibandingkan Saham misalnya. Tapi dengan sedikit kreatifitas dan banyak kerja keras, bisnisnya telah merambah sebagian besar pulau ini dan mengantarkannya menjadi young entrepreneur. Good luck bro. Mental karakter seperti ente yang dibutuhkan negeri ini.

Menarik melihat bagaimana AS yang begitu digdaya justru ironically menjadi sumber dari Resesi Ekonomi Global. Negara biang ekonomi kapitalis dimana dewa-dewa bisnis berbasis riba beroperasi di Wall Street mengajak serta seluruh dunia, seperti efek domino, berjatuhan. Banyak Bank2 besar kollaps. Merka terjerat bisnis semu uang yang tumpuk menumpuk diatas bisnis perumahan. Bisnis nyata perumahan di Amerika telah tenggelam oleh tumpukan bisnis pembiayaannya yang berlapis-lapis hingga pilarnya roboh. Neoliberalisme berada dipinggir jurang. Kapitalisme sedang menghadapi dirinya sendiri.
Islam jelas-jelas melarang Riba. Now, let them understand why.
Riba itu pangkal kehancuran masyarakat. Segala hal yang tidak memiliki pijakan nyata, atau komoditas semu yang dispekulasikan, adalah riba. Riba bukan sekedar rente atau bunga atas pinjaman uang. Sejatinya, uang kertas adalah riba karena nilainya adalah nilai semua. Maka, selembar kertas yang sama tiba-tiba punya nilai berbeda ketika yang menuliskan angkanya berbeda. Rp 100 jelas berbeda dengan US$ 100.
Mencari keuntungan pada hal-hal semu memang menggiurkan. Dengan cepat itu dapat melambungkan kita keatas. Itu menjawab naluri manusia yang gemar segera dapat untung banyak tanpa harus bekerja keras. karakter itu yang menjadi kecenderungan kita. Kebanyakan pribumi pebisnis besar pun lebih banyak yang cuma sebagai makelar. Bahkan orang-orang terdekatku ada yang terlena dengan pesonanya.
Teringat kepada salah satu sobatku yang menjadi pemimpin perusahaan milik pamannya. Lebih dari 3 tahun berjalan aku ga pernah tahu apa core businessnya. Yang kutahu ia menjual dan membeli apa saja. Dari software sampe Kapal Tanker. Julukanku padanya; broker in the city. Sukseskah bisnisnya? terakhir aku dapat sms darinya, ia sedang merencanakan pelariannya yang kesekian kalinya keluar negeri. Sebabnya? utang perusahaannya numpuk dan dia dikejar-kejar pemegang saham dan supplier. Good luck bro. Mungkin negeri kapitalis tujuanmu cocok untuk gaya bisnis yang kau jalankan.
Sudah kuingatkan beberapa kali bahwa tidak ada keberhasilan instant. Kesuksesan haruslah berasal dari kerja keras. Bisnis yang berkah adalah bisnis ala Rasulullah. Bisnis berdasarkan Syari'ah Islam. Entrepreneurial and real stuff business is preferable. Ada asset dan produk atau servis nyata yang diperdagangkan. Bekerja keras diatas pijakan usaha yang nyata adalah mental bisnis yang harus dibangun generasi Indonesia untuk bisa maju. Bukan justru menjadi generasi yang gemar leha-leha, lalu berharap sukses dunia akhirat.
Salah satu juniorku di Fakultas Hukum UGM, si Firman "Tela Kress" adalah contoh yang bisa dilirik. Indonesia banget bisnisnya. Singkong. Nyata dan simple. Mungkin terdengar remeh dan tidak memiliki prestise dibandingkan Saham misalnya. Tapi dengan sedikit kreatifitas dan banyak kerja keras, bisnisnya telah merambah sebagian besar pulau ini dan mengantarkannya menjadi young entrepreneur. Good luck bro. Mental karakter seperti ente yang dibutuhkan negeri ini.
Sunday, July 13, 2008
Runtuhnya Loyalitas Kiai Pesantren
Sebuah kritik yang mungkin bisa kita ambil sebagai cermin..
oleh Nasrulloh Afandi
imageAkhir-akhir ini, para kiai pengasuh pondok pesantren
--selanjutnya disebut kiai pesantren--, tidak lagi menyatu dengan
masyarakat, "sengaja" jaga jarak, tidak mau tau terhadap aktivitas
keagamaan masyarakat sekitarnya(di luar pesantren), terlena dengan
institusi pesantren yang "dikuasainya" saja.
Resikonya, kiai pesantren bukan lagi dari dan untuk(tumpuan pokok)
masyarakat, terang-terangan "mencampakkan" loyalitas bermasyarakat.
Apalagi kiai pesantren yang "membelenggu diri" dengan struktural ormas
keagamaan/parpol tertentu(meskipun belum jadi pejabat) ''mendewakan"
organisasi/parpol yang hanya menguntungkan pribadi atau maksimal
golongannya saja.
Muslimin "pedesaan" sejak lama sangat merindukan "belaian" para kiai
pesantren, sang kiai perlu (kembali) ikhlas mengabdi, bukan saja
religiusitas "di lapangan ibadah", tetapi juga mesti jadi teladan
konteks interaksi sosial bermasyarakat dan beberapa aspek kehidupan
lainnya.
Minimalnya (para kiai) mesti "ikhlas" mendekat, sebagaimana ketika
para kiai(pesantren) mendekati rakyat(pedesaan) dalam moment- moment
politis, mensukseskan figur tertentu dengan berbagai kepentingan
sempitnya itu. Cukup adil!
Stop, Jaga Jarak!
Sangat banyak fenomena dan problem keaagamaan ganas melanda, yang
semestinya menjadi "surat undangan resmi" menggugah "nurani
religiusitas" para kiai pesantren untuk segera kembali "turun gunung",
merapat kepada masyarakat sekitarnya. Untuk estafet upaya
menyelamatkan masyarakat dari maraknya ajaran-ajaran, gerakan
pemikiran-pemikiran dan berbagai aliran aneh(yang sebatas mengaku
Islam) akhir-akhir ini.
(Padahal) bebarengan dengan itu, para kiai pesantren sedikitpun tidak
akan mengikhlaskan munculnya jutaan ''kiai instant" alias kiai
karbitan dengan keroposnya fondasi keilmuan dan demi kepentingan
sempitnya, lancang menggarap Masyarakat yang lapar ''menu instant"
ibadah itu, "membajak proyek" para kiai asli.
Apalagi maraknya "kiai instant" nyata-nyata hanya bermodal nampang di
berbagai media meski banyak yang mendirikan pesantren akhir-akhir ini,
selain merapuhkan "taring" para kiai di hadapan komunitas
berpendidikan agama, mengkomersilkan agama, juga jelas sangat menjauhi
"jantung kota lapangan ibadah" masyarakat, sekaligus dominan
berkampanye (agar "kiai" berebut nampang di media) muaranya "berebut"
menjauhkan diri dari Muslimin pedesaan.
Apakah para kiai lupa, bahwa loyalitas dengan masyarakat sekitar
tempat tinggalnya, adalah identitas pengabdian para kiai?
Ataukah sengaja melupakan, bahwa ''Embrio'' kiai (dan pesantren)
tumbuh berasal dari estafeta "ayunan" aktifitas masyarakat sekitarnya.
Orisinilitasnya, ia lahir dan dibesarkan sekaligus alamiah (tanpa
meminta, tanpa adanya unsur intervensi dan rekayasa) dijadikan figur
panutan oleh masyarakat sekitarnya!?
Bukankah kiai/pesantren pun akan bubar atau tidak akan terwujud sama
sekali bila tanpa kepercayaan (terutama) berawal dari "aspirasi
rakyat" sekitarnya. Masihkah para kiai pesantren punya nurani atas
"jasa besar" masyarakat di sekitar lingkungannya itu?
Data Keangkuhan
Syah-syah saja jika para kiai (pesantren) ingin "jaga jarak" dengan
masyarakat, selagi masih dalam batasan-batasan tertentu. Setidaknya
perspektif tasawwuf untuk menjaga muru'ah (kharisma) sang kiai di mata
publik. Para ahli etika kemasyarakatan mendefiniskan: tawadzu' (rendah
hati) adalah menempatkan manusia sesuai posisi/kafabilitasnya, tidak
boleh merendahkan orang terhormat, atau sebaliknya.
Skandal yang kronis menjangkit, sedikitnya adalah :
Pertama. masyarakat sangat susah hanya sekedar untuk ketemu kiai
--apalagi para kiai (pesantren) praktisi ormas keagamaan-- kian
angkuh, berlomba saling mengagungkan diri(mu'adzom nafsah), dari
sikapnya seolah-olah tegas menyatakan:"Biarlah para 'kiai kampung'
saja yang mengurusi konteks ibadah masyarakat pedesaan". (Dari
sikapnya) terkesan beranggapan; "Derajatnya menjadi turun", bila
berkomunikasi dengan Muslim komunitas pedesaan.
Semangat menghadiri forum pengajian di berbagai hotel berbintang
laksana para "tokoh nasional", selalu saja menjauhi pengajian di
masjid-masjid pedesaan. Masyarakat pun harus menunggu cukup lama di
ruang tamu (bila bertamu kepada) kiai, identiknya menghadap pejabat
tinggi. Bahkan sering sang kiai pesantren tidak berkenan menemui,
karena tamunya dianggap ''tidak berkelas''.
Kedua: Kerap "menindas" dan (karena) memandang sebelah mata kepada
para "kiai kampung". Semua kiai kampung dianggapnya "orang pinggiran"
dan wajib menundukkan kepala di hadapan kiai pesantren.
Mereka tidak sportif mengakui; sangat banyak "kiai kampung" kualitas
ilmiahnya lebih bagus dan sangat banyak "kiai kampung" jaringannya
melebihi kiai pesantren, punya hubungan baik dengan para tokoh Nasioal
(di luar pesantren) Padahal banyak kiai pesantren hanya mendapat
warisan (mendadak) menjadi pengasuh (pesantren besar sekalipun) meski
kualitas ilmiahnya sering tidak jelas. Dalam sportifitas keilmuan,
mestinya kiai pesantren "kelas ini" tidak patut menghujat para kiai
karbitan yang marak di media itu.
Ketiga: Tak ubahnya pembodohan terhadap masyarakat secara
terselubung."Sang kiai" kian egoisme berlebihan, memelihara "status
quo" berpandangan kurang berkemajuan, ia kerap sensitif bila ada
masyarakat diasumsikan kurang menghormatinya.
Di benaknya ia (memaksa) harus "disucikan", selalu ingin memperoleh
penghargaan lebih dari masyarakat, seperti dicium tangannya dan
lainnya. Sedangkan sikap "sang kiai" yang sudah sangat jauh dari
masyarakat, tidak pernah (dirinya) berintrospeksi.
Keempat; Lupa introspeksi diri, merasa paling "suci". Sesama komunitas
kiai pun kian jaga jarak, egonya ingin selalu di-sowani (dikunjungi)
antar kiai-pun sering saling menggunjing, kiai "A" menggunjing kiai
"B" dan sebaliknya, tanpa malu gunjingan dijadikan ''hidangan'' untuk
para tamunya tak terkecuali masyarakat awam pun turut "dihidangi".
Selain faktor "berebut pengaruh", paling marak karena antara satu
dengan lainnya mengklaim dirinya masing-masing punya nilai lebih.
Kelima: Banyak kiai pesantren, tidak malu, berteriak-teriak
menyalahkan orang lain, bila ada masyarakat atau tempat ibadah "diover
alih" bimbingan ibadahnya, oleh figur dari ormas keagamaan lain
golongannya, padahal sang kiai itulah yang lebih dulu menjauhi masyarakat.
Contoh keangkuhannya; hanya (kiai) se-kelas "lurah" bergaya (jaga
jarak dengan masyarakat) meniru kiai "sekelas" Camat, kiai se-kelas
camat "protokolernya" meniru kiai "sekelas" bupati, dan seterusnya.
Termasuk banyak "kiai" (bertanda petik) sesama kawan bekas satu
almamater pendidikan pesantren (institusi religius) pun kerap jaga
jarak, karena menganggap pribadinya sudah jadi "kiai". Sesama
orang-orang bekas satu almamaternya masih tinggi ukhuwahnya lulusan
lembaga pendidikan non-pesantren.
Keenam: Gengsinya kian menjadi-jadi. Diantarnya, dengan tidak
memperhatikan aktivitas (ibadah) masyarakat sekitarnya itu, belakangan
ini, marak para kiai pesantren jalan-jalan ke luar negeri tak ubahnya
pejabat negara, ngakunya "studi bunding''.
Kesannya seperti ''kiai mendunia'', padahal sering tidak jelas
tujuannya, rekreasi, (harus merogo isi kantong) pribadi, tak jarang
menggunakan uang kas "koperasi" pesantrennya.
Ketujuh. Banyak terjadi, para kiai pesantren pun jauh dari pembangunan
ekonomi, tidak peduli dengan perekonomian masyarakat.
Contohnya saja, terjadi di banyak pesantren, perekonomian masyarakat
sekitarnya pun kerap "dihambat", masyarakat dipaksa dilarang hanya
sekedar membuka warung berjualan kepada para santri, dimonopoli oleh
warung-warung kiai se-keluarga. Tampaknya lupa, bahwa para santri
pesantren adalah mayoritas dari berbagai lapisan masyarakat. Alih-alih
kiai membantu, masyarakat malah dikebiri.
Kedelapan. (Yang paling) menggelikan, di sebagian daerah, banyak pula
figur kiai pedesaan(di luar pesantren) atau hanya kiai pesantren
sangat kecil, beramai-ramai turut "berpartisipasi" jaga jarak dengan
warga sekitar, meniru "protokoler" para kiai pesantren. Selain
maraknya kiai bersekretaris pribadi (meski kadang) belum kelasnya,
bisa jadi para kiai pun "nafsunya" bergemuruh ingin menyewa pasukan
berseragam untuk pengawal "dinasnya" layaknya para pejabat tinggi,
--biar "disegani" rakyat-- namun "kasihannya" terbentur beberapa hal.
Berwibawahkah?
Mungkin asumsinya, dengan berbagai sikap jaga jarak itu "harga
jualnya" meningkat di mata masyarakat, benarkah?
Dengan semakin meningkatnya pendidikan masyarakat, bersikap "jaga
jarak", selain mencampakkan substansi akhlak, menyempitkan gerak
(peran)nya komunitas kiai di tengah kehidupan masyarakat, juga
hanyalah memudarkan kharisma ke-kiai-an itu sendiri, di mata komunitas
berpendidikan khususunya, masyarakat pada umumnya. Kecuali di mata
sedikit orang sangat polos atau yang terjebak fanatis (ta'ashub)
"mengkramatkan" nenek-moyang, keluarga sang kiai tersebut.
Alhasil, kredibilitas akhlak ke-kiai-an kian buram. Tanggung jawab
(kesalihan) sosial orang-orang yang menganggap bahkan sering
memproklamirkan dirinya sebagai kiai atau Ulama (pewaris para Nabi)
itu, sangat tidak jelas. Masih patutkah mereka memposisikan dirinya di
kelas itu?
Bukankah Nabi SAW, sebagai manusia paling sempurna pun ikhlas
memposisikan semua ummatnya dari hamba-sampai raja adalah sama.
Justeru diantara (modal) penyebab banyak orang simpati, karena Nabi
SAW rendah hati, sangat dekat dengan berbagai kelas manusia
''bawahannya''.
Para "kiai", apakah tidak malu atas rendah hati Nabi Muhammad SAW?
Nasrulloh Afandi
Alumnus Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur, sedang studi di Maroko.
gusgaul@...
oleh Nasrulloh Afandi
imageAkhir-akhir ini, para kiai pengasuh pondok pesantren
--selanjutnya disebut kiai pesantren--, tidak lagi menyatu dengan
masyarakat, "sengaja" jaga jarak, tidak mau tau terhadap aktivitas
keagamaan masyarakat sekitarnya(di luar pesantren), terlena dengan
institusi pesantren yang "dikuasainya" saja.
Resikonya, kiai pesantren bukan lagi dari dan untuk(tumpuan pokok)
masyarakat, terang-terangan "mencampakkan" loyalitas bermasyarakat.
Apalagi kiai pesantren yang "membelenggu diri" dengan struktural ormas
keagamaan/parpol tertentu(meskipun belum jadi pejabat) ''mendewakan"
organisasi/parpol yang hanya menguntungkan pribadi atau maksimal
golongannya saja.
Muslimin "pedesaan" sejak lama sangat merindukan "belaian" para kiai
pesantren, sang kiai perlu (kembali) ikhlas mengabdi, bukan saja
religiusitas "di lapangan ibadah", tetapi juga mesti jadi teladan
konteks interaksi sosial bermasyarakat dan beberapa aspek kehidupan
lainnya.
Minimalnya (para kiai) mesti "ikhlas" mendekat, sebagaimana ketika
para kiai(pesantren) mendekati rakyat(pedesaan) dalam moment- moment
politis, mensukseskan figur tertentu dengan berbagai kepentingan
sempitnya itu. Cukup adil!
Stop, Jaga Jarak!
Sangat banyak fenomena dan problem keaagamaan ganas melanda, yang
semestinya menjadi "surat undangan resmi" menggugah "nurani
religiusitas" para kiai pesantren untuk segera kembali "turun gunung",
merapat kepada masyarakat sekitarnya. Untuk estafet upaya
menyelamatkan masyarakat dari maraknya ajaran-ajaran, gerakan
pemikiran-pemikiran dan berbagai aliran aneh(yang sebatas mengaku
Islam) akhir-akhir ini.
(Padahal) bebarengan dengan itu, para kiai pesantren sedikitpun tidak
akan mengikhlaskan munculnya jutaan ''kiai instant" alias kiai
karbitan dengan keroposnya fondasi keilmuan dan demi kepentingan
sempitnya, lancang menggarap Masyarakat yang lapar ''menu instant"
ibadah itu, "membajak proyek" para kiai asli.
Apalagi maraknya "kiai instant" nyata-nyata hanya bermodal nampang di
berbagai media meski banyak yang mendirikan pesantren akhir-akhir ini,
selain merapuhkan "taring" para kiai di hadapan komunitas
berpendidikan agama, mengkomersilkan agama, juga jelas sangat menjauhi
"jantung kota lapangan ibadah" masyarakat, sekaligus dominan
berkampanye (agar "kiai" berebut nampang di media) muaranya "berebut"
menjauhkan diri dari Muslimin pedesaan.
Apakah para kiai lupa, bahwa loyalitas dengan masyarakat sekitar
tempat tinggalnya, adalah identitas pengabdian para kiai?
Ataukah sengaja melupakan, bahwa ''Embrio'' kiai (dan pesantren)
tumbuh berasal dari estafeta "ayunan" aktifitas masyarakat sekitarnya.
Orisinilitasnya, ia lahir dan dibesarkan sekaligus alamiah (tanpa
meminta, tanpa adanya unsur intervensi dan rekayasa) dijadikan figur
panutan oleh masyarakat sekitarnya!?
Bukankah kiai/pesantren pun akan bubar atau tidak akan terwujud sama
sekali bila tanpa kepercayaan (terutama) berawal dari "aspirasi
rakyat" sekitarnya. Masihkah para kiai pesantren punya nurani atas
"jasa besar" masyarakat di sekitar lingkungannya itu?
Data Keangkuhan
Syah-syah saja jika para kiai (pesantren) ingin "jaga jarak" dengan
masyarakat, selagi masih dalam batasan-batasan tertentu. Setidaknya
perspektif tasawwuf untuk menjaga muru'ah (kharisma) sang kiai di mata
publik. Para ahli etika kemasyarakatan mendefiniskan: tawadzu' (rendah
hati) adalah menempatkan manusia sesuai posisi/kafabilitasnya, tidak
boleh merendahkan orang terhormat, atau sebaliknya.
Skandal yang kronis menjangkit, sedikitnya adalah :
Pertama. masyarakat sangat susah hanya sekedar untuk ketemu kiai
--apalagi para kiai (pesantren) praktisi ormas keagamaan-- kian
angkuh, berlomba saling mengagungkan diri(mu'adzom nafsah), dari
sikapnya seolah-olah tegas menyatakan:"Biarlah para 'kiai kampung'
saja yang mengurusi konteks ibadah masyarakat pedesaan". (Dari
sikapnya) terkesan beranggapan; "Derajatnya menjadi turun", bila
berkomunikasi dengan Muslim komunitas pedesaan.
Semangat menghadiri forum pengajian di berbagai hotel berbintang
laksana para "tokoh nasional", selalu saja menjauhi pengajian di
masjid-masjid pedesaan. Masyarakat pun harus menunggu cukup lama di
ruang tamu (bila bertamu kepada) kiai, identiknya menghadap pejabat
tinggi. Bahkan sering sang kiai pesantren tidak berkenan menemui,
karena tamunya dianggap ''tidak berkelas''.
Kedua: Kerap "menindas" dan (karena) memandang sebelah mata kepada
para "kiai kampung". Semua kiai kampung dianggapnya "orang pinggiran"
dan wajib menundukkan kepala di hadapan kiai pesantren.
Mereka tidak sportif mengakui; sangat banyak "kiai kampung" kualitas
ilmiahnya lebih bagus dan sangat banyak "kiai kampung" jaringannya
melebihi kiai pesantren, punya hubungan baik dengan para tokoh Nasioal
(di luar pesantren) Padahal banyak kiai pesantren hanya mendapat
warisan (mendadak) menjadi pengasuh (pesantren besar sekalipun) meski
kualitas ilmiahnya sering tidak jelas. Dalam sportifitas keilmuan,
mestinya kiai pesantren "kelas ini" tidak patut menghujat para kiai
karbitan yang marak di media itu.
Ketiga: Tak ubahnya pembodohan terhadap masyarakat secara
terselubung."Sang kiai" kian egoisme berlebihan, memelihara "status
quo" berpandangan kurang berkemajuan, ia kerap sensitif bila ada
masyarakat diasumsikan kurang menghormatinya.
Di benaknya ia (memaksa) harus "disucikan", selalu ingin memperoleh
penghargaan lebih dari masyarakat, seperti dicium tangannya dan
lainnya. Sedangkan sikap "sang kiai" yang sudah sangat jauh dari
masyarakat, tidak pernah (dirinya) berintrospeksi.
Keempat; Lupa introspeksi diri, merasa paling "suci". Sesama komunitas
kiai pun kian jaga jarak, egonya ingin selalu di-sowani (dikunjungi)
antar kiai-pun sering saling menggunjing, kiai "A" menggunjing kiai
"B" dan sebaliknya, tanpa malu gunjingan dijadikan ''hidangan'' untuk
para tamunya tak terkecuali masyarakat awam pun turut "dihidangi".
Selain faktor "berebut pengaruh", paling marak karena antara satu
dengan lainnya mengklaim dirinya masing-masing punya nilai lebih.
Kelima: Banyak kiai pesantren, tidak malu, berteriak-teriak
menyalahkan orang lain, bila ada masyarakat atau tempat ibadah "diover
alih" bimbingan ibadahnya, oleh figur dari ormas keagamaan lain
golongannya, padahal sang kiai itulah yang lebih dulu menjauhi masyarakat.
Contoh keangkuhannya; hanya (kiai) se-kelas "lurah" bergaya (jaga
jarak dengan masyarakat) meniru kiai "sekelas" Camat, kiai se-kelas
camat "protokolernya" meniru kiai "sekelas" bupati, dan seterusnya.
Termasuk banyak "kiai" (bertanda petik) sesama kawan bekas satu
almamater pendidikan pesantren (institusi religius) pun kerap jaga
jarak, karena menganggap pribadinya sudah jadi "kiai". Sesama
orang-orang bekas satu almamaternya masih tinggi ukhuwahnya lulusan
lembaga pendidikan non-pesantren.
Keenam: Gengsinya kian menjadi-jadi. Diantarnya, dengan tidak
memperhatikan aktivitas (ibadah) masyarakat sekitarnya itu, belakangan
ini, marak para kiai pesantren jalan-jalan ke luar negeri tak ubahnya
pejabat negara, ngakunya "studi bunding''.
Kesannya seperti ''kiai mendunia'', padahal sering tidak jelas
tujuannya, rekreasi, (harus merogo isi kantong) pribadi, tak jarang
menggunakan uang kas "koperasi" pesantrennya.
Ketujuh. Banyak terjadi, para kiai pesantren pun jauh dari pembangunan
ekonomi, tidak peduli dengan perekonomian masyarakat.
Contohnya saja, terjadi di banyak pesantren, perekonomian masyarakat
sekitarnya pun kerap "dihambat", masyarakat dipaksa dilarang hanya
sekedar membuka warung berjualan kepada para santri, dimonopoli oleh
warung-warung kiai se-keluarga. Tampaknya lupa, bahwa para santri
pesantren adalah mayoritas dari berbagai lapisan masyarakat. Alih-alih
kiai membantu, masyarakat malah dikebiri.
Kedelapan. (Yang paling) menggelikan, di sebagian daerah, banyak pula
figur kiai pedesaan(di luar pesantren) atau hanya kiai pesantren
sangat kecil, beramai-ramai turut "berpartisipasi" jaga jarak dengan
warga sekitar, meniru "protokoler" para kiai pesantren. Selain
maraknya kiai bersekretaris pribadi (meski kadang) belum kelasnya,
bisa jadi para kiai pun "nafsunya" bergemuruh ingin menyewa pasukan
berseragam untuk pengawal "dinasnya" layaknya para pejabat tinggi,
--biar "disegani" rakyat-- namun "kasihannya" terbentur beberapa hal.
Berwibawahkah?
Mungkin asumsinya, dengan berbagai sikap jaga jarak itu "harga
jualnya" meningkat di mata masyarakat, benarkah?
Dengan semakin meningkatnya pendidikan masyarakat, bersikap "jaga
jarak", selain mencampakkan substansi akhlak, menyempitkan gerak
(peran)nya komunitas kiai di tengah kehidupan masyarakat, juga
hanyalah memudarkan kharisma ke-kiai-an itu sendiri, di mata komunitas
berpendidikan khususunya, masyarakat pada umumnya. Kecuali di mata
sedikit orang sangat polos atau yang terjebak fanatis (ta'ashub)
"mengkramatkan" nenek-moyang, keluarga sang kiai tersebut.
Alhasil, kredibilitas akhlak ke-kiai-an kian buram. Tanggung jawab
(kesalihan) sosial orang-orang yang menganggap bahkan sering
memproklamirkan dirinya sebagai kiai atau Ulama (pewaris para Nabi)
itu, sangat tidak jelas. Masih patutkah mereka memposisikan dirinya di
kelas itu?
Bukankah Nabi SAW, sebagai manusia paling sempurna pun ikhlas
memposisikan semua ummatnya dari hamba-sampai raja adalah sama.
Justeru diantara (modal) penyebab banyak orang simpati, karena Nabi
SAW rendah hati, sangat dekat dengan berbagai kelas manusia
''bawahannya''.
Para "kiai", apakah tidak malu atas rendah hati Nabi Muhammad SAW?
Nasrulloh Afandi
Alumnus Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur, sedang studi di Maroko.
gusgaul@...
Saturday, May 3, 2008
Smile=Sadaqoh

Dalam ajaran Islam, bersodaqohohlah walau hanya dengan tersenyum. Now, it's surprising sometime what can be found in society. Ternyata ada beberapa masyarakat yang baru belajar tersenyum! hehe2..
berikut ini ane copy paste salah satu grup yg ada di facebook. Lucunya, masyarakat mereka sendiri ternyata jenuh dengan orang budaya Briton yg ga pernah senyum n bersikap dingin dengan sesamanya, n mereka berharap masyarakat bisa berubah, walau hanya sehari. Sekarang ente tau kan kenape ane ga betah idup disono? ane rindu senyuman dan sapaan renyah simbok2 di Bantul!

Name :We're going to change Britain! WANTED: 2 Million People
Type :Common Interest - Beliefs & Causes
"We the members of this group will defy British culture by smiling, saying hello and potentially sharing a wave with people we do not know in order to change Britain."
In 2008 if you smile and say 'hello' to someone you don't know the chances are that they will think you're some kind of a crazy person after their bag or some larger part of their body. If you're lucky you might get their foot in your mouth.
We, the people who live in Britain, are fed up of silent commuter trains and journeys where people do not speak to each other. We're tired of those places where if you look at someone you are at increased risk of GBH. We're bored of a smile in the general direction of someone who thinks that they are attractive being misread/misled. Time enough we say for this Britain of darkness.
So let's reverse this reserved psychogeography of our nation(s)... for one day at least....
On (from) the 2nd of April 2008 shun unfriendly behavior, become an activist of change and...
Description :
1. Smile at everyone you make eye contact with (if they smile back, say 'Hi' or if they are a long way from you give them a wave.
2. Ask 'how do you do?' to people you walk past or sit next to. If they reply, go mad and ask them how their day is going.
...no matter who they are or what they look like. Let's go crazy and show an interest in our fellow Britons!
If 2 million Britons take part in this campaign 1 in 30 people should smile at you or say 'How do you do?'... this will change the geography of Britain as we know it... even if it is just for one day.... so please ask friends and strangers to join in.
Let's change the Geography of Britain!
A REMINDER MESSAGE CAN'T BE SENT OUT SO PUT IT IN YOUR DIARY
- This is an act of Guerrilla Geography -
Wednesday, April 23, 2008
Ageing Population
I met one of my Chevening friends yesterday in Plaza Semanggi. It was lunch time n I miss that Bebek Peking in one of Chinese muslim restaurant in Bristol. Rice Bowl was our choice then. It was my fifth time to go to Mall since the last six months.
Sitting there in one of the most centrally located Mall in Jakarta, we realized there was quite different atmosphere from most UK Shopping Centres. Something missing from our shopping centres. And it's an eldery people! ya! orang tua!
kakek2 ompong, nenek2 bungkuk berambut putih, kakek nenek pengendara mobil batere nan imut, mereka mandiri, ramah senyum dan biasanya tak segan mengajak ngobrol dimana ada kesempatan persis Ibu Nenek Gendut Soraya, nenek gw tercinta.

Gw inget banget soalnya setiap hari berangkat ke kampus jam 10 pagi, itu bis yang gw tumpangin pastinya penuh dengan manusia lanjut usia~pensioners. Tinggal menunjukkan kartu Pensioner mereka n simsalabim, mereka bebas kemana saja. Sekumpulan nenek2 biasanya menuju city centre buat berburu barang2 murah di Charity shops dan bazar2 murah.
Lalu, kemana mereka dalam kasus Indonesia? Yaaa pengajian laahhhh... Maulid boo.. Malu sama cucuuu..
No, I mean, it's far more serious than that. It's describing how horrible and unfriendly really our transportation system is. Ga kebayang kan nenek2 bungkuk naek Kopaja di Jakarta? Bisa2 tewas jantungan ngeliat copet beraksi di depan mata mereka, atau tumbang ketika mengejar ngejar Metro Mini yang zig-zag.
It's also describing the social structure of family in two different cultures. Cucu dan bahkan anak bukanlah milik mereka orang tua yang hidup dibudaya barat. Orang tua hanyalah media yang melahirkan mereka. Tidak ada kewajiban mengurus orang tua seperti konsep yang kita kenal dalam budaya barat dan Islam. Tidak ada kewajiban membalas kebaikan mereka. Tempat orangtua ketika mereka tidak berdaya adalah Panti Jompo. That's it. They're just like a baby. Fragile, spoil, burden, tak berdaya. Nyusahin!
Tetapi justru disitulah salah satu kelemahan terbesar masyarakat dengan budaya yang mereka anggap Modern. Budaya barat. Budaya sex bebas. Budaya individualis. Budaya yang sebagian dari kita menganggapnya budaya paling superior.
Seketika mereka sadar bahwa konsep menikah dan memiliki anak adalah sebuah beban dan tidak memperdulikan mereka sesaat mereka lulus SMA, kenapa repot susah2 membesarkan anak? who cares anyway? cuma bikin susah! mahal pula.. lebih baik duitnya dipakai buat seneng2. Plesiran, expedisi, touring.
Kebayang kan suatu hari nanti mereka akan bingung bahwa generasi mereka berkurang? dan itulah kenapa terjadi fenomena "ageing population". Populasi yang menua. Kekurangan generasi produktif karena setiap dari mereka tidak menginginkan anak terlalu banyak. SEBALIKNYA, orang2 imigran yang masuk, yang notabene berasal dari negara2 timur tengah dan Afrika, beragama Islam, berlomba2 membuat anak yang banyak sesuai anjuran agama mereka. Nah loh!
sudah tergambar skenario besar Tuhan kan? it's only a matter of time brother...
Sitting there in one of the most centrally located Mall in Jakarta, we realized there was quite different atmosphere from most UK Shopping Centres. Something missing from our shopping centres. And it's an eldery people! ya! orang tua!
kakek2 ompong, nenek2 bungkuk berambut putih, kakek nenek pengendara mobil batere nan imut, mereka mandiri, ramah senyum dan biasanya tak segan mengajak ngobrol dimana ada kesempatan persis Ibu Nenek Gendut Soraya, nenek gw tercinta.

Gw inget banget soalnya setiap hari berangkat ke kampus jam 10 pagi, itu bis yang gw tumpangin pastinya penuh dengan manusia lanjut usia~pensioners. Tinggal menunjukkan kartu Pensioner mereka n simsalabim, mereka bebas kemana saja. Sekumpulan nenek2 biasanya menuju city centre buat berburu barang2 murah di Charity shops dan bazar2 murah.
Lalu, kemana mereka dalam kasus Indonesia? Yaaa pengajian laahhhh... Maulid boo.. Malu sama cucuuu..
No, I mean, it's far more serious than that. It's describing how horrible and unfriendly really our transportation system is. Ga kebayang kan nenek2 bungkuk naek Kopaja di Jakarta? Bisa2 tewas jantungan ngeliat copet beraksi di depan mata mereka, atau tumbang ketika mengejar ngejar Metro Mini yang zig-zag.
It's also describing the social structure of family in two different cultures. Cucu dan bahkan anak bukanlah milik mereka orang tua yang hidup dibudaya barat. Orang tua hanyalah media yang melahirkan mereka. Tidak ada kewajiban mengurus orang tua seperti konsep yang kita kenal dalam budaya barat dan Islam. Tidak ada kewajiban membalas kebaikan mereka. Tempat orangtua ketika mereka tidak berdaya adalah Panti Jompo. That's it. They're just like a baby. Fragile, spoil, burden, tak berdaya. Nyusahin!
Tetapi justru disitulah salah satu kelemahan terbesar masyarakat dengan budaya yang mereka anggap Modern. Budaya barat. Budaya sex bebas. Budaya individualis. Budaya yang sebagian dari kita menganggapnya budaya paling superior.
Seketika mereka sadar bahwa konsep menikah dan memiliki anak adalah sebuah beban dan tidak memperdulikan mereka sesaat mereka lulus SMA, kenapa repot susah2 membesarkan anak? who cares anyway? cuma bikin susah! mahal pula.. lebih baik duitnya dipakai buat seneng2. Plesiran, expedisi, touring.
Kebayang kan suatu hari nanti mereka akan bingung bahwa generasi mereka berkurang? dan itulah kenapa terjadi fenomena "ageing population". Populasi yang menua. Kekurangan generasi produktif karena setiap dari mereka tidak menginginkan anak terlalu banyak. SEBALIKNYA, orang2 imigran yang masuk, yang notabene berasal dari negara2 timur tengah dan Afrika, beragama Islam, berlomba2 membuat anak yang banyak sesuai anjuran agama mereka. Nah loh!
sudah tergambar skenario besar Tuhan kan? it's only a matter of time brother...
Tuesday, April 22, 2008
Trouble with Islam Today
Perasaan gamang yang hinggap dikepalaku begitu mengusikku sehari kemarin ketika aku mendapati kenyataan bahwa aku duduk sebagai seorang interpreter dari Irshad Manji, pengarang buku "the trouble with Islam Today" di acara launching buku terjemahannya "Beriman Tanpa Rasa Takut" di Perpustakaan Nasional.
Kenyataan minor pertama adalah bahwa aku bukanlah seorang interpreter yang baik. Aku mungkin telah hidup lebih dari 2 tahun di negeri biangnya bahasa ini dan lumayan fasih memahami dan berbicara dalam bahasa Inggris. Tapi, untuk menginterpretasi dan lalu menyampaikannya langsung didepan khalayak ramai it's totally different matter. Perlu kecerdasan Linguistik yang tinggi dan kusadari memang sejak duduk dibangku sekolah menengah kalau kecerdasan Linguistik bukanlah bakatku. Keberadaanku disana hanyalah kesediaanku membantu temanku sebagai penyelenggara. Ini kesempatan kedua aku menjadi interpreter di level nasional dan aku nyaris menghancurkan keduanya. Ditambah bidang yang dibahas adalah bidang yang sebenarnya asing dan tidak menarik bagiku, Gender equality. And the silly thing is, I haven't even read the speaker's book! Gosh! it was really hard day for me. Since then, my head keep telling me, that's enough for interpreting business. And anyway, I think I'm not supposed to be interpreter but it is Me (an Inspiring leader to be, Amieeeeeen...) the one whom supposed to be a speaker and be interpreted! (well, of course in the field I master in)
But more important thing is the content of the talkshow it self. One of the most important issues in the forum is Ijtihad. Surely it's very significant aspect of Islam. Islam was mastering highest position in knowledge lead by Ijtihad. Peradaban-peradaban Islam paling membanggakan ketika kaum muslim di masa kejayaannya menguasai lebih dari setengah daratan dunia dihasilkan dari proses ijtihad para pemikir dan intelek muslim. Hampir seluruh bidang karya tertinggi, science masterpieces, best Legal principles, dihasilkan oleh Ummat melalui proses Ijtihad. Ibnu Rusyd, Ibn Sina, Imam 4 Mahzab adalah beberapa contoh. Eropa dan dunia barat mendapat pencerahan pada era renaissance setelah menikmati hasil proses ijtihad pemikir2 muslim abad pertengahan melalui transormasi pengetahuan kepada mahasiswa2 mereka di universitas2 Islam di pesisir selatan Eropa.
Lalu pertanyaannya: Kemana hilangnya budaya ijtihad dari ummat Islam? kenapa justru dizaman informasi technology yang menghilangkan batas fisik dunia ini, banyak sebagian ummat Islam yang mundur selangkah kebelakang dengan meninggalkan budaya ijtihad? apa sebenarnya yang terjadi? semakin malaskah ummat?
Aku pribadi setuju bahwa pintu dan budaya ijtihad harus dikembalikan didalam budaya ummat Islam. Reinterpretasi dan dialektika permasalahan2 yang ada diummat in some extent harus kembali dibahas. Banyak permasalahan dunia era teknologi yang masih berada di wilayah abu-abu dan tidak terjamah hukum Islam. Tapi, siapa yang bertanggung jawab akan masalah ini? apakah setiap orang berhak berijtihad? ataukah ada syarat2 tertentu untuk bisa berijtihad? pertanyaan2 ini berujung pada satu pertanyaan yang berkaitan dengan Irshad Manji; siapa yang berhak untuk berijtihad?
Salah satu ketidak setujuan fikiranku dengan Irshad Manji adalah dengan pernyataan bahwa setiap orang berhak untuk berijtihad. Mungkin ia tidak mengatakannya secara explisit, tapi sebagai buktinya, ia sendiri merasa berhak berijtihad dan maka lahirlah buku yang ditulisnya sebagai hasil ijtihad.
Fikiran ini menurutku sangat berbahaya.
Bahkan jika ditinjau dari sisi manapun, akademikkah atau tidak, fikiran ini menurutku tidak logis.
Bayangkan jika pintu ijtihad dibuka untuk siapapun dan semua orang berlomba-lomba untuk berijtihad, bukankah bisa dibayangkan akan timbul kekacauan karena banyak hasil2 ijtihad yang tidak karuan, karena pada dasarnya manusia cenderung kepada hawa nafsunya. Batasan-batasan dan syarat-syarat haruslah terpenuhi sebelum seseorang bisa berijtihad. Kualifikasi akademik maupun kualitas dan integritas personal menjadi syarat mutlak tidak saja bagi mujtahid bahkan pada siapa saja. Hal tersebut terekam baik dalam kisah2 periwayatan hadits Rasul, dimana level validitas hadits bisa berkurang seiring dengan kurangnya integritas para perawi.
Bukankan berlaku juga dinegeri maju, bahwa setiap permasalahan haruslah dikembalikan pada ahlinya, apalagi jika itu menyangkut kemaslahatan banyak orang? bukankah budaya referensi untuk scholar2 mutlak menjadi ukuran di lingkungan universitas barat hingga saat ini? lalu kenapa seorang Irshad Manji yang tidak menguasai bahasa arab sama sekali (bahasa dimana AlQuran diturunkan) dan juga mungkin karena itu tidak mengerti sepenuhnya konteks lingkungan asbabun nuzul ayat2 alQuran berani berijtihad, seperti misalnya menganggap Homosexual diperbolehkan dalam Islam? bukankah ia sendiri salah satu yang mendukung bahwa Al-Quran harus di reinterpretasikan sesuai konteks zamannya? bukankah seharusnya seseorang harus bisa terlebih dahulu menginterpretasi sebelum meng re-interpretasi? (gosh! I really hate this interpretation business!)
Tapi, terlepas dari pertanyaan2 itu, aku sendiri merasa kecewa dengan kualitas pribadiku dan lingkunganku akan budaya critical thinking sebagai salah satu elemen ijtihad itu. Pendapatku justru mengatakan bahwa di critical thinking itulah sumber permasalah ummat Islam saat ini.
Pendidikan yang salah kaprah! dan semua ini berawal dari sistem pendidikan di negeri ini yang terlalu berorientasi pada "HASIL" dan bukan "PROSES"! Hasil UN jauh lebih penting daripada minat membaca. Nilai IPK jauh lebih keramat daripada keahlian berfikir kritis. Menghapal pelajaran jauh lebih mulia daripada berkreasi dengan penuh imajinasi.
padahal bahkan Einstein sendiri berkata bahwa " Imajinasi jauh lebih penting daripada Ilmu pengetahuan itu sendiri"
Perasaan itu terus terang mengusik hidup tenangku dan menimbulkan banyak pertanyaan.
Kesalahan siapa ini? Salahkah aku dan mereka yang tidak mempunyai pertanyaan2 kritis? bodohkah aku karena seingatku aku trauma berpendapat karena cemohan bapak guru di sekolah dasar dulu di ruang kelas di pelajaran matematika sesaat aku memberanikan mengangkat tangan dan ternyata memberi jawaban yang salah versi bapak guru?
Kenyataan minor pertama adalah bahwa aku bukanlah seorang interpreter yang baik. Aku mungkin telah hidup lebih dari 2 tahun di negeri biangnya bahasa ini dan lumayan fasih memahami dan berbicara dalam bahasa Inggris. Tapi, untuk menginterpretasi dan lalu menyampaikannya langsung didepan khalayak ramai it's totally different matter. Perlu kecerdasan Linguistik yang tinggi dan kusadari memang sejak duduk dibangku sekolah menengah kalau kecerdasan Linguistik bukanlah bakatku. Keberadaanku disana hanyalah kesediaanku membantu temanku sebagai penyelenggara. Ini kesempatan kedua aku menjadi interpreter di level nasional dan aku nyaris menghancurkan keduanya. Ditambah bidang yang dibahas adalah bidang yang sebenarnya asing dan tidak menarik bagiku, Gender equality. And the silly thing is, I haven't even read the speaker's book! Gosh! it was really hard day for me. Since then, my head keep telling me, that's enough for interpreting business. And anyway, I think I'm not supposed to be interpreter but it is Me (an Inspiring leader to be, Amieeeeeen...) the one whom supposed to be a speaker and be interpreted! (well, of course in the field I master in)
But more important thing is the content of the talkshow it self. One of the most important issues in the forum is Ijtihad. Surely it's very significant aspect of Islam. Islam was mastering highest position in knowledge lead by Ijtihad. Peradaban-peradaban Islam paling membanggakan ketika kaum muslim di masa kejayaannya menguasai lebih dari setengah daratan dunia dihasilkan dari proses ijtihad para pemikir dan intelek muslim. Hampir seluruh bidang karya tertinggi, science masterpieces, best Legal principles, dihasilkan oleh Ummat melalui proses Ijtihad. Ibnu Rusyd, Ibn Sina, Imam 4 Mahzab adalah beberapa contoh. Eropa dan dunia barat mendapat pencerahan pada era renaissance setelah menikmati hasil proses ijtihad pemikir2 muslim abad pertengahan melalui transormasi pengetahuan kepada mahasiswa2 mereka di universitas2 Islam di pesisir selatan Eropa.
Lalu pertanyaannya: Kemana hilangnya budaya ijtihad dari ummat Islam? kenapa justru dizaman informasi technology yang menghilangkan batas fisik dunia ini, banyak sebagian ummat Islam yang mundur selangkah kebelakang dengan meninggalkan budaya ijtihad? apa sebenarnya yang terjadi? semakin malaskah ummat?
Aku pribadi setuju bahwa pintu dan budaya ijtihad harus dikembalikan didalam budaya ummat Islam. Reinterpretasi dan dialektika permasalahan2 yang ada diummat in some extent harus kembali dibahas. Banyak permasalahan dunia era teknologi yang masih berada di wilayah abu-abu dan tidak terjamah hukum Islam. Tapi, siapa yang bertanggung jawab akan masalah ini? apakah setiap orang berhak berijtihad? ataukah ada syarat2 tertentu untuk bisa berijtihad? pertanyaan2 ini berujung pada satu pertanyaan yang berkaitan dengan Irshad Manji; siapa yang berhak untuk berijtihad?
Salah satu ketidak setujuan fikiranku dengan Irshad Manji adalah dengan pernyataan bahwa setiap orang berhak untuk berijtihad. Mungkin ia tidak mengatakannya secara explisit, tapi sebagai buktinya, ia sendiri merasa berhak berijtihad dan maka lahirlah buku yang ditulisnya sebagai hasil ijtihad.
Fikiran ini menurutku sangat berbahaya.
Bahkan jika ditinjau dari sisi manapun, akademikkah atau tidak, fikiran ini menurutku tidak logis.
Bayangkan jika pintu ijtihad dibuka untuk siapapun dan semua orang berlomba-lomba untuk berijtihad, bukankah bisa dibayangkan akan timbul kekacauan karena banyak hasil2 ijtihad yang tidak karuan, karena pada dasarnya manusia cenderung kepada hawa nafsunya. Batasan-batasan dan syarat-syarat haruslah terpenuhi sebelum seseorang bisa berijtihad. Kualifikasi akademik maupun kualitas dan integritas personal menjadi syarat mutlak tidak saja bagi mujtahid bahkan pada siapa saja. Hal tersebut terekam baik dalam kisah2 periwayatan hadits Rasul, dimana level validitas hadits bisa berkurang seiring dengan kurangnya integritas para perawi.
Bukankan berlaku juga dinegeri maju, bahwa setiap permasalahan haruslah dikembalikan pada ahlinya, apalagi jika itu menyangkut kemaslahatan banyak orang? bukankah budaya referensi untuk scholar2 mutlak menjadi ukuran di lingkungan universitas barat hingga saat ini? lalu kenapa seorang Irshad Manji yang tidak menguasai bahasa arab sama sekali (bahasa dimana AlQuran diturunkan) dan juga mungkin karena itu tidak mengerti sepenuhnya konteks lingkungan asbabun nuzul ayat2 alQuran berani berijtihad, seperti misalnya menganggap Homosexual diperbolehkan dalam Islam? bukankah ia sendiri salah satu yang mendukung bahwa Al-Quran harus di reinterpretasikan sesuai konteks zamannya? bukankah seharusnya seseorang harus bisa terlebih dahulu menginterpretasi sebelum meng re-interpretasi? (gosh! I really hate this interpretation business!)
Tapi, terlepas dari pertanyaan2 itu, aku sendiri merasa kecewa dengan kualitas pribadiku dan lingkunganku akan budaya critical thinking sebagai salah satu elemen ijtihad itu. Pendapatku justru mengatakan bahwa di critical thinking itulah sumber permasalah ummat Islam saat ini.
Pendidikan yang salah kaprah! dan semua ini berawal dari sistem pendidikan di negeri ini yang terlalu berorientasi pada "HASIL" dan bukan "PROSES"! Hasil UN jauh lebih penting daripada minat membaca. Nilai IPK jauh lebih keramat daripada keahlian berfikir kritis. Menghapal pelajaran jauh lebih mulia daripada berkreasi dengan penuh imajinasi.
padahal bahkan Einstein sendiri berkata bahwa " Imajinasi jauh lebih penting daripada Ilmu pengetahuan itu sendiri"
Perasaan itu terus terang mengusik hidup tenangku dan menimbulkan banyak pertanyaan.
Kesalahan siapa ini? Salahkah aku dan mereka yang tidak mempunyai pertanyaan2 kritis? bodohkah aku karena seingatku aku trauma berpendapat karena cemohan bapak guru di sekolah dasar dulu di ruang kelas di pelajaran matematika sesaat aku memberanikan mengangkat tangan dan ternyata memberi jawaban yang salah versi bapak guru?
Subscribe to:
Posts (Atom)