Showing posts with label education. Show all posts
Showing posts with label education. Show all posts

Tuesday, December 1, 2009

Dicari: Orang Kreatif

Sebuah perusahaan di Amerika menyeleksi calon karyawannya dengan cara yang unik, yaitu dengan mengajukan sebuah pertanyaan yang membutuhkan kreativitas dalam menjawabnya. Bila jawabannya dianggap benar, ia akan langsung diterima di perusahaan tersebut.

Situasinya adalah seperti ini: Anda sedang mengendarai mobil yang hanya cukup untuk dua orang penumpang saja di tengah badai yang hebat. Mobil Anda lalu melewati halte tua dan di sana Anda melihat tiga orang tengah menunggu pertolongan. Orang pertama adalah seorang nenek yang nampak sudah sekarat karena kedinginan, orang kedua adalah seorang pria yang pernah menyelamatkan hidup Anda, dan yang ketiga adalah pujaan hati yang sudah lama Anda incar.

Pertanyaannya adalah karena mobil Anda hanya muat untuk satu orang saja ¡V karena yang satu sudah Anda duduki, manakah dari ketiga orang itu yang akan Anda tolong?

Sebelum Anda tahu jawaban mana yang paling benar, Anda tentunya sudah meraba bahwa kreatifitas dalam berpikir sangat dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan tadi.

Saat ini orang-orang kreatif sangat dibutuhkan di banyak perusahaan, tidak hanya sebatas di bidang periklanan atau industri film. Karena orang-orang yang pandai berkreasi dalam setiap situasi, adalah orang yang luwes dan termasuk dalam katagori orang yang memiliki Kecerdasan Emosi. Bukankah mereka yang berhasil dalam karir dan bisnis kebanyakan adalah yang memilki kecerdasan emosi ?

Kreativitas tidak berhubungan langsung dengan bakat. Kreativitas ditentukan oleh seberapa banyak pengetahuan yang tersimpan di "perpustakaan" memori Anda. Semakin sering dan banyak Anda membaca buku, semakin banyak pulalah inspirasi kreativitas tersimpan di hard disc otak Anda yang hingga saat ini kapasitasnya belum ada yang mampu menandingi, bahkan oleh komputer tercanggih sekali pun yang pernah diciptakan di muka bumi ini.

Para ahli menemukan bahwa kemampuan otak manusia baru dipakai sekitar 5% saja. Manusia yang diyakini telah menggunakan kapasitas otaknya sebesar 7% adalah Albert Einstein. Anda bisa mencoba untuk memaksimalkan kerja otak Anda dengan mencoba menjawab pertanyaan tadi.

Kita seringkali mudah melupakan isi buku yang pernah dibaca, namun bukan berarti itu sia-sia. Yang terpenting bukanlah rinciannya melainkan inti sari atau pesan moral yang akan mempengaruhi pola pikir pembacanya. Anda mungkin sudah lupa siapa nama bapak guru gank Laskar Pelangi dalam novel "Laskar Pelangi" yang luar biasa itu, tapi Anda tentu terinspirasi oleh novel atau film itu.

Jawaban kreatif yang dianggap benar oleh perusahaan tersebut rupanya adalah: Anda turun dari mobil lalu menemui orang yang pernah menyelamatkan hidup Anda, minta tolong untuk menyelamatkan nenek tua yang kedinginan itu. Sementara itu Anda menikmati saat-saat romantis berdua bersama dengan sang pujaan hati.

Kalau Anda tadi memilih menolong nenek tua yang sekarat, tidak usah kecewa, meskipun Anda tidak diterima bekerja, setidaknya Anda sudah menolong hidup seseorang.

With Love & Respect
Sigit Risat, Inspirator Hubungan Harmonis
Copy Paste dari JOBSDB.COM

Wajah Lain Pesantren

Jakarta(majalah.tempointeraktif.com --kurnia) Pondok pesantren tak hanya mengajarkan agama, tapi juga bisnis. Sebagian lagi menjadi pelopor pemberdayaan masyarakat sekitarnya. Inilah fikih sosial mereka.
PESANTREN dan terorisme. Dua kata ini kerap dikait-kaitkan saat aksi terorisme mewabah di Indonesia belakangan ini. Harap maklum, sebagian besar pelaku dan tersangka tindak kejahatan itu memang alumni pondok pesantren.
”Stigmatisasi terhadap pesantren saat ini luar biasa dan telah menjadi sebentuk kebencian terhadap Islam,” kata Choirul Fuad Yusuf, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Departemen Agama, dalam diskusi di kantor majalah Tempo pada 3 September lalu.
Diskusi itu juga dihadiri Masdar Farid Mas’udi, Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M); Khaeroni, Kepala Subdirektorat Pemberdayaan Santri dan Layanan pada Masyarakat; dan Undang Sumantri, Kepala Subbagian Tata Usaha Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Departemen Agama.
Fuad menyatakan stigmatisasi itu muncul, misalnya, ketika dia menyampaikan makalah berjudul ”Pertumbuhan Luar Biasa Pesantren di Indonesia” dalam konferensi tahunan National Association of Foreign Student Advisers di Los Angeles, Amerika Serikat, akhir Mei lalu.
”Pertanyaan yang muncul dalam konferensi itu kebanyakan soal radikalisme, madrasah sebagai tempat pengkaderan teroris, apalagi pesantren. Jadi, madrasah disamakan dengan madrasah di Afganistan,” kata Fuad. Madrasah di Afganistan mendapat cap miring karena banyak militan Taliban direkrut dari madrasah tersebut.
Madrasah di Indonesia, kata Fuad, sama dengan sekolah umum, dengan muatan khusus pendidikan Islam. ”Dari 21 ribu lebih pesantren saat ini, tidak ada yang mengajarkan kekerasan, apalagi yang mengarah pada terorisme,” katanya.
Departemen Agama mencatat saat ini ada 21.521 pesantren dengan 3.818.469 santri. Jumlah pesantren itu naik hampir empat kali lipat dalam 20 tahun terakhir dan dua kali lipat dalam 6 tahun terakhir. Pada 1985 tercatat ada 6.239 pesantren dengan 1 juta lebih santri dan pada 2001 ada 11.312 pesantren dengan 2.737.805 santri. Ini tidak termasuk pesantren yang belum terdaftar di departemen tersebut.
Pondok-pondok pesantren itu tak berwajah tunggal. Ada yang mengajarkan pentingnya merawat harmoni sosial dan toleransi antar-umat beragama. Ada pula yang menggendong ideologi politik Timur Tengah, seperti Wahabisme, Ikhwanul Muslimin, dan Talibanisme. Tak sedikit dari pesantren ini yang mengintroduksi jalan-jalan kekerasan dalam menjalankan ajaran Islam.
Menurut Fuad, pemerintah berupaya mendorong pondok-pondok pesantren agar tak hanya menjadi tempat belajar agama Islam, tapi juga menjadi agen perubahan sosial, motivator, dan aktor bagi masyarakat sekitarnya. Peran itu sudah dilakukan oleh beberapa pesantren, seperti Pondok Pesantren Al-Ittifaq di Babakan Jampang, Ciwidey, Bandung, yang mengajak masyarakat sekitar mengelola sayur-mayur, dari budi daya hingga pemasarannya.
”Pesantren itulah yang menyalurkan produk pertanian masyarakat ke supermarket-supermarket. Para santrinya juga diajari pemasaran dengan berdasi. Jadi, jangan dikira bahwa para santri kini cuma bersarung dan berkerudung,” kata Choirul.
Masdar Farid Mas’udi, yang juga Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, menuturkan bahwa peran pesantren dalam memberdayakan masyarakat sudah berlangsung lama. ”Bahkan sebenarnya pesantren umumnya didirikan dengan tujuan memberdayakan masyarakat sekitarnya,” kata pengasuh Pesantren Unggul Al-Bayan di Sukabumi, Jawa Barat, itu.
Gerakan pemberdayaan itu menguat pada 1970-an dan 1980-an, bersamaan dengan dijalankannya banyak program kemasyarakatan oleh pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat melalui pesantren, seperti yang dilakukan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Bina Desa, Bina Swadaya, dan P3M yang dipimpin Masdar. ”Namun program pemberdayaan masyarakat ini hanya meletakkan pesantren sebagai pintu masuk atau batu loncatan,” kata Masdar.
Masdar mencontohkan program Keluarga Berencana yang diperkenalkan ke masyarakat melalui pintu pesantren, sehingga masyarakat tak lagi mempermasalahkannya. ”Legitimasinya sudah tidak dipertanyakan lagi karena sudah didukung kiai,” katanya.
Nah, beberapa kiai kemudian berembuk untuk membentuk P3M dengan tujuan memberdayakan masyarakat melalui, oleh, dan bersama pesantren. Dasarnya adalah fikih sosial, yakni pengembangan dan kepedulian kepada masyarakat itu sebenarnya dilakukan bukan karena ada pesanan atau program atau dana dari luar, melainkan sebagai tanggung jawab pesantren itu sendiri sebagai pusat keagamaan. ”Kami berharap pengembangan masyarakat oleh pesantren itu menjadi agenda pesantren itu sendiri, bukan sekadar pintu masuk atau lampiran dari pesantren,” katanya.
Secara historis pun pesantren muncul karena ingin mengasuh masyarakat. Masdar mencontohkan peran Pesantren Tebuireng yang berdiri di tengah Kota Jombang ketika ada masalah antara petani tebu dan pabrik gula karena pabrik menetapkan harga yang rendah. Pemimpin pesantren itu menyokong pembentukan paguyuban petani, yang kemudian mendatangi pihak pabrik untuk memperbaiki harga dan budi daya tebu.
Pesantren masa kini, kata Masdar, juga merupakan perkembangan dari intervensi pemerintah melalui kurikulum dan standardisasi pendidikan, yang mulai terlihat pada 1980-an. Hal ini menyebabkan ongkos sekolah di pesantren jadi mahal dan membuat mereka berpaling ke sumber dana yang ada, yakni pemerintah.
”Inilah mulai hilangnya independensi pesantren terhadap kekuasaan. Padahal independensi menjadi ciri pesantren dan keulamaan, yaitu duduk setara dengan umara (pemimpin), jadi bisa mengatakan tidak dalam hal harus mengatakan tidak, dan mengatakan ya bila harus ya,” ujarnya.
Dampak dari formalisasi pendidikan pesantren ini juga berpengaruh pada hubungan santri-kiai. Dulu, kalau santri datang ke pesantren, pasti ia diserahkan sepenuhnya oleh orang tuanya kepada sang kiai. ”Sekarang santri datang ke pesantren itu bukan ke kiai lagi, tapi ke bagian tata usaha. Jadi, kalau urusan bagian tata usaha sudah selesai, bisa datang sowan ke kiai bisa tidak. Kiai sudah tidak pegang otoritas apa-apa di situ,” kata Masdar.
Meski demikian, masih banyak pesantren yang mencoba mandiri dengan cara masing-masing, bahkan mampu memberdayakan masyarakat sekitarnya. Untuk memotret kepeloporan pesantren itulah Tempo menurunkan laporan sejumlah pesantren di Tanah Air. Sebagian besar merupakan masukan dari Departemen Agama dan sebagian lagi muncul dalam diskusi redaksi.
Ada delapan pesantren yang diangkat kali ini, yakni Pesantren Sidogiri di Pasuruan, Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman di Parung, Pesantren Al-Amin di Tasikmalaya, Pesantren As-Salafiyyah di Mlangi, Yogyakarta, Pesantren Qamarul Huda di Lombok, Pesantren Darul Arafah dan Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah di Sumatera Utara, serta Pesantren Salafiyah Safi’iyah di Gorontalo.
Lembaga-lembaga itu mencerminkan wajah lain pondok pesantren. Pesantren Sidogiri, misalnya, memelopori wirausaha melalui koperasi di pesantren, yang ternyata juga mendorong perekonomian masyarakat setempat. Kini mereka telah memiliki sedikitnya sepuluh unit usaha, dari toko buku hingga studio foto. Sayap usaha lain adalah produksi air minum kemasan bermerek Santri, penerbitan kitab, dan busana muslim.
Adapun Pondok Pesantren Qamarul Huda di Lombok mengkampanyekan lingkungan hijau dengan mengajak warga menanam pohon di halaman rumah masing-masing. Mereka juga menjadi mitra pemerintah dalam menangani kerusakan hutan dengan menanami lahan seluas 200 hektare.
Lain lagi dengan Pondok Pesantren Salafiyah Safi’iyah di Desa Banuroja, Kecamatan Randangan, Provinsi Gorontalo. Pesantren ini aktif membina kerukunan dengan warga Hindu, yang dianut hampir separuh warga desa, dan warga Kristen. Pondok itu juga memelopori pembangunan desa dengan mendorong berbagai usaha, termasuk agrobisnis dan peternakan sapi. Warga juga dilibatkan dalam pemeliharaan sapi dengan metode bagi hasil.
Pesantren-pesantren ini hanya potret kecil dari begitu beragam dan banyaknya pesantren di Indonesia. Namun kepeloporan mereka setidaknya dapat menjadi inspirasi bagi pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan lain di Nusantara.

Thursday, August 6, 2009

Bersikap tidak profesional dalam mendidik.

Profesional. Di dunia modern seperti ini, segala sesuatu harus dilakukan secara profesional. Pekerjaan tertentu diserahkan kepada profesi dan ahlinya. Tidak terkecuali di bidang pendidikan.

Sebut saja Sekolah Internasional Dwi Warna di Parung misalnya. Mereka adalah salah satu contoh sekolah yang bisa dibilang menjunjung tinggi profesionalitas dalam manajemen pendidikan mereka.

Administratur dipilih dari mereka yang memang ahli didalam mengurusi administrasi, kalau perlu dipilih mereka yang kuliah minimal IPK 3.00 di bidang administrasi. Tenaga Satpam diambil dari pensiunan polisi yang bisa tersenyum, minimal pernah mendapatkan pendidikan satpam yang benar atau berpengalaman sebagai Satpam selama beberapa tahun. Begitupun penjaga toko franchise milik sekolah yang dipilih oleh lembaga outsource yang dipercaya sehingga tidak ada rutinitas mengajari murid baru pembukuan dagang. Jangankan Guru yang jelas-jelas berkaitan langsung dengan pendidikan, bahkan kalau perlu, kebersihan kelas dan lingkungan mereka di outsource ke perusahaan cleaning service ternama. Bayarannya? Jelas dibayar secara profesional sesusai standard nasional.

Intinya; seluruh bidang pekerjaan di serahkan kepada ahlinya masing masing. Profesional!

Lalu apa tugas murid? Ya sesuai dengan profesi mereka; belajar! Belajar di kelas ataupun dilibatkan di kegiatan intra atau extra kurikuler.

Orang tua pun rela membayar mahal asal putra-putri mereka dididik secara profesional oleh guru dan administratur dengan manajemen yang profesional. Dengan cara itu, mereka bisa fokus mengembangkan kemampuan akademis ataupun non-akademis lainnya. Mereka adalah “customer” yang harus di penuhi “kebutuhan” dasarnya; mendapatkan lingkungan dan pendidikan secara profesional. Bukan untuk disuruh nguras kamar mandi apalagi WC.

Keuntungan pola ini jelas; lembaga dan murid bisa fokus mengembangkan kemampuan mereka. Pihak manajemen pun tidak usah pusing dengan desain interior kantor mereka misalnya karena sudah diserahkan kepada ahlinya.

Hampir seluruh lembaga pendidikan terkemuka menerapkan system manajemen yang serupa dan ramai-ramai menyatakan bahwa lembaga mereka menerapkan manajemen pendidikan secara profesional. Hampir.

Hanya ada segelintir lembaga pendidikan yang sengaja menyatakan bahwa manajemen pendidikan mereka penuh dengan “ketidak profesionalan”. Ya. Tidak profesional!

Gontor contohnya.

Istilah ini dikemukakan Kiai Syukri Zarkasyi yang mengatakan bahwa Gontor memang sengaja bersikap tidak profesional didalam manajemen kesehariannya.

Dalam kesehariannya, benar bahwa tidak ada profesi yang benar-benar ahli di bidangnya di dalam lembaga tersebut. Tidak ada satpam yang profesional disana untuk menjaga keamanan. Tidak ada administratur bagian keuangan jebolan S1 jurusan akuntasi yang profesional untuk mencatat laba dan rugi. Tidak ada penjaga toko yang di outsource secara profesional untuk mengatur stocking barang di koperasi. Bahkan, tidak ada tukang listrik profesional yang merangkap bagian diesel yang sangat vital mengatur kelistrikan disana.

Tidak ada profesi disana kecuali satu; semua menjadi “pelajar” yang terlibat di dalam proses pendidikan. Tidak peduli apakah ia santri, guru ataupun administratur, semuanya berperan untuk menggerakkan roda kehidupan di Kampung Damai.

Profesional? Jelas tidak! Bagaimana mau dibilang profesional kalau kebanyakan mereka adalah santri yang mungkin saja baru berumur remaja. Tiap saat ada saja pelatihan-pelatihan bagi “pegawai” baru setiap bidang. Bagian koperasi dilatih untuk membuat catatan keuangan. Bagian fotografi harus dilatih bagaimana mengambil angle yang baik didalam memfoto. Bagian diesel diajari untuk mengganti oli diesel oleh seniornya yang telah selesai “menjabat” selama satu tahun sebelumnya. Dan itu dilakukan setiap tahun berulang-ulang.

Lalu, bagaimana kalau mereka salah dalam menghitung dan menyebabkan kerugian pondok jutaan rupiah? Bagaimana jika diesel yang ada tiba-tiba ngadat dan tidak mau berfungsi sehingga Pondok gelap gulita selama beberapa jam karena lupa diganti olinya? Atau bagaimana jika foto-foto sang Presiden RI yang berkunjung ke Gontor yang diambil oleh fotografer baru itu tidak fokus wajahnya? Ya itulah bagian dalam proses pendidikan. Tidak ada kata salah di dalam belajar. Yang tidak boleh adalah jatuh dilubang yang sama untuk kedua kalinya.

Bulis malam yang berfungsi sebagai penjaga keamanan hanyalah sekelompok anak santri yang kalau berhadapan dengan maling pasti mereka lari terbirit-birit. Santri bertugas menjaga kebersihan kamar dan lingkungannya sendiri, kalau perlu menguras kamar mandi dan WC mereka setiap hari jum’at, seperti yang masih berjalan hingga hari ini.

Apakah mereka dibayar sesuai standard profesi mereka? Boro boro! Yang ada malah di marahin oleh Kiai karena tidak becus menghitung.

Tapi, semua itu merupakan proses pendidikan integral yang diyakini Gontor akan bermanfaat untuk membentuk karakter santri itu sendiri sebagai kader. Mereka sendiri adalah kader itu sendiri dan keseluruhan proses itu diyakini dengan total dengan sepenuh keyakinan dan disampaikan secara efektif kepada stake holders sebagai sebuah proses pendidikan, termasuk orang tua mereka.

Jarang ada orang tua santri yang protes anaknya disuruh membersihkan kamar mandi ataupun WC karena mereka yakin akan Gontor dan pola pendidikan mereka. Mereka justru membayar agar putra-putrinya belajar membersihkan kamar mandi dan WC mereka!

Mereka yakin akan pendidikan mereka.

Pertanyaannya, mana yang lebih baik?

Tidak ada jawaban mutlak karena keduanya adalah pilihan yang memakai frame yang berbeda dengan keyakinan masing-masing yang berasal dari tujuan pendidikan lembaga itu sendiri.

Perbedaan ini mungkin bermula dari perbedaan cara pandang merumuskan pendidikan itu sendiri.

Dwi Warna memilih merumuskan pendidikan dengan definisi terbatas bahwa apa yang penting ditanamkan dalam pendidikan murid-murid mereka adalah apa yang menyangkut dengan kehidupan akademik di kelas dan seputaran ekstra kurikuler.

Dilain pihak, Gontor memandang pendidikan dengan batasan yang jauh lebih luas melampaui ruang-ruang kelas. Istilah mereka; apa yang dilihat, apa yang disentuh, apa yang dirasakan oleh santri adalah bagian dari pendidikan Gontor.

Orang tua dari murid Dwi Warna senang karena putra-putri mereka dijaga di lingkungan yang aman dikelola dengan manajemen profesional sehingga putra-putri mereka bisa fokus belajar untuk meningkatkan kemampuan akademis dan non-akademis mereka.

Orang tua murid dari santri Gontor pun berkeyakinan dengan apa yang di perlakukan kepada putra-putri mereka karena mereka yakin bahwa hal tersebut akan bermanfaat untuk masa depan mereka.

Tidak ada yang mutlak benar di keduanya. Yang ada hanyalah bahwa masing-masing cocok dengan tujuan pendidikan lembaga sesuai kebutuhan “customer”nya.

Satu yang harus dihindari adalah ketidak jelasan positioning karena terjebak diantara keduanya.

Dalam dunia manajemen, Porter-sang Guru Manajemen mengistilahkannya; stuck in the middle! Tidak jelas positioningnya!

Justru itulah masalah yang di khawatirkan dialami Darunnajah.

Darunnajah sedang berada di persimpangan jalan, dan harus memilih diantara keduanya agar tidak terjebak diantara dua pandangan tersebut.

Sayangnya, beberapa kebijakan yang dibuat mengindikasikan bahwa Darunnajah terjebak diantara keduanya.

Pada awalnya, Darunnajah dulu seingat saya pernah “tidak profesional” dan bahkan dengan jelas dikatakan bahwa Darunnajah adalah Pesantren di Ibukota dengan model pendidikan ala Gontor. Hal ini bisa dilihat dari dokumentasi di media massa tentang pernyataan pendiri, KH Mahrus Amien yang bahkan menyebut Darunnajah sebagai “Gontor versi Jakarta”.

Tetapi, Jakarta tidaklah sama dengan Ponorogo. Seiring berjalannya waktu, kepungan dunia Modern yang jauh lebih dinamis dari Ponorogo membentuk permasalahan tersendiri bagi Darunnajah. Pada kenyataannya, memang“Customer” dan lingkungan Darunnajah tidaklah sama dengan “customer” Gontor, baik dari segi ekonomi, cultural dan budaya.

Seiring dengan berjalannya waktu, banyak hal- terutama lokasi di perkotaan, kemudahan orangtua invtervensi dan segala eksesnya-yang memaksa Darunnajah untuk mencari bentuk mereka sendiri. Ijtihad mereka membawa mereka untuk bersikap lebih professional, satu sikap yang bukan bagian dari idealisme Gontor.

Tuntutan orang tua santri terutama sangat kuat karena kebanyakan mereka sendiri adalah kalangan profesional perkotaan. Menurut data PPMB lima tahun terakhir, lebih dari 70% santri berasal dari kalangan masyarakat profesional perkotaan yang maaf; tidak sepenuhnya faham dan akrab dengan idealisme Gontor yang “tidak profesional” tersebut. Karakter mereka bahkan lebih mirip dengan orang tua santri Dwi Warna, setidaknya secara budaya perkotaan dan level ekonomi.

Darunnajah pun mulai merasa perlu mendengar masukan tersebut dan mulai merespon tantangan-tantangan yang ada.

Ambil satu contoh yang gampang terlihat; masalah keamanan ataupun kebersihan. Pada awal perkembangannya, Darunnajah memandang bahwa bidang keamanan dan kebersihan adalah bagian dari pendidikan yang harus diserahkan kepada anak didik. Bulis malam (Ronda malam) digilirkan kepada anak santri. Membersihkan lingkungan menjadi tanggung jawab santri. Pengelolaan dan pengawasan kamar-kamar pun diserahkan kepada santri senior yang terpilih menjadi mudabbir.

Ternyata, untuk bersikap “tidak professional” tidak semudah di Gontor yang jauh dari jangkauan kebanyakan wali santri. Mudahnya lokasi Darunnajah dijangkau menjadi permasalah tersendiri bagi lembaga yang sedang mencari bentuk tersebut. Banyak orang tua santri yang tidak faham akan idealisme pendidikan menyeluruh yang diterapkan di Gontor dan Darunnajah awal. Kenapa masih saja ada barang yang hilang? Kenapa anak mereka disuruh membersihkan WC mereka? Kenapa wewenang menghukum diserahkan kepada senior, dan bukan ustadz yang lebih dewasa? Kenapa anak mereka tidak diurus secara professional?

Seiring berjalannya waktu dan tuntutan orang tua santri dan lingkungan, Darunnajah pun mulai mencoba mengarah untuk lebih profesional.

Untuk masalah keamanan di serahkan kepada satpam. Kebersihan lingkungan diserahkan kepada karyawan kebersihan. Pengawasan santri dan kehidupan mereka diserahkan kepada yang lebih berwenang; ustadz musyrif, yang pastinya jauh lebih dewasa dibandingkan oleh santri mudabbir yang dianggap tidak lagi becus diberi wewenang untuk menghukum. Tidak ada lagi cerita santri ikut terlibat nge-cor bangunan pondok. Semuanya diserahkan kepada orang lain. Kepada ahlinya.

Terlihat disini sepertinya Darunnajah akan menuju satu kutub; Profesional.

Satu yang Darunnajah tidak bisa lupakan adalah bahwa darah Gontor mengalir deras di urat nadi mereka. Ke “tidak profesional” an adalah pola yang menjadi pola pendidikan yang mereka anut sejak awal. Ada ketidaksesuaian dan ketidakyakinan akan idealisme dan tujuan pendidikan disini. Ada yang tidak tercapai.

Mereka sadar bahwa idealisme pendidikan profesional bukanlah idealisme pendidikan yang mereka yakini.

Darunnajah pun mulai merevisi kebijakannya meskipun masih terkesan malu-malu.

Satpam mulai di kritik keberadaannya. Bulis malam mulai diadakan kembali. Musyrif mulai dikurangi wewenangnya dan diserahkan kepada mudabbir dan OSDN. Santri pun diminta kembali untuk terlibat didalam membersihkan kamar mandi mereka.

Idealisme pendidikan mereka kembali kearah “tidak profesional”, kearah pendidikan dengan pandangan holistic; apa yang dilihat, apa yang disentuh dan apa yang dirasa oleh santri.

Pendidikan manusia seutuhnya yang tidak dibatasi oleh tembok kelas.

Thursday, July 23, 2009

Rilis program EWC di media massa

dikutip dari:

http://beta.antaranews.com/view/?i=1247686556&c=NAS&s=PDK

http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/news/766/16/7/2009/Lima-Guru-Amerika-Belajar-Pendidikan-Pesantren

http://epaper.republika.co.id/berita/62768/5_Guru_Amerika_Belajar_di_Pesantren

Ambon, 16/7 (ANTARA) - Sedikitnya lima orang guru wanita dari lima kota berbeda di Amerika Serikat (AS) akan mempelajari manajemen pendidikan pesantren pada sejumlah pondok pesantren (ponpes) di Yogyakarta.

"Mereka akan tinggal selama sepekan untuk mempelajari proses belajar-mengajar serta kurikulum pendidikan yang diterapkan pada beberapa pondok pesantren di Yogyakarta," kata Director AsiaPacifiCed Program East-West Center, Namji Steinemann, di Ambon, Rabu.

East-West Center, adalah lembaga penelitian dan pendidikan Amerika Serikat berkedudukan di Hawaii, yang didirikan oleh Kongres AS pada tahun 1960.

Lembaga tersebut bertugas untuk menciptakan terwujudnya pengertian dan pemahaman antarbudaya negara-negara di Amerika dan Asia Pasifik.

Dalam programnya lembaga ini memiliki jaringan luas pada sekitar 500-600 sekolah di Amerika yang selalu berinteraksi dengan sekolah-sekolah di negara-negara Asia Pasifik.

Lembaga ini sangat tertarik dengan pola pendidikan pondok pesantren yang diterapkan di Indonesia dan ingin dikembangkan di negara lain.

Lima orang guru wanita dari lima kota berbeda di AS, yaitu Barbara Laman asal New York, Charoline Aloxopeus asal Conneticut, Sussana Bunchan asal Michigan, Susan Milos asal California dan Judith Carter asal Georgia.

Selama tinggal di ponpes, mereka juga akan berusaha untuk mengenal lebih jauh pola kehidupan para santriawan dan santriawati di setiap pondok pesantren, guna dijadikan bahan untuk dibagikan kepada para guru dan siswa di Amerika setelah mereka kembali.

Selain tinggal selama sepekan di ponpes, Namji Steinemann bersama lima orang guru itu juga akan mengunjungi yayasan milik Romo Mangun guna mempelajari berbagai hal yang dikembangkan di yayasan tersebut.

"Kami juga akan bertemu para akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) serta berdialog dengan tokoh-tokoh politik guna membuka wawasan kami tentang kondisi politik di Indonesia," kata dia.

Berbagai hal yang dilakukan ini, menurut Steinemann, tidak lain adalah untuk menunjukkan bahwa sebenarnya bangsa Indonesia bisa berkembang atas inisiatif dan idenya sendiri dan bukan ide impor dari negara lain.

Namji Steinemann, bersama lima guru wanita dan berbagai wilayah di Amerika itu berada di Ambon selama empat hari dalam rangka memfasilitasi program Partnership for Schools Indonesia, yang melibatkan 25 siswa SMP Kristen Rehoboth dan 25 santri Pesantren Darul Quran Al-Anwariyah, Desa Tulehu, Kecamatan Salahutu, Pulau Ambon, Maluku Tengah dalam sebuah pertemuan dan interaksi sosial secara bersama.

Para siswa dari dua lingkungan berbeda itu sebelumnya telah menjadi sahabat pena dan saling menyurat dan berkenalan sejak awal Juli lalu, tetapi baru bertemu untuk pertama kalinya pada Senin (13/7) lalu.

Menurut Steinemann, di dunia pendidikan seringkali masalah perdamaian dibicarakan dan pertemuan yang dilakukan untuk 50 siswa dari dua lembaga pendidikan berbeda itu, dimaksudkan untuk menciptakan terwujudnya pengertian dan pemahaman diantara mereka. "Agama bukan faktor penghalang bagi anak-anak untuk bertemu dan berinteraksi sosial secara bebas," katanya.

Khusus mengenai Kota Ambon, tandasnya, awalnya dikenal melalui salah seorang guru pesantren yang sedang belajar di Hawaii, di samping ketertarikan akan untuk sejarah tentang pulau rempah-rempah yang menarik perhatian negara barat menjajah Indonesia.

"Wajar program ini dilakukan di Ambon karena selain positif bagi siswa dua komunitas, nama besar Ambon dan Maluku yang menyebabkan Columbus bisa menemukan benua Amerika. Colombus pernah tersesat sampai di Pulau Banda. Ini cerita menarik untuk diurai dan Banda adalah Bali di Maluku," kata Steinemann.(*)

"seed of friendship" Ambon

(Ditulis dalam perjalanan ke Cidokom yg macetnya bukan main krn perbaikan jalan)

Salah satu kenyataan yg membuka mata Guru2 AS tentang kualitas pendidikan pesantren adalah ketika program kolaborasi 2 sekolah di Ambon (pesantren Darul Qur'an salaf tingkat Wustho & SMP kristen Rehoboth) yg mempertemukan 50 murid (masing2 25) dalam 2 hari kegiatan "seed of friendship".

Dengan tidak mengenal satu sama lain sebelumnya kecuali melalui saling kirim surat kepada pasangan "sahabat pena" dari sekolah partnernya, mereka di libatkan dalam kegiatan2 ala pramuka, termasuk ice breaking, team working dan melukis masing2 harapan dari pasangan yang memaksa mereka mengenal satu sama lain tanpa membedakan agama mereka. Hal ini menjadi penting mengingat konflik berkepanjangan yang ada terkait isu agama (Islam & Kristen) dan misi program ini menyatukan kembali masyarakat utk hidup dgn damai.

Kualitas pendidikan pesantren terlihat jelas dalam sesi team working di hari kedua. Meskipun tidak saling kenal satu sama lain, terlihat jelas bahwa siswa2 dari Pesantren sangat dominan dalam leadership di masing2 grup yg sengaja dibentuk utk bercampur baur tanpa membedakan jenis kelamin atau agama. Secara umum, santri2 Darul Quran, terlepas dari tingkat ekonomi mereka, jauh lebih percaya diri, lebih inisiatif, lebih lepas, lebih tangkas secara sosial di hampir seluruh kegiatan. Hal ini terlihat secara mencolok oleh guru2 AS yg menjadi pengawas.

Walhasil, hal2 kecil tersebut diatas bisa merubah persepsi mereka tentang pesantren (dan Islam).

Terbukti, sesaat mendengar Jakarta di bom dan banyaknya WNA yg jadi korban, simak jawaban mereka ketika saya tanya apakah mereka takut dan khawatir dan apakah mereka akan membatalkan rencana homestay mereka di pesantren; "kami tidak takut sama sekali dan kami merasa aman berada dibawah naungan pesantren".

Wednesday, July 22, 2009

Uncovering Indonesia; East West Center-Darunnajah Summary

Uncovering Indonesia; Program kerjasama East West Center dengan Darunnajah



Susan Buchan (51) adalah salah satu dari enam Guru USA yang merasakan “nyantri” di pesantren Cipasung, Tasikmalaya selama seminggu. Dia tinggal disalah satu host family pesantren, Ibu Ida yang juga ustadzah di pesantren tersebut. Tidak hanya mengajar di kelas, Susan yang menjabat guru BP (Pengasuhan santri) di sekolahnya di Ann Harbour, Michigan tersebut juga mengikuti dengan seksama kegiatan khas pesantren, pecan Khutbatul ‘Arsy di Cipasung yang menampilkan seluruh kegiatan santri tersebut. Saking terkesimanya dengan dinamika kehidupan pesantren, Susan pun berencana akan mengusulkan kegiatan serupa di sekolahnya kelak ketika kembali ke Michigan, USA.

Pengalaman serupa juga dialami oleh 5 guru AS lainnya. Mereka berasal dari Negara bagian berbeda di USA dan homestay di pesantren-pesantren berbeda di pelosok Indonesia dari mulai Madinatunnajah di Serang, Al-Ikhlas di Kuningan, Cipasung di Tasikmalaya, Matholi’ul Falah asuhan Kiai Sahal Mahfudz di Pati hingga Darul Furqon di Lombok.

Sejak 8 July hingga 25 July ini, guru-guru AS tersebut bersama-sama mengikuti program Travel & Teach 2009 yang bertemakan: Uncovering Indonesia. Program ini adalah program yang dilaksanakan oleh East West Center, lembaga riset dan beasiswa yang didanai oleh Kongress Amerika yang berkantor pusat di Hawaii dan Darunnajah International Relations Office (DIRO) sebagai host partner.

Sebelum homestay, guru-guru tersebut juga berkunjung ke Ambon untuk melaksanakan program “seed of friendship”, program yang berusaha menanam benih persahabatan bagi generasi muda Ambon yang sempat terpecah karena konflik berlatar belakang agama tersebut. Selain itu, banyak variasi program lainnya seperti exploring spices in Banda Island, kunjungan ke situs-situs bersejarah dan pendidikan di Yogyakarta termasuk Borobudur, Legacy of Romo Mangun, ICRS UGM bahkan mengikuti jama’ah maiyah interaktif Cak Nun dan Kiai Kanjeng di Kasihan Bantul.



Menurut Direktur Program tersebut, Namji Steinemann dari East West Center tujuan program ini adalah diharapkan bahwa sekembalinya dari Indonesia, guru-guru tersebut bisa memuaskan antusiasme anak murid mereka yang ingin mengetahui lebih jauh wajah Indonesia yang sesungguhnya. Beliau menambahkan, antusiasme tersebut sangat dipengaruhi oleh kenyataan bahwa rakyat Amerika kini memiliki presiden yang ada kaitannya dengan Indonesia, Barack Obama.

Meskipun program ini banyak mengupas keterkaitan sejarah dan kebudayaan dan keterkaitan kurikulum sekolah-sekolah di USA dengan Indonesia secara luas, dalam program ini pesantren tidak hanya menjadi vocal point, tetapi juga menjadi partner kerja yang dipercaya.

In-country coordinator program ini, Ustadz Dedy dari Darunnajah menjelaskan kenapa Darunnajah menerima tawaran menjadi host partner adalah karena program ini sejalan dengan visi dakwah lembaga ini. Diharapkan, dengan membantu memfasilitasi keinginan yang kuat dari masyarakat dunia, khususnya rakyat Amerika, yang memandang Indonesia adalah Negara Muslim yang sangat strategis dan bisa menampilkan wajah Islam moderat (ummatan wasathon) yang bersahabat.

Efektifitas dan keberhasilan program ini bisa disimak dari jawaban spontan guru-guru tersebut ketika mendengar adanya Bom di Jakarta beberapa waktu lalu; “kami tidak khawatir sama sekali karena kami merasa aman berada di lingkungan pesantren”.

Raja Mamala, Ambon



Raja Mamala (Abdullah) dari jazirah Lehitu di Ambon yg seluruh penduduknya adalah Islam sedang menunjukkan rempah2 (lada) kpd rombongan EWC. Hukum adat lokal masih berlaku disini.

Orang2 Lehitu inilah yg menjadi inti dari masyarakat muslim Ambon yg berani melawan penjajah belanda dan mengusir mereka dari Ambon. Mereka pula yg menjadi pasukan barisan paling depan ketika konflik Ambon yg sangat ditakuti lawan.

Didinding rumahnya terdapat foto sdg diterima SBY dan Kalla, jg sdg berada di Swedia. Ternyata beliau adalah ketua asosiasi Raja2 Ternate yg juga jadi tokoh utama perdamaian Ambon di Malino.

Rombongan EWC sangat antusias bisa bertemu "King" dan memakai toilet dirumahnya. Mereka jg menanyakan no.hp-nya beliau, karena; jarang2 punya no telp seorang Raja. Bahkan Barbara jg sempat bertanya apa sang Raja juga punya account facebook! Haha.. Emangnya Kiai Darunnajah? Hehe..

Sent from BlackBerry® smartphone min fadhli Rabbii..

Uncovering Indonesia; East West Center-Darunnajah

Here's the link of program that we organized currently: Uncovering Indonesia.
http://forum.eastwestcenter.org/2009p4s/

Sunday, December 21, 2008

Pesantren Development through the eyes of Greiner

Pernah dengar adagium dalam dunia pesantren yang menyatakan bahwa biasanya Kiai membawa mati pondoknya? Adagium ini mengacu banyaknya kasus Pondok Pesantren yang mati seiring dengan kematian Kiai pendiri.

Tulisan ini mencoba mengupas kenapa banyak Pesantren- terutama yang dikelola secara tradisional- gagal melewati masa-masa kritis di dalam perkembangannya melalui kacamata Management.

Phases of Growth model yang dikemukakan L.E.Greiner melalui tulisannya “Evolution and revolution as organizational growth”, (1972) mungkin bisa membantu menjelaskan bagaimana perkembangan sebuah organisasi dan lazim dipakai didalam menganalisa tipikal masalah yang dihadapi oleh bermacam organisasi, termasuk didalamnya Pondok Pesantren.

Model yang dikembangkan Greiner membagi perkembangan organisasi menadi beberapa tahapan -layaknya pertumbuhan seorang anak- dan mendeskripsikan tipikal permasalahan yang biasanya terjadi di tiap tahapan.

Dalam model seperti dibawah ini, ukuran perkembangan organisasi di kaitkan pada dua ukuran; size and age. Besar kecil organisasi dan lamanya beroperasi.





Tahap pertama

Tahap pertama adalah ketika ukuran organisasi masih kecil dan bahkan berada dalam tahap embrio. Pada tahap awal perkembangan organisasi ini, biasanya tidak banyak sumber daya (resources) yang terlibat. Modal finansial, manusia dan asset yang terlibat masih terbatas. Ukuran organisasi belum terlalu besar sehingga permasalahan yang ada masih belum terlalu komplek.

Dalam tahap awal ini, krisis yang biasanya terjadi berkaitan dengan kualitas kepemimpinan atau leadership. Kepemimpinan adalah konsep yang luas, tetapi ada perbedaan mendasar dari leader dan manager. Leaders doing the right thing while Managers doing things right.

Lalu, kualitas manajerial apa yang paling berperan dan dibutuhkan untuk melewati tahap ini?

Greiner berpendapat bahwa untuk bisa berkembang, kualitas yang paling dibutuhkan dalam tahap awal ini adalah kreatifitas. Konsep yang baik. Ide. Dalam dunia pesantren, konsep dan blueprint perjuangan melalui pendidikan Islam.

Dalam dunia bisnis, di tahapan inilah para truly entrepreneur and truly leader berperan. Ide bisnis bisa sangat berharga dan bisa dijual ke para investor, banking dan business angels. Business plan is the most crucial thing in this stage.

Bisa dibilang, inilah yang menjadi era favorit bagi para entrepreneur atau dalam dunia pesantren, Kiai. Kenapa?. Menurut penulis, inilah tahap yang juga lekat dengan tahap entrepreneurship. Tahap wirausaha yang membutuhkan kualitas kepemimpinan dan kewirausahaan yang berkaitan erat dengan kreatifitas dan ide

Dalam tahap ini, sang entreprenur atau sang Kiai dituntut memiliki kualitas kepemimpinan yang tinggi. Bekerja dengan sumber daya yang terbatas, menempatkan orang yang tepat di posisi yang tepat, mendidik organisasi untuk terus belajar dan selalu mencari jalan keluar yang kreatif dalam menyelesaikan tantangan yang ada hanyalah sebagian tugasnya.

Berat memang, tapi dilain pihak inilah saatnya sang entreprenur atau sang Kiai menikmati saat-saat mempunyai kendali penuh atas organisasi yang didirikannya. Skala organisasi yang masih kecil memungkinkan untuk dipegang oleh hanya segelintir orang dengan pola sentralistik. Begitupun dengan pola komunikasi dan pengambilan keputusan yang tersentralistik di Kiai.

Dalam kasus Pesantren Darunnajah, tahap-tahap ini berada pada awal rintisan tahun 70-an. Pesantren Darunnajah dirintis oleh seseorang yang memiliki ide dikepalanya, Kiai Haji Abdul Manaf. Blueprint perjuangan dan konsep pendidikan ada di memorinya. Pada perkembangannya, operasionalnya diserahkan kepada managing director sekaligus mantunya, Ust Mahrus muda. Kiai sebagai leader-lah yang mempunyai visi kemana organisasi akan menuju.

Pada awal-awal perkembangannya sekitar tahun 1974 dan setelahnya, tanah seluas 6 hektar pun mayoritas hanya terisi oleh pohon jinjing. Bangunan pun bertambah sedikit demi sedikit dan bukan simsalabim menjadi gedung nan megah seperti sekolah-sekolah elit nan mahal yang akhir-akhir ini banyak bermunculan. Modal pun hanya terdiri dari tanah kosong dan harta pribadi, termasuk cincin kawin atau mesin jahit sang istri.

(to be continued)

Thursday, November 20, 2008

Dunia Blog di Pesantren; sebuah catatan



Mungkin ini salah satu bukti internet menjadi pesaing kuat Televisi sebagai media paling berpengaruh. Jangkauan jejaring maya memang tidak kenal lelah mewarnai pola berkomunikasi.

Lihat saja, jauh di tengah kebun sawit di Pesantren Annakhil, Muko-muko, 5 jam perjalanan dari kota Bengkulu, satu jam dari jalan aspal terdekat, Ustadz Sifrul sibuk mengutak-atik laptopnya karena harus mengupdate laporan perkembangan pendidikan di lembaga yang baru memiliki 50 orang santri itu. Laporan itu harus dikemas didalam bentuk berita di webblog yang ia buat beberapa bulan yang lalu.

Keringat bercucuran bukan karena lelah mengajar, tetapi karena ia sedikit panik, sebentar lagi genset satu-satunya yang menjadi sumber pasokan listrik itu akan kehabisan solar, padahal, pihak pusat sudah wanti-wanti laporan harus segera diupload karena akan dilaporkan kepada pihak Yayasan.

Pondok Pesantren, lembaga pendidikan berbasis agama Islam yang tumbuh dan besar di Indonesia, mulanya dikenal sebagai institusi yang terkesan tertutup. Penulis sempat berdiskusi dengan beberapa personil dari Komite Perlindungan Anak yang intinya mengeluhkan kesulitannya mendapat akses masuk ke dunia pendidikan pesantren.

Banyak hal yang menyebabkan kenapa Pesantren terkesan menutup diri. Mulai dari gaya hidup ‘uzlah’ yang dipilih, pendidikan ala protective boarding school yang sengaja dibentuk, atau bahkan karena ada jarak antara dunia pesantren yang kental dengan independensi dan kewirausahaan dengan pihak yang berkuasa (pemerintah dalam hal ini kementrian pendidikan)

Namun, itu cerita lama, Pesantren kini mulai membuka dirinya.

Beberapa Ustadz yang saya kenal kini memiliki setidaknya email, sebagai media berkomunikasi. Di beberapa pesantren modern, terutama yang berada di perkotaan, seperti Darunnajah, malah menganjurkan para asatidznya, untuk memiliki ‘kapling’ di dunia maya. Setidaknya yang gratisan, seperti Blog.

Macam-macam respondnya. Ada yang kebingungan, kebanyakan mereka yang sudah senior dan agak gagap teknologi. Namun ada pula yang menyambut antusias. Apalagi setelah mereka tahu manfaatnya.

Selain dianggap bisa jadi ajang latihan menulis atau sharing, menurut para ustadz, blog bisa dijadikan bukti untuk meningkatkan point sertifikasi. Belum lagi kalau blog mereka rajin dikunjungi oleh pembaca, bisa menambah penghasilan mereka lewat fungsi advertisingnya.

Pihak pembuat kebijakan di Pesantren pun antusias mendorong program ini. Selain bisa menjadi ajang latihan meningkatkan kualitas tadi, Pesantren pun bisa lebih mudah di akses oleh banyak pihak, terutama mereka yang ingin lebih tahu dunia pesantren.

Maklum, macam-macam isinya blog ustadz itu. Ada yang jadi tempat memarkir soal-jawaban dan kisi-kisi pelajarannya. Ada pula yang jadi diary para ustadz yang tentunya menarik dibaca oleh para santrinya karena bisa melihat sisi kemanusiaan dari para ustadznya yang notabene terdapat gap di keseharian mereka.

Tak jarang beberapa ustadz yang kritis menggunakan blog sebagai ajang menyampaikan kritikan mereka.

Pengasuh pesantren pun harus mulai merubah sikap dan tradisi mereka. Tidak ada lagi budaya Kyai selalu benar dan bersih dari kritikan. Akuntabilitas pengelolaan pesantren pun menjadi komoditas yang harus siap di sharing dengan para stake holders. Hal ini terutama terjadi di beberapa Pesantren yang menerapkan manajemen modern dalam pengelolaannya, seperti Darunnajah contohnya.

Sepertinya, halangan terbesar dari budaya modern, termasuk keterbukaan dan kebebasan Informasi adalah budaya tradisional pesantren itu sendiri. Benturan budaya inilah yang menjadi tantangan dunia pesantren itu sendiri. Sampai mana batas-batas kebebasan menyampaikan informasi? Bagaimana menggabungkan budaya uwuh pakewuh yang kental di dunia pesantren dengan budaya blogging yang mengagungkan kebebasan berpendapat? Sejauh mana batas-batas privasi yang bisa di akses oleh publik?

Terlepas dari itu semua, internet dan blogging bisa menjadi alternatif yang menarik untuk bisa menjawab tantangan Pondok Pesantren.

Blogging bisa menjadi pilihan menarik untuk dalam hal keterbukaan sehingga tidak saja menghilangkan tuduhan miring dan kecurigaan yang tidak beralasan dari beberapa pihak, terutama terkait dengan isu terorisme.

Blogging pun bisa menjadi tools of education yang efektif, terutama dalam mengembangkan kualitas pendidik dan juga anak didik. Seperti yang kita tahu, internet dan tetek bengeknya adalah hal yang lazim diketahui oleh generasi kedepan untuk bisa bersaing. Dan blogging adalah salah satu tools yang paling menarik karena bisa melatih kemampuan menulis, berfikir kritis, berargumentasi dan bersikap terbuka.

Lebih jauh, blogging, jika diseriuskan, bisa menjadi lumbung penghasilan tambahan untuk para asatidz, guru, pendidik maupun santri dengan hanya bermodalkan sedikit sentuhan kreativitas. Dan tentunya, ini secara tidak langsung akan membantu dunia pendidikan secara keseluruhan, tidak terkecuali Pesantren dan meringankan beban pemerintah.

Apa yang bisa dilakukan oleh pemerintah adalah dengan memberi kesempatan yang sama dengan dunia pendidikan umum kepada dunia pesantren didalam meningkatkan kemampuan mengelola Teknologi Informasi sehingga keterbukaan menjadi hal yang lazim di lingkungan itu.

Kunjungan Tony Blair ke Darunnajah, Condoliza Rice, Perdana Menteri Holland, Pangeran Charles ke Krapyak dan masih banyak lagi yang menjadi bukti bahwa informasi tentang dunia pesantren masih jauh dari cukup sehingga mereka merasa perlu untuk menyaksikan langsung ke Indonesia.

Friday, October 24, 2008

Give, not take

Terhenyak diriku mendengar kalimat Pri GS dalam program refleksi di Smart FM semalam.. Ciri-ciri orang besar adalah SIBUK mengurus kepentingan ORANG LAIN.. kalimat itu begitu menghujam di benakku. Adakah manusia-manusia berjiwa besar di zaman seperti ini? Kuharap.. Allahumma'jalnaa min 'ahlillkhoir.. Khoirunnasi llazii 'anfa'uhum linnaas..

Sunday, August 31, 2008

DN Santripreneurs


Yup! I've made a simple proposal about the Santripreneurs, hopefully it can be started next semester in Darunnajah, if it's approved of course.. 

DN Santripreneurs

Santripreneurship; Santri + Entrepreneurship

It was very exciting moment for me. I thought it wasn't since US Embassy has a long collaboration with the pesantren for so many visits. But this time, I admit this one is different. He's  Harry G Harris, entrepreneur and the president of Health Care of California (www.healhtcal.com). 


We had very interesting conversation about entrepreneurship. He's friendly, smart, humble, success, funny and most important, He's entrepreneur! He's a damned successful business man with a quite renowned track for management which you can see at http://www.harrygharris.com/ 

He also kind of social entrepreneur by founding a Harry G Harris Foundation.The thing that more people should do. Anyway, at the end of the visit and mostly listening to my explanation about the pesantren, he impressed with how the pesantren survive and agree that pesantren Darunnajah and most of other pesantrens in Indonesia has a deep rooted entrepreneurial spirit. 

Santri menurut sejarahnya adalah sebuah gen kreatif dari Bangsa Indonesia. Bahkan, lembaga pesantren, yang proses kelahirannya biasanya dimulai from nothing bermodal sumber daya milik Kiai, adalah sebuah proses kewirausahaan itu sendiri. Lebih luas lagi, menurut data yang diambil dari Majalah Gatra edisi khusus 2005, kaum santri  merupakan tulang punggung penggerak ekonomi rakyat pada masa awal kemerdekaan. Contohnya bisa jelas terlihat dalam sejarah koperasi batik di kota Pekalongan,

Didalam kehidupan pesantren modern saat ini, Entrepreneurship menjadi salah satu kekuatan dari sistem pendidikannya. Hal tersebut terkait erat dengan pola asuh santri dalam beragam kegiatan extra kurikuler yang melatih beragam kecerdasan. Terlebih pendidi kan di pesantren juga mengedepankan sikap hidup sederhana dan mandiri, sikap yang utama sebagai entrepreneur. Salah satu doktrin yang selalu ditekankan oleh KH.Imam Zarkasyi, Kiai Gontor kepada santrinya adalah”Anda boleh menjadi pegawai, tetapi jangan pernah punya mental pegawai”.

Doktrin tersebut bisa dimengerti karena hidup ‘ala pegawai adalah hidup yang cenderung jumud, pasif dan sekedarnya, suatu gaya hidup yang bertolak belakang dengan Dunia kewirausahaan. Dunia kewirausahaan adalah dunia untuk mereka yang berani (kadang terpaksa) kreatif, imajinatif, penuh kedisiplinan, mandiri, tidak takut akan tantangan dan memerlukan kerja keras, Dunia yang juga dijalani oleh Rasulullah SAW ketika mudanya.

Namun, bicara Entrepreneurship bukan hanya melulu tentang bagaimana berdagang atau berbisnis. Lebih dari itu, entrepreneurship berkaitan erat dengan kreatifitas, kepemimpinan, kemandirian, kecerdasan sosial emosional dan sikap hidup produktif yang bisa dilatih kepada generasi muda sejak dini. 

Atas dasar tersebut, I'm thinking of idea to establish a kind of extracurricular activity, sebuah wadah pembinaan bagi Santri Darunnajah yang mempunyai minat dan bakat kewirausahaan: DN Santripreneurs.

DN Santripreneurs berasal dari gabungan kata Santri dan Entrepreneurs. Kata Santripreneurs Menggabungkan jiwa Santri dan jiwa Entrepreneurship.


So, what do you think?


p.s. I've heard this "Santripreneurship" term from my friend; Akbar, n I think I need to apply it to Pesantren as soon as possible since I believe this could become a next great thing 




Sunday, July 13, 2008

Runtuhnya Loyalitas Kiai Pesantren

Sebuah kritik yang mungkin bisa kita ambil sebagai cermin..

oleh Nasrulloh Afandi

imageAkhir-akhir ini, para kiai pengasuh pondok pesantren
--selanjutnya disebut kiai pesantren--, tidak lagi menyatu dengan
masyarakat, "sengaja" jaga jarak, tidak mau tau terhadap aktivitas
keagamaan masyarakat sekitarnya(di luar pesantren), terlena dengan
institusi pesantren yang "dikuasainya" saja.

Resikonya, kiai pesantren bukan lagi dari dan untuk(tumpuan pokok)
masyarakat, terang-terangan "mencampakkan" loyalitas bermasyarakat.
Apalagi kiai pesantren yang "membelenggu diri" dengan struktural ormas
keagamaan/parpol tertentu(meskipun belum jadi pejabat) ''mendewakan"
organisasi/parpol yang hanya menguntungkan pribadi atau maksimal
golongannya saja.

Muslimin "pedesaan" sejak lama sangat merindukan "belaian" para kiai
pesantren, sang kiai perlu (kembali) ikhlas mengabdi, bukan saja
religiusitas "di lapangan ibadah", tetapi juga mesti jadi teladan
konteks interaksi sosial bermasyarakat dan beberapa aspek kehidupan
lainnya.

Minimalnya (para kiai) mesti "ikhlas" mendekat, sebagaimana ketika
para kiai(pesantren) mendekati rakyat(pedesaan) dalam moment- moment
politis, mensukseskan figur tertentu dengan berbagai kepentingan
sempitnya itu. Cukup adil!

Stop, Jaga Jarak!
Sangat banyak fenomena dan problem keaagamaan ganas melanda, yang
semestinya menjadi "surat undangan resmi" menggugah "nurani
religiusitas" para kiai pesantren untuk segera kembali "turun gunung",
merapat kepada masyarakat sekitarnya. Untuk estafet upaya
menyelamatkan masyarakat dari maraknya ajaran-ajaran, gerakan
pemikiran-pemikiran dan berbagai aliran aneh(yang sebatas mengaku
Islam) akhir-akhir ini.

(Padahal) bebarengan dengan itu, para kiai pesantren sedikitpun tidak
akan mengikhlaskan munculnya jutaan ''kiai instant" alias kiai
karbitan dengan keroposnya fondasi keilmuan dan demi kepentingan
sempitnya, lancang menggarap Masyarakat yang lapar ''menu instant"
ibadah itu, "membajak proyek" para kiai asli.

Apalagi maraknya "kiai instant" nyata-nyata hanya bermodal nampang di
berbagai media meski banyak yang mendirikan pesantren akhir-akhir ini,
selain merapuhkan "taring" para kiai di hadapan komunitas
berpendidikan agama, mengkomersilkan agama, juga jelas sangat menjauhi
"jantung kota lapangan ibadah" masyarakat, sekaligus dominan
berkampanye (agar "kiai" berebut nampang di media) muaranya "berebut"
menjauhkan diri dari Muslimin pedesaan.

Apakah para kiai lupa, bahwa loyalitas dengan masyarakat sekitar
tempat tinggalnya, adalah identitas pengabdian para kiai?

Ataukah sengaja melupakan, bahwa ''Embrio'' kiai (dan pesantren)
tumbuh berasal dari estafeta "ayunan" aktifitas masyarakat sekitarnya.
Orisinilitasnya, ia lahir dan dibesarkan sekaligus alamiah (tanpa
meminta, tanpa adanya unsur intervensi dan rekayasa) dijadikan figur
panutan oleh masyarakat sekitarnya!?

Bukankah kiai/pesantren pun akan bubar atau tidak akan terwujud sama
sekali bila tanpa kepercayaan (terutama) berawal dari "aspirasi
rakyat" sekitarnya. Masihkah para kiai pesantren punya nurani atas
"jasa besar" masyarakat di sekitar lingkungannya itu?

Data Keangkuhan
Syah-syah saja jika para kiai (pesantren) ingin "jaga jarak" dengan
masyarakat, selagi masih dalam batasan-batasan tertentu. Setidaknya
perspektif tasawwuf untuk menjaga muru'ah (kharisma) sang kiai di mata
publik. Para ahli etika kemasyarakatan mendefiniskan: tawadzu' (rendah
hati) adalah menempatkan manusia sesuai posisi/kafabilitasnya, tidak
boleh merendahkan orang terhormat, atau sebaliknya.

Skandal yang kronis menjangkit, sedikitnya adalah :
Pertama. masyarakat sangat susah hanya sekedar untuk ketemu kiai
--apalagi para kiai (pesantren) praktisi ormas keagamaan-- kian
angkuh, berlomba saling mengagungkan diri(mu'adzom nafsah), dari
sikapnya seolah-olah tegas menyatakan:"Biarlah para 'kiai kampung'
saja yang mengurusi konteks ibadah masyarakat pedesaan". (Dari
sikapnya) terkesan beranggapan; "Derajatnya menjadi turun", bila
berkomunikasi dengan Muslim komunitas pedesaan.

Semangat menghadiri forum pengajian di berbagai hotel berbintang
laksana para "tokoh nasional", selalu saja menjauhi pengajian di
masjid-masjid pedesaan. Masyarakat pun harus menunggu cukup lama di
ruang tamu (bila bertamu kepada) kiai, identiknya menghadap pejabat
tinggi. Bahkan sering sang kiai pesantren tidak berkenan menemui,
karena tamunya dianggap ''tidak berkelas''.

Kedua: Kerap "menindas" dan (karena) memandang sebelah mata kepada
para "kiai kampung". Semua kiai kampung dianggapnya "orang pinggiran"
dan wajib menundukkan kepala di hadapan kiai pesantren.

Mereka tidak sportif mengakui; sangat banyak "kiai kampung" kualitas
ilmiahnya lebih bagus dan sangat banyak "kiai kampung" jaringannya
melebihi kiai pesantren, punya hubungan baik dengan para tokoh Nasioal
(di luar pesantren) Padahal banyak kiai pesantren hanya mendapat
warisan (mendadak) menjadi pengasuh (pesantren besar sekalipun) meski
kualitas ilmiahnya sering tidak jelas. Dalam sportifitas keilmuan,
mestinya kiai pesantren "kelas ini" tidak patut menghujat para kiai
karbitan yang marak di media itu.

Ketiga: Tak ubahnya pembodohan terhadap masyarakat secara
terselubung."Sang kiai" kian egoisme berlebihan, memelihara "status
quo" berpandangan kurang berkemajuan, ia kerap sensitif bila ada
masyarakat diasumsikan kurang menghormatinya.

Di benaknya ia (memaksa) harus "disucikan", selalu ingin memperoleh
penghargaan lebih dari masyarakat, seperti dicium tangannya dan
lainnya. Sedangkan sikap "sang kiai" yang sudah sangat jauh dari
masyarakat, tidak pernah (dirinya) berintrospeksi.

Keempat; Lupa introspeksi diri, merasa paling "suci". Sesama komunitas
kiai pun kian jaga jarak, egonya ingin selalu di-sowani (dikunjungi)
antar kiai-pun sering saling menggunjing, kiai "A" menggunjing kiai
"B" dan sebaliknya, tanpa malu gunjingan dijadikan ''hidangan'' untuk
para tamunya tak terkecuali masyarakat awam pun turut "dihidangi".

Selain faktor "berebut pengaruh", paling marak karena antara satu
dengan lainnya mengklaim dirinya masing-masing punya nilai lebih.

Kelima: Banyak kiai pesantren, tidak malu, berteriak-teriak
menyalahkan orang lain, bila ada masyarakat atau tempat ibadah "diover
alih" bimbingan ibadahnya, oleh figur dari ormas keagamaan lain
golongannya, padahal sang kiai itulah yang lebih dulu menjauhi masyarakat.

Contoh keangkuhannya; hanya (kiai) se-kelas "lurah" bergaya (jaga
jarak dengan masyarakat) meniru kiai "sekelas" Camat, kiai se-kelas
camat "protokolernya" meniru kiai "sekelas" bupati, dan seterusnya.

Termasuk banyak "kiai" (bertanda petik) sesama kawan bekas satu
almamater pendidikan pesantren (institusi religius) pun kerap jaga
jarak, karena menganggap pribadinya sudah jadi "kiai". Sesama
orang-orang bekas satu almamaternya masih tinggi ukhuwahnya lulusan
lembaga pendidikan non-pesantren.

Keenam: Gengsinya kian menjadi-jadi. Diantarnya, dengan tidak
memperhatikan aktivitas (ibadah) masyarakat sekitarnya itu, belakangan
ini, marak para kiai pesantren jalan-jalan ke luar negeri tak ubahnya
pejabat negara, ngakunya "studi bunding''.

Kesannya seperti ''kiai mendunia'', padahal sering tidak jelas
tujuannya, rekreasi, (harus merogo isi kantong) pribadi, tak jarang
menggunakan uang kas "koperasi" pesantrennya.

Ketujuh. Banyak terjadi, para kiai pesantren pun jauh dari pembangunan
ekonomi, tidak peduli dengan perekonomian masyarakat.

Contohnya saja, terjadi di banyak pesantren, perekonomian masyarakat
sekitarnya pun kerap "dihambat", masyarakat dipaksa dilarang hanya
sekedar membuka warung berjualan kepada para santri, dimonopoli oleh
warung-warung kiai se-keluarga. Tampaknya lupa, bahwa para santri
pesantren adalah mayoritas dari berbagai lapisan masyarakat. Alih-alih
kiai membantu, masyarakat malah dikebiri.

Kedelapan. (Yang paling) menggelikan, di sebagian daerah, banyak pula
figur kiai pedesaan(di luar pesantren) atau hanya kiai pesantren
sangat kecil, beramai-ramai turut "berpartisipasi" jaga jarak dengan
warga sekitar, meniru "protokoler" para kiai pesantren. Selain
maraknya kiai bersekretaris pribadi (meski kadang) belum kelasnya,
bisa jadi para kiai pun "nafsunya" bergemuruh ingin menyewa pasukan
berseragam untuk pengawal "dinasnya" layaknya para pejabat tinggi,
--biar "disegani" rakyat-- namun "kasihannya" terbentur beberapa hal.

Berwibawahkah?
Mungkin asumsinya, dengan berbagai sikap jaga jarak itu "harga
jualnya" meningkat di mata masyarakat, benarkah?

Dengan semakin meningkatnya pendidikan masyarakat, bersikap "jaga
jarak", selain mencampakkan substansi akhlak, menyempitkan gerak
(peran)nya komunitas kiai di tengah kehidupan masyarakat, juga
hanyalah memudarkan kharisma ke-kiai-an itu sendiri, di mata komunitas
berpendidikan khususunya, masyarakat pada umumnya. Kecuali di mata
sedikit orang sangat polos atau yang terjebak fanatis (ta'ashub)
"mengkramatkan" nenek-moyang, keluarga sang kiai tersebut.

Alhasil, kredibilitas akhlak ke-kiai-an kian buram. Tanggung jawab
(kesalihan) sosial orang-orang yang menganggap bahkan sering
memproklamirkan dirinya sebagai kiai atau Ulama (pewaris para Nabi)
itu, sangat tidak jelas. Masih patutkah mereka memposisikan dirinya di
kelas itu?

Bukankah Nabi SAW, sebagai manusia paling sempurna pun ikhlas
memposisikan semua ummatnya dari hamba-sampai raja adalah sama.
Justeru diantara (modal) penyebab banyak orang simpati, karena Nabi
SAW rendah hati, sangat dekat dengan berbagai kelas manusia
''bawahannya''.

Para "kiai", apakah tidak malu atas rendah hati Nabi Muhammad SAW?

Nasrulloh Afandi
Alumnus Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur, sedang studi di Maroko.
gusgaul@...

Wednesday, April 23, 2008

Ageing Population

I met one of my Chevening friends yesterday in Plaza Semanggi. It was lunch time n I miss that Bebek Peking in one of Chinese muslim restaurant in Bristol. Rice Bowl was our choice then. It was my fifth time to go to Mall since the last six months.

Sitting there in one of the most centrally located Mall in Jakarta, we realized there was quite different atmosphere from most UK Shopping Centres. Something missing from our shopping centres. And it's an eldery people! ya! orang tua!

kakek2 ompong, nenek2 bungkuk berambut putih, kakek nenek pengendara mobil batere nan imut, mereka mandiri, ramah senyum dan biasanya tak segan mengajak ngobrol dimana ada kesempatan persis Ibu Nenek Gendut Soraya, nenek gw tercinta.


Gw inget banget soalnya setiap hari berangkat ke kampus jam 10 pagi, itu bis yang gw tumpangin pastinya penuh dengan manusia lanjut usia~pensioners. Tinggal menunjukkan kartu Pensioner mereka n simsalabim, mereka bebas kemana saja. Sekumpulan nenek2 biasanya menuju city centre buat berburu barang2 murah di Charity shops dan bazar2 murah.

Lalu, kemana mereka dalam kasus Indonesia? Yaaa pengajian laahhhh... Maulid boo.. Malu sama cucuuu..

No, I mean, it's far more serious than that. It's describing how horrible and unfriendly really our transportation system is. Ga kebayang kan nenek2 bungkuk naek Kopaja di Jakarta? Bisa2 tewas jantungan ngeliat copet beraksi di depan mata mereka, atau tumbang ketika mengejar ngejar Metro Mini yang zig-zag.

It's also describing the social structure of family in two different cultures. Cucu dan bahkan anak bukanlah milik mereka orang tua yang hidup dibudaya barat. Orang tua hanyalah media yang melahirkan mereka. Tidak ada kewajiban mengurus orang tua seperti konsep yang kita kenal dalam budaya barat dan Islam. Tidak ada kewajiban membalas kebaikan mereka. Tempat orangtua ketika mereka tidak berdaya adalah Panti Jompo. That's it. They're just like a baby. Fragile, spoil, burden, tak berdaya. Nyusahin!

Tetapi justru disitulah salah satu kelemahan terbesar masyarakat dengan budaya yang mereka anggap Modern. Budaya barat. Budaya sex bebas. Budaya individualis. Budaya yang sebagian dari kita menganggapnya budaya paling superior.

Seketika mereka sadar bahwa konsep menikah dan memiliki anak adalah sebuah beban dan tidak memperdulikan mereka sesaat mereka lulus SMA, kenapa repot susah2 membesarkan anak? who cares anyway? cuma bikin susah! mahal pula.. lebih baik duitnya dipakai buat seneng2. Plesiran, expedisi, touring.

Kebayang kan suatu hari nanti mereka akan bingung bahwa generasi mereka berkurang? dan itulah kenapa terjadi fenomena "ageing population". Populasi yang menua. Kekurangan generasi produktif karena setiap dari mereka tidak menginginkan anak terlalu banyak. SEBALIKNYA, orang2 imigran yang masuk, yang notabene berasal dari negara2 timur tengah dan Afrika, beragama Islam, berlomba2 membuat anak yang banyak sesuai anjuran agama mereka. Nah loh!

sudah tergambar skenario besar Tuhan kan? it's only a matter of time brother...

Tuesday, April 22, 2008

Trouble with Islam Today

Perasaan gamang yang hinggap dikepalaku begitu mengusikku sehari kemarin ketika aku mendapati kenyataan bahwa aku duduk sebagai seorang interpreter dari Irshad Manji, pengarang buku "the trouble with Islam Today" di acara launching buku terjemahannya "Beriman Tanpa Rasa Takut" di Perpustakaan Nasional.

Kenyataan minor pertama adalah bahwa aku bukanlah seorang interpreter yang baik. Aku mungkin telah hidup lebih dari 2 tahun di negeri biangnya bahasa ini dan lumayan fasih memahami dan berbicara dalam bahasa Inggris. Tapi, untuk menginterpretasi dan lalu menyampaikannya langsung didepan khalayak ramai it's totally different matter. Perlu kecerdasan Linguistik yang tinggi dan kusadari memang sejak duduk dibangku sekolah menengah kalau kecerdasan Linguistik bukanlah bakatku. Keberadaanku disana hanyalah kesediaanku membantu temanku sebagai penyelenggara. Ini kesempatan kedua aku menjadi interpreter di level nasional dan aku nyaris menghancurkan keduanya. Ditambah bidang yang dibahas adalah bidang yang sebenarnya asing dan tidak menarik bagiku, Gender equality. And the silly thing is, I haven't even read the speaker's book! Gosh! it was really hard day for me. Since then, my head keep telling me, that's enough for interpreting business. And anyway, I think I'm not supposed to be interpreter but it is Me (an Inspiring leader to be, Amieeeeeen...) the one whom supposed to be a speaker and be interpreted! (well, of course in the field I master in)

But more important thing is the content of the talkshow it self. One of the most important issues in the forum is Ijtihad. Surely it's very significant aspect of Islam. Islam was mastering highest position in knowledge lead by Ijtihad. Peradaban-peradaban Islam paling membanggakan ketika kaum muslim di masa kejayaannya menguasai lebih dari setengah daratan dunia dihasilkan dari proses ijtihad para pemikir dan intelek muslim. Hampir seluruh bidang karya tertinggi, science masterpieces, best Legal principles, dihasilkan oleh Ummat melalui proses Ijtihad. Ibnu Rusyd, Ibn Sina, Imam 4 Mahzab adalah beberapa contoh. Eropa dan dunia barat mendapat pencerahan pada era renaissance setelah menikmati hasil proses ijtihad pemikir2 muslim abad pertengahan melalui transormasi pengetahuan kepada mahasiswa2 mereka di universitas2 Islam di pesisir selatan Eropa.

Lalu pertanyaannya: Kemana hilangnya budaya ijtihad dari ummat Islam? kenapa justru dizaman informasi technology yang menghilangkan batas fisik dunia ini, banyak sebagian ummat Islam yang mundur selangkah kebelakang dengan meninggalkan budaya ijtihad? apa sebenarnya yang terjadi? semakin malaskah ummat?

Aku pribadi setuju bahwa pintu dan budaya ijtihad harus dikembalikan didalam budaya ummat Islam. Reinterpretasi dan dialektika permasalahan2 yang ada diummat in some extent harus kembali dibahas. Banyak permasalahan dunia era teknologi yang masih berada di wilayah abu-abu dan tidak terjamah hukum Islam. Tapi, siapa yang bertanggung jawab akan masalah ini? apakah setiap orang berhak berijtihad? ataukah ada syarat2 tertentu untuk bisa berijtihad? pertanyaan2 ini berujung pada satu pertanyaan yang berkaitan dengan Irshad Manji; siapa yang berhak untuk berijtihad?

Salah satu ketidak setujuan fikiranku dengan Irshad Manji adalah dengan pernyataan bahwa setiap orang berhak untuk berijtihad. Mungkin ia tidak mengatakannya secara explisit, tapi sebagai buktinya, ia sendiri merasa berhak berijtihad dan maka lahirlah buku yang ditulisnya sebagai hasil ijtihad.
Fikiran ini menurutku sangat berbahaya.
Bahkan jika ditinjau dari sisi manapun, akademikkah atau tidak, fikiran ini menurutku tidak logis.
Bayangkan jika pintu ijtihad dibuka untuk siapapun dan semua orang berlomba-lomba untuk berijtihad, bukankah bisa dibayangkan akan timbul kekacauan karena banyak hasil2 ijtihad yang tidak karuan, karena pada dasarnya manusia cenderung kepada hawa nafsunya. Batasan-batasan dan syarat-syarat haruslah terpenuhi sebelum seseorang bisa berijtihad. Kualifikasi akademik maupun kualitas dan integritas personal menjadi syarat mutlak tidak saja bagi mujtahid bahkan pada siapa saja. Hal tersebut terekam baik dalam kisah2 periwayatan hadits Rasul, dimana level validitas hadits bisa berkurang seiring dengan kurangnya integritas para perawi.

Bukankan berlaku juga dinegeri maju, bahwa setiap permasalahan haruslah dikembalikan pada ahlinya, apalagi jika itu menyangkut kemaslahatan banyak orang? bukankah budaya referensi untuk scholar2 mutlak menjadi ukuran di lingkungan universitas barat hingga saat ini? lalu kenapa seorang Irshad Manji yang tidak menguasai bahasa arab sama sekali (bahasa dimana AlQuran diturunkan) dan juga mungkin karena itu tidak mengerti sepenuhnya konteks lingkungan asbabun nuzul ayat2 alQuran berani berijtihad, seperti misalnya menganggap Homosexual diperbolehkan dalam Islam? bukankah ia sendiri salah satu yang mendukung bahwa Al-Quran harus di reinterpretasikan sesuai konteks zamannya? bukankah seharusnya seseorang harus bisa terlebih dahulu menginterpretasi sebelum meng re-interpretasi? (gosh! I really hate this interpretation business!)

Tapi, terlepas dari pertanyaan2 itu, aku sendiri merasa kecewa dengan kualitas pribadiku dan lingkunganku akan budaya critical thinking sebagai salah satu elemen ijtihad itu. Pendapatku justru mengatakan bahwa di critical thinking itulah sumber permasalah ummat Islam saat ini.

Pendidikan yang salah kaprah! dan semua ini berawal dari sistem pendidikan di negeri ini yang terlalu berorientasi pada "HASIL" dan bukan "PROSES"! Hasil UN jauh lebih penting daripada minat membaca. Nilai IPK jauh lebih keramat daripada keahlian berfikir kritis. Menghapal pelajaran jauh lebih mulia daripada berkreasi dengan penuh imajinasi.

padahal bahkan Einstein sendiri berkata bahwa " Imajinasi jauh lebih penting daripada Ilmu pengetahuan itu sendiri"

Perasaan itu terus terang mengusik hidup tenangku dan menimbulkan banyak pertanyaan.
Kesalahan siapa ini? Salahkah aku dan mereka yang tidak mempunyai pertanyaan2 kritis? bodohkah aku karena seingatku aku trauma berpendapat karena cemohan bapak guru di sekolah dasar dulu di ruang kelas di pelajaran matematika sesaat aku memberanikan mengangkat tangan dan ternyata memberi jawaban yang salah versi bapak guru?

Friday, April 11, 2008

Belbin's Team Role in Pesantren


Last night was interesting night of my big family and a good example of how traditional pesantren inner environment face typical regeneration problem. As been recognized from time to time, regeneration (Kaderisasi) is always be a major problem for any family type organization. Many examples of how this kind of problem could bring the pesantren down to the lowest level. Incapability, internal conflict, instant generation and hilangnya idealisme perjuangan were some major causes.

There was a serious discussion last night about next generation taking responsibility. Who should responsible which part and so on. Well, in my opinion, it is one of the leader's (in this case; kiai, pimpinan) hardest job descriptions to be implemented; to put the right person in the right place, including the hardest part to be organized, inner family. What management theory could offer to solve the problem?

First of all, of course, the objectivity and clear perspective of the decision maker; kiai. To clearly see and honestly value the real capability of even their own son and relatives are significant. It is part of "adil" quality of the leader. Even Allah answers Nabi Ibrahim's questions in Al-Baqoroh 124 by excluding the dzolimin from His promise.

Secondly, to put the right person in the right place. It is unrealistic to put all of the human resources in a single position. One has their own uniqueness quality. I might good in teaching but not my brother. He might brilliant in selling but not to concept a strategy. It is truly fine art to see people's capability yet it's not a rocket science.

How people unique position in terms of team working (pesantren is really team working really) could be explained by management terms. One of widely used theory of how team works is known as Belbin's Team Role.

Cited from Wikipedia, The Belbin Team Inventory, also called the Belbin Self-Perception Inventory or the Belbin Team Role Inventory, is a test used to gain insight into an individual's behavioural type. It was developed by Dr. Meredith Belbin after studying numerous teams at Henley Management College.

The Belbin Team Role Inventory assesses how an individual behaves in a team environment. It is therefore a behavioural tool, subject to change, and not a psychometric instrument. The test includes 360-degree feedback from observers as well as the individual's own assessment of their behaviour, and contrasts how they see their behaviour versus how their colleagues do. the Belbin Inventory scores people on how strongly they express traits from 9 different Team Roles.An individual may and often does exhibit strong tendencies towards multiple Roles. Belbin himself asserts that the Team Roles are not equivalent to personality types

The Roles

Plant

Plants are creative, unorthodox and a generator of ideas. If an innovative solution to a problem is needed, a Plant is a good person to ask. A good plant will be bright and free-thinking. The Plant bears a strong resemblance to the popular caricature of the absentminded professor-inventor, and often has a hard time communicating ideas to others.

Resource Investigator

The Resource Investigator gives a team a rush of enthusiasm at the start of the project by vigorously pursuing contacts and opportunities. He or she is focused outside the team, and has a finger firmly on the pulse of the outside world. Where a Plant creates new ideas, a Resource Investigator will quite happily steal them from other companies or people. A good Resource Investigator is a maker of possibilities and an excellent networker, but has a tendency to lose momentum towards the end of a project and to forget small details.

Coordinator

A Coordinator often becomes the default chairperson of a team, stepping back to see the big picture. Coordinators are confident, stable and mature and because they recognise abilities in others, they are very good at delegating tasks to the right person for the job. The Coordinator clarifies decisions, helping everyone else focus on their tasks. Coordinators are sometimes perceived to be manipulative, and will tend to delegate all work, leaving nothing but the delegating for them to do.

Shaper

The shaper is a task-focused leader who abounds in nervous energy, who has a high motivation to achieve and for whom winning is the name of the game. The shaper is committed to achieving ends and will ‘shape’ others into achieving the aims of the team.He or she will challenge, argue or disagree and will display aggression in the pursuit of goal achievement. Two or three shapers in a group, according to Belbin, can lead to conflict, aggravation and in-fighting.

Monitor Evaluator

Monitor Evaluators are fair and logical observers and judges of what is going on. Because they are good at detaching themselves from bias, they are often the ones to see all available options with the greatest clarity. They take everything into account, and by moving slowly and analytically, will almost always come to the right decision. However, they can become excessively cynical, damping enthusiasm for anything without logical grounds, and they have a hard time inspiring themselves or others to be passionate about their work.

Teamworker

A Teamworker is the oil that keeps the machine that is the team running. They are good listeners and diplomats, talented at smoothing over conflicts and helping parties understand each other without becoming confrontational. The beneficial effect of a Teamworker is often not noticed until they are absent, when the team begins to argue, and small but important things cease to happen. Because of an unwillingness to take sides, a Teamworker may not be able to take decisive action when it is needed.

Implementer

The Implementer takes what the other roles have suggested or asked, and turns their ideas into positive action. They are efficient and self-disciplined, and can always be relied on to deliver on time. They are motivated by their loyalty to the team or company, which means that they will often take on jobs everyone else avoids or dislikes. However, they may be seen as close-minded and inflexible since they will often have difficulty deviating from their own well-thought-out plans.

Completer Finisher

The Completer Finisher is a perfectionist and will often go the extra mile to make sure everything is "just right," and the things he or she delivers can be trusted to have been double-checked and then checked again. The Completer Finisher has a strong inward sense of the need for accuracy, rarely needing any encouragement from others because that individual's own high standards are what he or she tries to live up to. They may frustrate their teammates by worrying excessively about minor details and refusing to delegate tasks that they do not trust anyone else to perform.

Specialist

Specialists are passionate about learning in their own particular field. As a result, they will have the greatest depth of knowledge, and enjoy imparting it to others. They are constantly improving their wisdom. If there is anything they do not know the answer to, they will happily go and find it. Specialists bring a high level of concentration, ability, and skill in their discipline to the team, but can only contribute on that narrow front and will tend to be uninterested in anything which lies outside its narrow confines.


Those are the team roles and could be used as guidance of how Kiai and pimpinan could categorize people around. It is useful really to see people's from their capacity, tendency and capability. They might want their son to be Kiai after replacing him, but it is sometime not the case since there are different roles for different persons.

Thursday, April 3, 2008

Interviewing your "gonna be manager"

Lately, it has been a very hectic month for me. To explore something new is intriguing, yet it's exhausting. Magazine publishing is something I never imagine to come into and this IS the real test case for my entrepreneurial knowledge application.

One of the hardest responsibilities of mine is to choose the Manager, in this case is a Chief Editor since it's me the GM. So, is there any ways out there how to choose such manager how to find someone you don't even know them (personally) yet whom you will depend your reputation on? plus you don't have a lot of budget in your pocket to hire a head hunter or even to persuade your competitors' resources.

One of the methods available is to interview them your self. It would be better if you've been knowing them somehow but how if you don't? Sometime interview becomes very formal and merely superficial. It's just like a first date. Everything looks so perfect and beautiful.

So, how to escape from such situation? According to Jack Welch, there are some key questions you have to ask them:
First, make sure yourself about they integration.

IF this requirement has been fulfilled, all you have to do is to ask what you want to know; vision, leadership, crisis management and whether it's original.

Vision is the most important things. The different between leader and manager is whether they have a vision or no. You have to see how they see their environment, comparing the data surround or applied consensus. You could ask them to reveal their best example in anticipating the market change situation.

After, you may come to their leadership. It's much better if you have their record in your hand. Managerial questions like how their recruitment process, problems faced or even to ask their successful "students' out there.

Next, a crisis management is something you don't want to miss. Every leader has their own crisis time and it's very useful to know how they handle the situations, the method, the brave and the experiences. Ask them whether they have been in position against everyone else? or ask them about they biggest integration "sin".

There were some questions Jack has provided and yet it's not that easy as seen. I have been in this situation and need to make a critical decision to bring "Edukasia" forward.

Monday, March 10, 2008

BRITISH EDUCATION EXPO



Just forwarding the information, perhaps some are interested.. note one of the speakers in the seminar is not graduated yet, :p










Saturday-Sunday, 15 - 16 March 2008 1200 - 1900
Asean Room, Sultan Hotel, Jakarta

Tuesday, 18 March 2008
1200 - 1900
Berlian Room, Holiday Inn Bandung

Participating university:
Aston University, University of St Andrews, University of Brighton, Aberdeen University, De Montfort Univeristy, Kent Univeristy, Brunel University, Newcastle University, Bournemouth University, University of Birmingham, Leeds University, University of Glasgow, University of Nottingham, Isle of Man Business School, Canterbury Christ Church University College, University of Surrey, Northumbria University, University of Manchester, Strathclyde University, University College for the Creative Arts, Royal Holloway University of London, Glasgow Caledonian University, St Andrew's Cambridge, Gloucestershire University and Bellerbys College.

For further information contact KING'S IBEC at (021)5745244, 5742112 or (022) 4215180

EDUCATIONUK EXHIBITION 2008


Friday, 4 April 2008
1300 - 1900
Ballroom, Imperial Aryaduta Hotel
Makassar

Sunday, 6 April 2008
1200 – 1800
Ballroom, Ritz Carlton Pacific Place
Jakarta

Tuesday, 8 April 2008
1300 – 1900
Ballroom, Novotel Hotel
Bandung

Seminars in Jakarta

1030 – 1130: Information Technology
Speaker: Kurniawati Azizah, MPhil in Computer Speech, Text and Internet Technology from University of Cambridge, Indonesia Chevening scholars and currently working at Switchlab Ltd as Senior System Analist.

1300 – 1400: Creative Industries
Speaker: Joshua Simanjuntak, MA in Product Design, Royal College of Arts, currently working as furniture designer.

1500-1600: Media and Communication
Speaker: Arief Suditomo, MA in Media & Communication from University of Westminster, Chevening scholars who is currently taken the post of Chief Editor at RCTI, one of Indonesia leading national TV station.

1700 - 1800: Business and Entrepreneurship
Speaker: Hadiyanto Arief, currently studying at Bristol University taking MSc in Entrepreneurship and has established several kinds of business in media and broadcasting (Assistant to Chairman of Darunnajah Islamic Broading School and Founder of DN Production House)

Seminars in Bandung

  • Study Skills
  • How to choose the right institution for your needs
  • How to make a good personal statement and research proposal

Participating institutions:
Bellerbys College, Bournemouth University, Bradford College, Cambridge Education Group, London Metropolitan University, Middlesex University, Newcastle College (University Centre), Northumbria University, University of Bedfordshire, University of Hertfordshire, University of Sunderland, University of the Arts London