Lagak seorang pemimpin itu tidak membawa apa-apa. Dengan kata lain bahwa ajudan, staf, atau cantrik-cantriknya siap menjinjing keperluan. Itu data permulaan. Kepemimpinan apa pun, di mana pun, siapa pun, dan hingga kapan pun. Hampir sama beda-beda tipis saja.
Dalam dunia militer, misalnya atau sejenisnya --komandan-- ialah figur pimpinan. Di level dan strata mana saja. Demikian dia dipanggil oleh bawahan atau anak buahnya. Tangan komandan tak memegang apa-apa. Kecuali tongkat dalam genggaman. Simbol kedudukan juga kekuasaan (komando). Pemimpin itu dilingkupi banyak kewenangan.
Kewenangan adalah hak untuk berbuat dengan konsekuensi memikul tanggung-jawab. Jangan pimpinan berbuat tetapi anak buah menanggung akibat. Atau ia menjawab sekedar cari selamat (safety player) menghindari sebuah pertanggungan. Kepemimpinan itu tidaklah demikian.
Di dunia non militer pun dijumpai hal yang sama. Ia juga tidak membawa apa-apa. Kecuali sedikit di genggaman. Tak mengejar ujub, pamrih, bukan pula meraih riya.
Sosok pemimpin di mana pun (wajib) terjaga atas fasik - bisulnya dunia. Menjauh diri dari zinah, mencuri, mengadu nasib, syirik, mabuk, sombong, durhaka, menipu, tidak ikhlas, miskin, membunuh sesama iman, memakan harta (anak yatim) bukan haknya, serta menghindari fitnah yakni hasut, dengki, dan sakit hati.
Zinah itu artinya salah tempat. Analoginya dalam kepemimpinan bermakna: tidak proporsional. Seorang pemimpin tak boleh bertindak (zinah) sesuatu di luar porsinya - bukan wewenangnya. Istilahnya abuse of power atau kesewenang-wenangan. Bisa merugikan orang. Atau ia mengerjakan syirik menghamba selain-Nya. Seperti memuja harta, takhta, dan wanita.
Pemimpin itu tidak boleh miskin. Agar terhindar fitnah. Ia harus kaya. Sugih bondo jembar ilmu. Terutama jembar (luas) hati dan wawasannya. Supaya mampu berlaku adil bagi semua sesuai kebutuhan. Jangan seperti Pak Ogah di simpang jalan. Kesempatan diberikan kepada orang cuma karena imbalan. Tidak perduli antrian sudah panjang.
Mutlak yang tidak boleh bagi pemimpin ialah miskin iman. Tatkala jatuh miskin terhadap iman maka inilah titik awal. Ia dapat berubah sombong lagi ingkar. Adigang adigung adiguno. Lalu mengambil-alih wewenang Tuhan. Sesuka-hati membunuh sesama iman (korp).
Pasrahnya pimpinan berefek pada ikhlas pemikiran. Tulus lelaku dalam keseharian. Menghindari angan-angan (mabuk), karena itu perilaku setan. Bertindak sesuai data. Tidak mengada-ada. Punya visi dan prediksi jauh ke depan tetapi bukan bersifat untung-untungan. Sebab, untung-untungan identik berjudi. Mengundi nasib dengan busur di sebuah permainan.
Pemimpin itu cermat jika meramal keadaan. Cemerlang pada pemikiran. Juga tahan terhadap godaan. Menyimpan bara juang tidak pernah padam. Analisanya ibarat sembilu. Tajam sesuai strata yang diemban. Biasanya ia punya kemampuan di luar (domain) kelaziman.
Hal tabu bagi pemimpin yakni mengambil harta bukan haknya. Oleh karena jika termakan anak istri itu laksana menelan bara api - niscaya tumbuh tanduk di atas kepala putra-putri. Siapa hendak diseruduk maka orang tuanya kali pertama.
Sikap hormatnya tak putus-putus terhadap hikmah sebab itu simpul rajutan antara doeloe, kini, dan ke depan. Kalau suatu hari ia bergelimang harta titipan, dilakoni ae (dijalankan saja -red). Itu sekedar dampak hukum alam. Tak usah busung dada. Apalagi sampai lupa daratan.
Pemimpin itu tak membawa apa-apa. Akan tetapi konsekuensi dari kepemimpinan harus membawa "apa-apa" (bekal). Sedangkan makna 'sedikit pada genggaman', itulah yang disebut orang sebagai amanah, ketulusan, serta kepasrahan. Semua itu berasal dari Dia dan kembali kepada-Nya, yaitu Rabb yang Maha Abadi.
Pemimpin Sejati Bicara Makna
Ibarat burung --sosok pemimpin-- siapa pun orangnya, berkicau (bicara) adalah kepastian. Baik melalui lisan maupun tulisan. Begitulah ia bekerja. Beda dengan anak buah. Pemimpin apa saja, kapan saja, di tingkatan dan lini mana saja. Entah saat briefing staf dan anggota, diskusi, atau bargaining sesuatu. Lebih-lebih tatkala mengambil keputusan bagi organisasi dan kelompok. Atau ketika ia berpidato di depan khalayak. Berbicara bagi kepemimpinan adalah keniscayaan.
Bicara pemimpin bukan mengurai maksud. Atau soal arti semata. Tetapi, omongan sarat makna. Bukan berarti ia tidak suka bercanda. Pepatah Jawa "ngono yo ngono ning ojo ngono". Tidak usah banyak bicara. Apalagi memberi statemen terhadap hal di luar kewenangan, bukan level, atau jauh dari koridor tugasnya. Percuma. Tidak berguna.
Ketika seorang pemimpin tidak menjawab tentang sesuatu bukan berarti ia tidak paham jawaban. Atau tidak mengerti persoalan. Banyak alasan mengapa ia membisu. Oleh sebab tidak semua permasalahan dijawab. Tidak semua adegan diberi ulasan. Diamnya pemimpin ialah pilihan sikap yang ditampilkan.
Seperti cericit burung. Sesuatu yang dikicaukan merdu didengar, lembut dirasakan, sejuk laksana angin pegunungan. Nyanyian pemimpin membuat tentram berbagai kalangan. Menimbulkan rasa ayem semua lapisan. Itulah gerak-laku ikhlas menyatu. Antara lisan dan perbuatan (komitmen).
Satu hal yang mutlak dihindari oleh pemimpin adalah sikap "pagi kedelai sore tempe". Tidak boleh mencla-mencle. Satu irama. Bukan beragam nada. Namun, bila ada bisa ke mana-mana, ap aboleh buat - silahkan saja. Itu memang sudah warna dunia. Setiap jiwa membawa ukuran berbeda-beda.
Suatu ketika bila amarah tiba. Lihatlah gelombang batu karang, dengarlah pekik gelegar sang halilintar, rasakan dahsyatnya angin puting beliung berputar-putar. Menggetarkan jiwa-jiwa yang terluka. Mengerikan. Itu hanya gambaran.
Seperti sakti rajawali. Ia terbang melintas di ketinggian awan. Tiba-tiba menukik dengan kuku mencengkram. Lalu keras memekik di tengah kegamangan jiwa: haq .. haq .. haq! Mengejutkan! Marah pun ternyata tak sekedar menghambur bara. Namun, menggali lalu mengurai kusut benang keraguan. Meraih yang haq (benar). Bukannya mau menang sendiri. Tidak cuma benarnya sendiri.
Pemimpin berjuang bukan untuk satu dua orang, kelompok, atau golongan. Pikirannya jatuh pada semua kalangan. Bahkan, mengucur peluh dari suwung kesunyian. Sepi ing pamrih rame ing gawe. Kerja tidak mau terlihat namun hasilnya luar biasa. Dinikmati banyak orang. Menjauhi sifat riya. Menjaga jarak dari puja-puji dunia.
Tutur katanya senantiasa bermanfaat. Bukan menimbulkan rasa resah di tengah-tengah rakyat. Tidak sekali memecah-belah umat. Apalagi cuma untuk kepentingan sesaat (politik praktis).
Pemimpin harus menguasai makna masalah. Artinya yang dituju bukan cuma seuntai maksud dari kalimat. Bukan pula penghias kulit sebuah kosa. Bicara pada tataran hakiki - kemudian temukan serta tentukan solusinya. Tidak perlu mengobral kata-kata. Mengurai inti masalah. Memecah pokok persoalan. Kemudian ia berbuat, berbuat, dan berbuat (doing) demi keselarasan, keseimbangan, serta kesejahteraan umat manusia.
Pemimpin itu tak bicara tetapi berbuat
Mengayun bakti dan juang tanpa terlihat
Sepi ing pamrih, rame ing gawe, semata untuk umat
Tatkala bertutur kata serta berbuat adalah manfaat
Demi keselamatan, keselarasan, dan kesejahteraan rakyat
Pemimpin itu tak membawa apa-apa
Kecuali sedikit dalam genggamannya
Amanah, kepasrahan, dan ketulusan rasa
Bukan pamrih, ujub, tak pula ada riya'
Menjauh dari fasik dan bisul wajah dunia
Pemimpin itu pengarung sejati
Melintas sunyi menguak gelap dunia
Menembus sepi mengurai remang hati
Menyelam samudra dzikir tak bertepi
Mengenal diri kemana bakal kembali
Pemimpin itu sendirian
Cuma berteman kebenaran
Tanpa kebenaran sendirinya tak berguna
Tanpa kebenaran kesendiriannya semu belaka
Bila kesendirian tak sesuai tuntunan dari Tuhannya
Jumpa beragam duga dan prasangka atas nama logika
Maka itulah kebenaran tanpa rasa, Cuma penafsiran belaka
Pemimpin itu tidak bicara
Juga tidak membawa apa-apa
Seperti rajawali ia terbang tinggi
Mengarungi gelap malam yang sunyi
Sendirian seolah tidak berteman hanya sendiri
Mengetahui Benar Jalan Hukum nan Kekal Abadi
Hamid Ghozali
Warung Contong Timur No 1 Cimahi
hamidghozali@hotmail.com
Showing posts with label Leadership. Show all posts
Showing posts with label Leadership. Show all posts
Monday, March 8, 2010
Tuesday, December 1, 2009
Ketika Pemimpin Kehilangan Wibawa!
Ketika Pemimpin Kehilangan Wibawa!
Salah satu kriteria pemimpin idaman adalah yang berwibawa. Yaitu yang dengan karakter dan karismanya mampu ´menyihir´ bawahannya untuk senantiasa look up to kepada mereka dan mengikuti segala perintah dan arahannya. Dengan kewibawaannya, seorang bos dihormati dan dijadikan teladan oleh para bawahannya. Begitu besarnya pengaruh wibawa terhadap kepemimpinan seseorang sampai-sampai jika hilang, hancurlah citra seorang pemimpin di mata anak buahnya.
Sebelum membahas hilangnya wibawa, ada baiknya Anda mengetahui sumber kewibawaan. Diantaranya adalah kekuasaan untuk memerintah, kemampuan memberi penghargaan, legalitas dari pihak berwenang, keteladanan, keahlian, dan karisma. Sumber-sumber ini ada yang secara alamiah memang sudah ada dalam diri seorang pemimpin, ada pula yang diperoleh sebagai bagian dari kekuasaan yang didapatkan.

Lalu bagaimanakah jika kewibawaan Anda hilang? Bawahan tidak lagi menghormati Anda, kompetensi Anda diragukan, dan perlahan-perlahan semua orang mengacuhkan kepemimpinan Anda. Jika ini yang sedang menimpa Anda, berarti saatnya untuk memperbaiki diri karena kemungkinan besar Anda telah kehilangan respect dari mereka. Karyawan Anda tidak lagi melihat pemimpinnya seperti yang mereka harapkan.
Tidak mudah untuk mendapatkan kembali kewibawaan Anda dan earn respek dari bawahan Anda. Dibutuhkan waktu dan pembuktian nyata dari Anda yang bisa mereka rasakan. Namun ada beberapa langkah awal untuk mendapatkan kembali kewibawaan Anda adalah sebagai berikut :
1. Terjun langsung.
Ketika Anda melihat karyawan mengalami kesulitan dan membutuhkan bantuan, jangan melihatnya sebagai tanggung jawab mereka saja. Jump in dan bantu mereka dengan tindakan atau saran nyata dan bisa diaplikasikan. Karyawan akan melihat Anda sebagai atasan yang menyadari bahwa pekerjaan mereka penting dan bersedia terjun langsung menyelesaikan masalah.
2. Appreciative.
Banyak pemimpin yang lupa memberikan penghargaan bagi karyawan mereka. Padahal memberikan penghargaan bisa dimulai dari hal-hal yang sederhana seperti mengucapkan terima kasih dengan tulus. Membuat karyawan merasa dihargai adalah salah satu cara memperoleh respek mereka.
3. Visionaris.
Komunikasikan pandangan, visi dan misi Anda untuk kemajuan perusahaan kepada karyawan Anda. Jika Anda tahu apa yang harus Anda lakukan dan berani menghadapi segala tantangan di masa depan, niscaya bawahan Anda akan merasa aman untuk menyerahkan kepercayaannya pada Anda.
4. Tingkatkan empati.
Belajarlah menjadi pemimpin yang peduli. Karyawan merasa senang dengan bos yang approachable, ramah dan memperhatikan mereka. Seorang pemimpin yang disegani dan dicintai bawahan biasanya yang bisa ‘merakyat’, yang dengan segala kerendahan hatinya mau mendengarkan aspirasi dan harapan para bawahannya.
5. Berilah inspirasi.
Sebagai pemimpin Anda wajib memiliki ide-ide cemerlang demi memajukan perusahaan. Share ide Anda dengan karyawan agar mereka terinspirasi dan termotivasi. Tapi tidak perlu juga terlihat sok pintar dan malah menganggap remeh kemampuan bawahan. Berikan kesempatan pada bawahan untuk mengembangkan potensinya.
6. Be a flexible boss.
Jangan hanya terpaku pada peran Anda sebagai bos. Perluas fungsi Anda di kantor, seperti menjadi teman berdebat yang cerdas, tempat curhat yang nyaman, dan teladan yang baik. Bawahan akan melihat Anda sebagai pribadi yang ‘segala bisa’ dan dinamis sehingga mereka pun dengan sendirinya mengakui kemampuan Anda untuk menjadi seorang pemimpin.
7. Konsisten.
Respek dari bawahan akan hilang jika Anda mengingkari apa yang Anda telah yakini atau anut selama ini atau melanggar prinsip Anda yang telah diketahui orang banyak. Bagaimana bawahan akan mengikuti Anda jika Anda sendiri tidak konsisten? Jadilah teladan yang baik agar mereka yakin bahwa mereka mengikuti orang yang benar dan ke arah yang benar.
Kewibawaan yang hakiki itu melekat pada karakter bukan sekedar tampilan luar yang setiap saat bisa luntur hanya karena suatu kesalahan. Maka terapkan kewibawaan dalam kehidupan sehari-hari agar berefek lebih lama dan natural bagi karyawan Anda.
Remember! :
Apapun sumber kewibawaan Anda, pastikan bahwa Anda tetap menjadi pemimpin yang seimbang memberikan reward dan punishment.
(Dicopy paste dari artikel di JobsDB.Com)
Salah satu kriteria pemimpin idaman adalah yang berwibawa. Yaitu yang dengan karakter dan karismanya mampu ´menyihir´ bawahannya untuk senantiasa look up to kepada mereka dan mengikuti segala perintah dan arahannya. Dengan kewibawaannya, seorang bos dihormati dan dijadikan teladan oleh para bawahannya. Begitu besarnya pengaruh wibawa terhadap kepemimpinan seseorang sampai-sampai jika hilang, hancurlah citra seorang pemimpin di mata anak buahnya.
Sebelum membahas hilangnya wibawa, ada baiknya Anda mengetahui sumber kewibawaan. Diantaranya adalah kekuasaan untuk memerintah, kemampuan memberi penghargaan, legalitas dari pihak berwenang, keteladanan, keahlian, dan karisma. Sumber-sumber ini ada yang secara alamiah memang sudah ada dalam diri seorang pemimpin, ada pula yang diperoleh sebagai bagian dari kekuasaan yang didapatkan.

Lalu bagaimanakah jika kewibawaan Anda hilang? Bawahan tidak lagi menghormati Anda, kompetensi Anda diragukan, dan perlahan-perlahan semua orang mengacuhkan kepemimpinan Anda. Jika ini yang sedang menimpa Anda, berarti saatnya untuk memperbaiki diri karena kemungkinan besar Anda telah kehilangan respect dari mereka. Karyawan Anda tidak lagi melihat pemimpinnya seperti yang mereka harapkan.
Tidak mudah untuk mendapatkan kembali kewibawaan Anda dan earn respek dari bawahan Anda. Dibutuhkan waktu dan pembuktian nyata dari Anda yang bisa mereka rasakan. Namun ada beberapa langkah awal untuk mendapatkan kembali kewibawaan Anda adalah sebagai berikut :
1. Terjun langsung.
Ketika Anda melihat karyawan mengalami kesulitan dan membutuhkan bantuan, jangan melihatnya sebagai tanggung jawab mereka saja. Jump in dan bantu mereka dengan tindakan atau saran nyata dan bisa diaplikasikan. Karyawan akan melihat Anda sebagai atasan yang menyadari bahwa pekerjaan mereka penting dan bersedia terjun langsung menyelesaikan masalah.
2. Appreciative.
Banyak pemimpin yang lupa memberikan penghargaan bagi karyawan mereka. Padahal memberikan penghargaan bisa dimulai dari hal-hal yang sederhana seperti mengucapkan terima kasih dengan tulus. Membuat karyawan merasa dihargai adalah salah satu cara memperoleh respek mereka.
3. Visionaris.
Komunikasikan pandangan, visi dan misi Anda untuk kemajuan perusahaan kepada karyawan Anda. Jika Anda tahu apa yang harus Anda lakukan dan berani menghadapi segala tantangan di masa depan, niscaya bawahan Anda akan merasa aman untuk menyerahkan kepercayaannya pada Anda.
4. Tingkatkan empati.
Belajarlah menjadi pemimpin yang peduli. Karyawan merasa senang dengan bos yang approachable, ramah dan memperhatikan mereka. Seorang pemimpin yang disegani dan dicintai bawahan biasanya yang bisa ‘merakyat’, yang dengan segala kerendahan hatinya mau mendengarkan aspirasi dan harapan para bawahannya.
5. Berilah inspirasi.
Sebagai pemimpin Anda wajib memiliki ide-ide cemerlang demi memajukan perusahaan. Share ide Anda dengan karyawan agar mereka terinspirasi dan termotivasi. Tapi tidak perlu juga terlihat sok pintar dan malah menganggap remeh kemampuan bawahan. Berikan kesempatan pada bawahan untuk mengembangkan potensinya.
6. Be a flexible boss.
Jangan hanya terpaku pada peran Anda sebagai bos. Perluas fungsi Anda di kantor, seperti menjadi teman berdebat yang cerdas, tempat curhat yang nyaman, dan teladan yang baik. Bawahan akan melihat Anda sebagai pribadi yang ‘segala bisa’ dan dinamis sehingga mereka pun dengan sendirinya mengakui kemampuan Anda untuk menjadi seorang pemimpin.
7. Konsisten.
Respek dari bawahan akan hilang jika Anda mengingkari apa yang Anda telah yakini atau anut selama ini atau melanggar prinsip Anda yang telah diketahui orang banyak. Bagaimana bawahan akan mengikuti Anda jika Anda sendiri tidak konsisten? Jadilah teladan yang baik agar mereka yakin bahwa mereka mengikuti orang yang benar dan ke arah yang benar.
Kewibawaan yang hakiki itu melekat pada karakter bukan sekedar tampilan luar yang setiap saat bisa luntur hanya karena suatu kesalahan. Maka terapkan kewibawaan dalam kehidupan sehari-hari agar berefek lebih lama dan natural bagi karyawan Anda.
Remember! :
Apapun sumber kewibawaan Anda, pastikan bahwa Anda tetap menjadi pemimpin yang seimbang memberikan reward dan punishment.
(Dicopy paste dari artikel di JobsDB.Com)
Subscribe to:
Posts (Atom)