Sunday, January 4, 2009
Sunday, December 21, 2008
Pesantren Development through the eyes of Greiner
Pernah dengar adagium dalam dunia pesantren yang menyatakan bahwa biasanya Kiai membawa mati pondoknya? Adagium ini mengacu banyaknya kasus Pondok Pesantren yang mati seiring dengan kematian Kiai pendiri.
Tulisan ini mencoba mengupas kenapa banyak Pesantren- terutama yang dikelola secara tradisional- gagal melewati masa-masa kritis di dalam perkembangannya melalui kacamata Management.
Phases of Growth model yang dikemukakan L.E.Greiner melalui tulisannya “Evolution and revolution as organizational growth”, (1972) mungkin bisa membantu menjelaskan bagaimana perkembangan sebuah organisasi dan lazim dipakai didalam menganalisa tipikal masalah yang dihadapi oleh bermacam organisasi, termasuk didalamnya Pondok Pesantren.
Model yang dikembangkan Greiner membagi perkembangan organisasi menadi beberapa tahapan -layaknya pertumbuhan seorang anak- dan mendeskripsikan tipikal permasalahan yang biasanya terjadi di tiap tahapan.
Dalam model seperti dibawah ini, ukuran perkembangan organisasi di kaitkan pada dua ukuran; size and age. Besar kecil organisasi dan lamanya beroperasi.

Tahap pertama
Tahap pertama adalah ketika ukuran organisasi masih kecil dan bahkan berada dalam tahap embrio. Pada tahap awal perkembangan organisasi ini, biasanya tidak banyak sumber daya (resources) yang terlibat. Modal finansial, manusia dan asset yang terlibat masih terbatas. Ukuran organisasi belum terlalu besar sehingga permasalahan yang ada masih belum terlalu komplek.
Dalam tahap awal ini, krisis yang biasanya terjadi berkaitan dengan kualitas kepemimpinan atau leadership. Kepemimpinan adalah konsep yang luas, tetapi ada perbedaan mendasar dari leader dan manager. Leaders doing the right thing while Managers doing things right.
Lalu, kualitas manajerial apa yang paling berperan dan dibutuhkan untuk melewati tahap ini?
Greiner berpendapat bahwa untuk bisa berkembang, kualitas yang paling dibutuhkan dalam tahap awal ini adalah kreatifitas. Konsep yang baik. Ide. Dalam dunia pesantren, konsep dan blueprint perjuangan melalui pendidikan Islam.
Dalam dunia bisnis, di tahapan inilah para truly entrepreneur and truly leader berperan. Ide bisnis bisa sangat berharga dan bisa dijual ke para investor, banking dan business angels. Business plan is the most crucial thing in this stage.
Bisa dibilang, inilah yang menjadi era favorit bagi para entrepreneur atau dalam dunia pesantren, Kiai. Kenapa?. Menurut penulis, inilah tahap yang juga lekat dengan tahap entrepreneurship. Tahap wirausaha yang membutuhkan kualitas kepemimpinan dan kewirausahaan yang berkaitan erat dengan kreatifitas dan ide
Dalam tahap ini, sang entreprenur atau sang Kiai dituntut memiliki kualitas kepemimpinan yang tinggi. Bekerja dengan sumber daya yang terbatas, menempatkan orang yang tepat di posisi yang tepat, mendidik organisasi untuk terus belajar dan selalu mencari jalan keluar yang kreatif dalam menyelesaikan tantangan yang ada hanyalah sebagian tugasnya.
Berat memang, tapi dilain pihak inilah saatnya sang entreprenur atau sang Kiai menikmati saat-saat mempunyai kendali penuh atas organisasi yang didirikannya. Skala organisasi yang masih kecil memungkinkan untuk dipegang oleh hanya segelintir orang dengan pola sentralistik. Begitupun dengan pola komunikasi dan pengambilan keputusan yang tersentralistik di Kiai.
Dalam kasus Pesantren Darunnajah, tahap-tahap ini berada pada awal rintisan tahun 70-an. Pesantren Darunnajah dirintis oleh seseorang yang memiliki ide dikepalanya, Kiai Haji Abdul Manaf. Blueprint perjuangan dan konsep pendidikan ada di memorinya. Pada perkembangannya, operasionalnya diserahkan kepada managing director sekaligus mantunya, Ust Mahrus muda. Kiai sebagai leader-lah yang mempunyai visi kemana organisasi akan menuju.
Pada awal-awal perkembangannya sekitar tahun 1974 dan setelahnya, tanah seluas 6 hektar pun mayoritas hanya terisi oleh pohon jinjing. Bangunan pun bertambah sedikit demi sedikit dan bukan simsalabim menjadi gedung nan megah seperti sekolah-sekolah elit nan mahal yang akhir-akhir ini banyak bermunculan. Modal pun hanya terdiri dari tanah kosong dan harta pribadi, termasuk cincin kawin atau mesin jahit sang istri.
(to be continued)
Tulisan ini mencoba mengupas kenapa banyak Pesantren- terutama yang dikelola secara tradisional- gagal melewati masa-masa kritis di dalam perkembangannya melalui kacamata Management.
Phases of Growth model yang dikemukakan L.E.Greiner melalui tulisannya “Evolution and revolution as organizational growth”, (1972) mungkin bisa membantu menjelaskan bagaimana perkembangan sebuah organisasi dan lazim dipakai didalam menganalisa tipikal masalah yang dihadapi oleh bermacam organisasi, termasuk didalamnya Pondok Pesantren.
Model yang dikembangkan Greiner membagi perkembangan organisasi menadi beberapa tahapan -layaknya pertumbuhan seorang anak- dan mendeskripsikan tipikal permasalahan yang biasanya terjadi di tiap tahapan.
Dalam model seperti dibawah ini, ukuran perkembangan organisasi di kaitkan pada dua ukuran; size and age. Besar kecil organisasi dan lamanya beroperasi.

Tahap pertama
Tahap pertama adalah ketika ukuran organisasi masih kecil dan bahkan berada dalam tahap embrio. Pada tahap awal perkembangan organisasi ini, biasanya tidak banyak sumber daya (resources) yang terlibat. Modal finansial, manusia dan asset yang terlibat masih terbatas. Ukuran organisasi belum terlalu besar sehingga permasalahan yang ada masih belum terlalu komplek.
Dalam tahap awal ini, krisis yang biasanya terjadi berkaitan dengan kualitas kepemimpinan atau leadership. Kepemimpinan adalah konsep yang luas, tetapi ada perbedaan mendasar dari leader dan manager. Leaders doing the right thing while Managers doing things right.
Lalu, kualitas manajerial apa yang paling berperan dan dibutuhkan untuk melewati tahap ini?
Greiner berpendapat bahwa untuk bisa berkembang, kualitas yang paling dibutuhkan dalam tahap awal ini adalah kreatifitas. Konsep yang baik. Ide. Dalam dunia pesantren, konsep dan blueprint perjuangan melalui pendidikan Islam.
Dalam dunia bisnis, di tahapan inilah para truly entrepreneur and truly leader berperan. Ide bisnis bisa sangat berharga dan bisa dijual ke para investor, banking dan business angels. Business plan is the most crucial thing in this stage.
Bisa dibilang, inilah yang menjadi era favorit bagi para entrepreneur atau dalam dunia pesantren, Kiai. Kenapa?. Menurut penulis, inilah tahap yang juga lekat dengan tahap entrepreneurship. Tahap wirausaha yang membutuhkan kualitas kepemimpinan dan kewirausahaan yang berkaitan erat dengan kreatifitas dan ide
Dalam tahap ini, sang entreprenur atau sang Kiai dituntut memiliki kualitas kepemimpinan yang tinggi. Bekerja dengan sumber daya yang terbatas, menempatkan orang yang tepat di posisi yang tepat, mendidik organisasi untuk terus belajar dan selalu mencari jalan keluar yang kreatif dalam menyelesaikan tantangan yang ada hanyalah sebagian tugasnya.
Berat memang, tapi dilain pihak inilah saatnya sang entreprenur atau sang Kiai menikmati saat-saat mempunyai kendali penuh atas organisasi yang didirikannya. Skala organisasi yang masih kecil memungkinkan untuk dipegang oleh hanya segelintir orang dengan pola sentralistik. Begitupun dengan pola komunikasi dan pengambilan keputusan yang tersentralistik di Kiai.
Dalam kasus Pesantren Darunnajah, tahap-tahap ini berada pada awal rintisan tahun 70-an. Pesantren Darunnajah dirintis oleh seseorang yang memiliki ide dikepalanya, Kiai Haji Abdul Manaf. Blueprint perjuangan dan konsep pendidikan ada di memorinya. Pada perkembangannya, operasionalnya diserahkan kepada managing director sekaligus mantunya, Ust Mahrus muda. Kiai sebagai leader-lah yang mempunyai visi kemana organisasi akan menuju.
Pada awal-awal perkembangannya sekitar tahun 1974 dan setelahnya, tanah seluas 6 hektar pun mayoritas hanya terisi oleh pohon jinjing. Bangunan pun bertambah sedikit demi sedikit dan bukan simsalabim menjadi gedung nan megah seperti sekolah-sekolah elit nan mahal yang akhir-akhir ini banyak bermunculan. Modal pun hanya terdiri dari tanah kosong dan harta pribadi, termasuk cincin kawin atau mesin jahit sang istri.
(to be continued)
Sunday, November 30, 2008
Arrohatu fil Jannah
"Arrohatu fil jannah", waktu istirahat adanya di Surga, kira-kira begitulah artinya ungkapan yang kudengar dari salah satu kawanku, Fatori.
Terhenyak aku mendengarnya.
Simpel, namun dalam.
Penuh pergerakan.
Perjuangan.
Effektif.
Ntah dari mana dia mendengar ungkapan itu, perkiraan awalku, ia mungkin mendengarnya dari para Mujahid di Poso sana tempat ia sempat mengabdi, tapi setelah ku confirm, ternyata ungkapan itu berasal dari salah satu putra terbaik Gontor yang wafat tidak lama setelah beliau mengucapkan kata-kata tersebut, Ust Ali Zyarkowi. Barisan mujahid Gontor yang masyhur akan kecerdasan dan kegigihannya didalam mengabdi.
Kata-kata itu pula yang spontan terucap fajar tadi ketika aku berpaspasan dengan Kiai Mahrus saat berjalan menuju masjid.
"Cape ded?" tanyanya.
Mungkin ia tahu aku baru saja terlibat dua perhelatan besar, Silatnas Gontor di JCC dan Rangkaian 35 tahun Darunnajah yang lumayan bikin pusing karena keduanya mentargetkan kedatangan SBY.
"Arrohatu fil Jannah.." spontan aku menjawab.
Ntah apa yang kupikirkan saat itu, tapi mungkin karena sampai saat ini masih ingin terus berkarya di kehidupan ini, dan bukan beristirahat di Surga, itupun kalau masuk surga.
Terhenyak aku mendengarnya.
Simpel, namun dalam.
Penuh pergerakan.
Perjuangan.
Effektif.
Ntah dari mana dia mendengar ungkapan itu, perkiraan awalku, ia mungkin mendengarnya dari para Mujahid di Poso sana tempat ia sempat mengabdi, tapi setelah ku confirm, ternyata ungkapan itu berasal dari salah satu putra terbaik Gontor yang wafat tidak lama setelah beliau mengucapkan kata-kata tersebut, Ust Ali Zyarkowi. Barisan mujahid Gontor yang masyhur akan kecerdasan dan kegigihannya didalam mengabdi.
Kata-kata itu pula yang spontan terucap fajar tadi ketika aku berpaspasan dengan Kiai Mahrus saat berjalan menuju masjid.
"Cape ded?" tanyanya.
Mungkin ia tahu aku baru saja terlibat dua perhelatan besar, Silatnas Gontor di JCC dan Rangkaian 35 tahun Darunnajah yang lumayan bikin pusing karena keduanya mentargetkan kedatangan SBY.
"Arrohatu fil Jannah.." spontan aku menjawab.
Ntah apa yang kupikirkan saat itu, tapi mungkin karena sampai saat ini masih ingin terus berkarya di kehidupan ini, dan bukan beristirahat di Surga, itupun kalau masuk surga.
Friday, November 21, 2008
Progress Report Edukasia

Majalah Edukasia adalah sebuah bidang usaha milik Pesantren Darunnajah, yang artinya Ummat Islam secara keseluruhan merupakan stakeholder. Sebagai penanggung jawab Edukasia, kami merasa perlu melaporkan perjalanan bisnis majalah Parenting Keluarga Muslim yang telah mencapai edisi ke 3 (cover diatas) kepada masyarakat umum.
I.PROGRESS REPORT EDUKASIA
Distribusi
Selain didistribusikan untuk keluarga Darunnajah seperti wali Santri Darunnajah Group, Edukasia juga telah rutin dengan mudah didapatkan di toko-toko buku terkemuka seperti Gramedia, Gunung Agung, Gedung2 Perkantoran di Jakarta, hotel2, Bandara, beberapa Kampus2 Universitas, Jaringan Supermarket seperti Giant, Hero, Yogya, Superindo baik di Jakarta maupun diluar Jakarta (sementara paling jauh di Bandung, Purwakarta, Cilegon, Indramayu). Terimakasih kepada MM Distribusindo (Andi Junaidi) yang telah membantu semua ini terwujud.
Sedang diusahakan rak majalah Edukasia yang akan disebar ke berbagai Koperasi Sekolah, termasuk tentunya Darunnajah Group dan pondok binaan.
Pemasukan
Jumlah eksemplar Edisi Pertama (September) baru akan diketahui seluruhnya berbarengan dengan distribusi edisi ke-3. Tetapi, sebagai gambaran kasar, sekitar 20% dari majalah yang tersebar laku terjual. Ini mengejutkan kami mengingat Edukasia di luncurkan tanpa promosi yang menunjang.
Jumlah pelanggan belum banyak, baru mencapai sekitar 20 orang, dan ini disebabkan bukan tidak ada yang ingin berlangganan, tetapi lebih kepada ketidaksiapan tim sirkulasi.
Namun, disatu sisi, mulai edisi ke 2, beberapa slot Iklan di Edukasia telah terjual. Ini melebihi target kami yang hanya berharap pengiklan baru akan hadir setelah paling cepat edisi ke 6.
Tak hanya itu, yang lebih menambah keyakinan kami bahwa we're on the right track adalah penawaran dari salah satu tokoh nasional yang berniat menanam saham di Edukasia. Alhamdulillah.
Redaksi
Alhamdulillah pula dalam edisi November ini ada rubrik Dunia Pesantren yang akan mengangkat nilai-nilai dan sistem kependidikan di dunia pesantren pada umum-nya. Insya Allah rubrik ini didukung pula oleh Pekapontren (bpk Amin Haedari) dan sedang menuju kerjasama pembelian Edukasia oleh Depag yang diprakarsai oleh KH Mahrus Amin.
Rubrik tanya jawab juga semakin semarak ditambah kehadiran Ust Sofwan Manaf sebagai expert di bidang Pendidikan Pesantren.
Kabar gembira yang lain adalah bahwa salah satu alumni terbaik kita, Ustadz Arifin Ilham telah menyatakan secara langsung kepada kami pribadi di kediaman beliau di Depok, bahwa beliau bersedia mengasuh rubrik Do'a di Majalah ummat ini. Kiranya dukungan beliau sebagai Alumni Darunnajah merupakan berkah yang tak terhingga dan akan sangat berarti untuk melanjutkan perjuangan untuk pendidikan Islam melalui media cetak ini.
Terlebih, salah satu alumni Darunnajah yang berkecimpung di bidang fotografi (freelance Kantor berita Antara) siap membantu meningkatkan kualitas tampilan dari Majalah kita ini. Alhamdulillah. Kamipun mengundang keluarga besar untuk senantiasa menyuport dari segala segi.
II. PROGRAM JANGKA PENDEK
Maksimalisasi Iklan
Program yang akan dijalankan kedepan insya Allah yang menjadi prioritas adalah menggali potensi iklan yang belum banyak tergarap. Untuk itu kami mengundang keluarga besar Darunnajah, terutama yang mempunyai akses ke corporate2 yang siap untuk beriklan- untuk turut aktif memberi masukan informasi yang bermanfaat di bidang Advertising ini, sehingga Edukasia bisa berdiri mandiri secepatnya. Insya Allah tersedia kompensasi atas bantuan professional tersebut.
Musyawarah Kerja Edukasia
Musyawarah kerja akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Beberapa target yang ingin dicapai adalah: Struktur Organisasi, Standard Operational Procedure, Job Description, Program kerja masing-masing bagian. Seluruhnya diharapkan bisa membentuk system kerja yang lebih jelas.
Focus Group Discussion;
Disamping itu, insya Allah kami akan segera membuat semacam "Focus Group Discussion" yang akan menjadi ajang kritik dan masukan majalah Edukasia. Kami berharap saudara- kawan yang concern pada dunia jurnalistik dan pendidikan untuk bisa terlibat agar kami bisa senantiasa memperbaiki diri.
III. KETERBATASAN
Promosi Gerilya
Meskipun begitu, dengan keterbatasan anggaran, kami belum mampu banyak berpromosi secara besar2an. Untuk itu, sementara kami memilih untuk berpromosi dengan cara bergerilya karena kami percaya bahwa marketing lisan (dari mulut kemulut) juga merupakan cara yang effektif untuk berpromosi. Leaflet2 tentang Edukasia akan disebarkan diberbagai titik terutama yang berada dalam network MM Distribusindo.
Kami pun aktif mengajak keluarga besar Darunnajah (asatidz, alumni, walisantri serta seluruh kalangan umum, yang memiliki kantong2 komunitas yang sesuai dengan segment majalah ini (Orangtua yang memiliki anak Remaja) untuk turut serta mempromosikan majalah yang penting untuk pendidikan keluarga ini. Kami telah membuat format kerjasama (terlampir di attachment) yang insya Allah bisa menambah pemasukan finansial sekaligus beribadah membantu bidang usaha pesantren.
Subscribe to:
Posts (Atom)