Sunday, July 13, 2008

Runtuhnya Loyalitas Kiai Pesantren

Sebuah kritik yang mungkin bisa kita ambil sebagai cermin..

oleh Nasrulloh Afandi

imageAkhir-akhir ini, para kiai pengasuh pondok pesantren
--selanjutnya disebut kiai pesantren--, tidak lagi menyatu dengan
masyarakat, "sengaja" jaga jarak, tidak mau tau terhadap aktivitas
keagamaan masyarakat sekitarnya(di luar pesantren), terlena dengan
institusi pesantren yang "dikuasainya" saja.

Resikonya, kiai pesantren bukan lagi dari dan untuk(tumpuan pokok)
masyarakat, terang-terangan "mencampakkan" loyalitas bermasyarakat.
Apalagi kiai pesantren yang "membelenggu diri" dengan struktural ormas
keagamaan/parpol tertentu(meskipun belum jadi pejabat) ''mendewakan"
organisasi/parpol yang hanya menguntungkan pribadi atau maksimal
golongannya saja.

Muslimin "pedesaan" sejak lama sangat merindukan "belaian" para kiai
pesantren, sang kiai perlu (kembali) ikhlas mengabdi, bukan saja
religiusitas "di lapangan ibadah", tetapi juga mesti jadi teladan
konteks interaksi sosial bermasyarakat dan beberapa aspek kehidupan
lainnya.

Minimalnya (para kiai) mesti "ikhlas" mendekat, sebagaimana ketika
para kiai(pesantren) mendekati rakyat(pedesaan) dalam moment- moment
politis, mensukseskan figur tertentu dengan berbagai kepentingan
sempitnya itu. Cukup adil!

Stop, Jaga Jarak!
Sangat banyak fenomena dan problem keaagamaan ganas melanda, yang
semestinya menjadi "surat undangan resmi" menggugah "nurani
religiusitas" para kiai pesantren untuk segera kembali "turun gunung",
merapat kepada masyarakat sekitarnya. Untuk estafet upaya
menyelamatkan masyarakat dari maraknya ajaran-ajaran, gerakan
pemikiran-pemikiran dan berbagai aliran aneh(yang sebatas mengaku
Islam) akhir-akhir ini.

(Padahal) bebarengan dengan itu, para kiai pesantren sedikitpun tidak
akan mengikhlaskan munculnya jutaan ''kiai instant" alias kiai
karbitan dengan keroposnya fondasi keilmuan dan demi kepentingan
sempitnya, lancang menggarap Masyarakat yang lapar ''menu instant"
ibadah itu, "membajak proyek" para kiai asli.

Apalagi maraknya "kiai instant" nyata-nyata hanya bermodal nampang di
berbagai media meski banyak yang mendirikan pesantren akhir-akhir ini,
selain merapuhkan "taring" para kiai di hadapan komunitas
berpendidikan agama, mengkomersilkan agama, juga jelas sangat menjauhi
"jantung kota lapangan ibadah" masyarakat, sekaligus dominan
berkampanye (agar "kiai" berebut nampang di media) muaranya "berebut"
menjauhkan diri dari Muslimin pedesaan.

Apakah para kiai lupa, bahwa loyalitas dengan masyarakat sekitar
tempat tinggalnya, adalah identitas pengabdian para kiai?

Ataukah sengaja melupakan, bahwa ''Embrio'' kiai (dan pesantren)
tumbuh berasal dari estafeta "ayunan" aktifitas masyarakat sekitarnya.
Orisinilitasnya, ia lahir dan dibesarkan sekaligus alamiah (tanpa
meminta, tanpa adanya unsur intervensi dan rekayasa) dijadikan figur
panutan oleh masyarakat sekitarnya!?

Bukankah kiai/pesantren pun akan bubar atau tidak akan terwujud sama
sekali bila tanpa kepercayaan (terutama) berawal dari "aspirasi
rakyat" sekitarnya. Masihkah para kiai pesantren punya nurani atas
"jasa besar" masyarakat di sekitar lingkungannya itu?

Data Keangkuhan
Syah-syah saja jika para kiai (pesantren) ingin "jaga jarak" dengan
masyarakat, selagi masih dalam batasan-batasan tertentu. Setidaknya
perspektif tasawwuf untuk menjaga muru'ah (kharisma) sang kiai di mata
publik. Para ahli etika kemasyarakatan mendefiniskan: tawadzu' (rendah
hati) adalah menempatkan manusia sesuai posisi/kafabilitasnya, tidak
boleh merendahkan orang terhormat, atau sebaliknya.

Skandal yang kronis menjangkit, sedikitnya adalah :
Pertama. masyarakat sangat susah hanya sekedar untuk ketemu kiai
--apalagi para kiai (pesantren) praktisi ormas keagamaan-- kian
angkuh, berlomba saling mengagungkan diri(mu'adzom nafsah), dari
sikapnya seolah-olah tegas menyatakan:"Biarlah para 'kiai kampung'
saja yang mengurusi konteks ibadah masyarakat pedesaan". (Dari
sikapnya) terkesan beranggapan; "Derajatnya menjadi turun", bila
berkomunikasi dengan Muslim komunitas pedesaan.

Semangat menghadiri forum pengajian di berbagai hotel berbintang
laksana para "tokoh nasional", selalu saja menjauhi pengajian di
masjid-masjid pedesaan. Masyarakat pun harus menunggu cukup lama di
ruang tamu (bila bertamu kepada) kiai, identiknya menghadap pejabat
tinggi. Bahkan sering sang kiai pesantren tidak berkenan menemui,
karena tamunya dianggap ''tidak berkelas''.

Kedua: Kerap "menindas" dan (karena) memandang sebelah mata kepada
para "kiai kampung". Semua kiai kampung dianggapnya "orang pinggiran"
dan wajib menundukkan kepala di hadapan kiai pesantren.

Mereka tidak sportif mengakui; sangat banyak "kiai kampung" kualitas
ilmiahnya lebih bagus dan sangat banyak "kiai kampung" jaringannya
melebihi kiai pesantren, punya hubungan baik dengan para tokoh Nasioal
(di luar pesantren) Padahal banyak kiai pesantren hanya mendapat
warisan (mendadak) menjadi pengasuh (pesantren besar sekalipun) meski
kualitas ilmiahnya sering tidak jelas. Dalam sportifitas keilmuan,
mestinya kiai pesantren "kelas ini" tidak patut menghujat para kiai
karbitan yang marak di media itu.

Ketiga: Tak ubahnya pembodohan terhadap masyarakat secara
terselubung."Sang kiai" kian egoisme berlebihan, memelihara "status
quo" berpandangan kurang berkemajuan, ia kerap sensitif bila ada
masyarakat diasumsikan kurang menghormatinya.

Di benaknya ia (memaksa) harus "disucikan", selalu ingin memperoleh
penghargaan lebih dari masyarakat, seperti dicium tangannya dan
lainnya. Sedangkan sikap "sang kiai" yang sudah sangat jauh dari
masyarakat, tidak pernah (dirinya) berintrospeksi.

Keempat; Lupa introspeksi diri, merasa paling "suci". Sesama komunitas
kiai pun kian jaga jarak, egonya ingin selalu di-sowani (dikunjungi)
antar kiai-pun sering saling menggunjing, kiai "A" menggunjing kiai
"B" dan sebaliknya, tanpa malu gunjingan dijadikan ''hidangan'' untuk
para tamunya tak terkecuali masyarakat awam pun turut "dihidangi".

Selain faktor "berebut pengaruh", paling marak karena antara satu
dengan lainnya mengklaim dirinya masing-masing punya nilai lebih.

Kelima: Banyak kiai pesantren, tidak malu, berteriak-teriak
menyalahkan orang lain, bila ada masyarakat atau tempat ibadah "diover
alih" bimbingan ibadahnya, oleh figur dari ormas keagamaan lain
golongannya, padahal sang kiai itulah yang lebih dulu menjauhi masyarakat.

Contoh keangkuhannya; hanya (kiai) se-kelas "lurah" bergaya (jaga
jarak dengan masyarakat) meniru kiai "sekelas" Camat, kiai se-kelas
camat "protokolernya" meniru kiai "sekelas" bupati, dan seterusnya.

Termasuk banyak "kiai" (bertanda petik) sesama kawan bekas satu
almamater pendidikan pesantren (institusi religius) pun kerap jaga
jarak, karena menganggap pribadinya sudah jadi "kiai". Sesama
orang-orang bekas satu almamaternya masih tinggi ukhuwahnya lulusan
lembaga pendidikan non-pesantren.

Keenam: Gengsinya kian menjadi-jadi. Diantarnya, dengan tidak
memperhatikan aktivitas (ibadah) masyarakat sekitarnya itu, belakangan
ini, marak para kiai pesantren jalan-jalan ke luar negeri tak ubahnya
pejabat negara, ngakunya "studi bunding''.

Kesannya seperti ''kiai mendunia'', padahal sering tidak jelas
tujuannya, rekreasi, (harus merogo isi kantong) pribadi, tak jarang
menggunakan uang kas "koperasi" pesantrennya.

Ketujuh. Banyak terjadi, para kiai pesantren pun jauh dari pembangunan
ekonomi, tidak peduli dengan perekonomian masyarakat.

Contohnya saja, terjadi di banyak pesantren, perekonomian masyarakat
sekitarnya pun kerap "dihambat", masyarakat dipaksa dilarang hanya
sekedar membuka warung berjualan kepada para santri, dimonopoli oleh
warung-warung kiai se-keluarga. Tampaknya lupa, bahwa para santri
pesantren adalah mayoritas dari berbagai lapisan masyarakat. Alih-alih
kiai membantu, masyarakat malah dikebiri.

Kedelapan. (Yang paling) menggelikan, di sebagian daerah, banyak pula
figur kiai pedesaan(di luar pesantren) atau hanya kiai pesantren
sangat kecil, beramai-ramai turut "berpartisipasi" jaga jarak dengan
warga sekitar, meniru "protokoler" para kiai pesantren. Selain
maraknya kiai bersekretaris pribadi (meski kadang) belum kelasnya,
bisa jadi para kiai pun "nafsunya" bergemuruh ingin menyewa pasukan
berseragam untuk pengawal "dinasnya" layaknya para pejabat tinggi,
--biar "disegani" rakyat-- namun "kasihannya" terbentur beberapa hal.

Berwibawahkah?
Mungkin asumsinya, dengan berbagai sikap jaga jarak itu "harga
jualnya" meningkat di mata masyarakat, benarkah?

Dengan semakin meningkatnya pendidikan masyarakat, bersikap "jaga
jarak", selain mencampakkan substansi akhlak, menyempitkan gerak
(peran)nya komunitas kiai di tengah kehidupan masyarakat, juga
hanyalah memudarkan kharisma ke-kiai-an itu sendiri, di mata komunitas
berpendidikan khususunya, masyarakat pada umumnya. Kecuali di mata
sedikit orang sangat polos atau yang terjebak fanatis (ta'ashub)
"mengkramatkan" nenek-moyang, keluarga sang kiai tersebut.

Alhasil, kredibilitas akhlak ke-kiai-an kian buram. Tanggung jawab
(kesalihan) sosial orang-orang yang menganggap bahkan sering
memproklamirkan dirinya sebagai kiai atau Ulama (pewaris para Nabi)
itu, sangat tidak jelas. Masih patutkah mereka memposisikan dirinya di
kelas itu?

Bukankah Nabi SAW, sebagai manusia paling sempurna pun ikhlas
memposisikan semua ummatnya dari hamba-sampai raja adalah sama.
Justeru diantara (modal) penyebab banyak orang simpati, karena Nabi
SAW rendah hati, sangat dekat dengan berbagai kelas manusia
''bawahannya''.

Para "kiai", apakah tidak malu atas rendah hati Nabi Muhammad SAW?

Nasrulloh Afandi
Alumnus Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur, sedang studi di Maroko.
gusgaul@...