Friday, August 31, 2007

Mendongeng


Mungkin kebiasaan "mendongeng" terdengar sepele dan tidak penting,tapi sebenernya Mendongeng adalah kebiasaan yang mahal dan sangatberharga..

Menurut yang saya pernah baca (lupa dimana) dalam "mendongeng"sebenarnya ada kegiatan yang sangat bagus dilihat dari point of viewsang anak ketika mereka menyimak dongeng, dari mulai mendengar,memperhatikan, menyimak dan yang terpenting, membayangkan (imajinasi)yang berkaitan dengan kegiatan otak kanan mereka.. apalagi jikaditambah bonus kedekatan dengan sang pendongeng (orang tua).

Bandingkan dengan ketika mereka menonton televisi. Imajinasi merekatidak terlatih karena media TV tersebut memanjakan penonton denganmenyajikan tidak hanya audio, tetapi juga visual sehingga penontontidak perlu susah-susah membayangkan bentuk visual dari ceritatersebut.

Tetapi jangan salah, sebenarnya budaya mendongeng masih akrabdisekeliling kita hingga saat ini. Hanya sayangnya, berbeda denganbeberapa dekade yang lalu, ketika dongeng dituturkan oleh orang tuakita, kali ini TV lah yang mengambil alih peran itu. Itulah salahsatu alasan kenapa program2 TV yang punya rating tinggi adalahprogram yang berbau dongeng seperti gosip selebritis atau ceritamahkluk ghoib.

Kalau dipikir, sekali lagi, malang memang nasib bangsa kita. Bisadibilang kita melompat dari budaya mendongeng dan langsung dipaksamenuju budaya audio visual. Ada satu budaya yang terlewat dan tidaksempat tertanam kuat di masyarakat kita; budaya Membaca.

Bandingkan dengan masyarakat di negeri maju. Sebelum ada budaya audiovisual (TV, Internet), mereka lebih dahulu menikmati budaya membacayang tertanam kuat di masyarakat.Walhasil, budaya membaca tidak hilang dan bisa berjalan seimbangdengan budaya lainnya yang datang setelahnya. Mungkin itulah kenapamembaca novel adalah pemandangan yang umum saat berada didalam biskota atau trem dikota-kota besar negeri maju. Mungkin juga itulahkenapa buku Harry Potter bisa terjual 11 Juta copy di UK dan US hanyadalam tenggang waktu 24 jam!

Dedy, Bristol

Pengelolaan Sampah Terpadu di Pesantren

Sampah merupakan produk harian dari seseorang dan merupakan bagian dari hidup kita sehari hari yang tidak bisa kita hindari. Permasalahan pengorganisasian sampah merupakan sebuah permasalahan yang kompleks yang menuntut penyelesaian dengan pengorganisasian yang rapi dan terpadu.

Pesantren yang merupakan basis pendidikan bagi masyarakat berdasarkan prinsip Islam harus menjadi pioneer bagi masyarakat bagaimana mengelola sampah sebagai bagian dari “Annadzofatu minal Iman”. Alih alih menyerah kepada keberadaan sampah yang kian menumpuk, kita bisa menggunakan sampah sebagai sarana pendidikan pengelolaan lingkungan hidup bagi santri dan masyarakat.

Salah satu metode penyelesaian sederhana yang bisa diterapkan tanpa banyak biaya adalah Integrated Waste Management (IWM) atau Pengelolaan Sampah Terpadu (PST). Selain hemat biaya, kunci keberhasilan dari pengelolaan sampah terpadu hanyalah kesadaran dan keterlibatan dari semua pihak. Mulai dari santri, ustadz, keluarga dan karyawan.

Sebagai gambaran, Pengelolaan Sampah Terpadu (PST) adalah pengelolaan sampah sederhana dengan pendekatan ‘bottom up’yang menjadikan masyarakat sebagai kunci keberhasilan. Ada 3 kelompok kegiatan dalam pengelolaan sampah ini:

A. Kampanye Lingkungan Hidup dan persampahan
PST dimulai dengan mengkampanyekan pengenalan jenis sampah, istilah dalam persampahan dan memberi contoh penerapan prinsip prinsip penting dalam pengelolaan sampah seperti prinsip 4R (Reduce, reuse, recycle and replant) sebagai pedoman sehari hari. Kampanye bisa dilakukan dengan mengadakan workshop lingkungan hidup, bulan kebersihan, tahun lingkungan hidup ataupun penyebaran leaflet-poster lingkungan hidup. Instruktur-instuktur didatangkan dari lembaga lembaga lingkungan hidup sedang sebagai lembaga penggerak di tingkat santri bisa ditunjuk SAPALA (Santri Pencinta Alam) ataupun dibentuk tim atau lembaga khusus untuk menangani sampah.

B. Pemilahan sampah
Tidak hanya mengandalkan pendekatan ‘bottom up’ pendekatan ‘top down’ juga harus diterapkan. PST harus didukung dengan kebijakan pengelola (Pimpinan pesantren). Salah satu fungsi pengelola pesantren adalah untuk membentuk system pemilahan sampah (organic-non organic). Disetiap titik pembuangan sampah harus tersedia fasilitas tempat pembuangan bagi kedua jenis sampah ini. Hal ini juga harus dibarengi oleh kampanye pentingnya pemilahan sampah organic dan non organic ini yang bisa disertakan disetiap titik pembuangan sampah.

C. Pendirian Pusat Daur Ulang dan Komposing
Berbarengan dengan itu, pengelola pesantren diharapkan menyediakan dan membangun Pusat Daur Ulang dan Pusat Kompositing. Pusat Daur Ulang (PDU) inilah yang menjadi pos akhir sampah sebelum diolah menjadi barang yang mempunyai nilai ekonomis. PDU ini pula yang menjadi pusat kreativitas dalam system PST. Kertas daur ulang, piring anyaman, kartu ucapan, kota k hias adalah contoh sebagian hasil daur ulang dari sampah-sampah non organik. Sedang pusat Komposing menghasilkan kompos tradisional yang terdapat lebih dari 20-an jenis kompos sebagai hasil pengelolaan sampah organik.

Beberapa alasan perlunya metode daur ulang ini adalah:

Keterbatasan lahan untuk dijadikan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah. TPA juga mempunyai keterbatasan antara lain lamanya waktu untuk mampu menampung.
Pembakaran sampah bukan jalan keluar karena akan manambah polusi udara. Pembakaran akan mengeluarkan gas pada hujan asam (acid rain) racun logam berat (toxic heavy metal) dan dioxins.
Kalau dijadikan kebiasaan, daur ulang dapat dilakukan dengan cepat.
Mempunyai nilai ekonomis disbanding dengan pengadaan incinerator (mesin pembakan sampah. Bahkan dengan kreativitas yang tinggi, daur-ulang dapat menjadi bisnis yang bagus.
Menghemat sumber daya alam.
Menghemat energi yang dibutuhkan untuk memproduksi barang sama sekali.
Membantu penyelamatan hutan tropis dan penggundulan hutan. Kertas daur ulang akan mengurangi penebangan pohon untuk bahan dasar bubur kertas (pulp).

Sebagai kesimpulan, metode pengelolaan sampah terpadu (PST) yang berbasis masyarakat dan mencakup metode daur ulang (recycle) dan Kompositing sampah organik bukan hanya mungkin dilaksanakan di pesantren, tetapi mungkin menjadi solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah sampah sekaligus menjadikan sarana pendidikan lingkungan hidup dan kreativitas bagi santri dan masyarakat.


Dirangkum oleh Hadiyanto Arief dari buku: Small Steps Towards a Big Leap, langkah kecil untuk lompatan besar; panduan untuk pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat, sekolah dan pramuka. UNESCO, 2004

Talents make capital dance

Jonas Ridderstrale and Kjell Nordstrom’s book seeks to explore world’s nowadays business condition and how business organisation or anyone wishes to involved in business should perform. Using the term ‘Talent makes capital dance’, they draw a kind of brain-based world business environment.

The whole book draws how business world have changed. It describes some of economic theories, from the machine age which is renowned with its Fordism assembly line untill the way internet has led information technology age and has changed most of management style in business organisations.

The world business condition appears to be shaped by lot of contribution from development of technology, especially information technology. Information technology, which is led by internet, has made almost anything available to anyone, anywhere and anytime. Ridderstrale and Nordstrom state that information technology decreases time and space. It causes to “shrink the world” and makes a global market phenomenon. Moreover, information technology enables total transparency, as a result, this seems causes people with access to relevant information are beginning to callenge any type of authority and appears it changes styles of nowadays business organisations. Both them also claim that it will shape markets to its perfect and very traditional shape, Bazaar. In traditional bazaar, as in nowadays markets situation, informations about the products are available at consumer’s fingertips. Markets believed to become more efficient and thus affect everything involved in business processes. Business best practice move faster than ever before. Therefore, funky business can also mean ‘more competition for everything in everywhere.’

There are two other forces of funk besides information technology which argued by Ridderstrale and Nordstrom have most contribution to shape the funky time. The change of institutions in society believed to be one of them. Institutions considered as contractual arrangerments that bind people. It may be states, political parties, eternal enterprise and even family. The last force of funk is values. Value system, which become base for every institution, organisation and society, argued to be has changed slowly. It affects people’s thoughts, deeds, artefacts and actions. Value system believed to has been geographically liberated. Values in working places and spiritual emptiness become one of the biggest aspects that shape the funky world.

The most important reason for those situations and become central point of the book seems to be an importance of knowledge. A brain, as a based tool of knowledge believed to be a critical means of production. The book also draws how knowledge spreads globally and instantly and unstopable. It is becoming more and more important than ever. The book describes the knowledge as “The new battlefield for countries, corporations and individuals”. Futurist Alvin Toffler once said that the “brute force economy” is being superseded by a “brain force economy.”(Crainer, 1996) Brain has become the central and the most important aspect of production. Brain replaced the most important aspect of production in machine age, which once appeared in Henry Ford’s lamenting expression; “How come when I want a pair of hands I get a human being as well.” It also appeared in what Charles Handy has said in his book, the Age of Unreason, (Handy, 1992): “Comparative advantage means that there is something for which others will pay a price, be it minerals, cheap labour, golden sun or brains. For Britain and the rest of the industrialized world it has, increasingly, to be brains. Brains are becoming the core or organisations-other activities can be contracted out.”

On the other hand, Handy’s phrase about Britain and industrialized world should be given more consideration from Ridderstale and Nordstrom. How extend the internet and information technology have an effect on business in particular country is seems not in the same speed and depend on many aspects. One of significance aspect has drawn by Hofstede, (Morden, 2004) which is known by ‘National Culture.’ National culture is defined as the ‘collective mental programming’ of society. Fukuyama defines national culture in terms of ‘inherited ethical habit.’ (Morden, 2004) Hofstede believes that people from any particular nationality are culturally conditioned by particular patterns of socialisation, education, and life experience. (Morden, 2004) Furthermore, he argues that cultural conditioning is stable and resistant to change. His reason is because national culture resides : (i) collectively in the mental make-up of the people in the society; (ii) in their institution (family, education, religion, forms of government, associations and institutions, law, work organisations, literature, settlement patterns, towns and cities, buildings, etc.) and (iii) in their ideologies, technology, and scientific theories.

Following that, there should be more specific and clearer arguments about how extend the influences of internet and information technology development in a worldwide, especially in non-industrialized countries. For comparing, in Indonesia, one of South East Asia developing country, only about 14 million from about 238 million of people who recognised as active internet user. (www.komfindo.or.id, 2004) Compare it with a fact from a research in 2002 about relation between internet usage and industrial behaviour in Spain, one of industrialized country members of European Union, which about 8,5 million from about 40 million population is known as internet user. (www.nielsen-netratings.com, 2004) The conclusion of the research is there is not as yet possible to find any proof of a cause-effect relationship between internet usage and improvements, percetible to the client, that are liable to change the dynamics of competition within pharmaceutical industry in Spain. The research in pharmaceutical industry had choosen because the sector was one of the pioneers in the introduction of robotics, telecommunications and computer technology in the organization, achieving a high degree of technological development from the early 1970s in Spain. (Ana Rosa, et al, 2002)

On the other part of this book Ridderstrale and Nordstrom establish some opinions about companies and leadership. Companies, as a backbone of business world are claimed to stay dominant. Corporations are the dominant social institutions of our age. It said in the book that 300 largest multinational companies control 25 percent of all the productive assets on earth. These global firms are considered as the new empires roaming and running the world.

However, there still some business organisations come and go. Some organisations change shape constantly, thus, survive and even succeed. They even reorganize, realign and refocus. There is no organisation stays the same. In that case, there are some related characteristics of which believed will keep the organisation survive and have a chance to survive according to this book. Funky Inc., a phrase that Ridderstrale and Nordstrom use to label those organisations is defined as an organisation that actually thrives on the changing circumstances and unpredictability of our times.

The characteristic of these organisations can be seen from how these organisations looked and operated. The first character for companies is to be focused. The organisation argued to be focused to secure their existence in business world. Furthermore, it should be narrow on one or just a handful of core business. They take the basic idea from Adam Smith who has pointed out that “the size of a market increase so should the degree of specialisation.”

The second aspect of Funky Inc. is that leveraged. Once organisation has identified its basic business, the core capabilities and the target tribe, it has to leverage its key resources. Leveraging is a three-stage process. The first is internal, then industrial and international leverage. Internal leverage is a process that happens inside the organisation and it is influence the style of management in the organisation. Internal leverage is about building a learning organisation, increasing the rate of knowledge transfer and transformation and this starts with leveraging knowledge throughout the firm. It is argued that learning must be a key task for any leader in the firm to ensure the continuous transfer of knowledge across organisational boundaries. Therefore, Funky Inc. is built around forums, virtual and real, where people can meet, rather than boxes and arrows that isolate them in unbreakable silos. Industrial leverage is happen when organisations use their core competences and competents to enter new industries, just like not what Ford did, they do so without trying to control all process internally. International leverage means business organisations should keep to be global, administratively, structurely and systematically.

To remain unique, it said that organisations must constantly sharpen their competitive edge. Furthermore, innovation argued to be not only a matter of technology. Innovation concerns every little aspect of how organisations operate their administrative, marketing, financial, design, human resource and even service concept innovation. To be innovative, the style of management should be different. The reason appears that people need resources and time to sit down and reflect to be creative. People need time to be alone and play around and so give them a chance to make experiments and to have casual conversation with other. Ridderstrale and Nordstrom claims the fundamental starting point as the consequences of developing a brain based firm, is to allow people to be themselves and to look as they want appears. Sharing a number of things considered will be helpful to manage this style of organisation. Ownership share, rewards, identity, culture, language, knowledge and attitudes are the examples.

Funky firm also argued to be not hierarchycal in its structure. Alternatively, it should be heterarchical. The reason can be seen from the nature of hierarchy. Hierarchy word literally means: ‘to rule through the scared’. Moreover, hierarchy said to be built on three key assumptions: the environment is stable, the processes of organisation are predictable, and the output is given. They believed in a surplus society, an economy moving forward at high speed, and in companies heavily reliant on brainpower, traditional hierarchis will get constant nervous breakdown. Organisations need structures that support experimentation and the creation of innovation. On the other hand, most of new organisation will be heterarchical, containing many hierarchies of different kinds.

Spaghetti organisation is a term that Ridderstrale and Nordstrom use to express the style of that kind of heterarchical organisation. Every person in this kind of firm belongs to a group of resources. Any individual is tied to a project, an area of expertise profession, and to people dimension. Projects comprise the operation style in this kind of organisation.

Management style from such kind organisation appears to be accordance with the theory of “Management by objective” or MBO which was put forward by Peter Drucker (Morden, 2004). MBO is a management style that may be applied where employees are in a position to exercise at least some degree of discretion within their jobs. This kind of management requires an open two-way communication relationship between the superordinate and the subordinate. They need to identify, clarify, agree together what are the basic performance parameters, measurement values, and required outcomes of the subordinate’s work. The result of the agreement should content the objective of subordinate and how these objective or targets should be achieved. It also accordance to the theory attribute to this concept which was developed by Ouchi (Morden, 2004) and known as concept ‘Management by Wandering Around.’ It is a close managerial participation in events, rather than the distant giving of orders. Managers who practice this kind of management style become highly visible and accessible. It reduced the status difference between superordinate and subordinate staff. They also attempt to maximise the degree which issues are resolved by direct, face to face, verbal communication and negotiation with peers and subordinates. Therefore, it associated with speedy, consultative, and informal decision-making. In the face of an increasingly complex knowledge landscape, organisations have to strengthen the power of the professional and process structure. There still a critical role for management to play. But they are considered no longer the only actors or stars in organisations.

However, such kind of idea of organisation style that Funky Business proposes has appeared parallel with other ideas from previous management thinkers. Compare it by Shamrock organisation which proposed by Charles Handy in his book, The Age of Unreason. (Handy, 1992) The organisation called by Shamrock, the Irish national emblem, symbol of three aspects of God (Trinity). It used to make point that the organisation is made up of three very different groups of people. The first group is the core workers (the core), or professional core. These are the people who are essential to the organisation. The second group is the group of people who contracted (the contractual fringe) by the organisation to do non-essential works in organisation. The third group in the shamrock is the flexible labour force, all those part-time workers and temporary workers who are the fastest growing part of the employment scene.

Handy establishes F International in Britain as an example such kind of organisation. (Handy, 1992) It seems can be identified some similarity with organisation style that Ridderstale and Nordstrom argued. FI’s Charter’s statement that the organisation designed to develop, through modern telecommunications, the unutilized intellectual energy of individuals and groups unable to work in a conventional environment seems to indicate an innovative aspect of the organisation. The focus and heterarchical aspect of Shamrock seem reflected from its behaviour to contract the special worker in second group. The organisation subcontracts particular works to whom considered to be capable to do it better than if they do by themselves. The first group- the core workers- therefore can be focus to their speciality. Meanwhile, the organisation stucture will be flatter and smaller.

Furthermore, Ridderstrale and Nordstrom establish seven features of the funky firm. The first, it said that funky firm is smaller, because the people creative in small teams.The second is it flatter. The flatter the firm, the faster the time to detect the problem appears and the faster solution implementation.The next is that organisation style working in projects and groups and temporary. Organisations have to be able to recombine their key assets and turn the firm into a team park.The fourth is Funky firms should work horizontally in process. Hierarchy is not accordance to the brain based world because vertical hierarchical logic builds upon the simple assumption that the smart ones are located at the top and the stupid ones at the bottom.The fifth, funky firms is circular. Circularity is about organisational democracy. This principle is perhaps more difficult to grasp. It built on the fact that people has a tremendous ability to self-organise once they get 360-degree feedback.The sixth features is organisation should be open. Given that the firm is narrower and hollower, organisations also need to develop abilities to become increasingly networked. The last feature is that everything in organisation will be measured as a substitue for the loss of hierarchical control resulting from the introduction of new structures. Information system will be used to increase control by measuring more things, new things, at multiple levels, and at a greater frequency than before. The fact that Xerox’s Anne Mulcahy and Pepsi’s Steven Reinemund regarded as one of the best managers of 2004 by Business Week magazine seems appear as evidence. Anne Mulcahy’s key accomplishment is to push for faster decision making and instituted lean Six Sigma to improve efficiency in her organisation, as Reinemund’s greatest achievement is in developing people more than products. He personally takes a major role in mentoring and teaching staff-both formally and informally. He also demands that everyone in the senior ranks do the same. (Business Week, 2005)

However, it should be considered that there are significance differences between organisations from its network point of view. Charles Snow and Raymond Miles (1992) describe the different form of organisations based on the forms of network organisation. Some organisations compete in stable network, therefore less affected by rapid technological change, such as manufacturing and food retailing. Some other operates in Dynamic network, such as computer manufacturing and fashion retailing which are affected by a high degree of environtment change. As Internal networks are similar to stable networks in that they operate in an environment that is less prone to change. The differece, however, is that there is a high need for knowledge transfer between the various elements of the network to leverage and fully exploit the internal resources. (Jackson, Ed., 1999)

In conclusion, Funky Business gives a new perspective link between economic world and humanity even though is not much original idea from this book. It gives a wholistic view for either people or organisation how to survive and to compete in nowadays speedy changing brain-based business environment. However, there seems appears some over-generalisation to see the speed of changing in business worldwide, especially which related to information technology, even though it is not reduce the contribution for business and management development.










Reference:
Ana Rosa Del Aguila Obra, et.al.(2002). “Internet usage and competitive advantage: the impact of the Internet on an old economy industry in Spain” Emerald Journal, Volume 12 Number 5 2002, [internet] Availablefrom: http://juno.emeraldinsight.com/vl=651591/cl=12/nw=1/fm=html/rpsv/cw/mcb/10662243/v12n5/s3/p391

Business Week’s Special Report: The Best and The Worst Managers of The Year. Business Weeks magazine. European Edition/ January 10-17, 2005 edition. Page. 34-41.

Crainer, Stuart., (1996) Key Management Ideas, Thinkers that changed the Management World. Pitman Publishing. London.

Handy, Charles (1992) The Age of Unreason. 2nd edition. Century Business imprint. London.

Jackson, Paul. Ed. (1999) Virtual Working, Social and organisational dynamics. Routledge. London.

Morden, Tony., (2004) Principles of Management. Ashgate Publishing Ltd. Hants, England.

Ridderstrale, Jonas and Nordstrom, Kjell,. (2002) Funky Business, Talent Makes Capital Dance. Pearson Education Ltd. Great Britain.

Official Website of Ministry of Communication and Information of the Republic of Indonesia (2004) Pengguna Internet 2005 Diproyeksikan 20 Juta /there will be 20 million internet user in 2005 [internet] Available from: http://www.kominfo.go.id/index.php?action=view&pid=news&id=81 .

(2004) http://www.nielsen-netratings.com/news.jsp?section=dat_to&country=sp

(2004) http://www.countryreports.org/country.asp?countryid=225&countryName=Spain

(2004)http://www.countryreports.org/country.asp?countryid=115&countryName=Indonesia

Multiple Intelligences di Pondok Pesantren

Sadarkah kita, bahwa sistem pendidikan yang diterapkan oleh kita dan sekolah-sekolah umum di Indonesia bukanlah merupakan sebuah sistem pendidikan, tetapi lebih merupakan sistem eliminasi?! Sistem ini mengeliminasi dan membedakan mereka yang dianggap cerdas (secara sempit melalui ukuran IQ, yaitu UJIAN) sekaligus mencap sisanya sebagai ”mereka yang tidak pintar”.

Kecerdasan yang diukur oleh ujian dan ditampilkan dalam raport (IQ dan IP) hanya mengukur kemampuan bahasa, matematika dan kemampuan mengingat data pelajaran yang semuanya berkaitan dengan kemampuan kerja otak kiri, sedang kemampuan kreativitas, kapasitas emosi, hubungan sosial dan nuansa spiritual termasuk juga kecerdasan emosional (EQ) yang merupakan hasil kerja otak belahan kanan dari manusia tidak tersentuh oleh ukuran-ukuran sistem pendidikan di kebanyakan sekolah umum di Indonesia.

Padahal, menurut beberapa ahli, pada kenyataannya, ukuran prestasi akademik yang biasa dinilai dengan UJIAN tidak berkaitan banyak (hanya 10%) dengan keberhasilan hidup mereka nantinya. Banyak contoh dari mereka yang berhasil di dalam hidup tidak terlalu baik dalam catatan akademiknya. Thomas Alfa Edison, penemu paling produktif dunia bahkan pernah dicap sebagai ”terlalu lemah otaknya” oleh gurunya dan hanya merasakan 3 bulan di bangku sekolah. Begitu juga Henry Ford, salah satu orang paling sukses di dunia otomotif. Bill Gates, Jeff Bezos, Michael Dell adalah beberapa orang terkaya di dunia saat ini yang berhasil melalui keunggulan kreativitas mereka di bidang teknologi informasi yang tidak pernah merasakan bangku kuliah (Bill Gates drop out dari kuliahnya di semester 2)..

Begitu banyaknya contoh dari keberhasilan pribadi pribadi kreatif yang tidak merasakan pendidikan akademik menimbulkan pertanyaan tentang keefektifan sistem pendidikan umum yang ada. Apakah bijak memaksakan secara rata pola belajar anak didik untuk mencapai prestasi akademik jika tiap pribadi adalah berbeda secara alami? Bukankah likulli syai’in maziyyah? each of us is unique, just like everyone else? Bahkan kalau kita mau mencari, asal kata pendidikan dalam bahasa inggris, education, berasal dari kata latin, educare, yang berarti mengeluarkan. Seyogyanyalah, pendidikan harus kembali ke asal tujuannya, yaitu mengeluarkan potensi alami anak didik, mendorong anak untuk menggunakan otak (kiri dan kanan) nya secara maksimal sehingga bisa berfikir kreatif dan imajinatif dan bukannya memaksa mereka mengingat data pelajaran di kepala mereka yang merupakan kerja otak kiri mereka.

Dalam bukunya Frames of Mind (kerangka pikiran), Howard Gardner (1980) mengidentifikasi 8 (delapan) kecerdasan (Multiple Intelligence) dengan kapasitas yang berbeda-beda pada setiap orang:

Linguistik-verbal: Kejeniusan yang sekarang dipakai oleh sistem pendidikan kita untuk mengukur IQ seseorang. Ini merupakan kemampuan bawaan seseorang untuk membaca dan menulis kata-kata. Ini adalah kecerdasan yang sangat penting karena hal ini merupakan cara utama umat manusia mengumpulkan dan membagikan informasi. Para wartawan, penulis, pengacara dan guru sering kali dianugerahi kejeniusan macam ini.

Numerik: kecerdasan yang berhubungan dengan data yang diukur dalam angka-angka. Seorang ahli matematika dan akuntan handal dianugerahi dengan kejeniusan ini.

Spasial: kejeniusan yang dimiliki oleh banyak orang kreatif-para artis dan desainer termasuk para pembalap dan atlit sepak bola. Kemampuan seseorang untuk menyebrang jalan ramai lalu lintas dan bisa memperkirakan kapan sebuah mobil akan sampai pada titik tertentu adalah contoh dari kecerdasan ini.

Musikal: Kejeniusan yang dimilik oleh banyak musikus, komposer, pemain band dan pencipta lagu.

Fisik: Kecerdasan yang dianugerahkan pada banyak atlet dan penari besar. Ada banyak orang yang tidak berhasil baik di bangku sekolah dianugerahi secara fisik. Itu kerap kali adalah orang-orang yang belajar dengan melakukan-sering disebut pembelajaran ”dengan mengoperasikan”.

Intrapersonal: Kejeniusan yang kerap disebut ”kecerdasan emosional”. Ini adalah apa yang kita katakan pada diri kita, misalnya, ketika kita takut atau marah. Sering kali, orang tidak berhasil dalam sesuatu bukan karena kurangnya pengetahuan otak, tetapi karena mereka takut gagal. Misalnya banyak orang pandai dengan peringkat baik namun kurang berhasil hanya karena mereka hidup dalam rasa takut berbuat salah atau gagal. Banyak orang tidak menghasilkan banyak uang hanya karena mereka takut kehilangan uang. Dalam bukunya Emotional Intelligence, Daniel Goleman mengutip seorang humanis abad enam belas, Erasmus dari Rotterdam, yang menyatakan bahwa pemikiran emosional dapat menjadi dua puluh empat kali lebih hebat daripada pemikiran rasional. Kebanyakan dari kita telah mengalami kekuatan otak emosional melebihi otak rasional, terutama bila kita lebih takut daripada berpikir logis atau ketika kita mengatakan sesuatu yang kita tahu seharusnya tidak akan pernah kita katakan. Kecerdasan ini dianggap kecerdasan yang paling penting dari semua kecerdasan, karena kecerdasan ini adalah kontrol kita atas apa yang kita katakan pada diri kita sendiri. Ini adalah saya yang berbicara pada diri saya dan anda berbicara pada diri anda.

Interpersonal: Kejeniusan yang ditemukan dalam diri orang yang dapat berbicara atau berkomunikasi denga mudah dengan orang lain. Orang dengan kejeniusan ini sering kali adalah komunikator yang kharismatis, penyanyi, pengkhotbah, politikus, aktor, salesman dan penceramah yang hebat.

Lingkungan : Kejeniusan yang berasal dari umat manusia terhadap hal-hal di sekeliling mereka. Ada orang-orang yang secara ntural mempunyai bakat untuk berhubungan dengan hal-hal seperti pohon, tanaman, ikan, lautan, binantang dan tanah. Ini adalah kejeniusan yang dimiliki oleh para petani, pelating binatang, ahli kelautan, penjaga dan pemelihara taman yang hebat.

Lebih jauh lagi, dalam bukunya yang berjudul Intelligence Reframed, Gardner menambahkan tiga kecerdasan yang tak kalah pentingnya; kecerdasan naturalis, kecerdasan eksistensia, dan kecerdasan spiritiual (Gardner, 1999). Pasangan Ilmuwan Ian Marshal dan Danah Zohar juga memperkenalkan spiritual intelligence sebagai ultimate intelligence atau kecerdasan yang paling utama. Semuanya mendasari maraknya perkembangan wacana dan pelatihan kepribadian yang berkembang di masyarakat Indonesia terutama di kota-kota besar beberapa tahun terakhir.

Sekarang, kalau kita perhatikan format pelatihan EQ, ESQ maupun Outbound-Outbound peningkatkan kepribadian melalui program program peningkatan kepribadian yang ada, bukankah sebenarnya tidak jauh berbeda dari program kepengasuhan santri di kebanyakan pondok pesantren?. Bukankah itu menandakan kesadaran dan pengakuan masyarakat (bahkan barat) bahwa sistem pendidikan yang unggul adalah sistem pendidikan pesantren dengan kepengasuhan santrinya? Bahwa sumber daya manusia yang akan survive dan berhasi adalah mereka yang tidak hanya unggul secara IQ, tetapi juga kematangan emosional, bahkan kematangan spiritual?

Lalu? Apa yang selayaknya dilakukan oleh pengasuh Pondok Pesantren untuk meningkatkan kualitas santri?

Pertama, kita harus merubah penilaian kita tentang orang pintar, mereka yang cerdas, siapa yang jenius, karena setiap pribadi anak adalah berharga, cerdas, pintar dengan kelebihannya masing-masing. Dengan merubah pandangan kita, diharapkan kita bisa memahami lebih dalam perbedaan tiap pribadi anak murid dan pada akhirnya mendorong anak untuk mengeluarkan potensi mereka sesuai bakat dan minat masing masing pribadi anak.

Kedua, sebagai penyelenggara lembaga pendidikan pondok pesantren, mereka harus menyadari bahwa mereka punya kesempatan banyak untuk mengembangkan keseluruhan potensi anak didik, termasuk delapan kecerdasan diatas. Bagaimana? Tentunya dengan memberi kesempatan anak didik untuk berkarya melalui bakat dan minatnya masing masing melalui kegiatan extra kurikuler.

Kegiatan extra kurikuler, tentunya yang sesuai dengan alam Islam di Pondok Pesantren harus didukung lebih jauh. Kepengasuhan santri harus selalu menjadi ujung tombak pendidikan di Pondok Pesantren. Latihan keorganisasian dan kepimimpinan sebagai pelatihan kecerdasan intrapersonal, muhadloroh sebagai wujud dari kecerdasan interpersonal, kegiatan kesenian, kepramukaan dan kreativitas, lukis, kaligrafi, desain grafis sebagai wujud dari kecerdasan spasial, musik, olahraga sebagai wujud kecerdasan fisik harus diutamakan dan didukung sepenuhnya bila Pesantren tidak ingin ditinggalkan zaman. Intinya, pesantren selayaknyalah mendorong santri untuk mengenal dirinya sendiri dan memberi kesempatan para santrinya untuk mengembangkan potensi natural positif dan kreativitas mereka dibawah bimbingan pengasuh.

Kualitas imajinasi dan kreativitas seseorang (yang menurut Einstein lebih penting dari pengetahuan itu sendiri) serta kualitas kesadaran, kemauan serta kemampuan untuk belajar terus menerus dari kehidupan (dan bukan hanya dari guru dikelas) sudah seharusnya menjadi karakter santri selulusnya mereka dari pondok, karena saat itulah hidup mereka dimulai dengan jalannya masing-masing. Maka dari itu, membekalinya dengan pengetahuan akan potensi diri mereka sendiri harus menjadi salah satu tugas utama pengasuh di Pondok Pesantren sehingga santri benar-benar memahami hikmah dari kata kata halaka’umru’un lam ya’rif qodrohu.

wallahu a'lam bisshowab..

Dedy

Untuk melihat sedikit video tentang Multiple Intelligence di Pesantren; http://uk.youtube.com/watch?v=CwoVBnXUCqk

Cinta Sesama adalah Inti Ajaran Islam

Sedikit cerita tentang keutamaan mencintai sesama dan sadaqoh.. satu jiwa yang tertanam di diri orang tua kita dan harusnya pula tertanam dijiwa kita. Sudahkah?

Seorang syaikh menyampaikan cerita berikut ini, Kaum Bani Israil satu kali mendatangi Musa, "Wahai Musa, kami ingin mengundang Tuhan untuk menghadiri jamuan makan kami. Bicaralah kepada Tuhan supaya Dia berkenan menerima undangan kami." Dengan marah Musa menjawab, "Tidakkah kamu tahu bahwa Tuhan tidak memerlukan makanan?" Tetapi, ketika Musa menaiki bukit Sinai, Tuhan berkata kepadanya, "Kenapa tidak engkau sampaikan kepada-Ku undangan itu? Hamba-hamba-Ku telah mengundang Aku. Katakan kepada mereka, Aku akan datang pada pesta mereka Jumat petang."
Musa menyampaikan sabda Tuhan itu kepada umatnya. Berhari-hari mereka sibuk mempersiapkan pesta itu. Pada Jumat sore, seorang tua tiba dalam keadaan lelah dari perjalanan jauh. "Saya lapar sekali," katanya kepada Musa. "Berilah aku makanan." Musa berkata, "Sabarlah, Tuhan Rabbul Alamin akan datang. Ambillah ember ini dan bawalah air ke sini. Kamu juga harus memberikan bantuan." Orang tua itu membawa air dan sekali lagi meminta makanan. Tapi tak seorang pun memberikan makanan sebelum Tuhan datang. Hari makin larut, dan akhirnya orang-orang mulai mengecam Musa yang mereka anggap telah memperdayakan mereka.
Musa menaiki bukit Sinai dan berkata, "Tuhanku, saya sudah dipermalukan di hadapan setiap orang karena Engkau tidak datang seperti yang Engkau janjikan." Tuhan menjawab, "Aku sudah datang. Aku telah menemui kamu langsung, bahkan ketika Aku bicara kepadamu bahwa Aku lapar, kau menyuruh Aku mengambil air. Sekali lagi Aku minta, dan sekali lagi engkau menyuruh-Ku pergi. Baik kamu maupun umatmu tidak ada yang menyambut-Ku dengan penghormatan."
"Tuhanku, seorang tua memang pernah datang dan meminta makanan, tapi ia hanyalah manusia biasa," kata Musa. "Aku bersama hamba-Ku itu. Sekiranya kamu memuliakan dia, kamu memuliakan Aku juga. Berkhidmat kepadanya berarti berkhidmat kepada-Ku. Seluruh langit terlalu kecil untuk meliputi-Ku, tetapi hanya hati hamba-Ku yang dapat meliputi-Ku. Aku tidak makan dan minum, tetapi menghormati hamba-Ku berarti menghormati Aku. Melayani mereka berarti melayani Aku."

Berbakti kepada sesama manusia bukanlah kewajiban sekelompok orang. Setiap Muslim apa pun jenis kelamin, usia, dan status sosialnya berkewajiban memperlakukan semua orang dengan baik.

Dalam Al-Quran juga ada perintah, "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Berbaktilah kepada kedua orangtua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, orang-orang yang kehabisan bekal, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, yaitu orang-orang yang kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Kami telah menyediakan orang-orang kafir seperti itu, siksa yangmenghinakan."(QS.Al-Nisa’,36-37)

Tindakan membahagiakan orang lain disebut sebagai shadaqah. Kata ini berasal dari "shadaqa", yang berarti benar sejati atau tulus. Orang yang bersedekah adalah orang yang imannya tulus. Sedekah tidak selalu berbentuk harta atau uang. "Termasuk sedekah adalah engkau tersenyum ketika berjumpa dengan saudaramu, atau engkau singkirkan duri dari jalanan," sabda Nabi Muhammad SAW. Untuk bisa menolong orang lain dengan tulus, kita memerlukan kecintaan tanpa syarat (unconditional love) kepada semua orang. Cinta inilah yang dimasukkan sebagai fitrah dalam hati kita. Cinta ini adalah seperseratus dari Rahmat Allah yang dijatuhkan Tuhan di Bumi.

Rinjani adventure

Youtube fenomena

Sedikit refreshing mungkin ada yg belum tahu apa sebenernya Youtube itu.

Tahukah antum? Membahas Youtube sangatlah menarik bagi mereka yang sempat merasakan kehidupan di negeri-negeri maju dengan infrastruktur Broadband yang sophisticated.

Saat ini, sekitar 100 juta video clip di tonton setiap harinya dari segala penjuru dunia, sekitar 65,000 video baru di upload dalam 24 jam dan 20 juta pengunjung setiap bulannya (Nielsen/Net rating).

Apa yang membuat Youtube begitu menarik?Banyak hal, dan pertama, Youtube merupakan sebuah fenomena business internet. Diciptakan oleh 2 orang anak muda,Chad Harley n Stephen Chen asal amerika pada February 2005 di sebuah garasi mobil, Youtube kini dimiliki oleh Google, diacquire pada October 2006 (20 bulan sejak pertama beroperasi) dengan harga US$1.65 billion dan menjadikan mereka Milyarder).

Secara philosophis, Youtube juga diyakini merupakan sebuah media alternatif yg bisa mewakili karakter sebuah generasi, yaitu generasi broadband. Kalau melihat dari semboyannya "Broadcast yourself" Youtube adalah sebuah media tanpa sensor (almost) untuk mereka yang ingin tampil dan berkomunikasi secara audio visual secara global.

Tapi jangan kaget, tak hanya anak muda generasi iPod yang tertarik dengan Youtube, banyak kalangan lain yang melirik Youtube sebagai media effektif untuk tampil. For example, didunia politik, Amerika khususnya, Barrack Obama and Hillary Clinton menggunakan Youtube sebagai media campaign politik mereka.

Dari segi hukum, Youtube juga sangat menarik karena banyak aspek2 hukum internet, terutama menyangkut video copy rights and other Intellectual Property rights. Kalangan Hollywood sampai saat ini beranggapan bahwa Youtube sebagai "'the marketing guys love YouTube and the legal guys hate it" Sesuatu yang sangat dicintai oleh para praktisi Marketing tapi sangat dibenci oleh praktisi hukum. Memang, media yg hampir tanpa sensor, termasuk Youtube pastilah mempunyai dua sisi mata pedang, positif dan negatif. Tapi, itu saya rasa bukan sebuah alasan untuk menjadikannya sebuah hal yang hitam putih dan menyingkirkannya dari kehidupan kita (dan anak kita tentunya).

Anyhow, sebagai seorang student yang kebetulan sedang menetap di negeri dengan infrastruktur broadband yang kuat, saya melihat sebuah kesempatan yang tidak boleh dilewati. Banyak juga content2 Islam yang di upload di Youtube dan saya rasa itu sebagai sesuatu yang positif dan menantang. Media ini harus bisa kita pergunakan untuk membawa misi besar kita, misi Gontor, Misi Darunnajah dan misi ummat Islam generally. Walhasil, banyak video yang saya rasa mubazir bila hanya disimpan di Harddisk laptop saya. Termasuk video Darunnajah, Gontor dan sebagainya. Sebagai penanggung jawab DN Production House sebagai salah satu badan usaha milik Darunnajah yang telah memproduksi video-video tersebut, saya juga mengajak rekan kawan haula yang mungkin punya minat dan tertarik untuk mengembangkan dakwah lewat media audio visual, terserah nantinya kita menggunakan platform apapun, CD,DVD, Internet, TV ataupun Layar Perak. Almuhim, content sebagai aspek substansial haruslah kita kuasai, dan untuk kepentingan bersaing dibidang itu, Kreativitas dan imaginasi menjadi kuncinya.

Even Einstein once said; "Imagination is more important than knowledge"

Wassalam,Hadiyanto, 696ps;
www.youtube.com/barracoeda

data diambil dari Wikipedia n Sorry kalo banyak ngelantur, maklum pusing disertasi..

Satu abad Scouting

Sedikit intermezzo disela-sela peringatan satu abad Gerakan Pramuka (Scouting Movement) yang tak asing lagi bagi mereka yang pernah menjalani hidup di pesantren.. apalagi yang pernah jadi Bindep.. ;p

Diumurnya yang ke satu abad ini, 28,000,000 pramuka dari seluruh penjuru dunia, 160 negara mengikuti event Jamboree di Chelmsford, UK pada weekend ini, mengusung kembali pidato Baden Powell di perkemahan pertama yang intinya mengajak kepada perdamaian (peace), persahabatan (comradership) and kerjasama (cooperation) dan membuang jauh-jauh persaingan antara classes, keserakahan (creeds) and countries yang telah banyak menimbulkan perang yang tiada habisnya..

Tapi, tahukah kalian?
Bahwa gerakan pramuka (The Scouting Movement) dirintis oleh Lord Baden-Powell pada tahun 1907 di Brownsea Island, UK, satu abad yang lalu, untuk menumbuhkan jiwa disiplin, teamwork and jiwa petualangan; hanya ada 20 anak lelaki sebagai peserta perkemahan pramuka pertama di dunia tersebut;
Buku karangan Baden Powell, Scouting for Boys, yang terjemahannya biasa dipakai sebagai panduan pramuka di Indonesia adalah salah satu buku terlaris di muka bumi abad 20;


Hanya 6 negara di dunia yang tidak memiliki Scout Movement; Cuba, Burma, Laos, China, Korsel dan Andorra;
Diantara famous persons yang "mantan pramuka" termasuk: David Beckham (English Footballer), Sir Richard Branson (Virgin company) and Harrison Ford (Indiana Jones); dan
Dari keseluruhan 12 orang yang pernah berjalan di muka Bulan, 11 diantaranya adalah pramuka
Bagaimana? ikut bangga kan pernah jadi Pramuka? ayo, siapa yang masih hapal Dasa Dharma??

Dedy
Mantan Group Jago Darunnajah, pernah ikut LT IV Jakarta
Mantan Pasukan inti MENTERESE di Gontor


Dikutip dari berbagai sumber

Ramadhan di Inggris

Tidak terasa, sudah ketiga kalinya saya menjalani ibadah puasa Ramadhan dan 'Eid Fitr di UK. Banyak suka duka saat menjalani puasa di negerinya lady Diana ini.

Puasa pertama di UK yang saya rasakan adalah saat di Sunderland, kota kecil tak jauh dari Newcastle di utara Inggris. Saat itu saya tinggal di salah satu akomodasi dari kampus. Ramadhan tahun 1425 bertepatan dengan musim gugur di musim gugur di bulan October. Matahari terbit sekitar jam 8 pagi dan terbenam sekitar jam 5 sore. Lumayan menyenangkan bagi yang sudah biasa puasa di Indonesia karena jadi teramat singkat. Sahur masih bisa dilaksanakan sekitar jam 6 pagi sedang jam 5 sore kita sudah mulai berbuka. Hawa dingin sekitar 7-10 derajat celcius disiang hari menambah kenyamanan dalam menjalankan puasa.

Perasaan aneh mulai terasa bila kita jalan dipusat kota maupun dikampus karena semua orang asyik makan dan minum tak ada bedanya hari biasa sehingga tidak ada suasana puasa sama sekali. Tidak pula ada suara azan atau ayat-ayat Quran dikumandangkan apalagi suara anak muda membangunkan sahur dipagi buta karena hal tersebut berlawanan dengan hukum karena dianggap mengganggu ketentraman lingkungan.

Alhamdulillah saya masih sempat sering merasakan berbuka puasa di satu-satunya masjid di kota itu karena kebetulan letak masjid berada didepan kampus. Beberapa mahasiswa muslim dari berbagai belahan dunia yang belajar disana yang mempergunakan kesempatan untuk makan gratis di masjid saat Ramadhan karena memang tersedia banyak makanan sumbangan dari para dermawan.

Biasanya sumbangan iftar berasal dari komunitas-komunitas muslim ataupun rumah makan halal yang ada di kota tersebut. Makanan digelar dipiring besar-besar diatas plastik memanjang tak beda dengan gaya makan di negara-negara arab yang pernah saya kunjungi. Macam-macam menunya, dimulai dengan kurma dan susu sesaat azan dikumandangkan lalu dilanjutkan dengan makan setelah sholat magrib mubasyaratan mulai dari kari India, ayam gaya Kentucky bahkan kadang pizza. Tak lupa sehabis makan kita masing-masing mencuci piring mengingatkan suasana di Pondok pesantren.


Sayangnya, letak akomodasi lumayan jauh dari masjid tersebut, sehingga selama sebulan penuh saya dan teman-teman yang tinggal di tempat yang sama harus rela untuk jarang bisa menikmati tarawih Ramadhan di masjid, terutama karena jadwal tarawih yang biasanya dilaksanakan agak malam sekitar jam 9 malam dan saat itu bus antar jemput kampus sudah tidak ada.

Agak berbeda ketika saya tinggal di Bristol, kota terbesar di south western part of England. Disalah satu kota yang termasuk paling multicultures di Inggris ini, banyak masjid yang bisa menjadi pilihan. Uniknya, masjid-masjid tersebut biasanya terkotak-kotak tergantung komunitas yang dominant di masjid tersebut. Ada masjid Bangladesh, masjid Pakistan, masjid Turki, masjid Timur tengah dan tentunya cara ibadah maupun menu berbukanya tergantung komunitas tersebut. Sayang tidak ada masjid Indonesia ataupun Malaysia di kota ini yang mungkin kalau ada bisa cari menu yang lebih pas dilidah.Pernah saya menemukan diri saya di ruangan masjid yang dipenuhi muslim berkulit hitam yang berasal dari Somalia dan Nigeria, dan saya baru sadar bahwa sayalah satu-satunya orang berkulit putih diruangan tersebut padahal sedang berada di Inggris.

Berhubung banyak mahasiswa muslim di Bristol University, kegiatan selama Ramadhan pun lebih banyak dan variatif. Pihak kampus pun menyediakan ruangan khusus berfungsi sebagai mesjid selama Ramadhan. Banyak kegiatan yang dilaksanakan oleh Bristol Islamic Society seperti Islamic Week atau Fasting Day.

Fasting Day adalah salah satu yang paling unik karena dihari ini mahasiswa muslim diminta untuk mengajak teman-temannya yang non-muslim untuk berbagi pengalaman untuk tidak hanya bagaimana berbuka puasa bersama.tapi juga bagaimana berpuasa menahan lapar dan haus seharian. Saya pribadi mengajak teman kelas saya dari Jepang untuk tidak makan dan tidak minum sehari dan berbuka bersama di masjid kampus. Uniknya lagi, pada saat berbuka di Fasting Day itu, ada sambutan dari ketua Chaplaincy Bristol University yang kebetulan beragama Yahudi dan masih taat menjalankan puasa pada hari-hari tertentu. Dia bahkan sempat menerangkan makna puasa menurut ajaran Yahudi didepan mahasiswa Muslim dan Non-Muslim yang hadir pada saat itu.




Banyak pengalaman unik lainnya saat menjalankan Ibadah puasa di Inggris. Secara umum, suasana berbuka di negeri in juga terasa hangat tak beda ketika saya berada di Indonesia maupun dinegeri dimana muslim menjadi majoritas Bedanya, sebagai kaum minoritas dinegeri ini, ada sedikit perasaan solidaritas yang terasa sangat kuat yang timbul diantara Muslim. Issue-issue yang kadang memojokkan Islam di media massa yang salah satu contohnya dipicu oleh bom London bahkan tak jarang menjadikan topic-topik hangat di masjid. Tidak heran kadang ada representative dari security campus ataupun polisi regional yang ‘nyelip’ diantara jama’ah untuk mengawasi isi khutbah.

Terakhir, ada pengalaman lucu, unik dan agak saru ketika menjalankan ibadah tarawih di Sunderland. Tidak ingin kehilangan pahala berjama’ah Isya dan tarawih karena jarak masjid yang agak jauh, saya mengajak teman-teman Indo muslim di kota ini yang berjumlah 5 orang untuk berjama’ah tarawih di kamar saya yang berukuran 2x3 m. Saya tinggal satu flat dengan satu mahasiswa yang juga muslim dari Indonesia sedang sisanya ada satu mahasiswa Cina dan dua Yunani di kamar lain di flat tersebut.

Saat itu saya sedang memimpin sholat Isya jamaah sebelum shalat tarawih. Baru saja selesai membaca Al-fatihah di rakaat kedua, terdengar sayup-sayup suara dua anak manusia memadu kasih dari kamar sebelah tempat teman Cina saya tinggal. Tembok kamar di flat memang agak tipis sehingga kadang perbincangan dari kamar sebelah bisa terdengar dari kamar saya. Gawatnya, teman Cina sebelah kamar saya memang terkenal agak nakal dan sering membawa pacarnya ke kamar. Tak ada larangan untuk itu, karena maklumlah, sex bebas bukan hal yang aneh dinegeri yang mendewakan kebebasan pribadi macam Inggris ini.

Seiring dengan raka’at bertambah, suara desahan dan engahan yang sangat mengganggu itu pun bertambah intens dan terdengar jelas. Konsentrasi saya pun buyar dan ketika salam di rakaat terakhir, saya dan teman-teman saling memandang dan tertawa terbahak-bahak, sadar bahwa saya menyelesaikan sholat dirakaat ketiga. Akhirnya kita pun mengalah pindah ke kamar teman saya untuk melanjutkan sholat tarawih.

Tradisi; dilupakan dinegeri sendiri, dipuja di negeri maju

Memang aneh bangsa kita.

Kaya raya akan budaya dan tradisi, sudah seharusnya kita bangga. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Tidak banyak generasi muda sekarang yang tertarik akan tradisi kita. Misalnya, minta anak-anak muda kita menyebutkan nama-nama boysband atau aktor film asal Amerika, dengan lancar mereka pasti akan menyebutkan bahkan mungkin sekaligus membeberkan detail biografinya. Tapi coba suruh mereka menyebutkan tokoh atau cerita rakyat asal daerah mereka, mungkin hanya sedikit yang mungkin mengenalnya. Berapa persen generasi sekarang yang tertarik mendalami musik tradisional? berapa gelintir teman kita yang bisa menari tarian asal daerahnya?

Padahal di negeri maju macam UK, tradisi-tradisi tua seperti itu malah banyak diminati.
Seperti contohnya, hampir disetiap kota university terkemuka di UK mempunyai kelompok Gamelan. Ya, gamelan Jawa.

Saya pernah menemani salah satu kawan saya yang memproduksi karya audio visual sebagai tugas akhir studynya di fakultas Video Production tentang Gamelan di UK dan harus merekam kegiatan mereka. Bayangan saya, ada beberapa mahasiswa Indonesia yang mungkin memimpin kelompokdi University of Durham, salah satu kelompok yang kami datangi. Sebagai cameraman, saya terkejut karena ternyata kelompok tersebut murni dihuni oleh bule-bule Inggris. Lebih terkejut lagi karena pemimpin kelompok tersebut adalah bule muda bergelar Doctor di bidang musik gamelan.




Contoh lainnya adalah penampilan Kyai Kanjeng yang dipimpin oleh budayawan Emha Ainun Nadjib pada tahun 2005 lalu. Mengkolaborasi gamelan Jawa dengan bermacam aliran musik pop dan rock, Kyai Kanjeng sempat diundang tampil di Albert Memorial Hall, salah satu venue music paling prestigious di Inggris, dihadiri oleh petinggi dan artis negeri ini, termasuk Yusuf Islami (former Cat Stevens) serta diundang ke kota-kota Univeristy terkemuka seperti Manchester, Leeds dan Aberdeen di Scotland. Lebih dari itu, mereka juga diminta tampil di belahan Eropa lainnya, seperti Rome, Berlin dan Turin. Saya pribadi sempat melihat penampilannya di Leeds University, dan terus terang, saya iri melihat ketertarikan bule-bule akan Gamelan dan budaya Indonesia.


Yang terakhir ini, bakal ada pagelaran Wayang di Southbank, lokasi kebudayaan paling bergengsi dipusat London, tidak jauh dari London Eye dan Big Ben. Didalangi oleh Ki Purbo Asmoro, penampilan yang dimulai jam 10.30 malam sampai jam 7 pagi (semalam suntuk!) tersebut akan membawakan cerita Mahabrata lengkap dengan English Subtitlenya.

http://www.southbankcentre.co.uk/calendar/productions/gamelan-wayang-17709

Sedih rasanya menyaksikan di negeri kita tak banyak lagi generasi muda yang peduli akan hal tersebut. Sebaliknya, banyak dari mereka yang mendewakan pola budaya barat yang dianggap lebih superior. Entah apa ini akibat dari Globalisasi dan televisi, tapi sudah seharusnya Pemerintah dan kita semua, kembali menanamkan rasa cinta akan budaya dan akar tradisi kita yang sangat berharga tersebut. Sebelum semuanya terlambat.

Dedy, Bristol