Thursday, July 23, 2009

Rilis program EWC di media massa

dikutip dari:

http://beta.antaranews.com/view/?i=1247686556&c=NAS&s=PDK

http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/news/766/16/7/2009/Lima-Guru-Amerika-Belajar-Pendidikan-Pesantren

http://epaper.republika.co.id/berita/62768/5_Guru_Amerika_Belajar_di_Pesantren

Ambon, 16/7 (ANTARA) - Sedikitnya lima orang guru wanita dari lima kota berbeda di Amerika Serikat (AS) akan mempelajari manajemen pendidikan pesantren pada sejumlah pondok pesantren (ponpes) di Yogyakarta.

"Mereka akan tinggal selama sepekan untuk mempelajari proses belajar-mengajar serta kurikulum pendidikan yang diterapkan pada beberapa pondok pesantren di Yogyakarta," kata Director AsiaPacifiCed Program East-West Center, Namji Steinemann, di Ambon, Rabu.

East-West Center, adalah lembaga penelitian dan pendidikan Amerika Serikat berkedudukan di Hawaii, yang didirikan oleh Kongres AS pada tahun 1960.

Lembaga tersebut bertugas untuk menciptakan terwujudnya pengertian dan pemahaman antarbudaya negara-negara di Amerika dan Asia Pasifik.

Dalam programnya lembaga ini memiliki jaringan luas pada sekitar 500-600 sekolah di Amerika yang selalu berinteraksi dengan sekolah-sekolah di negara-negara Asia Pasifik.

Lembaga ini sangat tertarik dengan pola pendidikan pondok pesantren yang diterapkan di Indonesia dan ingin dikembangkan di negara lain.

Lima orang guru wanita dari lima kota berbeda di AS, yaitu Barbara Laman asal New York, Charoline Aloxopeus asal Conneticut, Sussana Bunchan asal Michigan, Susan Milos asal California dan Judith Carter asal Georgia.

Selama tinggal di ponpes, mereka juga akan berusaha untuk mengenal lebih jauh pola kehidupan para santriawan dan santriawati di setiap pondok pesantren, guna dijadikan bahan untuk dibagikan kepada para guru dan siswa di Amerika setelah mereka kembali.

Selain tinggal selama sepekan di ponpes, Namji Steinemann bersama lima orang guru itu juga akan mengunjungi yayasan milik Romo Mangun guna mempelajari berbagai hal yang dikembangkan di yayasan tersebut.

"Kami juga akan bertemu para akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) serta berdialog dengan tokoh-tokoh politik guna membuka wawasan kami tentang kondisi politik di Indonesia," kata dia.

Berbagai hal yang dilakukan ini, menurut Steinemann, tidak lain adalah untuk menunjukkan bahwa sebenarnya bangsa Indonesia bisa berkembang atas inisiatif dan idenya sendiri dan bukan ide impor dari negara lain.

Namji Steinemann, bersama lima guru wanita dan berbagai wilayah di Amerika itu berada di Ambon selama empat hari dalam rangka memfasilitasi program Partnership for Schools Indonesia, yang melibatkan 25 siswa SMP Kristen Rehoboth dan 25 santri Pesantren Darul Quran Al-Anwariyah, Desa Tulehu, Kecamatan Salahutu, Pulau Ambon, Maluku Tengah dalam sebuah pertemuan dan interaksi sosial secara bersama.

Para siswa dari dua lingkungan berbeda itu sebelumnya telah menjadi sahabat pena dan saling menyurat dan berkenalan sejak awal Juli lalu, tetapi baru bertemu untuk pertama kalinya pada Senin (13/7) lalu.

Menurut Steinemann, di dunia pendidikan seringkali masalah perdamaian dibicarakan dan pertemuan yang dilakukan untuk 50 siswa dari dua lembaga pendidikan berbeda itu, dimaksudkan untuk menciptakan terwujudnya pengertian dan pemahaman diantara mereka. "Agama bukan faktor penghalang bagi anak-anak untuk bertemu dan berinteraksi sosial secara bebas," katanya.

Khusus mengenai Kota Ambon, tandasnya, awalnya dikenal melalui salah seorang guru pesantren yang sedang belajar di Hawaii, di samping ketertarikan akan untuk sejarah tentang pulau rempah-rempah yang menarik perhatian negara barat menjajah Indonesia.

"Wajar program ini dilakukan di Ambon karena selain positif bagi siswa dua komunitas, nama besar Ambon dan Maluku yang menyebabkan Columbus bisa menemukan benua Amerika. Colombus pernah tersesat sampai di Pulau Banda. Ini cerita menarik untuk diurai dan Banda adalah Bali di Maluku," kata Steinemann.(*)

"seed of friendship" Ambon

(Ditulis dalam perjalanan ke Cidokom yg macetnya bukan main krn perbaikan jalan)

Salah satu kenyataan yg membuka mata Guru2 AS tentang kualitas pendidikan pesantren adalah ketika program kolaborasi 2 sekolah di Ambon (pesantren Darul Qur'an salaf tingkat Wustho & SMP kristen Rehoboth) yg mempertemukan 50 murid (masing2 25) dalam 2 hari kegiatan "seed of friendship".

Dengan tidak mengenal satu sama lain sebelumnya kecuali melalui saling kirim surat kepada pasangan "sahabat pena" dari sekolah partnernya, mereka di libatkan dalam kegiatan2 ala pramuka, termasuk ice breaking, team working dan melukis masing2 harapan dari pasangan yang memaksa mereka mengenal satu sama lain tanpa membedakan agama mereka. Hal ini menjadi penting mengingat konflik berkepanjangan yang ada terkait isu agama (Islam & Kristen) dan misi program ini menyatukan kembali masyarakat utk hidup dgn damai.

Kualitas pendidikan pesantren terlihat jelas dalam sesi team working di hari kedua. Meskipun tidak saling kenal satu sama lain, terlihat jelas bahwa siswa2 dari Pesantren sangat dominan dalam leadership di masing2 grup yg sengaja dibentuk utk bercampur baur tanpa membedakan jenis kelamin atau agama. Secara umum, santri2 Darul Quran, terlepas dari tingkat ekonomi mereka, jauh lebih percaya diri, lebih inisiatif, lebih lepas, lebih tangkas secara sosial di hampir seluruh kegiatan. Hal ini terlihat secara mencolok oleh guru2 AS yg menjadi pengawas.

Walhasil, hal2 kecil tersebut diatas bisa merubah persepsi mereka tentang pesantren (dan Islam).

Terbukti, sesaat mendengar Jakarta di bom dan banyaknya WNA yg jadi korban, simak jawaban mereka ketika saya tanya apakah mereka takut dan khawatir dan apakah mereka akan membatalkan rencana homestay mereka di pesantren; "kami tidak takut sama sekali dan kami merasa aman berada dibawah naungan pesantren".

Wednesday, July 22, 2009

Uncovering Indonesia; East West Center-Darunnajah Summary

Uncovering Indonesia; Program kerjasama East West Center dengan Darunnajah



Susan Buchan (51) adalah salah satu dari enam Guru USA yang merasakan “nyantri” di pesantren Cipasung, Tasikmalaya selama seminggu. Dia tinggal disalah satu host family pesantren, Ibu Ida yang juga ustadzah di pesantren tersebut. Tidak hanya mengajar di kelas, Susan yang menjabat guru BP (Pengasuhan santri) di sekolahnya di Ann Harbour, Michigan tersebut juga mengikuti dengan seksama kegiatan khas pesantren, pecan Khutbatul ‘Arsy di Cipasung yang menampilkan seluruh kegiatan santri tersebut. Saking terkesimanya dengan dinamika kehidupan pesantren, Susan pun berencana akan mengusulkan kegiatan serupa di sekolahnya kelak ketika kembali ke Michigan, USA.

Pengalaman serupa juga dialami oleh 5 guru AS lainnya. Mereka berasal dari Negara bagian berbeda di USA dan homestay di pesantren-pesantren berbeda di pelosok Indonesia dari mulai Madinatunnajah di Serang, Al-Ikhlas di Kuningan, Cipasung di Tasikmalaya, Matholi’ul Falah asuhan Kiai Sahal Mahfudz di Pati hingga Darul Furqon di Lombok.

Sejak 8 July hingga 25 July ini, guru-guru AS tersebut bersama-sama mengikuti program Travel & Teach 2009 yang bertemakan: Uncovering Indonesia. Program ini adalah program yang dilaksanakan oleh East West Center, lembaga riset dan beasiswa yang didanai oleh Kongress Amerika yang berkantor pusat di Hawaii dan Darunnajah International Relations Office (DIRO) sebagai host partner.

Sebelum homestay, guru-guru tersebut juga berkunjung ke Ambon untuk melaksanakan program “seed of friendship”, program yang berusaha menanam benih persahabatan bagi generasi muda Ambon yang sempat terpecah karena konflik berlatar belakang agama tersebut. Selain itu, banyak variasi program lainnya seperti exploring spices in Banda Island, kunjungan ke situs-situs bersejarah dan pendidikan di Yogyakarta termasuk Borobudur, Legacy of Romo Mangun, ICRS UGM bahkan mengikuti jama’ah maiyah interaktif Cak Nun dan Kiai Kanjeng di Kasihan Bantul.



Menurut Direktur Program tersebut, Namji Steinemann dari East West Center tujuan program ini adalah diharapkan bahwa sekembalinya dari Indonesia, guru-guru tersebut bisa memuaskan antusiasme anak murid mereka yang ingin mengetahui lebih jauh wajah Indonesia yang sesungguhnya. Beliau menambahkan, antusiasme tersebut sangat dipengaruhi oleh kenyataan bahwa rakyat Amerika kini memiliki presiden yang ada kaitannya dengan Indonesia, Barack Obama.

Meskipun program ini banyak mengupas keterkaitan sejarah dan kebudayaan dan keterkaitan kurikulum sekolah-sekolah di USA dengan Indonesia secara luas, dalam program ini pesantren tidak hanya menjadi vocal point, tetapi juga menjadi partner kerja yang dipercaya.

In-country coordinator program ini, Ustadz Dedy dari Darunnajah menjelaskan kenapa Darunnajah menerima tawaran menjadi host partner adalah karena program ini sejalan dengan visi dakwah lembaga ini. Diharapkan, dengan membantu memfasilitasi keinginan yang kuat dari masyarakat dunia, khususnya rakyat Amerika, yang memandang Indonesia adalah Negara Muslim yang sangat strategis dan bisa menampilkan wajah Islam moderat (ummatan wasathon) yang bersahabat.

Efektifitas dan keberhasilan program ini bisa disimak dari jawaban spontan guru-guru tersebut ketika mendengar adanya Bom di Jakarta beberapa waktu lalu; “kami tidak khawatir sama sekali karena kami merasa aman berada di lingkungan pesantren”.

Raja Mamala, Ambon



Raja Mamala (Abdullah) dari jazirah Lehitu di Ambon yg seluruh penduduknya adalah Islam sedang menunjukkan rempah2 (lada) kpd rombongan EWC. Hukum adat lokal masih berlaku disini.

Orang2 Lehitu inilah yg menjadi inti dari masyarakat muslim Ambon yg berani melawan penjajah belanda dan mengusir mereka dari Ambon. Mereka pula yg menjadi pasukan barisan paling depan ketika konflik Ambon yg sangat ditakuti lawan.

Didinding rumahnya terdapat foto sdg diterima SBY dan Kalla, jg sdg berada di Swedia. Ternyata beliau adalah ketua asosiasi Raja2 Ternate yg juga jadi tokoh utama perdamaian Ambon di Malino.

Rombongan EWC sangat antusias bisa bertemu "King" dan memakai toilet dirumahnya. Mereka jg menanyakan no.hp-nya beliau, karena; jarang2 punya no telp seorang Raja. Bahkan Barbara jg sempat bertanya apa sang Raja juga punya account facebook! Haha.. Emangnya Kiai Darunnajah? Hehe..

Sent from BlackBerry® smartphone min fadhli Rabbii..

Uncovering Indonesia; East West Center-Darunnajah

Here's the link of program that we organized currently: Uncovering Indonesia.
http://forum.eastwestcenter.org/2009p4s/